Izinkan saya, saudara-saudara sekalian, menggunakan ungkapan ini. Saya tidak bermaksud bahwa Ikhwanul Muslimin memiliki Islam baru yang berbeda dari Islam yang dibawa oleh junjungan kita Muhammad ﷺ dari Tuhannya. Namun yang saya maksud adalah bahwa banyak kaum muslimin di banyak zaman telah menempelkan pada Islam berbagai sifat, gambaran, batasan, dan formalitas dari diri mereka sendiri. Mereka menggunakan kelenturan dan keluasan Islam dengan cara yang merusak—padahal kelenturan dan keluasan itu tidak lain hanyalah untuk hikmah yang agung. Akibatnya, mereka berselisih paham tentang makna Islam secara sangat besar. Dan dalam diri anak-anak umat ini, tercetaklah berbagai gambaran tentang Islam—ada yang mendekati, ada yang menjauhi, ada yang sesuai dengan Islam pertama yang telah dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.
Berbagai Gambaran Islam di Masyarakat
1. Islam Sebatas Ibadah Lahiriah
Di antara manusia ada yang tidak memandang Islam sebagai apa pun selain batasan-batasan ibadah lahiriah. Jika ia melaksanakannya—atau melihat orang lain melaksanakannya—maka hatinya menjadi tenteram, ia merasa puas, dan menyangka bahwa ia telah sampai pada intisari Islam. Inilah makna yang umum di kalangan awam muslim.
2. Islam sebagai Akhlak Mulia dan Spiritualitas
Di antara mereka ada yang tidak memandang Islam sebagai apa pun selain akhlak yang mulia, spiritualitas yang melimpah, dan santapan filosofis yang lezat bagi akal dan roh—serta menjauhkan keduanya dari kotoran materi yang zalim dan mendominasi.
3. Islam Terbatas pada Kekaguman terhadap Nilai-Nilai Praktis
Di antara mereka ada yang Islamnya berhenti pada batas kekaguman terhadap makna-makna kehidupan yang praktis dalam Islam, sehingga ia tidak perlu melihat yang lain dan tidak tertarik memikirkan selain itu.
4. Islam sebagai Warisan dan Tradisi yang Membosankan
Di antara mereka ada yang memandang Islam sebagai sekadar jenis keyakinan warisan dan amalan turun-temurun yang tidak memberikan manfaat apa pun dan tidak membawa kemajuan. Ia merasa jemu terhadap Islam dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Gambaran ini jelas terlihat dalam jiwa banyak orang yang menyerap budaya asing dan tidak memperoleh kesempatan untuk berhubungan baik dengan hakikat-hakikat Islam. Mereka tidak tahu apa-apa tentang Islam sama sekali, atau mereka mengetahuinya dalam gambaran yang terdistorsi karena pergaulan dengan muslim yang tidak mampu mencontohkannya dengan baik.
Di bawah semua kategori ini, masih banyak kategori lain yang masing-masing memandang Islam secara berbeda—sedikit atau banyak. Hanya sedikit orang yang menangkap Islam sebagai gambaran utuh dan jelas yang mencakup semua makna ini secara terpadu.
Berbagai gambaran tentang satu Islam dalam jiwa manusia ini menyebabkan mereka berselisih paham secara nyata dalam memahami Ikhwanul Muslimin dan membayangkan gagasannya.
Sebagian orang membayangkan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok pengajian dan pembinaan yang kesibukan utamanya adalah memberikan nasihat agar manusia zuhud terhadap dunia dan mengingatkan mereka akan akhirat.
Sebagian lain membayangkan Ikhwanul Muslimin sebagai tarekat sufi yang peduli mengajarkan manusia berbagai jenis dzikir, kemudahan dalam beribadah, serta konsekuensinya berupa keterlepasan dari dunia dan kependetaan (rahbaniyyah).
Sebagian lain menyangka mereka sebagai kelompok teoretis fikih yang kesibukan utamanya adalah berhenti pada sekumpulan hukum, memperdebatkannya, memperjuangkannya, memaksakannya kepada manusia, serta memusuhi atau berdamai dengan siapa pun yang tidak sepakat dengannya.
Hanya sedikit orang yang telah bergaul dengan Ikhwanul Muslimin, bercampur dan menyatu dengan mereka, tidak berhenti pada batas sekadar mendengar, dan tidak menempelkan pada Ikhwanul Muslimin gambaran Islam yang mereka bayangkan sendiri. Merekalah yang mengetahui hakikat Ikhwanul Muslimin dan menangkap segala sesuatu tentang dakwah mereka, baik dalam ilmu maupun amal.
Makna Islam Menurut Ikhwanul Muslimin
Karena itulah, saya ingin berbicara kepada hadirin sekalian secara ringkas tentang makna Islam dan gambaran yang terpahat dalam jiwa Ikhwanul Muslimin, sehingga landasan yang kami dakwahkan, yang kami banggakan sebagai identitas, dan yang kami jadikan sumber rujukan, menjadi jelas dan terang.
Keyakinan Dasar: Islam Mencakup Seluruh Kehidupan
Kami meyakini bahwa hukum dan ajaran Islam bersifat menyeluruh (syamil)—mengatur segala urusan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Dan orang-orang yang menyangka bahwa ajaran-ajaran ini hanya mencakup aspek ibadah atau ruhani semata, tanpa aspek-aspek lainnya, adalah orang-orang yang keliru dalam sangkaannya.
Islam adalah: akidah dan ibadah, tanah air dan kebangsaan, agama dan negara, spiritualitas dan amal, mushaf dan pedang.
Al-Qur’an Al-Karim menyatakan semua ini, menganggapnya sebagai bagian dari intisari Islam dan jantungnya, serta merekomendasikan untuk berbuat baik dalam keseluruhannya.
Dan inilah yang ditunjukkan oleh ayat yang mulia:
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ
*Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari dunia. Dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (QS. Al-Qashash [28]: 77)*
Bukti dari Al-Qur’an
1. Dalam Akidah dan Ibadah
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
*Artinya: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya, sebagai orang-orang yang hanif (lurus), melaksanakan salat, dan menunaikan zakat. Dan itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)*
2. Dalam Hukum, Peradilan, dan Politik
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
*Artinya: “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 65)*
3. Dalam Agama dan Perdagangan
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ…
*Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu mencatatnya…” (QS. Al-Baqarah [2]: 282)*
[Dalam ayat ini, Allah menjelaskan hukum pencatatan utang-piutang, persaksian, dan keadilan dalam transaksi hingga akhir ayat.]
4. Dalam Jihad, Harta, dan Peperangan
وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ…
*Artinya: “Dan apabila engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka lalu engkau mendirikan salat bersama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) bersamamu dengan membawa senjata mereka…” (QS. An-Nisa’ [4]: 102)*
[Dalam ayat ini, Allah menjelaskan tata cara salat dalam keadaan khauf (takut) saat perang.]
Dan masih banyak ayat-ayat lain yang luar biasa dalam berbagai tujuan yang sama, maupun dalam adab-adab umum dan urusan sosial lainnya.
Konsekuensi dari Pemahaman Menyeluruh Ini
Dengan cara inilah Ikhwanul Muslimin berhubungan dengan Kitabullah, menggali inspirasi darinya, dan memohon petunjuk kepadanya. Maka mereka yakin bahwa Islam adalah makna yang utuh dan menyeluruh ini, dan bahwa Islam harus mendominasi seluruh sendi kehidupan. Seluruh aspek kehidupan harus diwarnai oleh Islam, tunduk pada hukumnya, sejalan dengan kaidah dan ajarannya, serta bersumber darinya—selama umat ini ingin menjadi muslim yang sejati.
Namun, jika umat ini berserah diri dalam ibadahnya kepada Allah, tetapi meniru non-muslim dalam seluruh urusan kehidupannya yang lain, maka ia adalah umat yang tidak sempurna keislamannya. Ia menyerupai orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka:
أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
*Artinya: “Maka apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tidaklah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu, kecuali kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 85)*
Fondasi Ajaran Islam
Di samping itu, Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa fondasi dan sumber ajaran Islam adalah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya ﷺ. Jika umat ini berpegang teguh pada keduanya, ia tidak akan pernah sesat selama-lamanya.
Bersambung ke bagian 2, insya Allah.
Sumber: Tarbiyaa





