“Ikhwan Muslimin hari ini dan kemarin, dan mereka adalah umat baru yang berdiri di atas kebenaran, mendapat petunjuk dengan cahaya Allah, yang menyeru ke jalan-Nya yang lurus, di antara pemberian dan cobaan… Hendaklah mereka bersyukur kepada Allah dengan sebesar-besarnya syukur atas nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada mereka, dan curahan karunia dan anugerah-Nya, dan hendaklah mereka bersabar dengan kesabaran yang paling sempurna dalam menghadapi cobaan, betapa pun keras teriakannya, gemuruh kilatnya, dan besarnya kengeriannya, dan sekalipun pasukan berkuda dan pasukan infanteri dikerahkan melawannya. Dan hendaklah mereka percaya dengan janji-janji Allah kepada para pendahulu mereka yang saleh.” (Imam Hasan Al-Banna)
Prinsip dasar bagi semua Ikhwan adalah bahwa mereka bekerja karena mengharap pahala dari Allah, mengharapkan dengan semua perbuatan dan perkataan mereka keridaan-Nya. Jika semua anggota jamaah menganggap dirinya ikhlas, maka anggapan mereka itu terhadap pemimpin mereka lebih kuat dan lebih kokoh. Mereka mempelajari itu dari sayyid kami Abu Ayyub Al-Anshari dan istrinya. Ketika orang-orang yang membuat kedustaan mengatakan apa yang mereka katakan, dia berkata kepada istrinya: “Wahai Ummu Ayyub, apakah engkau akan melakukan hal itu?” Dia menjawab: “Tidak, demi Allah.” Maka dia berkata: “Maka ‘Aisyah, demi Allah, lebih baik dan lebih suci darimu.” Maka Allah menurunkan ayat:
لَوْلَآ إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَٱلْمُؤْمِنَـٰتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًۭا وَقَالُوا۟ هَـٰذَآ إِفْكٌۭ مُّبِينٌۭ
“Mengapa ketika kamu mendengarnya, orang-orang mukmin dan mukminat tidak berprasangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan tidak mengatakan: ‘Ini adalah kedustaan yang nyata!'” (QS. An-Nur: 12)
Inilah prasangka kami terhadap pimpinan kami, dan kami tidak menganggap mereka suci di sisi Allah.
Beragam tulisan yang membahas pengaruh peristiwa terhadap jamaah… antara perkiraan pemimpi bahwa konsekuensi yang tak terhindarkan adalah pengaruh pada entitas dakwah dan organisasi jamaah, dan keyakinan yang pasti bahwa Allah akan menjadikan di balik peristiwa-peristiwa ini kebaikan dan manfaat bagi Islam dan umat Islam, dan bahwa jamaah –dengan izin Allah– akan keluar darinya menjadi lebih kokoh dan lebih cepat gerakannya dalam mewujudkan tujuan-tujuannya yang telah menjadi tujuan seluruh rakyat, insya Allah.
Ini bukanlah ungkapan-ungkapan yang berangkat dari sumber emosi saja, tetapi adalah kebenaran yang telah ditegaskan oleh sejarah jamaah dan ditegaskan oleh peristiwa-peristiwa yang terbentang sepanjang sejarahnya selama lebih dari 94 tahun hingga hari ini.
Semua orang mengetahui, kami mengetahui, dan semua Ikhwan mengetahui –dan masih terus belajar– bahwa manhaj itu terjaga dengan keterjagaan rujukannya –Al-Qur’an dan As-Sunnah–. Maka setiap orang yang menganut manhaj ini dan terikat dengannya, mengetahui bahwa keterikatannya dengan manhaj adalah keterikatan ilmiah dan praktis.
Jamaah telah hidup masa yang lengkap dan zaman yang banyak dengan karunia Allah di bawah naungan firman-Nya:
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًۭا وَلَا تَفَرَّقُوا۟
“Dan berpeganglah kamu semuanya dengan tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103)
Mereka hidup di bawah naungan dakwah mereka yang diberkahi di atas nilai-nilai dan makna-makna afiliasi yang murni, ketaatan yang sadar lagi melihat, kepercayaan yang saling menguntungkan, dan persaudaraan yang tulus. Mereka didik di atas itu, sehingga mereka hidup untuk dakwah mereka dan dengannya di bawah naungan kerangka organisasi yang kokoh bangunannya, dalam afiliasi yang dalam, dan banyak pengorbanan. Semua orang bersemangat untuk menjadi dalam kelompok yang beriman itu. Mereka dipersatukan oleh ikatan organisasi yang terwujud dalam tiga pilar: ketaatan, persaudaraan, dan kepercayaan. Mereka tidak menyimpang darinya sedikit pun. Maka afiliasi organisasi kepada dakwah Ikhwan:
Ketaatan yang penuh kesadaran yang berangkat dari keimanan, semboyannya: “Kaum yang melihat kebenaran sebagai penolong pemimpin mereka, dan mereka melihat ketaatan kepada perintahnya sebagai keimanan.”
Persaudaraan yang tulus yang menjulang di atas ikatan-ikatan afiliasi yang sempit dan terbatas.
Kepercayaan yang tinggi yang tidak melemah di hadapan cobaan syahwat dan syubhat.
Dan di antara yang menggagalkan mimpi-mimpi orang-orang yang berkhayal adalah bahwa jamaah selalu mengambil sikap-sikapnya dari mekanisme ketuhanan dalam pengambilan keputusan dan penetapan arah yang ditetapkan oleh rujukan mereka –Al-Qur’an dan As-Sunnah– sehingga mereka mewajibkan diri mereka sendiri dengan musyawarah. Pembimbing Umum yang telah tiada, Ustadz Muhammad Mahdi ‘Akif, berkata bahwa jika musyawarah tidak diterapkan di dalam “Ikhwan Muslimin”, niscaya jamaah itu tidak akan bertahan di kancah lokal dan internasional hingga sekarang. Dan bahwa musyawarah bagi jamaah adalah kewajiban dan akhlak. Dan tidak ada institusi di dalam Ikhwan yang mampu bergerak tanpa menerapkan prinsip musyawarah. Dan bahwa banyak pemikiran dan kelompok telah lenyap karena tidak adanya musyawarah. Dan yang memecahkan segala harapan orang lain yang penuh kebencian adalah ikatan persaudaraan yang tulus itu.
Para Ikhwan telah belajar –dan masih terus– dari perkataan Imam Pendiri Hasan Al-Banna: “Dan yang aku maksud dengan persaudaraan adalah hati dan ruh terikat dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kuat dan paling mahal. Persaudaraan adalah saudara kembar keimanan. Perpecahan adalah saudara kekafiran. Awal kekuatan adalah kekuatan persatuan. Tidak ada persatuan tanpa cinta. Paling rendah cinta adalah selamatnya dada dari kebencian. Dan paling tinggi tingkatannya adalah itsar:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri membutuhkan. Dan barang siapa menjaga dirinya dari kekikiran, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Saudara yang tulus melihat saudara-saudaranya lebih utama dengan dirinya daripada dirinya sendiri. Karena jika bukan karena mereka, niscaya dia tidak akan ada. Dan mereka, jika bukan karenanya, niscaya mereka akan ada karena orang lain.”
Ini adalah dakwah Ikhwan bagi siapa yang belum mengenalnya dengan baik, dan bagi siapa yang belum berdiri di ambang pintunya, dan bagi siapa yang belum memahami hakikatnya. Demikianlah mereka, para Ikhwan, dulu dan akan tetap menjadi sekelompok hati yang satu. Mungkin seseorang berkata: “Ini adalah idealisme.” Tetapi kami meyakininya sebagai kebenaran dalam dakwah Ikhwan. Dan kami akhiri dengan apa yang dikatakan oleh pendiri:
“Maka ingatlah baik-baik, wahai saudara-saudara, bahwa kalian adalah orang-orang asing yang memperbaiki ketika manusia rusak. Dan kalian adalah akal baru yang Allah kehendaki untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan pada masa ketika kebenaran telah tercampur aduk dengan kebatilan. Dan kalian adalah para penyeru Islam, pembawa Al-Qur’an, penghubung bumi dengan langit, dan pewaris Muhammad -ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam-, dan khalifah para sahabatnya setelahnya. Dakwah kalian melebihi dakwah-dakwah lain. Tujuan kalian meninggi di atas semua tujuan. Kalian bersandar kepada rukun yang kuat. Kalian berpegang teguh dengan tali yang kuat yang tidak putus. Kalian mengambil dengan cahaya yang terang, sementara jalan-jalan telah tertutup bagi manusia dan mereka tersesat dari jalan yang lurus. Dan Allah Maha Mengatasi atas urusan-Nya. Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”
Buah dari Upaya dan Perjuangan Imam:
Imam Al-Banna berkata: “Dakwah kami adalah dakwah yang paling tepat dideskripsikan bahwa ia Islami. Kata ini memiliki makna yang luas selain makna sempit yang dipahami manusia. Karena kami meyakini bahwa Islam adalah makna yang komprehensif yang mencakup urusan-urusan kehidupan semuanya, memberikan fatwa dalam setiap urusan darinya, dan menetapkan baginya sistem yang kokoh dan teliti. Dan ia tidak berdiri diam di hadapan masalah-masalah vital dan sistem-sistem yang tidak ada jalan lain untuk memperbaiki manusia.”
Untuk mewujudkan itu dan menurunkannya ke atas realitas yang nyata, diperlukan:
Kesehatan pemahaman, ketelitiannya, dan keselamatan langkah-langkahnya.
Kebaikan tujuan, kemurniannya, dan keikhlasan niat.
Dengan pemahaman yang teliti ini, mau tidak mau tujuan kita mulia dan sarana kita suci/terhormat karena bersumber dari akidah dan akhlak kita. Dan pemahaman yang teliti ini dan gambaran yang benar tidak akan terwujud di atas realitas yang nyata kecuali melalui jamaah yang memiliki manhaj yang mereka sepakati, individu yang menempatkannya pada pelaksanaan, dan pimpinan yang jujur di atasnya, yang terusik karenanya untuk mewujudkannya dengan ikhlas. Kebiasaan mereka dan tujuannya yang tertinggi adalah kesehatan permulaan. Barang siapa yang awalnya baik, maka akhirannya baik. Maka permulaannya adalah kerja kolektif: membangun individu muslim sehingga menjadi rabbani, kemudian menggabungkan batu bata ini satu sama lain untuk membentuk jamaah yang kompak yang berusaha untuk mewujudkan tujuan-tujuan besar.
Agar seorang manusia menjadi muslim yang bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, negaranya, dan jenisnya, dia harus yakin bahwa diperlukan kerja yang terprogram dan terencana dalam kerangka jamaah. Jamaah adalah individu yang memiliki pimpinan. Mereka diatur oleh pemahaman yang benar dan gerakan yang disiplin. Semua urusannya, masalah-masalahnya, dan sikap-sikapnya dikeluarkan melalui visi Islam yang fondasi, ketentuan, ciri-ciri, dan bukti/otoritasnya bergantung pada ilmu yang benar dan pemahaman yang teliti yang dibangun di atasnya, karena ilmu mendahului amal. Maka bersatulah gambaran yang benar dan perilaku; kesatuan tujuan dan nasib; dan kesatuan tujuan, bahkan sarana-sarana untuk mewujudkan itu semuanya.
Oleh karena itu, setiap individu dalam jamaah ini merasakan di dalamnya:
Kebanggaan dengan afiliasi kepadanya.
Ketenangan dalam keberadaannya di dalamnya.
Bahwa ia mewujudkan cita-citanya.
Bahwa dia adalah batu bata fundamental dalam bangunannya.
Bahwa dia adalah sel di dalamnya yang memberinya energi dan menerima energi darinya. Jika dia berpisah darinya, ia mati. Jika dia terhubung dengannya, ia hidup.
Imam Al-Auza’i berkata: “Ada lima perkara yang dianut para sahabat Rasulullah -ṣallallāhu ‘alayhi wa sallam- dan tabi’in: 1) Berpegang teguh pada jamaah. 2) Mengikuti sunnah. 3) Memakmurkan masjid. 4) Membaca Al-Qur’an. 5) Berjihad di jalan Allah.”
Dan dakwah yang ditegakkan oleh jamaah ini memiliki karakteristik. Ia adalah:
Rabbani dalam sumbernya karena ia wahyu dari sisi Allah.
Wasathiyyah dalam pilihan Allah untuknya.
Positif dalam pandangannya terhadap alam semesta, manusia, dan kehidupan.
Realistis ketika berinteraksi dengan individu dan masyarakat.
Berakhlak dalam tujuan dan sarananya.
Komprehensif dalam manhajnya.
Universal dalam dakwah kepadanya.
Musyawarah dalam pengambilan hukum dengannya.
Jihad dalam menghadapi siapa yang menghalangi jalannya, mencegah penyebarannya, dan menganiayanya.
Salafi dalam pemikiran, gambaran, dan keyakinan.
Karenanya, ia mengikuti manhaj yang damai dan persuasif ketika berdakwah kepadanya. Maka wajib bagi para dai:
Baik dalam penyajian.
Keindahan gaya dan menumbuhkan kerinduan.
Mendorong (targhib) kepada kebenaran.
Menggunakan hikmah dan pelajaran yang baik.
Berdebat dengan cara yang lebih baik.
Memperhatikan tuntutan keadaan.
Menggunakan sarana terbaik di zamannya dan bahasa kaumnya.
Berkomitmen pada kaidah-kaidah dakwah dan prinsip-prinsip persuasif yang dijunjung tanpa paksaan.
Memperhatikan kesehatan penyajian tiga manhaj: manhaj akidah, manhaj ibadah, dan manhaj gerakan.
Karenanya, penerapan itu tidak akan terwujud kecuali melalui pendidikan yang komprehensif, yang dimulai dengan: individu muslim, rumah tangga muslim, bangsa muslim, pemerintah muslim, umat muslim, dan kekhalifahan Islam.
Dan kita harus menegaskan bahwa Islam memiliki dua tujuan:
Tujuan pertama: Menegakkan umat yang saleh. Dan umat tidak akan menjadi saleh kecuali jika terpenuhi di dalamnya syarat-syarat:
Ia memiliki risalah yang berisi prinsip-prinsip yang mengarahkannya pada kecenderungan yang luhur. Maka umat yang hidup tanpa risalah, tidak ada keinginan baginya selain sesuap nasi, ia akan tetap ada selama nasi itu ada dan akan binasa ketika nasi itu binasa, berbeda dengan umat yang hidup untuk prinsip-prinsip.
Umat itu bersatu dan saling mencintai. (Prinsip bahwa orang-orang mukmin itu bersaudara, dan sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Sabda Nabi ﷺ: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain.” “Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”)
Umat itu mau berkorban… siap untuk mengeluarkan harta dan berkorban di jalan Allah:
إِنَّ ٱللَّهَ ٱشْتَرَىٰ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَٰلَهُم بِأَنَّ لَهُمُ ٱلْجَنَّةَ ۚ يُقَـٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّۭا فِى ٱلتَّوْرَىٰةِ وَٱلْإِنجِيلِ وَٱلْقُرْءَانِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِۦ مِنَ ٱللَّهِ ۚ فَٱسْتَبْشِرُوا۟ بِبَيْعِكُمُ ٱلَّذِى بَايَعْتُم بِهِۦ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin jiwa dan harta mereka dengan (memberi) surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 111)
Tujuan kedua: Di atas pucuk pimpinan umat ini harus ada pemerintahan yang saleh, Islam, beriman, dan melayani rakyat, bukan pemerintahan tirani dan sewenang-wenang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينًا، وَإِنَّ أَمِينَ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ
“Setiap umat memiliki orang kepercayaan, dan orang kepercayaan umat ini adalah Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dan semoga keridaan Allah tercurah kepada orang yang berkata: “Seandainya seekor bagal tersandung di Irak, niscaya Umar akan ditanya: ‘Mengapa jalan itu tidak diratakan untuknya?'”
Dan dengan ini, dan dengan dakwah ini yang dikendalikan oleh hikmah dan fondasinya bersumber dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah ﷺ, serta amal saleh para pendahulu umat ini, dan dari batu bata inilah terbentuk keluarga, lalu masyarakat, dan seterusnya.
Dan harus diperhatikan kekompakan jamaah yang akan bekerja untuk mewujudkan tujuan-tujuan, yang kembali kepada dua kekuatan dasar:
Kekuatan ikatan imani yang didasarkan pada keikhlasan.
Kekuatan ikatan organisasi yang didasarkan pada persaudaraan.
Tanpa kedua ikatan ini, betapa pun banyaknya organisasi dan manajemen yang kita terapkan, kita akan menjadi partai dari partai-partai buatan manusia yang di dalamnya kepentingan didahulukan di atas prinsip-prinsip, subjektivitas di atas objektivitas, personalisme di atas kolegialitas, individualisme di atas kolektivisme, pemaksaan satu pendapat di atas musyawarah, dan institusionalisme menghilang. Karenanya, wajib bagi semua untuk memperhatikan:
Menjaga dakwah, menyatakannya, melindungi ide, membelanya, dan berpegang teguh pada manhajnya.
Mengosongkan diri dari pemikiran tentang keuntungan materi dan hasil yang cepat serta mengambil keuntungan dari dakwah.
Menyatakan dakwah, mengeraskannya, dan berpegang teguh pada manhajnya.
Bersemangat untuk mewariskan dakwah dalam keadaan terbebas dari orang-orang.
Menanggung gangguan di jalan dakwah dan berkorban dengan harta dan jiwa serta berjihad untuk membelanya.
Kesesuaian perilaku dengan apa yang kita serukan dan mengambil dengan keteguhan.
Mendengar dan taat kepada pimpinan dalam suka dan duka, semangat dan terpaksa.
Nasihat dan arahan yang benar.
Menyembunyikan rahasia yang dipercayakan kepadanya dan tidak membocorkannya.
Bekerja untuk kekompakan jamaah, melaksanakan manhajnya, dan mewujudkan tujuannya.
Mempersiapkan para pemimpin, memilih kepemimpinan dengan baik, dan menyusun program-program pendidikan.
Menghormati peraturan dan sistem.
Berkomitmen pada pilihan-pilihan jamaah dalam sikap dan kebijakan.
Menerapkan musyawarah yang mengikat.
Memberi nasihat kepada individu dan pemimpin.
Meluruskan langkah-langkah, mengakui kesalahan secara terus terang, dan memperbaikinya.
Inilah pemahaman yang dengannya kami beragama dan kami ikhlaskan diri untuknya. Karena itu, Ustadz Al-Banna sangat teliti ketika menjadikan rukun pemahaman mendahului rukun keikhlasan. Maka keikhlasan kami adalah untuk pemahaman kami ini. Dan tidak diragukan bahwa harus ada bukti-bukti yang menunjukkan keikhlasan ini, baik yang berkaitan dengan manhaj, kepemimpinan, maupun individu satu sama lain.
Perlu dicatat bahwa gambaran ini harus memiliki:
Pertama: Akidah-akidah, nilai-nilai, dan hal-hal yang sudah mapan yang tidak dapat diganti, diperbarui, atau diubah.
Kedua: Hal-hal yang mengatur yang mengendalikan perjalanan dengan nilai-nilai, akhlak-akhlak, dan prinsip-prinsipnya.
Ketiga: Hal-hal yang berubah yang menerima ijtihad dan memperbarui gerakan.
Barang siapa yang menyimpang dari ini, kami kembalikan dia kepada pokok-pokok, hal-hal yang mapan, dan hal-hal yang mengatur kami. Jika dia kembali kepada kebenaran, maka kembali itu lebih baik dan kami sambut kembalinya. Jika dia menyimpang, condong, dan bersikeras bahwa dia telah memilih jalan yang bukan jalan kami, manhaj yang bukan manhaj kami, dan lintasan yang bukan lintasan kami, maka dengan demikian dia sendiri telah menentukan sikapnya terhadap kami.
Dari sini, risalah-risalah Al-Banna menjadi lentera yang menjelaskan ciri-ciri jalan, bagaimana kita mengenali sifat jalan dan sifat pertempuran, bagaimana kita mengatasi kesulitan, dan apa manhaj perubahan yang mewujudkan tujuan-tujuan besar bagi kita.
Sumber: Tarbiyaa





