Mengapa Kita Harus Memahami Islam dari Sumber Pertamanya?
Banyak sekali pendapat dan ilmu pengetahuan yang bersentuhan dengan Islam dan mewarnai dirinya dengan warna Islam, namun ia membawa warna zaman yang melahirkannya dan warna bangsa yang mengitarinya.
Oleh karena itu, sistem-sistem Islam yang akan dipikul oleh umat ini harus diambil dari sumber yang jernih ini—sumber kemudahan yang pertama. Kita harus memahami Islam sebagaimana para sahabat dan tabi’in dari kalangan salaf saleh memahaminya. Kita harus berhenti pada batasan-batasan ketuhanan dan kenabian ini, agar kita tidak mengikat diri dengan sesuatu yang tidak diikatkan oleh Allah kepada kita, dan agar kita tidak memaksakan warna zaman tertentu kepada zaman kita yang tidak sesuai dengannya. Islam adalah agama seluruh umat manusia.
Di samping itu, Ikhwanul Muslimin juga meyakini bahwa Islam sebagai agama yang universal—yang mencakup seluruh sendi kehidupan di semua bangsa dan umat, untuk sepanjang zaman dan masa—datang dalam bentuk yang paling sempurna dan paling luhur sehingga tidak perlu menjabarkan secara rinci setiap bagian kecil kehidupan, terutama dalam urusan-urusan duniawi murni. Islam justru meletakkan kaidah-kaidah universal dalam setiap urusan tersebut, dan menunjukkan kepada manusia jalan praktis untuk mengaplikasikannya serta berjalan dalam batasan-batasannya.
Perhatian Islam pada Jiwa Manusia
Untuk menjamin kebenaran dan ketepatan dalam penerapan ini—atau setidaknya mendekatinya—Islam memberi perhatian penuh pada penyembuhan jiwa manusia. Karena jiwalah yang menjadi sumber sistem, bahan pemikiran, penggambaran, dan pembentukan. Maka Islam memberikan obat-obat yang manjur yang membersihkan jiwa dari hawa nafsu, mencuci kotoran kepentingan dan tujuan tersembunyi, membimbingnya menuju kesempurnaan dan kebajikan, serta mencegahnya dari kezaliman, kekurangan, dan agresi.
Apabila jiwa telah lurus dan jernih, maka segala yang keluar darinya akan menjadi baik dan indah.
Mereka (para ulama) mengatakan: “Keadilan tidak terdapat dalam teks undang-undang, tetapi dalam jiwa hakim.” Engkau bisa membawa undang-undang yang sempurna dan adil kepada hakim yang memiliki hawa nafsu dan kepentingan tersembunyi, lalu ia menerapkannya dengan penerapan yang zalim—tak ada keadilan di dalamnya. Dan sebaliknya, engkau bisa membawa undang-undang yang tidak sempurna dan zalim kepada hakim yang adil, luhur, jauh dari hawa nafsu dan kepentingan, lalu ia menerapkannya dengan penerapan yang luhur dan adil, penuh kebaikan, keberkahan, rahmat, dan keadilan.
Dari sinilah, jiwa manusia menjadi pusat perhatian terbesar dalam Kitabullah. Dan jiwa-jiwa pertama yang dibentuk oleh Islam ini menjadi teladan kesempurnaan insani.
Karenanya pula, tabiat Islam selalu seirama dengan zaman dan bangsa, dan meluas untuk semua tujuan dan tuntutan. Dan karena itu juga, Islam tidak pernah menolak untuk mengambil manfaat dari setiap sistem yang baik yang tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah universal dan prinsip-prinsip umumnya.
Saya tidak ingin, hadirin sekalian, berpanjang-panjang dalam penjelasan ini. Ini adalah bab yang luas. Cukuplah kilasan singkat ini untuk menyinari makna umum gagasan Islam dalam jiwa Ikhwanul Muslimin.
Gagasan Ikhwanul Muslimin Mencakup Seluruh Makna Perbaikan
Sebagai konsekuensi dari pemahaman yang umum dan menyeluruh terhadap Islam di kalangan Ikhwanul Muslimin, maka gagasan mereka mencakup seluruh aspek perbaikan dalam umat. Seluruh elemen dari gagasan-gagasan perbaikan lainnya tercermin di dalamnya. Setiap pembaharu yang tulus dan bersemangat akan menemukan cita-citanya dalam diri mereka. Harapan para pecinta perbaikan yang mengenal dan memahami tujuan-tujuannya bertemu di sana. Dan engkau dapat mengatakan—tanpa rasa keberatan—bahwa Ikhwanul Muslimin adalah:
1. Dakwah Salafiyah (Salafi)
Karena mereka menyerukan kembalinya Islam ke sumbernya yang jernih: Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.
2. Thariqah Sunniyah (Cara Beragama yang Sunni)
Karena mereka membebani diri mereka untuk beramal dengan Sunnah yang suci dalam segala hal, terutama dalam akidah dan ibadah, selama mereka masih menemukan jalan untuk itu.
3. Hakikat Sufiyah (Hakikat Tasawuf)
Karena mereka meyakini bahwa fondasi kebaikan adalah kesucian jiwa, kebersihan hati, ketekunan dalam beramal, berpaling dari makhluk (dalam arti tidak bergantung pada pujian mereka), cinta karena Allah, dan keterikatan dalam kebaikan.
4. Hai’ah Siyasiyah (Organisasi Politik)
Karena mereka menuntut perbaikan pemerintahan di dalam negeri, penyempurnaan hubungan umat Islam dengan bangsa-bangsa lain di luar negeri, serta pendidikan masyarakat untuk mencintai kehormatan, martabat, dan semangat kebangsaan hingga batas terjauh.
5. Jama’ah Riyadhiyah (Kelompok Olahraga)
Karena mereka memperhatikan tubuh mereka, dan mereka tahu bahwa “mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah” (HR. Muslim), dan bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Artinya: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari)
Karena semua kewajiban Islam tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna dan benar kecuali dengan tubuh yang kuat. Salat, puasa, haji, dan zakat—semuanya membutuhkan tubuh yang mampu menanggung beban mencari nafkah, bekerja, dan berjuang. Dan karena itu pula, mereka memberikan perhatian pada perkumpulan dan tim olahraga mereka dengan perhatian yang sebanding, bahkan mungkin melebihi, banyak klub yang hanya mengkhususkan diri pada olahraga jasmani semata.
6. Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqafiyah (Ikatan Ilmiah dan Kultural)
Karena Islam menjadikan menuntut ilmu sebagai kewajiban bagi setiap muslim dan muslimah (HR. Ibnu Majah, dari Anas bin Malik), dan karena klub-klub Ikhwan pada hakikatnya adalah sekolah-sekolah untuk pendidikan dan pengkayaan wawasan, serta lembaga-lembaga untuk membina tubuh, akal, dan roh.
7. Syirkah Iqtishadiyah (Perusahaan Ekonomi)
Karena Islam peduli pada pengelolaan harta dan cara memperolehnya yang halal. Nabi ﷺ bersabda:
نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلرَّجُلِ الصَّالِحِ
Artinya: “Sebaik-baik harta adalah harta yang baik (halal) bagi laki-laki yang saleh.” (HR. Ahmad)
مَنْ أَمْسَى كَالًّا مِنْ عَمَلِ يَدِهِ أَمْسَى مَغْفُورًا لَهُ
Artinya: “Barang siapa memasuki waktu sore dalam keadaan lelah karena kerja tangannya sendiri, maka ia memasuki waktu sore dalam keadaan diampuni.” (HR. Thabrani)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai mukmin yang profesional (bekerja dengan tangannya sendiri).” (HR. Thabrani)
8. Fikrah Ijtima’iyyah (Gagasan Sosial)
Karena mereka peduli pada penyakit-penyakit masyarakat Islam dan berusaha mencapai cara-cara pengobatannya serta menyembuhkan umat darinya.
Kesimpulan: Keutuhan yang Tidak Kontradiktif
Dengan demikian, kita melihat bahwa keluasan makna Islam telah memberikan keluasan pada gagasan kita terhadap seluruh aspek perbaikan, dan mengarahkan aktivitas Ikhwan ke semua aspek tersebut. Sementara kelompok lain berfokus pada satu aspek tanpa yang lain, Ikhwan berfokus pada semua aspek dan mereka tahu bahwa Islam menuntut mereka untuk menggarap semua itu.
Dari sinilah, banyak manifestasi aktivitas Ikhwan terkadang tampak di mata orang sebagai kontradiksi, padahal tidak kontradiktif sama sekali.
Orang bisa melihat seorang saudara muslim:
Di mihrab: khusyuk, berkonsentrasi penuh, menangis, dan merendahkan diri di hadapan Allah.
Tak lama kemudian: orang yang sama menjadi penceramah, guru yang mengguncang telinga dengan ancaman-ancaman nasihat.
Tak lama kemudian: orang yang sama menjadi atlet yang rapi, melempar bola, melatih lari, atau berenang.
Beberapa waktu kemudian: orang yang sama di toko atau bengkelnya, menjalankan profesinya dengan amanah dan keikhlasan.
Ini adalah manifestasi yang mungkin dilihat orang sebagai hal-hal yang bertentangan, tidak cocok satu sama lain. Seandainya mereka tahu bahwa semuanya dikumpulkan oleh Islam, diperintahkan oleh Islam, dan didorong oleh Islam, niscaya mereka akan melihat di dalamnya manifestasi kesatuan dan makna harmoni.
Penutup: Menghindari Celaan
Dan dengan keluasan (syumuliyah) ini, Ikhwan menghindari segala celaan yang mungkin diarahkan pada aspek-aspek ini, serta titik-titik kritik dan kekurangan.
Bersambung ke bagian selanjutnya, insya Allah.
Sumber: Tarbiyaa





