Malaysia menyerukan kerja sama internasional yang lebih kuat untuk memperluas ekonomi halal global. Pemerintah mengimbau berbagai negara dan pelaku usaha untuk mengubah peningkatan permintaan menjadi perluasan perdagangan, investasi, dan akses pasar.
Wakil Perdana Menteri Ahmad Zahid Hamidi menyampaikan pernyataan tersebut pada acara pembukaan resmi Malaysia International Halal Showcase ke-22 (MIHAS 2026) dan Global Halal Summit 2026 (GHaS 2026) di Malaysia International Trade and Exhibition Centre (MITEC), Kuala Lumpur.
Acara tersebut dihadiri oleh delegasi luar negeri, pejabat pemerintah, perwakilan industri, dan peserta dari berbagai belahan dunia.
Saat mendorong terwujudnya ekonomi halal global yang lebih terhubung, Zahid menegaskan bahwa pembuat kebijakan dan pelaku bisnis perlu bekerja sama untuk mengubah pertumbuhan sektor ini menjadi peluang ekonomi yang nyata.
“Mari kita ubah ambisi bersama ini menjadi perdagangan, investasi, dan lapangan kerja,” ujarnya.
“Kerja sama kita harus terus berlanjut setelah pertemuan ini. Keberhasilan hanya akan diukur dari hambatan yang berhasil kita atasi, kemitraan yang bertahan lama, serta bisnis yang mampu menjangkau pasar-pasar baru,” tambahnya.
“Bersama-sama, kita telah membangun kepercayaan terhadap halal yang halalan tayyiban. Sekarang, mari kita bangun kesejahteraan yang lebih besar melalui halal,” kata Zahid.
Dari Sertifikasi Menuju Pasar Global
Zahid menekankan bahwa sertifikasi halal saja tidak cukup bagi perusahaan yang ingin berekspansi ke tingkat internasional.
“Sertifikasi hanyalah awal dari perjalanan tersebut,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa perusahaan juga membutuhkan konsistensi produksi, pengemasan yang memadai, modal kerja, logistik yang andal, serta pemahaman mendalam tentang pasar sasaran mereka.
Zahid menyebutkan bahwa baru sekitar 14,7% perusahaan bersertifikat halal di Malaysia yang menjadi eksportir. Hal ini menunjukkan perlunya pendampingan agar lebih banyak bisnis mampu bersaing di pasar internasional.
“Untuk mewujudkan ambisi kita, kita harus membantu lebih banyak perusahaan agar mampu bersaing di luar negeri,” katanya.
Ia menyoroti inisiatif perdagangan halal internasional Malaysia, dengan menyebutkan bahwa MIHAS di Dubai membukukan penjualan sebesar 2,2 miliar ringgit Malaysia (540 juta dolar AS) pada tahun 2024, diikuti oleh MIHAS di Shanghai yang mencatatkan nilai 3,2 miliar ringgit (785 juta dolar AS) pada tahun 2025.
Ekonomi Halal Berlandaskan Kepercayaan dan Integritas
Menteri di Departemen Perdana Menteri Malaysia Bidang Agama, Zulkifli Hasan, menyatakan bahwa pengembangan sektor halal merupakan upaya bersama yang melibatkan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM), Kementerian Pelaburan, Perdagangan dan Industri, MATRADE, Halal Development Corporation, serta berbagai lembaga lainnya.
“Halal bukan sekadar urusan standar, sertifikasi, atau perdagangan,” ungkapnya.
Zulkifli menjelaskan bahwa prinsip syariah, integritas, etika, dan rasa tanggung jawab menjadi fondasi kepercayaan bagi pertumbuhan ekonomi halal, sekaligus berkontribusi pada pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat dunia.
Menurutnya, pendekatan Malaysia dalam mengembangkan ekonomi halal tidak hanya berfokus pada sertifikasi, tetapi juga mencakup perdagangan, investasi, inovasi, penelitian, pengembangan bakat, dan akses pasar internasional.
Zulkifli juga menyoroti Sistem Sertifikasi Halal Malaysia yang dipelopori oleh JAKIM, termasuk pengakuan terhadap lembaga sertifikasi halal luar negeri di berbagai wilayah.
Ia mengatakan bahwa sistem tersebut telah membantu membentuk rantai kepercayaan yang memperkuat keyakinan internasional terhadap produk dan layanan halal.
Ia menambahkan bahwa Malaysia tetap berkomitmen untuk memperkuat perannya di sektor halal global melalui standar yang terpercaya, inovasi, teknologi, dan kerja sama internasional yang strategis.
GHaS 2026 mengusung tema “Shariah and Integrity: Empowering the Global Halal Ecosystem.”
Sementara itu, MIHAS 2026 berlangsung di MITEC pada 23 sampai 26 September dengan tema “Shaping Trust, Driving Resilience”, yang mempertemukan berbagai perusahaan dan perwakilan industri dari seluruh ekosistem halal global.
Sumber: Situs berita Anadolu





