Oleh: Dr. Sulaiman Saleh
Guru Besar Jurnalisme dan Komunikasi Internasional, Fakultas Komunikasi, Universitas Kairo
Pendahuluan
Al-Qur’an al-Karim menyuguhkan kepada kita jaringan konsep yang saling terkait yang dapat menjadi fondasi bagi pembangunan peradaban, identitas, dan kekuatan umat Islam. Konsep-konsep ini harus dikaji dengan perspektif peradaban yang memandang Islam sebagai agama dan negara, ibadah dan kepemimpinan, peradaban dan budaya, serta sebagai sistem nilai moral. Pikiran kita harus bergerak menggunakan konsep-konsep itu untuk membangun masyarakat berbasis pengetahuan dan mengembangkan ilmu-ilmu pendidikan, politik, kepemimpinan, manajemen, dan kemasyarakatan.
Saya akan memfokuskan pada satu konsep yang sangat kaya: al-Uswah al-Hasanah (keteladanan yang baik). Konsep ini dapat menjadi fondasi bagi kekuatan individu, masyarakat, negara, dan umat. Ia membuka cakrawala baru bagi pembangunan masa depan.
Kekayaan Makna Konsep
Konsep ini disebutkan dalam dua ayat Al-Qur’an. Pertama dalam Surah Al-Ahzab: 21:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Kedua, dalam Surah Al-Mumtahanah: 4:
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sungguh, telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya…” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Karena kekayaan konsep ini, kitab-kitab tafsir memuat banyak makna dan indikasi yang membuka peluang bagi pembangunan kebangkitan. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah fondasi utama dalam meneladani Rasulullah ﷺ dalam perkataan, perbuatan, dan keadaannya. Allah memerintahkan manusia untuk meneladani Nabi dalam kesabaran, keteguhan, dan penantian akan pertolongan-Nya.
Al-Qurthubi menambahkan dimensi penting: keteladanan tidak hanya dalam peperangan, tetapi juga dalam kesabaran menghadapi luka, patahnya gigi, gugurnya paman Hamzah, dan lapar yang menderanya—namun beliau selalu dalam keadaan sabar, ikhlas, bersyukur, dan ridha.
Sementara itu, Asy-Syathibi menekankan bahwa meneladani Rasulullah berarti berada di mana beliau berada, tidak meninggalkannya. Siapa yang mengharap pahala dan rahmat Allah di akhirat tidak akan mendahulukan dirinya sendiri, tetapi akan menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam segala keadaan.
Gambaran Gemilang Kaum Mukminin
Namun, Syahid Sayyid Qutb memberikan tambahan penting dengan menghubungkan ayat ini dengan konteks keseluruhan surah. Dalam tafsirnya, ia menggambarkan bagaimana dalam Perang Khandaq—ketika kemunafikan, keraguan, dan ketakutan melanda—ternyata masih ada gambaran gemilang di tengah kegelapan: hati yang tenang di tengah gempa, keyakinan pada Allah, keridaan atas takdir-Nya, dan kepastian akan pertolongan-Nya.
Gambaran gemilang itu dimulai dari Rasulullah ﷺ, sumber ketenangan bagi umat Islam. Mempelajari sikap beliau dalam peristiwa besar ini menjadi petunjuk bagi para pemimpin umat. Menurut Sayyid Qutb, ayat ini sesungguhnya membimbing para pemimpin gerakan Islam tentang jalan mereka: meneladani Rasulullah ﷺ.
Bagaimana Sayyid Qutb sampai pada pemahaman ini? Al-Qur’an senantiasa memberikan makna baru bagi kaum mukminin di setiap zaman, memperkuat mereka dalam menghadapi tantangan. Agar gambaran gemilang para mukmin yang terlihat dalam Perang Khandaq dapat kembali hadir, kaum mukminin dan pemimpin mereka harus meneladani Rasulullah ﷺ dalam perbuatan, ucapan, keteguhan, dan keyakinan akan pertolongan Allah.
Sayyid Qutb menulis:
“Rasulullah ﷺ keluar bekerja menggali parit bersama kaum Muslimin, memukul dengan kapak, mengangkut tanah dengan sekop, dan mengangkatnya dengan keranjang. Jiwanya telah melihat jauh ke depan kemenangan dari kejauhan, melihatnya dengan mata kepala sendiri dalam kilatan-kilatan batu saat pukulan kapak. Maka beliau pun mengabarkannya kepada para sahabat, menanamkan dalam diri mereka keyakinan dan kepastian.”
Ketika para sahabat dihadapkan pada batu besar yang sulit dipecahkan, Rasulullah ﷺ memukulnya—dan memancarlah kilatan cahaya tiga kali. Beliau pun bersabda: “Allahu Akbar! Aku diberikan kemenangan atas Yaman dengan kilatan pertama, atas Syam dan Maghrib dengan kilatan kedua, dan atas negeri-negeri Timur dengan kilatan ketiga.”
Sayyid Qutb mengajak kita membayangkan bagaimana ucapan seperti ini jatuh ke dalam hati yang dikepung ketakutan—lalu datang gambaran iman yang penuh keyakinan dan ketenangan, gambaran kaum mukminin yang bercahaya, menghadapi ketakutan dengan penuh keimanan.
Manusia yang Tersentuh Langit
Dalam tafsirnya, Sayyid Qutb menulis dengan mendalam:
“Betapa dahsyatnya ketakutan yang dihadapi umat Islam dalam peristiwa ini. Betapa beratnya kesulitan yang mereka hadapi. Betapa kerasnya teror yang mereka alami, yang mengguncang mereka dengan hebat.
Mereka adalah manusia biasa. Manusia memiliki kapasitas terbatas, dan Allah tidak membebani mereka melebihi kesanggupan. Meskipun mereka yakin akan pertolongan Allah pada akhirnya, dan meskipun Rasulullah ﷺ telah memberi kabar gembira yang melampaui situasi saat itu—hingga terbukanya Yaman, Syam, Maghrib, dan negeri-negeri Timur—namun ketakutan yang hadir di hadapan mereka tetap mengguncang, mengusik, dan menyempitkan dada mereka.
Namun di samping gempa itu, di samping pandangan yang teralihkan, di samping sesaknya napas… ada hubungan yang tak pernah putus dengan Allah. Ada kesadaran yang tak pernah tersesat dari sunnah-sunnah Allah. Ada keyakinan yang tak pernah goyah akan ketetapan sunnah-sunnah itu—bahwa apabila awalnya terpenuhi, akhirnya pasti akan tiba.
Maka, dari getaran yang mereka rasakan, kaum mukminin justru mengambil pelajaran untuk menanti kemenangan. Setelah dahsyatnya ketakutan, setelah beratnya kesulitan, setelah hebatnya goncangan itu—pasti akan datang kemenangan yang dijanjikan Allah kepada orang-orang beriman.
Mereka adalah manusia biasa. Mereka tak bisa melepaskan diri dari perasaan manusia, dari kelemahan manusia. Dan itu tidak dituntut dari mereka—melebihi batas kemanusiaan atau keluar dari kodratnya. Allah menciptakan mereka sebagai manusia, bukan makhluk lain.
Mereka takut, mereka sempit dada karena kesulitan, mereka terguncang oleh bahaya yang melampaui kemampuan. Namun di saat yang sama—mereka berpegang teguh pada tali yang kuat yang menghubungkan mereka dengan Allah. Tali itu mencegah mereka jatuh, memperbaharui harapan, menjaga mereka dari keputusasaan.
Dengan itu semua, mereka menjadi model yang unik dalam sejarah manusia, yang belum pernah ada bandingannya.
Kita harus memahami ini untuk memahami model unik sepanjang masa. Bahwa mereka adalah manusia, tidak melepaskan fitrah kemanusiaan dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Dan keistimewaan mereka terletak pada pencapaian tertinggi yang mungkin dicapai manusia: mempertahankan fitrah kemanusiaan di bumi sambil tetap berpegang pada tali langit.
Maka jika suatu saat kita lemah, terguncang, takut, atau sempit dada menghadapi bahaya dan kesulitan—kita tak boleh putus asa. Jangan panik dan menyangka kita telah binasa, atau tak lagi mampu berbuat besar selamanya. Namun di saat yang sama, jangan hanya berdiam pada kelemahan itu karena memang itu fitrah kita. Jangan terus-menerus bersandar padanya. Karena ada tali langit yang harus kita pegang erat agar kita bangkit dari keterpurukan, merebut kembali kepercayaan dan ketenangan, menjadikan goncangan sebagai kabar gembira akan kemenangan. Maka kita teguh dan mantap, kuat dan tenang, melangkah di jalan yang benar.”
Sayyid Qutb menambahkan: di sana ada al-Uswah al-Hasanah—keteladanan yang baik. Hendaklah kita meluaskan imajinasi untuk menyaksikan Rasulullah ﷺ menghadapi pasukan sekutu dengan pasukannya yang beriman, yang yakin pada pertolongan Allah meskipun mereka manusia biasa. Maka tampillah gambaran gemilang mereka, dan terpancarlah seindah-indahnya jiwa mereka.
Teladan Ibrahim: Pemutus Hubungan dengan Kekufuran
Namun sebelum kita melangkah lebih jauh, cukuplah kita mengambil tafsir Sayyid Qutb untuk ayat kedua yang mengandung konsep ini, dalam Surah Al-Mumtahanah: 4.
Sayyid Qutb menjelaskan:
“Umat ini adalah umat tauhid yang terbentang dalam sejarah, yang istimewa karena imannya… Ia adalah umat yang bersambung sejak Ibrahim, alaihis salam.
Seorang Muslim memandang—maka ia memiliki nasab yang panjang, masa lalu yang dalam, dan keteladanan yang terbentang sepanjang zaman. Ia kembali kepada Ibrahim, tidak hanya dalam akidahnya tetapi juga dalam ujian-ujian yang dialaminya. Ia merasa memiliki perbendaharaan pengalaman yang lebih besar dari pengalaman pribadinya dan lebih besar dari pengalaman generasinya.
Kafilah panjang yang terbentang di lorong-lorong waktu ini—mereka yang beriman kepada Allah, berdiri di bawah panji-Nya—telah melewati apa yang sedang ia lalui. Dan mereka telah mengambil keputusan tegas dalam ujian mereka. Maka bukanlah perkara baru, bukan sesuatu yang memberatkan kaum mukminin.
Dan lagi, ia memiliki umat yang luas, yang bersamanya dalam akidah, yang menjadi rujukannya ketika ikatan antara dirinya dan musuh-musuh akidahnya terputus. Ia adalah cabang dari pohon besar yang kokoh, akarnya dalam, cabangnya banyak, dan naungannya rimbun… pohon yang ditanam oleh Ibrahim.”
Dalam ayat ini, keteladanan Ibrahim dan pengikutnya terletak pada:
Berlepas diri dari kaum musyrik dan apa yang mereka sembah selain Allah.
Kekafiran terhadap mereka dan keimanan kepada Allah.
Permusuhan dan kebencian abadi sampai mereka beriman kepada Allah semata.
Pemisahan yang tegas dan final, tanpa menyisakan ikatan kekerabatan setelah ikatan akidah dan iman terputus.
Sumber Kekuatan Umat
Dengan demikian, kita sampai pada tujuan kajian ini: bagaimana kita mengubah konsep ini menjadi sumber kekuatan umat?
Makna terpenting yang terkandung dalam konsep ini adalah kesesuaian antara hati dan perbuatan dengan ruh syariat Islam. Jalan lurus yang mengantarkan individu dan umat pada kesuksesan, kemenangan, dan peneguhan adalah dengan mengikuti Rasulullah ﷺ, meneladani beliau, dan mengamalkan sunnahnya.
Rasulullah ﷺ telah membangun negara, membentuk umat dan peradaban, serta menyiapkan para pemimpin yang mampu membangun peradaban agung karena mereka meneladani beliau dengan hati dan akal, dalam perilaku dan akhlak, dalam pemerintahan, dalam perang dan damai.
Tidak ada jalan bagi umat ini untuk memperbaiki keadaannya kecuali satu: menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan dalam menegakkan keadilan, membela kebenaran, dan menjadikan sirah beliau sebagai fondasi perbaikan realitas.
Membangun kembali peradaban Islam dimulai dengan mengubah konsep al-Uswah al-Hasanah menjadi metodologi praktis bagi umat, kekuatan pendorong, fondasi pembangunan identitas dan kepribadian Islam, serta citra Islam di dunia. Konsep peradaban dan kepemimpinan inilah yang membangun masa depan umat dan membentuk kekuatannya.
Membangun Teori Kepemimpinan Islam
Pengalaman Rasulullah ﷺ dalam mempersiapkan dan mengkualifikasi para pemimpin menjadi fondasi bagi pengembangan teori komprehensif yang dimulai dengan membebaskan manusia untuk menjadi hamba Allah semata, beribadah kepada-Nya dengan seluruh amal dan perilaku, hati dan akal, menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utamanya, dan menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladannya. Siapa yang meneladani Rasulullah ﷺ, ia layak dipercaya dan pantas memimpin kita membangun masa depan.
Konsep ini membuka cakrawala baru untuk mengembangkan perilaku pemimpin dan fungsinya dalam menjalankan peran pendidikan dan moral. Kepemimpinan Islam yang menjadikan Rasulullah ﷺ sebagai teladan adalah risalah nilai dan pendidikan.
Kepemimpinan Teladan dalam Akhlak dan Perilaku
Ketika Rasulullah ﷺ menjadi teladan bagi seorang pemimpin, pemimpin itu dapat menjadi panutan bagi manusia yang rindu terbebas dari belenggu para tiran dan dari penggunaan kepemimpinan karismatik untuk menindas dan memaksa. Pemimpin Islam yang meneladani Rasulullah ﷺ dapat berbagi suka duka dengan rakyatnya, sebagaimana yang dilakukan Rasulullah. Di sinilah kepemimpinan bertransformasi menjadi nilai peradaban dan moral.
Rasulullah ﷺ adalah teladan tertinggi dalam akhlak, nilai-nilai, dan penegakan keadilan. Siapa yang meneladani beliau akan menegakkan keadilan dan menghormati martabat manusia. Dengan demikian, kepemimpinan yang berdasar pada keteladanan Rasulullah ﷺ menjadi sarana membangun manusia sebelum membangun negara dan peradaban. Karena manusialah yang membangun peradaban ketika akidah dan risalahnya lebih berharga dari dirinya sendiri.
Keteladanan di sini berdasar pada pengalaman historis yang diterapkan dalam politik, perdamaian, perang, pendidikan, dan pembangunan negara—dan ia dapat diterapkan. Ia menarik hati dan pikiran, mendorong manusia menciptakan ide-ide baru yang berkontribusi membangun masa depan.
Apa imbalan yang diperoleh manusia ketika mengikuti dan meneladani Rasulullah ﷺ? Dalam ilmu kepemimpinan modern, pemimpin harus memberikan insentif. Dalam Islam, individu bekerja dan berkorban karena mengharap pahala dari Allah. Karena itulah ayat ini mengaitkan konsep keteladanan dengan “mengharap Allah dan hari akhir.”
Hari akhir memiliki kedudukan penting dalam kehidupan manusia beriman. Ia memandang kehidupan dunia sebagai jalan menuju hari akhir. Mengharap rahmat Allah dan takut akan azab-Nya, jalannya menuju keridhaan Allah dan surga serta selamat dari neraka adalah dengan meneladani Rasulullah ﷺ.
Rasulullah ﷺ diutus sebagai guru bagi umat manusia. Dari Abdullah bin Amr, Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا
“Sesungguhnya aku diutus sebagai guru.” (HR. Ibnu Majah)
Oleh karena itu, meneladani Rasulullah ﷺ berarti muslim harus bergerak untuk mengajari manusia dan menyampaikan ilmu. Itulah fungsi peradaban yang harus diemban muslim. Setiap muslim berhak belajar, dan negara wajib menyediakan kesempatan belajar agar ia menjalankan fungsinya dalam pendidikan dan penyampaian ilmu. Inilah fondasi masyarakat berbasis pengetahuan, dan kualifikasi para pemimpin pengetahuan.
Mengembangkan Teori Pendidikan dalam Cahaya Konsep Keteladanan
Mengembangkan teori pendidikan dalam cahaya konsep al-Uswah al-Hasanah berarti beralih dari pendidikan sekadar transfer informasi menjadi proyek pembangunan manusia yang membangun peradaban dengan prinsip, ilmu, nilai, dan akhlak Islam melalui keteladanan praktis.
Pilar-Pilar Teori Pendidikan dengan Keteladanan
Al-Qur’an sebagai Fondasi Pengetahuan
Al-Qur’an adalah sumber pengetahuan, nikmat dari Allah. Ketika menyampaikan ilmu kepada orang lain, kita harus meneladani Rasulullah ﷺ. Beliaulah yang membangun masyarakat berbasis pengetahuan pertama dalam sejarah di Madinah. Maka menghubungkan pendidikan dengan konsep keteladanan membuka cakrawala baru untuk membangun kembali masyarakat berbasis pengetahuan, sekaligus menghubungkan pengetahuan dengan akhlak dan nilai.
Sumber Pengetahuan dalam Perspektif Islam
Masyarakat berbasis pengetahuan Islam memiliki kekhasan dalam sumber-sumber pengetahuannya, yaitu:
Al-Qur’an al-Karim: Fondasi peradaban Islam, tempat berdiri umat, sumber iman dan ilmu bermanfaat, hikmah dan petunjuk.
Sunnah Nabawiyah dan Sirah Rasulullah: Menjelaskan penerapan prinsip dan hukum, menjadi fondasi pembangunan masyarakat.
Para ulama Muslim telah berusaha menyusun ilmu-ilmu berdasarkan kepentingannya. Al-Mawardi berpendapat bahwa ilmu terbaik adalah ilmu agama. Kita sepakat dengan pendapat ini, tetapi kita tambahkan bahwa ilmuwan dan peneliti Muslim harus berangkat dari kesadaran akan ilmu syariah untuk menghasilkan ilmu dalam semua bidang. Ilmu agama membimbing jalan dan metodologi, sebagaimana disebut Al-Mawardi. Al-Qur’an membuka cakrawala pembangunan peradaban Islam.
Guru sebagai Teladan
Peran guru adalah sebagai pemimpin pengetahuan. Ia harus menunjukkan komitmen pada nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari: kejujuran, amanah, keadilan, kasih sayang. Nilai-nilai ini terkait dengan ilmu, meningkatkan nilai dan kredibilitasnya.
Guru yang tidak meneladani Rasulullah ﷺ tak bisa menjadi teladan bagi murid-muridnya, dan tak berkontribusi membangun kepribadian kepemimpinan mereka.
Peserta Didik yang Meneladani Gurunya
Dalam sistem pendidikan Islam, peserta didik tidak memandang guru sekadar sumber informasi, tetapi sebagai model hidup untuk perilaku dan ilmu. Proses belajar di sini tidak hanya intelektual, tetapi juga emosional dan perilaku.
Peran Nilai dalam Membangun Konten Pendidikan
Pendidikan Islam tidak terbatas pada keterampilan, tetapi mencakup pembangunan hati nurani moral. Setiap ilmu harus terkait dengan tujuan luhur: keadilan, memakmurkan bumi, melayani manusia, membangun peradaban, membela kebenaran.
Keteladanan dalam Lingkungan Pendidikan
Bagaimana menjadikan lembaga pendidikan sebagai “masyarakat keteladanan”? Di mana kejujuran, integritas, dan keadilan berlaku, dan nilai-nilai dihayati secara kolektif sehingga tercermin dalam perilaku peserta didik.
Kepemimpinan Pendidikan dan Pembinaan dalam Cahaya Konsep Keteladanan
Membangun kembali konsep kepemimpinan pendidikan di atas fondasi keteladanan dapat membuka cakrawala baru untuk mengembangkan fungsi guru di sekolah dan universitas.
Kepemimpinan pendidikan dalam pemikiran Barat berfokus pada manajemen sekolah, peningkatan kinerja, kualitas pendidikan, dan pemberdayaan guru.
Adapun kepemimpinan pendidikan dalam perspektif Islam dibangun di atas “keteladanan”—bahwa guru, direktur, atau pemimpin pendidikan adalah model hidup bagi nilai-nilai. Ia meneladani Nabi ﷺ yang adalah pemimpin sekaligus pendidik.
Konsep al-Uswah al-Hasanah mendirikan prinsip bahwa kepemimpinan bukan sekadar perintah dan organisasi, tetapi implementasi praktis nilai-nilai dalam kehidupan pemimpin.
Ciri-Ciri Kepemimpinan Pendidikan Berbasis Keteladanan
Guru dan Pemimpin Pendidikan sebagai Teladan: Pemimpin pendidikan harus menjadi yang pertama menerapkan nilai-nilai: kejujuran, transparansi, kasih sayang, keadilan. Yang hilang dalam pendidikan modern adalah “model moral” dan pembangunan kepribadian beradab. Konsep keteladanan Rasulullah ﷺ menjadi fondasi untuk mengembangkan model ini.
Pengaruh Perilaku sebelum Pengaruh Administratif: Pemimpin pendidikan menanamkan perilaku dan nilai melalui praktik kesehariannya, tidak hanya mengandalkan penerapan aturan—yang sering bertentangan dengan nilai-nilai seperti kasih sayang, kemanusiaan, dan empati. Inilah pembeda antara “pemimpin yang ditaati karena jabatan” dan “pemimpin yang diteladani karena keteladanannya.”
Kepemimpinan dengan Kasih Sayang dan Kemudahan: Pendidikan Islam bertumpu pada memudahkan belajar, mengurangi kesulitan, dan bersikap lembut kepada peserta didik. Guru yang meneladani Rasulullah ﷺ membuka peluang membangun model peradaban Islam untuk pendidikan.
Kesesuaian Ucapan dan Perbuatan: Salah satu elemen terpenting keteladanan adalah kesesuaian antara ucapan dan perbuatan pemimpin. Ini menciptakan kepercayaan, loyalitas, dan komitmen dalam institusi pendidikan.
Penutup
Konsep al-Uswah al-Hasanah adalah model konsep Al-Qur’an yang membuka cakrawala baru untuk mengembangkan teori-teori yang menjadi fondasi proyek kebangkitan dan masyarakat berbasis pengetahuan. Konsep ini mengarahkan kita untuk memanfaatkan sirah Rasulullah ﷺ dalam membangun kekuatan umat. Ketika Rasulullah ﷺ menjadi teladan kita, kita mampu membangun kembali peradaban Islam.
Kepribadian Islam yang berkomitmen pada nilai dan akhlak, serta menyadari fungsi dan peran historisnya, adalah yang mampu meraih kemenangan. Konsep ini menyuguhkan gambaran gemilang bagi jamaah muslim yang teguh bersama Rasulullah ﷺ dan meneladani beliau dalam amal dan perilaku karena mereka mengharap Allah dan mencari keridhaan-Nya. Ketika jamaah muslim telah mencurahkan segala upayanya, datanglah pertolongan Allah.
Konsep ini tetap bekerja dalam kehidupan kita, membangun kekuatan individu mukmin yang meneladani Rasulullah ﷺ, sehingga citranya menjadi gemilang sebagaimana citra jamaah mukminin yang teguh bersama Rasulullah. Ia juga membangun kekuatan umat: umat yang meneladani Rasulullah ﷺ layak diteladani oleh umat lain, dan menjadi lebih kuat ketika berpegang pada sirahnya, menerapkan sunnahnya, dan berkomitmen pada akhlaknya. Dialah teladan tertinggi bagi kemanusiaan.
Dengan demikian, konsep yang sangat kaya ini dapat berkontribusi membangun teori kepemimpinan Islam dan mengembangkan sistem pendidikan yang harus berdiri di atas teori baru tentang kepemimpinan pendidikan.
Rekomendasi:
Mempelajari sirah Rasulullah ﷺ untuk mengubahnya menjadi sumber kekuatan umat, memberdayakannya dalam pembangunan peradaban, dan mengembangkan berbagai ilmu—terutama ilmu kepemimpinan, pendidikan, dan pengajaran.
Memberdayakan sirah Rasulullah ﷺ dalam membangun kepribadian Islam, dengan menjadikan beliau teladan, sehingga kepribadian Muslim lebih mampu dalam kepemimpinan, pendidikan, dan penyampaian ilmu.
Mengembangkan proses penyiapan dan pelatihan pemimpin dalam cahaya konsep ini, dengan menjadikan Rasulullah ﷺ teladan tertinggi, dan pemimpin berkomitmen pada etika Islam yang membedakannya dari pemimpin lain.
Mengembangkan proses kualifikasi dan pelatihan guru agar menjadi pemimpin pendidikan yang berkomitmen pada etika Islam dalam perilaku mereka, berkontribusi membangun masyarakat berbasis pengetahuan, dan mempersiapkan siswa menjadi pemimpin dan ilmuwan. Ini merupakan pengembangan sistem pendidikan untuk menjadi fondasi kebangkitan umat.
Mendorong para ilmuwan untuk mempelajari sirah Rasulullah ﷺ, menemukan konsep-konsep yang menjadi fondasi peradaban Islam, dan memberdayakannya dalam membangun masa depan.
Ikhwanul Muslimin dapat memainkan peran historis dalam membangun fondasi ilmiah dan teori-teori yang menjadi dasar proyek peradaban Islam yang membebaskan umat dari ketergantungan dan penjajahan budaya Barat.
Dengan konsep dan teori ini, dapat disiapkan pemimpin-pemimpin yang dipercaya masyarakat karena ketulusan mereka dalam meneladani Rasulullah ﷺ dan komitmen pada sistem etika Islam.
Sumber: Tarbiyaa.com





