GAZA, 8 Mei 2026 — Di sudut geografis sempit di dekat Pelabuhan Laut Gaza, babak-babak tragedi kemanusiaan yang rumit terwujud dalam kehidupan para pengungsi Palestina. Tenda-tenda bobrok tidak lagi mampu menahan angin musim dingin atau melindungi dari panasnya musim panas. Di tengah blokade Israel yang ketat yang mencegah masuknya alternatif atau bantuan yang memadai, penduduk menghadapi realitas kehidupan yang berat, tanpa fasilitas dasar kehidupan manusia—mulai dari makanan dan obat-obatan hingga penerangan, sebuah mimpi yang kini sulit dijangkau.
Kegelapan Blokade
Kamp-kamp pengungsi tenggelam dalam “kegelapan pekat” dengan tidak adanya sarana penerangan sama sekali. Menurut kesaksian lapangan yang didokumentasikan kamera Al Jazeera Mubasher, penduduk terpaksa mengandalkan cahaya redup ponsel mereka yang mereka perjuangkan untuk diisi dayanya, di saat pendudukan melarang masuknya baterai, senter, dan lampu LED.
Seorang pemilik toko kecil menggambarkan penderitaannya: “Aku berharap bisa membeli senter untuk menerangi rezekiku dan rezeki anak-anakku, tetapi kemampuan tidak ada dan peralatan listrik dilarang masuk.”
Ketiadaan penerangan yang dipaksakan ini tidak hanya menghambat pergerakan, tetapi juga memperburuk perasaan terisolasi dan bahaya di malam hari, yang oleh para pengungsi digambarkan sebagai “panjang dan mengerikan,” meskipun ada upaya kecil untuk mencari alat penerangan primitif guna menghilangkan kegelapan malam.
Jalur Gaza masih hidup dalam krisis kompleks yang ditinggalkan oleh perang yang dilancarkan Israel selama dua tahun, yang mempengaruhi semua aspek kehidupan sehari-hari lebih dari dua juta warga Palestina. Sebagian besar rumah di Gaza tidak memiliki listrik dan gas, karena pemiliknya tidak mampu membayar tagihan listrik dan sumber energi alternatif.
Penderitaan yang Berlipat Ganda
Penderitaan tidak terbatas pada kegelapan. Tenda-tenda kekurangan tempat tidur dan pakaian hangat, membuat para pengungsi rentan terhadap penyakit kronis dan infeksi saluran pencernaan, terutama anak-anak yang tidak mendapatkan pengobatan di klinik yang kehabisan obat-obatan.
Seorang wanita pengungsi menceritakan momen ketika tenda kainnya runtuh di atas kepala anak-anaknya pada pukul 2 dini hari akibat angin kencang, memaksanya melarikan diri bersama mereka dalam kegelapan malam tanpa tempat berlindung.
Di sisi keamanan, serangan helikopter Apache dan mortir kapal perang memperparah kepanikan. Para pengungsi menegaskan bahwa penargetan Israel terhadap daerah padat penduduk menghilangkan rasa aman, membuat mereka dalam “kecemasan konstan” yang mencegah mereka tidur hingga fajar.
Di tengah lanskap suram ini, impian seluruh generasi lenyap. Para siswa mengeluhkan hilangnya perjalanan pendidikan mereka karena tidak tersedianya sekolah atau kemampuan finansial untuk masuk ke pusat pendidikan swasta, selain tidak adanya penerangan.
Jeritan para pengungsi merangkum satu tuntutan: “Hentikan perang dan kembali ke rumah.” Mereka berharap bisa mendapatkan hak paling dasar mereka atas keamanan, makanan, dan alat penerangan yang dapat menghilangkan kesuraman malam mereka.
Pada bulan Oktober lalu, Perusahaan Distribusi Listrik Gaza mengumumkan bahwa Gaza telah kehilangan sekitar 2,1 miliar kilowatt-jam listrik sejak 7 Oktober 2023, dan memperkirakan kerugian awal mereka lebih dari 728 juta dolar AS akibat penghancuran infrastruktur yang sistematis oleh Israel.
Perusahaan tersebut mencatat bahwa tentara pendudukan telah menghancurkan lebih dari 70 persen jaringan listrik, 100 persen sumber komersial yang memasok Gaza berhenti beroperasi, di samping penghancuran 80 persen kendaraan dan 90 persen gudang secara total.
Sumber: Al Jazeera




