RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,065)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (444)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (139)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Wasathiyah

Kebutuhan Kita terhadap Pembaruan Iman

  • 09-05-2026
  • No comments
5e8dcdcb0f26b

Banyak orang yang bersemangat dari kalangan ulama dan cendekiawan meyakini bahwa yang kurang dari kita—agar kita bisa bahagia dan maju, baik sebagai individu maupun kelompok—hanyalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan yang akan membantu masyarakat kita tumbuh dan berkembang, mengejar ketertinggalan dari peradaban dunia yang telah menghancurkan atom, menaklukkan angkasa, menciptakan komputer, dan kini berada di ambang revolusi biologi yang entah akan membawa manusia ke mana.

Keberuntungan kita sebagai muslim adalah bahwa agama kita tidaklah sempit terhadap seruan kepada ilmu dan kemajuan—berbeda dengan dugaan orang-orang yang tidak mengenal Islam dan ingin memperlakukan Islam sebagaimana agama-agama lain diperlakukan.

Kami memandang kemajuan ilmu pengetahuan dan segala manfaat teknologi yang dihasilkannya—yang memudahkan kehidupan manusia dan menghemat tenaga fisik serta mentalnya—sebagai ibadah bagi seorang muslim. Ia mendekatkan diri kepada Tuhannya dengan menguasai dan memahaminya, sebagaimana ia mendekatkan diri dengan salat dan puasa. Dan bagi masyarakat, ini adalah fardhu kifayah (kewajiban kolektif); seluruh masyarakat akan berdosa jika tidak ada cukup dari anak-anaknya yang menguasai berbagai bidang dan memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan masyarakat, baik di bidang sipil maupun militer.

Namun yang kami tegaskan di sini adalah kebutuhan masyarakat kita—dan semua masyarakat manusia—akan ilmu dan iman secara bersama-sama. Manusia terdiri dari jasad dan roh, akal dan hati. Kesemuanya harus dirawat dan diberi asupan yang menyehatkan setiap sisi dan potensinya, baik yang tumbuh dari bumi maupun yang turun dari langit. Inilah keseimbangan atau integrasi yang menjadi ciri khas Islam.

Harmoni Ilmu dan Iman dalam Islam

Di antara manifestasi integrasi dalam sistem Islam adalah bahwa ilmu dan iman bertemu berdampingan. Tidak pernah terjadi dalam masyarakat Islam apa yang terjadi di masyarakat lain berupa pertentangan antara ilmu dan agama—yang korbannya ribuan orang dari kalangan ilmuwan, cendekiawan, dan para pengikutnya. Sejarah Eropa di Abad Pertengahan penuh dengan pembantaian mengerikan terhadap para ilmuwan dan pelajar di bawah naungan Inquisition (Pengadilan Gereja) dan semacamnya.

Syekh Muhammad Abduh dalam bukunya Islam dan Nasrani ditinjau dari Ilmu Pengetahuan dan Peradaban menceritakan beberapa kejadian yang membuat kulit merinding hanya dengan mendengarnya, dan akal sehat mana pun di zaman kita pasti mengingkarinya.

Hal yang membedakan Islam dari yang lain adalah penghormatannya terhadap akal, seruannya untuk merenung dan berpikir, dorongannya untuk menuntut ilmu dan belajar, pujiannya kepada para ilmuwan dan pemilik akal, kritikannya terhadap kebekuan dan kebodohan, serta pengagungannya terhadap membaca, menulis, dan pena—sejak ayat pertama Al-Qur’an diturunkan.

Tidak pernah dalam Islam dikatakan seperti yang dikatakan dalam agama-agama sebelumnya: “Percayalah dengan mata tertutup!” atau “Pejamkan matamu, lalu ikuti aku!” atau “Ketidaktahuan adalah induk ketakwaan!” Bahkan para ulama Islam yang terpercaya menetapkan: “Iman seorang muqallid (yang hanya ikut-ikutan tanpa dasar) tidak diterima.” Tidak heran jika Al-Qur’an menantang orang-orang musyrik dan pemilik akidah batil lainnya dengan firman-Nya:

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

*Artinya: “Katakanlah, ‘Tunjukkanlah bukti-bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar!'” (QS. An-Naml [27]: 64)*

Dan firman-Nya tentang mereka:

وَمَا يَتَّبِعُ أَكْثَرُهُمْ إِلَّا ظَنًّا إِنَّ الظَّنَّ لَا يُغْنِي مِنَ الْحَقِّ شَيْئًا

Artinya: “Dan kebanyakan mereka hanya mengikuti persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikit pun terhadap kebenaran.” (QS. Yunus [10]: 36)

Sepanjang sejarah gereja Barat di Abad Pertengahan, tersebar anggapan bahwa akal bertentangan dengan wahyu, ilmu adalah musuh agama, pikiran adalah lawan iman, dan syariat adalah kebalikan dari hikmah. Namun Islam tidak pernah mengenal problem semacam ini. Dalam Islam, akal dan wahyu adalah dua jejak dari keesaan Tuhan—tidak bertentangan dan tidak berlawanan. Karena itu kita melihat wahyu memuliakan akal dan mendorong pemanfaatannya, dan kita melihat akal sebagai bukti kebenaran wahyu serta alat untuk memahaminya dan menjabarkannya.

Dari sini, para ulama investigatif dari kalangan imam Islam menetapkan: Tidak pernah ada pertentangan antara naqli yang sahih dan aqli yang jelas. Dan apa yang disangka sebagian orang sebagai pertentangan, pasti itu adalah akibat kesalahan dalam memahami sisi mana pun—baik dari akal maupun dari agama.

Empat belas abad telah berlalu sejak Al-Qur’an diturunkan. Banyak ilmu pengetahuan dan pemikiran baru bermunculan, namun tidak ada satu ayat pun yang bertentangan dengan fakta ilmiah yang mapan. Ini adalah salah satu bukti kemukjizatan kitab agung ini.

Meskipun Al-Qur’an bukanlah kitab “ilmu” dalam pengertian terminologis ilmu modern, ia mengandung banyak isyarat tentang fakta-fakta ilmiah yang tidak pernah terbayangkan oleh siapa pun pada masa turunnya, bahkan berabad-abad sesudahnya. Banyak buku telah ditulis tentang hal ini, yang mengungkap sisi baru kemukjizatan Al-Qur’an yang bisa disebut “mukjizat ilmiah”.

Lebih dari itu, Al-Qur’an membentuk pola pikir ilmiah yang mengingkari takhayul, menolak mengikuti dugaan dan hawa nafsu, kebal terhadap subordinasi dan taklid, beriman pada bukti dalam hal-hal rasional, dan bergantung pada observasi dan eksperimen dalam hal-hal material. Al-Qur’an meyakini bahwa akal adalah karunia yang dianugerahkan kepada manusia untuk merenung, memikirkan pemanfaatan alam dan isinya, serta mengambil pelajaran dari perjalanan sejarah dan sunnatullah yang tidak pernah berubah.

Maka dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat “li qawmin ya’qilūn” (bagi kaum yang berpikir), “li qawmin yatafakkarūn” (bagi kaum yang merenung), “li qawmin ya’lamūn” (bagi kaum yang berilmu), “li ulil albāb” (bagi pemilik akal sehat), dan “li ulin nuha” (bagi pemilik kecerdasan).

Al-Qur’an memuji para ilmuwan dalam banyak ayat:

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

*Artinya: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar [39]: 9)*

Dan hanya mereka yang layak untuk benar-benar takut kepada Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

*Artinya: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama (ilmuwan).” (QS. Fathir [35]: 28)*

Dalam ayat ini, Allah menyebutkan para ilmuwan setelah menyebut langit, air, tumbuhan, gunung, hewan, dan manusia—mengisyaratkan bahwa para ilmuwan adalah mereka yang mendalami ilmu-ilmu alam dan kehidupan. Karena ilmu mereka inilah yang mengenalkan mereka pada kekuasaan Allah, nikmat-Nya yang agung, dan rahmat-Nya yang luas.

Al-Qur’an juga mengisahkan kisah para nabi dan orang saleh dengan cara yang menarik perhatian secara kuat kepada nilai dan kedudukan ilmu dalam membantu manusia menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi dan memanfaatkannya untuk berbagai hal yang bermanfaat. Seperti kisah Nabi Adam yang mengungguli malaikat dengan ilmu, kisah Nabi Yusuf yang mengelola Mesir saat paceklik dengan ilmu, kisah Nabi Sulaiman yang mendatangkan singgasana Ratu Balqis dengan ilmu, dan kisah-kisah nabi serta orang beriman lainnya.

Ilmu Tidak Cukup Tanpa Iman

Meskipun demikian, akal bukanlah segalanya bagi manusia, dan ilmu bukanlah segalanya dalam kehidupan.

Akal memiliki wilayah terbatas yang tidak dapat dilampauinya, dan ilmu memiliki medan yang tidak dapat ditembusnya. Di luar itu, akal dan ilmu akan bingung. Rahasia keberadaan, tujuan hidup, asal-usul alam semesta dan akhirnya, persoalan kematian dan kehidupan, serta berbagai persoalan besar eksistensi lainnya—tidak dapat dijangkau oleh akal sendirian, dan ilmu tidak bisa menjangkaunya. Karena kekuasaan ilmu hanya pada hal-hal yang dapat diobservasi dan dieksperimenkan, yaitu hal-hal material dan yang dapat diindra.

Maka harus ada sumber pengetahuan lain yang berasal dari sumber yang berbeda untuk menentukan posisi manusia, tujuannya, tugasnya di bumi, serta hubungannya dengan alam, kehidupan, dan Pencipta alam dan kehidupan. Sumber itu tidak lain adalah wahyu Ilahi. Dan tidak ada jalan untuk menerima wahyu kecuali melalui iman.

Banyak pemikir manusia sepanjang zaman berusaha mencapai kebenaran-kebenaran besar dengan akal mereka, dan memecahkan masalah-masalah eksistensi dengan pemikiran mereka—namun mereka tidak mampu. Hasil yang mereka capai justru kontradiktif, tidak menenangkan hati, dan tidak menata kehidupan dengan baik. Imanlah satu-satunya jalan yang aman.

Imanlah yang menjelaskan persoalan-persoalan besar eksistensi, menghubungkan manusia dengan alam semesta yang luas, dengan Yang Azali dan Yang Abadi, serta memberikan makna, tujuan, dan misi bagi kehidupannya.

Dan iman pula yang melindungi ilmu dari penyimpangan dan mencegah penggunaannya untuk kejahatan dan agresi. Karena itulah, ketika Nabi Sulaiman diperlihatkan singgasana Ratu Balqis melalui orang yang memiliki ilmu dari kitab, ia mengembalikan segala pujian kepada Allah, tidak sombong atau terpedaya. Ia berkata sebagaimana dikisahkan Al-Qur’an:

فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

*Artinya: “Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia berkata, ‘Ini adalah karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.'” (QS. An-Naml [27]: 40)*

Dan dalam kisah Zulkarnain, setelah ia menyelesaikan pembangunan bendungan, ia berkata dengan penuh kerendahan hati orang-orang beriman:

هَذَا رَحْمَةٌ مِّن رَّبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

*Artinya: “Ini adalah rahmat dari Tuhanku; maka apabila janji Tuhanku datang, Dia akan menjadikannya hancur lebur; dan janji Tuhanku itu pasti benar.” (QS. Al-Kahfi [18]: 98)*

Kita telah melihat bagaimana ilmu yang dibimbing oleh iman, di bawah naungan peradaban Islam, mampu membangun, memakmurkan, bekerja untuk melayani manusia, menyucikan manusia, dan membahagiakan manusia.

Dan kita juga melihat ketika ilmu tumbuh di Barat—karena kondisi historisnya dengan gereja—jauh dari petunjuk Allah, terputus dari iman kepada Allah, hasilnya adalah senjata kimia dan biologi, alat-alat pembunuh dan penghancur yang membuat umat manusia tidur dalam mimpi buruk dan bangun dalam ketakutan yang mencengangkan. Ilmu memberi mereka sarana, tetapi tidak memberi mereka ketenangan jiwa. Mereka menang dengan ilmu atas alam, tetapi belum menang atas diri sendiri dan hawa nafsu.

Dari sinilah kita membutuhkan ilmuwan yang beriman dan orang beriman yang berilmu. Di sinilah letak kehidupan Islam yang terintegrasi.

Karena itu, ayat pertama yang turun dari Al-Qur’an menggabungkan ilmu dan iman:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ

*Artinya: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq [96]: 1)*

Membaca—yang merupakan kunci ilmu—dikehendaki oleh Islam sebagai membaca dengan nama Allah Sang Pencipta. Dan jika kunci Islam adalah ilmu dan pemahaman, maka inti Islam adalah iman, dan inti iman adalah tauhid. Bahkan tauhid adalah inti dari semua risalah samawi. Karena itu, seruan pertama dalam setiap risalah adalah: “Yā qawmi’budullāha mā lakum min ilāhin ghairuh” (“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada tuhan bagimu selain Dia”).

Kedudukan Iman dalam Kehidupan Manusia

Hakikat agama dan misi iman terwujud dalam beberapa hal:

Pertama: Menghubungkan manusia dengan Tuhannya, merasakan kedekatan dan kasih sayang-Nya, memenuhi dadanya dengan kepercayaan kepada-Nya, ketergantungan kepada-Nya, ketenangan kepada-Nya, dan keyakinan atas segala yang datang dari-Nya.

Kedua: Mengangkat nilai manusia dari sekadar “hewan yang berevolusi” (sebagaimana dibayangkan sebagian orang) menjadi makhluk yang dimuliakan, dibebani tanggung jawab, diciptakan dalam bentuk (yang mencerminkan sifat) Sang Pencipta, diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, dijadikan khalifah di bumi, dan dibanggakan oleh malaikat. Maka tidak mengherankan jika agama berupaya mengangkat “roh ketuhanan” dalam diri manusia di atas “genggaman tanah liat” yang ada padanya. Dengan demikian, manusia tidak hidup terpaku ke bawah—hanya pada kenikmatan rendah—tetapi selalu menjulang, menatap cakrawala yang lebih tinggi.

Ketiga: Memperluas hubungannya dengan alam semesta yang luas di sekitarnya. Ia bukan makhluk parasit dalam eksistensi yang besar ini, dan alam semesta bukanlah musuh yang harus dilawannya atau sesuatu yang asing yang ia kejar. Sebaliknya, alam semesta ini seluruhnya tunduk untuk kemaslahatannya, dan juga sebagai tanda (ayat) yang menunjukkan kepada Tuhannya. Demikian pula semua manusia di dalamnya adalah saudara baginya, yang sama-sama menghamba kepada Allah dan bersaudara karena Adam.

Keempat: Memperpanjang usia eksistensi ini hingga melampaui kehidupan singkat ini, yaitu menuju kehidupan kekal dan abadi. Maka kisah umat manusia bukan sekadar “rahim yang mendorong dan bumi yang menelan”, atau seperti yang dikatakan sebagian orang: “In hiya illā ḥayātunā ad-dunyā namūtu wa naḥyā wa mā naḥnu bimab’ūthīn” (“Tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia kita; kita mati dan hidup, dan kita tidak akan dibangkitkan”). Tetapi sebagaimana kata Umar bin Abdul Aziz: “Kalian diciptakan untuk keabadian; kalian hanya dipindahkan melalui kematian dari satu negeri ke negeri lain.”

Semua makna ini diciptakan dan dihidupkan oleh iman: iman kepada Allah dan iman kepada hari Akhir. Keduanya adalah dua rukun fundamental dalam setiap agama.

Redupnya Suara Iman di Zaman Kita

Tidak tersembunyi bahwa bara iman di zaman ini telah kehilangan banyak dari nyala dan panasnya di dalam hati. Suara iman telah melemah di relung-relung sanubari, dan tidak lagi memiliki otoritas serta pengaruh seperti dulu.

Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, antara lain:

  1. Dominasi pemikiran materialistis dan kehidupan material pada mayoritas manusia di berbagai belahan dunia, sebagai akibat dari hegemoni peradaban Barat. Hal ini menular melalui interaksi, percampuran, dan berbagai alat pengaruh—dari Barat ke Timur, dari non-muslim ke muslim. Manusia disibukkan oleh berlomba-lomba dalam harta dan keturunan, sehingga hampir melupakan bahwa setelah kehidupan ada kematian, setelah kematian ada kebangkitan, setelah kebangkitan ada perhitungan, dan setelah perhitungan ada pahala dan siksa, surga dan neraka.

  2. Perhatian besar manusia terhadap ilmu-ilmu positif dan material, serta berbagai aplikasi teknologi yang membantu manusia tenggelam dan menikmati kehidupan, sementara perhatian terhadap ilmu-ilmu agama semakin berkurang. Terlebih lagi, ilmu agama mengandung hal-hal gaib yang tidak biasa diakrabi oleh akal modern. Bahkan sebagian ulama agama dan pendakwah berusaha menakwilkannya dengan cara yang sesuai dengan kecenderungan materialistis mereka, atau menghindar dari membicarakannya. Sampai-sampai orang yang mendengarkan khutbah Jumat di masjid atau radio hampir tidak menemukan satu pun khutbah yang berbicara tentang kematian, kubur, kebangkitan, perhitungan, surga, atau neraka—seolah-olah semua itu adalah tanda keterbelakangan dan bertentangan dengan modernitas!

  3. Perhatian para pendakwah Islam dalam dekade-dekade terakhir abad ke-14 Hijriah terfokus pada penyajian sistem Islam, menjelaskan keindahannya, dan menyerukan penerapannya, tanpa memberikan perhatian yang setara pada penyajian akidah dan dakwah kepadanya, serta pendalaman pengaruhnya dalam akal dan hati. Ini karena munculnya pemikiran sekuler yang menganggap agama—setiap agama—hanya sebagai hubungan pribadi antara seseorang dengan Tuhannya, tidak ada hubungannya dengan sistem kehidupan. Maka respons terhadapnya menuntut penekanan pada sistem sosial, ekonomi, politik, dan legislasi dalam Islam—tanpa porsi yang sama untuk akidah. Padahal yang wajib adalah keseimbangan antara seluruh ajaran Islam, meskipun akidah—tanpa ragu—adalah fondasi bangunan.

  4. Pengabaian lembaga-lembaga media, budaya, dan pendidikan terhadap sisi penting ini yang merupakan tujuan hidup manusia dan rahasia keberadaannya—yang memberikan makna, rasa, dan misi bagi hidupnya. Ini adalah buah dari pengabaian agama secara keseluruhan—baik akidah, syariat, akhlak, adab, maupun sistem kehidupan. Dan tidak berhenti pada pengabaian, bahkan telah melampauinya hingga ke ejekan dan cemoohan, bahkan tusukan dan serangan—kadang secara terang-terangan tanpa rasa takut dan malu, dan kadang—yang lebih banyak dan berbahaya—dalam bentuk bertopeng, dengan cara-cara yang berbelit-belit dan senjata halus yang lembut namun beracun. Cara-cara ini membunuh dan menghancurkan, namun tanpa suara letusan peluru atau dentuman ranjau.

  5. Pemusatan filosofi, sistem pendidikan, dan kurikulum pada aspek material, teknologi, dan ilmiah—dengan pandangan mengabaikan atau memusuhi agama, meniru kaum sekuler di Barat atau komunis di Timur. Yang pertama mengesampingkan agama dari perhitungan, yang kedua memusuhinya secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan.

Jika agama masuk ke sekolah atau kelas, ia masuk bukan sebagai tuan rumah, melainkan sebagai tamu asing atau tamu yang memberatkan… satu jam di akhir hari sekolah, untuk mengisi kekosongan—sekadar membungkam mulut orang-orang beragama yang kaku dan melelahkan!

Tidak heran jika pendidikan saat ini menderita kekeringan, kekasaran, dan kekosongan—membutuhkan roh yang membangkitkan hati, menggerakkan perasaan, dan mengembalikan kehidupan pada jasad-jasad yang mati! Semoga Allah merahmati filsuf dan penyair muslim Muhammad Iqbal yang berkata tentang pendidikan “modern” ini (sebutan di zamannya): “Ia tidak mengajarkan mata untuk menangis, atau hati untuk khusyuk!”

Kebutuhan Zaman Kita akan Pembaruan Iman

Seluruh dunia sangat membutuhkan iman. Tetapi bagi kita—bangsa Arab dan Muslim—iman adalah inti keberadaan kita. Iman adalah roh kehidupan dan kehidupan roh bagi kita.

Iman adalah jalan menuju keridaan Allah, dan bekal kita di jalan menuju akhirat. Sungguh, surga diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai (kesusahan), dan neraka diliputi oleh syahwat. Kita tidak akan mampu menanggung kesusahan di jalan menuju surga, dan tidak akan mampu melawan syahwat yang mengantarkan ke neraka, kecuali dengan kekuatan rohani dari dalam—yang menyukai kesusahan dan merasakan manisnya penderitaan di jalan Allah, serta menendang segala syahwat dan kenikmatan dunia jika di belakangnya ada kemurkaan Allah.

Kekuatan rohani ini diciptakan oleh iman. Imanlah yang mendorong kita untuk melaksanakan tugas kita diciptakan—yakni beribadah kepada Allah—dan menjadikan ibadah itu tercinta bagi kita hingga menjadi penyejuk mata. Imanlah yang menuntun seseorang untuk mendekat kepada Allah dengan melaksanakan kewajiban, lalu semakin mendekat dengan amalan-amalan sunnah, hingga ia meraih kecintaan Allah. Jika Allah telah mencintainya, maka Allah menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, penglihatannya yang dengannya ia melihat, dan tangannya yang dengannya ia menggenggam. Jika ia berdoa, Allah menjawab; jika ia meminta, Allah memberi.

Namun iman bukan hanya jalan menuju kebahagiaan akhirat, tetapi juga jalan menuju kebahagiaan dunia yang sangat didambakan semua orang—namun hanya sedikit yang menemukannya. Betapa banyak hal yang kilauannya membutakan mata sehingga manusia mengejarnya, menyangka di dalamnya kebahagiaan yang dicita-citakan, namun ternyata itu hanya fatamorgana—orang yang haus mengiranya air, tetapi ketika ia mendatanginya, ia tidak mendapatkan apa-apa.

Imanlah satu-satunya yang memberikan ketenangan dan ketenteraman jiwa—yang merupakan roh kebahagiaan dan kebahagiaan roh:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

*Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)*

Dengan harta dan kekayaan, manusia mungkin dapat memenuhi banyak kenikmatan dan meminum berbagai syahwat yang bisa dibeli dengan uang. Namun kebahagiaan sejati tidak dijual di pasar, tidak dibeli dengan uang atau kekuasaan—karena ia memancar dari kedalaman jiwa, bukan barang dagangan yang diimpor dari sana-sini.

Inilah kebahagiaan yang diungkapkan oleh salah seorang salaf saleh di tengah kehidupannya yang sederhana: “Kami benar-benar berada dalam kebahagiaan; seandainya para raja mengetahuinya, niscaya mereka akan memperebutkannya dengan pedang!”

Dengan ilmu, manusia mungkin dapat hidup dalam dunia otomatis: cukup menekan tombol di kanan, kiri, depan, atau belakang—maka yang jauh menjadi dekat, besi menjadi lunak, yang diam bergerak, yang bergerak diam. Ia hidup dalam kemewahan seolah-olah puluhan pelayan berada di depannya. Ia tidak kalah—bahkan melebihi—Qarun atau Harun Ar-Rasyid dalam kenikmatan yang ia rasakan.

Namun ilmu—meskipun menyediakan kemewahan jasmani bagi manusia—tidak menyediakan ketenteraman hati. Ilmu memberi sarana, tetapi tidak memberi tujuan untuk hidup. Karena ini bukan tugas ilmu, melainkan tugas iman.

Karakteristik Iman yang Kita Idamkan

Iman yang kita maksud adalah iman yang menumbuhkan motivasi kebaikan dalam diri manusia dan kebencian terhadap kejahatan, memenuhi dadanya dengan kerinduan untuk menyucikan diri dan keinginan untuk naik dari daya tarik tanah liat yang rendah menuju cakrawala roh yang tinggi. Iman yang memberikan energi dan kemampuan untuk terbang dengan kerinduan yang meninggi di atas naluri-naluri yang merendah.

Iman yang memberikan pemuda di puncak kekuatannya—di hadapan syahwat yang dahsyat—kemauan seperti kemauan Yusuf Ash-Shiddiq, yang menerima penjara dan menolak godaan maksiat dengan semboyannya: “Rabbi as-sijnu aḥabbu ilayya mimmā yad’ūnanī ilayh” (“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku cintai daripada apa yang mereka ajak aku kepadanya”).

Iman yang kita idamkan adalah satu-satunya yang di tanahnya tumbuh pohon akhlak, dan di kebunnya mekar bunga-bunga keutamaan mulia dan nilai-nilai luhur. Sejarah dan kenyataan telah membuktikan: bangsa tanpa akhlak tidak akan mampu memikul beban berat dan tidak akan menghasilkan karya kreatif.

وَإِذَا أُصِيبَ الْقَوْمُ فِي أَخْلَاقِهِمْ فَأَقِمْ عَلَيْهِمْ مَأْتَمًا وَعَوِيلَا

“Dan jika suatu bangsa terpukul akhlaknya, maka adakanlah perkabungan dan ratapan atas mereka!” (Syauqi)

Banyak penguasa, pemimpin, dan pejabat berusaha mengendalikan perilaku masyarakat dengan hukum dan keputusan semata—melupakan bahwa manusia dipimpin dari dalam, bukan dari luar. Hasilnya, undang-undang mereka tidak berguna sama sekali. Mereka kembali dengan kekecewaan dan kerugian. Hawa nafsu mengalahkan kebenaran, egoisme mengalahkan kebaikan, dan suara syahwat meninggi di atas suara kewajiban. Tidak heran jika kejahatan besar merajalela, dan tragedi serta skandal bermunculan di tingkat tertinggi.

Seorang hakim di Inggris pernah menulis, mengomentari vonis dalam salah satu kasus besar yang mengejutkan: “Tanpa hukum, masyarakat tidak stabil. Tanpa akhlak, hukum tidak akan berlaku. Tanpa iman, akhlak tidak akan berjaya!”

Imanlah yang meledakkan potensi terpendam dalam diri manusia di bangsa-bangsa muslim kita, sehingga mereka bergerak dengan kekuatan akidah kepada Allah dan negeri akhirat—melahirkan keajaiban, menciptakan kepahlawanan, dan membangun karya-karya agung. Sebagaimana kita lihat dalam sejarah masa lalu dan realitas masa kini.

Imanlah yang menyelesaikan masalah kecenderungan egois individual pada diri manusia—kecenderungan yang fitrah dan alamiah—dengan mengajarkan bahwa kebaikan yang ia berikan, jerih payah yang ia korbankan, harta dan jiwa yang ia keluarkan, tidak akan sia-sia di sisi Allah—sedikit pun. Semuanya tertulis, akan kembali kepadanya, dan ditambahkan ke dalam rekeningnya di sisi Allah:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

*Artinya: “Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah (atom), niscaya ia akan melihatnya.” (QS. Az-Zalzalah [99]: 7)*

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًا وَلَا هَضْمًا

*Artinya: “Dan barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh, sedang ia beriman, maka ia tidak takut akan perlakuan zalim dan tidak takut akan pengurangan hak.” (QS. Thaha [20]: 112)*

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِن تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا

*Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang seberat zarrah; dan jika ada kebaikan seberat zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberi pahala yang besar dari sisi-Nya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 40)*

Imanlah yang menempatkan di hadapan manusia kekuatan dahsyat ketika ia menanamkan dalam dirinya: bahwa takdir Allah pasti berlaku; apa yang luput darimu tidak mungkin menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak mungkin luput darimu; rezeki dan ajal yang ditakuti manusia telah tertulis di sisi Allah, tidak ada kemungkinan tambah atau kurang. Rezeki telah dibagi, ajal telah ditentukan. Seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan seandainya mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa melakukannya kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu.

Keyakinan kepada takdir ini membuat seorang mukmin merasa bahwa dalam jihad dan dakwahnya, ia mewakili takdir Allah yang tidak bisa ditolak dan ketetapan-Nya yang tidak bisa dikalahkan. Seperti perkataan seorang sahabat dalam perang melawan Persia kepada salah seorang panglima mereka yang bertanya, “Siapa kalian?” Ia menjawab: “Kami adalah takdir Allah! Allah menguji kalian dengan kami sebagaimana Dia menguji kami dengan kalian. Sekiranya kalian berada di dalam awan sekalipun, niscaya kami akan naik kepada kalian—atau kamu akan turun kepada kami!”

Iman juga yang mengikat hubungan antara para pemeluknya, mengumpulkan mereka di bawah naungan akhirat, dan menyambungkan mereka dengan ikatan cinta yang paling kuat. Iman adalah rahim (hubungan kekerabatan) di antara pemeluknya, sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

*Artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat [49]: 10)*

Jika ada banyak hal yang memisahkan manusia—seperti perbedaan ras, warna kulit, bahasa, wilayah, kelas, keturunan, kekayaan, dan lain-lain—maka iman dengan panas dan kekuatannya lah yang meleburkan sekat-sekat itu, tidak mengakuinya, dan menjadikan kesatuan akidah sebagai ikatan di atas ikatan darah—bahkan lebih kuat, dan seperti daging yang merekat—bahkan lebih erat. Sehingga seorang mukmin lebih mengutamakan saudaranya seakidah di atas saudara kandungnya, bahkan di atas anak kandungnya sendiri.

Di bawah naungan persaudaraan besar ini, kebencian-kebencian kecil lenyap, dunia yang diperebutkan manusia menjadi remeh—ia di sisi Allah lebih ringan dari sayap nyamuk, dan perasaan iri dan dengki yang disebut Nabi ﷺ sebagai “penyakit umat-umat terdahulu” menjadi mengkerut. Beliau bersabda tentang kebencian: “Ia adalah pencukur—bukan mencukur rambut, tetapi mencukur agama.”

Tidak berhenti sampai di situ. Hati dipenuhi dengan cinta yang besar, yang berasal dari cinta kepada Allah. Cinta kepada setiap orang yang setia kepada-Nya dan beriman kepada-Nya.

Iman mengangkat manusia dari egoisme yang rendah menuju altruisme yang luhur. Dalam hal ini ada hadis sahih:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

Artinya: “Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai.” (HR. Muslim)

Altruisme ini (pengutamaan orang lain di atas diri sendiri) tampak dalam bentuknya yang paling jelas ketika terwujud dalam makna yang tidak dikenal dan tidak akan dikenal kecuali di masyarakat orang beriman, yaitu makna “Al-Itsar”: memberikan sesuatu kepada saudaramu padahal kamu sendiri membutuhkannya, melelahkan diri agar saudaramu istirahat, menghadapkan dadamu untuk menerima tebasan pedang dan tusukan tombak untuk melindungi saudaramu, dan tidur dalam keadaan lapar untuk memberikan seluruh bekal makan malammu kepada saudaramu. Inilah yang Allah firmankan tentang kaum Anshar:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

*Artinya: “Dan mereka mengutamakan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri sangat membutuhkan. Dan barangsiapa dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr [59]: 9)*

Di sinilah perasaan lembut—persaudaraan, cinta, dan altruisme—berubah menjadi perpaduan dalam kebaikan, saling mengasihi dalam suka dan duka, dan kerja sama dalam kebajikan dan takwa. Nabi ﷺ menggambarkannya:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

Artinya: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan; sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari & Muslim)

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْأَعْضَاءِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Artinya: “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh; apabila satu anggota tubuh sakit, maka seluruh anggota lainnya ikut demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Muslim)

Bulan untuk Pembaruan Iman

Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbarui iman, menghidupkan hati dengannya, mengembalikan yang tersesat ke lapangan Allah. Maka orang yang lalai terbangun, yang lupa mengingat, yang durhaka bertobat, dan semua orang berdiri di pintu Ar-Rahman Ar-Rahim (Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang), mengucapkan sebagaimana bapak moyang mereka dulu mengucapkan:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

*Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri; jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf [7]: 23)*

Ramadhan adalah bulan roh dan meninggikan roh. Manusia—dengan kodrat ganda yang dimilikinya—kadang meninggi, kadang merendah. Terbang sejenak di cakrawala roh yang tinggi seolah-olah ia malaikat bersayap, lalu bergulingan di lumpur materi dan syahwat seakan-akan ia hewan berkaki empat.

Maka tidak mengherankan jika kita melihatnya jatuh sebagaimana ia bangkit, salah sebagaimana ia benar, berdosa sebagaimana ia taat. Namun Allah menjadikan baginya banyak alat penyaring dan alat pembersih untuk membersihkan diri dari kotorannya dan menyucikan diri dari dosa-dosanya, sehingga ia keluar bersih dan suci, sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran.

  1. Ada alat penyaring harian: lima salat wajib.

  2. Ada alat penyaring mingguan: salat Jumat.

  3. Ada alat penyaring tahunan: puasa Ramadhan dan salat malamnya.

Dalam hadis yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya:

الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، كَفَّارَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتِ الْكَبَائِرُ

Artinya: “Salat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalah penghapus dosa di antara masa-masa itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.”

Maka barangsiapa yang tidak dibersihkan oleh salat harian dan Jumat mingguan, ia masih memiliki kesempatan di Ramadhan untuk membersihkan diri dengan puasa dan salat malam yang baik, serta memperoleh ampunan Allah atas kesalahan-kesalahannya. Jika ia menyia-nyiakan kesempatan ini, maka ia adalah orang yang celaka dan terhalang.

Diriwayatkan bahwa Jibril mendatangi Nabi ﷺ ketika beliau menaiki mimbar, lalu berkata: “Celakalah orang yang mendapati Ramadhan tetapi tidak diampuni dosanya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Amin!” Maka celakalah orang yang didoakan oleh Amin-nya Jibril dan diamini oleh penutup para rasul!^(1)

Maka: Lima salat adalah timbangan hari, Jumat adalah timbangan minggu, dan Ramadhan adalah timbangan tahun.

Bulan Keikhlasan kepada Allah

Ramadhan adalah bulan kemenangan manusia: kemenangan kehendaknya atas syahwatnya, dan kemenangan akalnya atas hawa nafsunya.

Kemenangan terbesar manusia adalah ketika ia melakukan kebaikan dan amal saleh semata-mata sebagai pelaksanaan kewajiban dan mengharap rida Allah semata. Inilah puncak keikhlasan dan pengabdian, dan puncak keluhuran manusiawi.

Puasa yang diperintahkan Islam, yang diberi pahala, dan yang dibukakan pintu ampunan dan surga bagi pelakunya—bukan sekadar menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami-istri. Ada orang yang berpuasa karena diet untuk penyakit, atau demi kesehatan, atau sebagai protes atas ketidakadilan, atau kepatuhan pada seremonial, atau mengikuti tradisi, atau dorongan dan tujuan lainnya. Namun semua ini tidak dinilai oleh Islam.

Puasa yang diakui dalam timbangan Islam adalah puasa yang dilakukan pelakunya “īmānan wa iḥtisāban” (iman dan mengharap pahala dari Allah)—yaitu membenarkan janji Allah dan mencari apa yang ada di sisi Allah. Demikian pula salat malamnya. Karena itu Rasulullah ﷺ selalu menyebut ibadah ini dengan sabdanya:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ^(2)

Artinya: “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan barang siapa salat malam di Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ‘alaih)

Makna Puasa: Ibadah Murni untuk Allah

Islam adalah risalah tauhid dan pembebasan. Ia datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah—dari penghambaan kepada alam, kepada pribadi, kepada khayalan, kepada hawa nafsu—dan mengarahkan ibadah hanya kepada Satu Tuhan, yaitu Ar-Rabb Al-A’la (Tuhan Yang Maha Tinggi):

الَّذِي خَلَقَ فَسَوَّى * وَالَّذِي قَدَّرَ فَهَدَى

*Artinya: “Yang menciptakan, lalu menyempurnakan; dan yang menentukan kadar, lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la [87]: 2-3)*

Demikianlah puasa adalah ibadah murni yang ditujukan hanya kepada Allah. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ. يَدَعُ الطَّعَامَ مِنْ أَجْلِي، وَيَدَعُ الشَّرَابَ مِنْ أَجْلِي، وَيَدَعُ لَذَّتَهُ مِنْ أَجْلِي، وَيَدَعُ زَوْجَتَهُ مِنْ أَجْلِي^(3)

Artinya: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan makanan demi Aku, meninggalkan minuman demi Aku, meninggalkan kenikmatannya demi Aku, dan meninggalkan istrinya demi Aku.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya)

Tanda puasa yang diterima—yang merupakan buah dari iman dan keikhlasan kepada Allah—adalah:

  1. Menahan lidah dari perkataan palsu dan sia-sia.

  2. Menahan tangan dari menyakiti orang lain.

  3. Seluruh anggota badan menahan diri dari maksiat kepada Allah.

  4. Menahan lahir dan batin dari apa yang dimurkai Allah.

  5. Membalas kejahatan dengan kebaikan.

  6. Jika ada orang yang bodoh mencelanya atau mengajaknya bertengkar, ia berkata dengan lisan dan hatinya: “Ya Allah, aku sedang berpuasa!”

Dengan cara inilah manusia menang, dan puasa menjadi perisai dan perlindungan baginya. Jika tidak, maka puasanya hanya puasa formal, yang tidak menyiapkan pelakunya untuk takwa di dunia, dan tidak memberikan ampunan, rahmat, atau pembebasan dari neraka bagi pelakunya di akhirat. Dalam hadis:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ^(4)

Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali rasa lapar.” (HR. Ibnu Majah, An-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, Hakim-dishahihkan)

وَمَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ^(5)

Artinya: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan palsu dan mengamalkannya, maka Allah tidak butuh (pada) meninggalkan makanan dan minumannya.” (HR. Bukhari)

Penutup

Kita memohon kepada Allah agar menjadikan Ramadhan sebagai musim untuk memperbarui iman kita, menghidupkan hati kita, menjadikan hari esok kita lebih baik dari hari kita sekarang, dan menjadikan bagian kita di bulan ini sebagai ampunan, rahmat, dan pembebasan dari neraka.

Sumber: Artikel ini dimuat di Majalah Ad-Doha pada Juni 1985.

Catatan Kaki:

(1) HR. Al-Hakim dari Ka’ab bin ‘Ujrah; sanadnya sahih dan disetujui Al-Mundziri dalam At-Targhib.

(2) Muttafaq ‘alaih (HR. Bukhari & Muslim).

(3) HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya.

(4) HR. Ibnu Majah (lafaz miliknya), An-Nasa’i, Ibnu Khuzaimah, dan Al-Hakim; dishahihkan dengan syarat Bukhari.

(5) HR. Bukhari dan para pemilik kitab Sunan.

Sumber: Al-Qaradawi

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Anda Mungkin Juga Menyukai
ChatGPT Image Jul 22 2026 01 31 38 PM 1024x512
View Post
  • Wasathiyah

Pentingnya Pendidikan Spiritual dalam Kepemimpinan Modern

D0wykae7tnkks00og8 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Ketekunan/Profesionalisme dalam Bekerja: Investasi yang Keuntungannya Dipanen Seumur Hidup

K634p0el8iokwgk8c0 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Tujuan Syariat tentang Kebebasan (Bagian 2)

1ts5ut2buv8ks0k4so 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Antara Asap Perang dan Harapan Fajar – Pembacaan Atas Pemandangan Dunia dari Teheran hingga Gaza

1ryknkc3gta8wc8cwo 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Kesetaraan Antara Laki-laki dan Perempuan… Sebuah Pandangan Islam

4r2zb29z5ksg84s08w 800xauto
View Post
  • Aqidah
  • Wasathiyah

Renungan Ketuhanan dan Sentuhan Keimanan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 6971847a1bb35 1
    • Akhbar Dauliyah
    KTT NATO 2026: Transformasi Aliansi dan Diplomasi Donald Trump
    • 06.07.26
  • 2284304248 2
    • Akhbar Dauliyah
    Seruan Balas Dendam Menggema di Teheran pada Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
    • 06.07.26
  • AFP 20260706 B9CZ8LV v1 HighRes PalestinianIsraelConflictGaza 3
    • Akhbar Dauliyah
    Hamas Umumkan Pembubaran Badan Pemerintahan Gaza
    • 07-07-2026
  • 62014211719 4
    • Akhbar Dauliyah
    Penulis Arab Soroti Narasi Politik Mesir: “Tidak Ada Tempat bagi Ikhwanul Muslimin”
    • 07-07-2026
  • WhatsApp Image 2026 07 07 at 3.30.19 PM (1) 5
    • Kabar Umat
    Kemenag Integrasikan Edukasi Pencegahan Penyebaran Budaya LGBTQ ke Pendidikan Agama
    • 08.07.26
  • 42e1161e72ec8f17f03eca12b8c65c2e 6
    • Kabar Umat
    Ketua BAZNAS: Dunia Menanti Sistem Ekonomi Syariah sebagai Alternatif Kapitalisme
    • 08.07.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Taliban trump Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.