Oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi
Di antara buah dari keikhlasan adalah bahwa Allah memberikan pertolongan-Nya kepada orang yang ikhlas, menjaganya dengan penjagaan-Nya yang tidak pernah tidur, dan tidak meninggalkannya ketika musibah menghampiri serta kesulitan dan kesusahan melingkupinya. Dia—Mahasuci Dia—mengabulkan doanya, memenuhi seruannya, dan menghilangkan kegelisahannya.
Di antara hal menakjubkan yang disebutkan Al-Qur’an dalam konteks ini adalah pengabulan doa orang-orang musyrik oleh Allah ketika bahtera membawa mereka di lautan, angin kencang bertiup menerpa mereka, dan ombak datang mengelilingi mereka dari segala penjuru. Maka pada saat-saat itu, mereka berdoa kepada Allah dengan jujur dan ikhlas, lalu Allah mengabulkan doa mereka, meskipun setelah itu mereka mengubah dan menggantinya. Allah berfirman:
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا كُنتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِم بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِن كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ * فَلَمَّا أَنجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ
“Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan dan (berlayar) di lautan. Sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, dan meluncurlah bahtera itu membawa mereka dengan angin yang baik, dan mereka bergembia karenanya, tiba-tiba datanglah badai angin yang kencang, dan ombak menerpa mereka dari segenap penjuru, dan mereka yakin bahwa mereka telah dikepung (oleh bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Seraya berkata), ‘Sungguh, jika Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur.’ Maka setelah Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka melakukan kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar.” (QS. Yunus: 22-23).
Allah menyelamatkan dan mengabulkan doa mereka semata-mata karena mereka “berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata.” Pada saat itu, mereka kembali kepada fitrah (kesucian asal), tuhan-tuhan palsu gugur, dan tidak tersisa bagi mereka kecuali Allah. Mereka berdoa dengan ikhlas dan menghadap hanya kepada-Nya.
Di antara contoh dan peristiwa paling menonjol tentang pengaruh keikhlasan dalam menyelamatkan orang yang susah dari kesusahannya adalah kisah tiga orang “penghuni gua.”
Merupakan bagian dari rahmat Allah bahwa bumi tidak pernah sepi dari orang-orang ikhlas. Mereka bagi kehidupan rohani bagaikan air dan udara bagi kehidupan jasmani. Sejarah telah mengenal contoh-contoh gemilang yang mewujudkan keikhlasan dalam peristiwa-peristiwa cemerlang, yang menjadi teladan dan panutan bagi manusia. Baik kiranya di sini kita menyebutkan sebagiannya agar kita dapat mengambil pelajaran dan teladan darinya.
Al-Hafizh Al-Mundziri memulai kitabnya At-Targhib wat-Tarhib dengan bab dorongan (targhib) untuk berikhlas, jujur, dan niat yang baik. Kemudian, hadis pertama yang beliau cantumkan dalam kitabnya adalah hadis tentang “Penghuni Gua”, yang kisahnya disampaikan oleh Nabi ﷺ kepada kita karena di dalamnya terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
Dari Ibnu Umar r.a., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
انْطَلَقَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَتَّى آوَاهُمُ الْمَبِيتُ إِلَى غَارٍ فَدَخَلُوهُ، فَانْحَدَرَتْ صَخْرَةٌ مِنَ الْجَبَلِ فَسَدَّتْ عَلَيْهِمُ الْغَارَ، فَقَالُوا: إِنَّهُ لَا يُنْجِيكُمْ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ إِلَّا أَنْ تَدْعُوا اللَّهَ بِصَالِحِ أَعْمَالِكُمْ
“Pergilah tiga orang dari umat sebelum kalian, hingga mereka terpaksa bermalam di sebuah gua. Maka masuklah mereka ke dalamnya. Lalu tiba-tiba jatuhlah sebuah batu besar dari gunung, menutup mulut gua itu. Mereka kemudian berkata, ‘Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu besar ini selain kalian berdoa kepada Allah dengan menyebut amal saleh kalian.'”
فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ: اللَّهُمَّ كَانَ لِي أَبَوَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ، وَكُنْتُ لَا أَغْبِقُ قَبْلَهُمَا أَهْلًا وَلَا مَالًا، فَنَأَى بِي فِي طَلَبِ شَيْءٍ يَوْمًا، فَلَمْ أُرِحْ عَلَيْهِمَا حَتَّى نَامَا، فَحَلَبْتُ لَهُمَا غَبُوقَهُمَا فَوَجَدْتُهُمَا نَائِمَيْنِ، فَكَرِهْتُ أَنْ أَغْبِقَ قَبْلَهُمَا أَهْلًا أَوْ مَالًا، فَلَبِثْتُ وَالْقَدَحُ عَلَى يَدَيَّ أَنْتَظِرُ اسْتِيقَاظَهُمَا حَتَّى بَرَقَ الْفَجْرُ. – وَفِي رِوَايَةٍ: وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمَيَّ – فَاسْتَيْقَظَا فَشَرِبَا غَبُوقَهُمَا. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ مِنْ هَذِهِ الصَّخْرَةِ. فَانْفَرَجَتْ شَيْئًا لَا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ.
“Seorang di antara mereka berkata, ‘Ya Allah, aku memiliki kedua orang tua yang sudah lanjut usia. Aku tidak biasa memberi minum susu kepada keluarga atau harta sebelum mereka berdua. Suatu hari, aku pergi agak jauh mencari sesuatu (kayu), dan aku tidak pulang kepada mereka hingga keduanya tertidur. Aku pun memerah susu untuk minuman malam mereka, namun kudapati mereka sedang tidur. Aku tidak ingin memberi minum susu kepada keluarga atau harta sebelum mereka. Maka aku berdiri dengan gelas susu di tanganku, menunggu mereka terbangun hingga fajar menyingsing.'” — Sebagian perawi menambahkan, “Sementara anak-anak kecil merengek-rengek di dekat kakiku.” — “‘Kemudian keduanya terbangun dan meminum susu sajian malam mereka. Ya Allah, jika aku melakukan itu semua semata-mata mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari kesulitan yang kami alami akibat batu ini.’ Maka batu itu pun bergeser sedikit, namun mereka belum bisa keluar darinya.”
قَالَ: وَقَالَ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ إِنَّهُ كَانَتْ لِي بِنْتُ عَمٍّ كَانَتْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيَّ، فَأَرَدْتُهَا عَنْ نَفْسِهَا، فَامْتَنَعَتْ مِنِّي، حَتَّى أَلَمَّتْ بِهَا سَنَةٌ مِنَ السِّنِينَ، فَجَاءَتْنِي فَأَعْطَيْتُهَا عِشْرِينَ وَمِائَةَ دِينَارٍ عَلَى أَنْ تُخَلِّيَ بَيْنِي وَبَيْنَ نَفْسِهَا، فَفَعَلَتْ، حَتَّى إِذَا قَدَرْتُ عَلَيْهَا، قَالَتْ: لَا أُحِلُّ لَكَ أَنْ تَفُضَّ الْخَاتَمَ إِلَّا بِحَقِّهِ، فَتَحَرَّجْتُ مِنَ الْوُقُوعِ عَلَيْهَا، فَانْصَرَفْتُ عَنْهَا وَهِيَ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ، وَتَرَكْتُ الذَّهَبَ الَّذِي أَعْطَيْتُهَا. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ، لَكِنْ لَا يَسْتَطِيعُونَ الْخُرُوجَ.
“Nabi ﷺ bersabda: ‘Kemudian yang lain berkata, “Ya Allah, aku memiliki sepupu perempuan yang paling kucintai. Aku menginginkannya (menikahinya), namun ia menolakku. Hingga ketika suatu masa paceklik melandanya, ia datang kepadaku. Maka kuberikan seratus dua puluh dinar, asal ia bersedia membiarkan diriku bersamanya. Ia pun menyetujuinya. Ketika aku telah berkuasa atas dirinya, ia berkata, ‘Tidak halal bagimu mematahkan cincin (keperawanan) ini kecuali dengan haknya.’ Maka aku merasa takut untuk menyentuhnya. Aku pun pergi meninggalkannya, padahal ia adalah orang yang paling kucintai, dan kutinggalkan emas yang telah kuberikan padanya. Ya Allah, jika aku melakukan itu semata-mata mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari kesulitan yang kami alami.”‘ Maka batu itu pun bergeser lagi, namun mereka masih belum bisa keluar darinya.”
قَالَ: وَقَالَ الثَّالِثُ: اللَّهُمَّ إِنِّي اسْتَأْجَرْتُ أُجَرَاءَ فَأَعْطَيْتُهُمْ أَجْرَهُمْ، غَيْرَ رَجُلٍ وَاحِدٍ تَرَكَ حَقَّهُ وَذَهَبَ، فَثَمَّرْتُ أَجْرَهُ حَتَّى كَثُرَتْ مِنْهُ الْأَمْوَالُ، فَجَاءَنِي بَعْدَ حِينٍ، فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ أَدِّ إِلَيَّ أَجْرِي. فَقُلْتُ: كُلُّ مَا تَرَى مِنْ أَجْرِكَ: مِنَ الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ وَالْغَنَمِ وَالرَّقِيقِ. فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ لَا تَسْتَهْزِئُ بِي. فَقُلْتُ: لَا أَسْتَهْزِئُ بِكَ. فَأَخَذَهُ كُلَّهُ فَاسْتَاقَهُ، فَلَمْ يَتْرُكْ مِنْهُ شَيْئًا. اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتُ فَعَلْتُ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ وَجْهِكَ، فَافْرُجْ عَنَّا مَا نَحْنُ فِيهِ. فَانْفَرَجَتِ الصَّخْرَةُ فَخَرَجُوا يَمْشُونَ. (رواه البخاري ومسلم)
“Nabi ﷺ bersabda: ‘Dan yang ketiga berkata, “Ya Allah, aku pernah mempekerjakan beberapa orang pekerja dan kuberikan upah mereka, kecuali seorang yang meninggalkan haknya dan pergi. Maka uang upahnya itu kukembangkan hingga menjadi banyak harta darinya. Setelah beberapa waktu, ia datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai hamba Allah, berikanlah upahku.’ Aku menjawab, ‘Semua yang engkau lihat ini adalah upahmu: unta, sapi, kambing, dan budak.’ Ia berkata, ‘Wahai hamba Allah, janganlah engkau mengolok-olokku!’ Aku menjawab, ‘Aku tidak mengolok-olokmu.’ Maka ia pun mengambil semua itu dan membawanya pergi, tidak meninggalkan sedikit pun. Ya Allah, jika aku melakukan itu semata-mata mengharap wajah-Mu, maka lepaskanlah kami dari kesulitan yang kami alami.”‘ Maka batu itu pun bergeser dan mereka keluar berjalan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
…..
Sumber: An-Niyyah wal-Ikhlash (Niat dan Ikhlas) oleh Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi





