Ikhwan menjadikan sunnah ini sebagai fase fundamental dalam metode reformasi dan perubahan mereka. Telah mapan dalam pemahaman mereka bahwa Islam adalah agama yang Allah jamin pemeliharaannya hingga hari Kiamat. Maka, orang-orang yang mendahulukan agama ini di atas harta, jiwa, keluarga, dan pekerjaan mereka, adalah mereka yang akan menghadapi ujian keteguhan di atas manhaj ketuhanan. Mereka memikul beban amanah yang langit, bumi, dan gunung-gunung enggan untuk memikulnya. Telah tertanam dalam hati mereka bahwa ujian-ujian ini tidak lain hanyalah menambah keyakinan mereka bahwa mereka berada di jalan yang lurus. Sebagaimana firman Allah:
وَلَوْلَآ أَن ثَبَّتْنَـٰكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْـًۭٔا قَلِيلًا
“Dan sekiranya Kami tidak memperteguh hatimu, niscaya engkau hampir-hampir sedikit cenderung kepada mereka.” (QS. Al-Isra’: 74)
Dan bahwa mereka adalah orang-orang yang teguh langkah di atas dakwah mereka:
فَلَا تُطِعِ ٱلْمُكَذِّبِينَ * وَدُّوا۟ لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ
“Maka janganlah engkau turuti orang-orang yang mendustakan. Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak, maka mereka pun akan bersikap lunak.” (QS. Al-Qalam: 8-9)
Imam Al-Banna berkata tentang dampak dari ujian-ujian ketuhanan:
“Hal itu bertepatan dengan adanya ujian bagi dakwah Ikhwan yang mengungkap esensinya, menarik perhatian manusia kepadanya, dan mengumpulkan banyak hati yang sebelumnya menjauh di sekelilingnya. Dengan demikian, dakwah berpindah ke dalam hati-hati yang beriman dan akal-akal yang berpikir. Ia menjadi landasan yang diterima setelah sebelumnya hanya berupa perasaan yang bergelora. Banyak orang mulai memandangnya sebagai prinsip-prinsip yang mungkin terwujud dan layak untuk diterapkan, sehingga ia tidak lagi hanya sekadar mimpi di benak atau perasaan di dalam jiwa.”
Wahai kaum kami! Jika kalian menganggap upaya reformasi kami terhadap masyarakat, seruan kami untuk perubahan, upaya menghentikan kemerosotan dalam segala kondisi, serta menghilangkan stagnasi dan kebuntuan dalam kehidupan politik sebagai tindakan yang terlarang, maka ketahuilah bahwa kalian telah salah perhitungan dan menghindari kebenaran. Sesungguhnya apa yang kami perjuangkan adalah harapan umat, titik temu pemikiran, dan apa yang telah disepakati oleh partai-partai serta bertemunya berbagai arus dengan segala spektrumnya.
Sifat Ketuhanan adalah Jalan Kita Menuju Reformasi
Sesungguhnya sifat ketuhanan adalah reformasi bagi jiwa dan masyarakat. Para ulama rabbani telah dipelihara untuk menjaga Kitab Allah. Merekalah yang bertanggung jawab di hadapan Allah atas pemeliharaan syariat, penyampaiannya, dan pengajarannya kepada hamba-hamba Allah.
بِمَا ٱسْتُحْفِظُوا۟ مِن كِتَـٰبِ ٱللَّهِ وَكَانُوا۟ عَلَيْهِ شُهَدَآءَ
“…disebabkan mereka dipercaya memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.” (QS. Al-Ma’idah: 44)
Seorang yang rabbani merasakan bahwa Allah akan menanyakan kepadanya tentang seluruh syariat dan tentang seluruh umat manusia ini. Sesungguhnya langkah pertama yang paling utama untuk menyelamatkan seluruh dunia dari apa yang mengancamnya terletak pada kembalinya kita kepada sifat ketuhanan yang sungguh-sungguh dan nyata, serta kerja sungguh-sungguh untuk menolong Islam dan meninggikan martabatnya. Oleh karena itu, wajib bagi setiap orang yang memiliki ghirah dan keikhlasan terhadap Islam untuk bersegera dan lari menuju Allah:
فَفِرُّوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۖ إِنِّى لَكُم مِّنْهُ نَذِيرٌۭ مُّبِينٌۭ
“Maka larilah kamu kepada Allah. Sesungguhnya aku diutus dari-Nya sebagai pemberi peringatan yang nyata bagi kamu.” (QS. Adz-Dzariyat: 50)
Dan hendaknya semboyan kita adalah:
وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ
“Dan aku bersegera menuju kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau rida kepadaku.” (QS. Thaha: 84)
Imam Syahid telah menunjukkan kepada kita bahwa ketika kita melihat hambatan-hambatan di jalan, kita harus mengingat di sampingnya faktor-faktor keberhasilan yang tidak dapat dihalangi oleh hambatan apa pun, yaitu:
Kita menyeru dengan seruan Allah, yaitu seruan yang paling luhur.
Kita menyerukan pemikiran Islam, yaitu pemikiran yang paling kuat.
Kita menyajikan kepada manusia syariat Allah, yaitu syariat yang paling adil.
Seluruh dunia sangat membutuhkan seruan ini, dan segala sesuatu yang ada di dalamnya tengah mempersiapkan dan menyediakan jalannya.
Kita, dengan segala puji bagi Allah, berlepas diri dari kepentingan pribadi, jauh dari keuntungan diri sendiri, dan tidak bertujuan kecuali wajah Allah dan kebaikan manusia, serta tidak beramal kecuali mengharap keridaan-Nya.
Kita mengharapkan pertolongan dan dukungan Allah. Barangsiapa ditolong Allah, maka tidak ada yang dapat mengalahkannya. Maka kekuatan dakwah kita, kebutuhan dunia akan dakwah ini, keluhuran tujuan kita, dan pertolongan Allah kepada kita, adalah faktor-faktor keberhasilan yang tidak dapat dihalangi oleh suatu hambatan pun dan tidak dapat dihentikan oleh suatu rintangan pun di jalannya.
Wahai umat kami!
Sesungguhnya orang-orang mulia yang menghadapi konspirasi, penangkapan, dan kasus-kasus pemalsuan serta rekayasa, mengetahui bahwa dengan keteguhan mereka, konspirasi-konspirasi itu akan lenyap, dan dengan keyakinan mereka, segala keraguan akan terhapus.
وَلَمَّا رَءَا ٱلْمُؤْمِنُونَ ٱلْأَحْزَابَ قَالُوا۟ هَـٰذَا مَا وَعَدَنَا ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ وَصَدَقَ ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّآ إِيمَـٰنًۭا وَتَسْلِيمًۭا
“Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan musuh yang bersekutu, mereka berkata, ‘Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami, dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan yang demikian itu tidak menambah bagi mereka kecuali iman dan kepasrahan.” (QS. Al-Ahzab: 22)
Tidak ada jalan menuju keberhasilan dakwah kecuali jalan ini. Para dai yang rabbani adalah mereka yang menghadapi ujian dan tidak berlindung kecuali kepada Allah, dan tidak menundukkan dahi mereka kepada selain-Nya.
Sumber: Tarbiyaa.com





