RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,049)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (79)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (137)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Sejarah Islam

Salim Maula Abu Hudzaifah: Dari Budak yang Diangkat Anak Menjadi Imam Para Penghafal Al-Qur’an

  • 21-02-2026
  • No comments
Images (8)

Sang Pencinta Al-Qur’an yang Gugur dengan Al-Qur’an di Dadanya

Di tengah medan Perang Yamamah yang mencekam, ribuan pasukan berhamburan. Pedang-pedang beradu, darah mengalir membasahi tanah, dan tubuh-tubuh bergelimpangan. Di tengah kekacauan itu, seorang lelaki tegak berdiri memegang bendera kaum Muhajirin. Tangannya yang kanan memegang erat bendera, lalu ditebas musuh hingga putus. Ia pindahkan bendera ke tangan kiri, dan tangan kirinya pun ditebas hingga putus. Dengan kedua lengan yang mengucurkan darah, ia memeluk bendera itu erat-erat ke dadanya, seraya melantunkan ayat suci Al-Qur’an:

“Wa mā Muḥammadun illā rasūl, qad khalat min qablihir-rasul…”

Dialah Salim Maula Abu Hudzaifah. Seorang budak yang dimerdekakan, diangkat menjadi anak, lalu oleh Allah diangkat derajatnya menjadi imam bagi para qari dan penghafal Al-Qur’an. Kisahnya adalah salah satu epik paling mengharukan dalam sejarah kejayaan Islam.

Dari Budak Tak Bertuan Menjadi Anak Angkat

Salim adalah seorang hamba sahaya milik Tsubayyah binti Ya’ar Al-Anshariyyah, seorang wanita dari kaum Ansar. Tsubayyah kemudian memerdekakannya, menjadikan Salim sebagai manusia merdeka yang tak lagi menjadi milik siapa pun.

Abu Hudzaifah bin Utbah—suami Tsubayyah—melihat Salim yang kini terlantar tanpa perlindungan. Hatinya tergerak. Ia khawatir pemuda itu tak memiliki tempat bergantung. Maka, sesuai dengan tradisi Arab kala itu, Abu Hudzaifah menjadikan Salim sebagai anak angkatnya (tabanni).

Sejak saat itu, Salim dipanggil dengan nama Salim bin Abu Hudzaifah. Ia diakui sebagai anak, mendapat hak waris, dan dianggap memiliki nasab yang sah. Bahkan Abu Hudzaifah menikahkan Salim dengan putri saudaranya, Fathimah binti Al-Walid bin Utbah. Sebuah kehormatan luar biasa bagi seorang mantan budak.

Ketika Islam mulai tersiar di Mekkah, Abu Hudzaifah dan Salim bersama-sama masuk Islam. Mereka berdua termasuk dalam golongan As-Sābiqūn Al-Awwalūn—orang-orang pertama yang memeluk Islam. Salim pun tercatat sebagai salah satu dari 70 orang yang mengikuti Perang Badar, sebuah kehormatan besar di sisi Allah dan Rasul-Nya.

Ketika Islam Menghapus Tradisi Tabanni

Tahun ke-5 Hijriah, turunlah wahyu yang mengubah status Salim dan seluruh anak angkat dalam Islam. Allah SWT berfirman:

ٱدْعُوهُمْ لِـَٔابَآئِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ ٱللَّهِ ۚ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوٓا۟ ءَابَآءَهُمْ فَإِخْوَٰنُكُمْ فِى ٱلدِّينِ وَمَوَٰلِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَآ أَخْطَأْتُم بِهِۦ وَلَـٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Ahzab: 5)

Ayat ini mengubah total tradisi Arab. Anak angkat tidak boleh lagi dinasabkan kepada orang tua angkatnya. Mereka harus dipanggil dengan nama bapak kandung mereka—jika diketahui—atau jika tidak, cukup dipanggil sebagai “saudara seiman” atau maula (sahabat dekat/budak yang dimerdekakan).

Salim pun tidak lagi dipanggil Salim bin Abu Hudzaifah. Ia kembali menjadi Salim Maula Abu Hudzaifah—budak yang dimerdekakan oleh Abu Hudzaifah. Namun, hubungan cinta antara keduanya tidak pernah pudar. Mereka tetap bersaudara, bahkan lebih erat dari sebelumnya.

Terpisah dan Bertemu Kembali di Jalan Allah

Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam semakin memuncak, Rasulullah ﷺ mengizinkan para sahabat untuk berhijrah ke negeri Habasyah. Beliau bersabda:

لَوْ خَرَجْتُمْ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ، فَإِنَّ بِهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ، وَهِيَ أَرْضُ صِدْقٍ، حَتَّىٰ يَجْعَلَ اللَّهُ لَكُمْ فَرَجًا

“Sekiranya kalian keluar ke negeri Habasyah. Sungguh di sana ada seorang raja yang tak seorang pun dizalimi jika berada di sisinya. Habasyah juga negeri yang (memegang erat) kejujuran. Sampai Allah menjadikan kelapangan untuk kalian.” (Sirah Ibnu Hisyam, 1/321)

Abu Hudzaifah termasuk dalam rombongan yang berhijrah ke Habasyah. Namun, Salim tidak ikut serta. Ia tetap tinggal di Mekkah bersama kaum muslimin lainnya. Untuk pertama kalinya, ayah dan anak angkat itu terpisah oleh jarak ribuan kilometer.

Namun, Allah menyatukan mereka kembali. Setelah hijrah ke Madinah, Salim dan Abu Hudzaifah bertemu lagi. Mereka kemudian bersama-sama mengikuti Perang Badar, Perang Uhud, dan berbagai peperangan lainnya. Ikatan cinta mereka karena Allah tak pernah putus hingga akhir hayat.

Imam di Hadapan Para Sahabat

Kedudukan Salim di kalangan sahabat sangatlah istimewa. Ia dikenal sebagai salah seorang penghafal Al-Qur’an terbaik. Bahkan di masa-masa awal Islam, sebelum Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar tiba di Madinah, Salim pernah menjadi imam salat bagi kaum Muhajirin yang telah lebih dulu sampai di kota itu.

Asma binti Abu Bakar meriwayatkan:

قَالَ عُرْوَةُ: فَحَدَّثَتْنِي أَسْمَاءُ بِنْتُ أَبِي بَكْرٍ، أَنَّهَا سَمِعَتْ أَبَا بَكْرٍ يَقُولُ: قَدْ كُنْتُ صَلَّيْتُ بِهِمْ فِي ذَلِكَ الْوَقْتِ، وَكَانَ سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ يُصَلِّي بِهِمْ بِأُشْبَةَ قَبْلَ أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبُو بَكْرٍ

“Urwah berkata: Asma binti Abu Bakar menceritakan kepadaku bahwa ia mendengar Abu Bakar berkata: ‘Aku pernah mengimami mereka pada waktu itu, dan Salim maula Abu Hudzaifah pernah mengimami mereka di Ushbah sebelum Rasulullah ﷺ dan Abu Bakar datang.'” (H.R. Al-Bukhari)

Subhanallah. Seorang mantan budak menjadi imam bagi para sahabat Muhajirin yang mulia. Ini adalah bukti bahwa Islam tidak mengenal kasta. Yang mulia di sisi Allah hanyalah ketakwaan.

Rekomendasi Langsung dari Rasulullah

Ketinggian ilmu Salim dalam Al-Qur’an diakui langsung oleh Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, beliau memerintahkan umatnya untuk mengambil Al-Qur’an dari empat orang:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ: مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ»

“Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: ‘Ambillah (pelajarilah) Al-Qur’an dari empat orang: dari Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’b, dan Mu’adz bin Jabal.'” (H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)

Bayangkan! Salim disebut setara dengan para raksasa penghafal Al-Qur’an seperti Ibnu Mas’ud, Ubay bin Ka’b, dan Mu’adz bin Jabal. Ini adalah pengakuan kenabian yang tak ternilai harganya.

Rasulullah ﷺ bahkan memuji Salim dengan pujian yang sangat istimewa:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «سَالِمٌ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي أُمَّتِي مِثْلَ سَالِمٍ»

“Dari Abdullah bin Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Salim adalah maula Abu Hudzaifah. Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan di tengah umatku orang seperti Salim.'” (H.R. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Pujian ini keluar dari mulia manusia paling mulia. Salim, sang mantan budak, kini menjadi kebanggaan umat.

Persaksian Nabi tentang Keimanan Salim

Dalam peristiwa lain, saat penduduk Madinah dikejutkan oleh suara gemuruh yang menimbulkan kepanikan, Rasulullah ﷺ segera memeriksa keadaan. Ternyata itu hanya suara biasa, bukan serangan musuh. Setelah menenangkan orang-orang, beliau bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: أَصَابَ أَهْلَ الْمَدِينَةِ فَزَعٌ، فَانْطَلَقَ النَّاسُ نَحْوَ الصَّوْتِ، فَاسْتَقْبَلَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ سَبَقَ النَّاسَ، وَهُوَ عَلَى فَرَسٍ لِأَبِي طَلْحَةَ عُرْيٍ مَا عَلَيْهِ سَرْجٌ، فِي عُنُقِهِ سَيْفٌ، فَقَالَ: «لَمْ تُرَاعُوا، لَمْ تُرَاعُوا، إِنَّهُ لَيْسَ بِشَيْءٍ، إِنَّهُ لَيْسَ بِشَيْءٍ». ثُمَّ قَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أَلَا تَرْجِعُونَ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ؟ أَمَا تَسْتَطِيعُونَ أَنْ تَكُونُوا مِثْلَ هَذَيْنِ الْمُؤْمِنَيْنِ؟». وَأَشَارَ إِلَى أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ، وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ

“Dari Aisyah, ia berkata: Penduduk Madinah dikejutkan oleh suatu suara (yang mengirakan serangan musuh). Orang-orang bergegas menuju arah suara itu. Nabi ﷺ menyongsong mereka, dan beliau telah mendahului orang-orang, menunggang kuda milik Abu Thalhah tanpa pelana, dengan pedang tergantung di lehernya. Beliau bersabda: ‘Jangan takut, jangan takut, itu bukan apa-apa, itu bukan apa-apa.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Wahai manusia, tidakkah kalian kembali kepada Allah dan Rasul-Nya? Tidakkah kalian bisa menjadi seperti dua orang mukmin ini?’ Beliau menunjuk ke arah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan Salim maula Abu Hudzaifah.” (H.R. Ahmad dan An-Nasa’i)

Rasulullah ﷺ menjadikan Salim sebagai teladan keimanan bagi seluruh umat. Bersama Abu Ubaidah, ia menjadi simbol keteguhan hati di tengah kepanikan.

Perang Yamamah: Ujian Terbesar

Tahun 12 Hijriah, kekhalifahan Abu Bakar menghadapi ancaman besar. Munculnya nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab yang mengumpulkan pasukan sekitar 100.000 orang. Khalifah Abu Bakar mengirimkan pasukan muslimin yang berjumlah sekitar 12.000 orang untuk memerangi mereka.

Perang Yamamah pun berkecamuk. Ini adalah pertempuran paling dahsyat dalam perang melawan kemurtadan. Di medan inilah, Salim dan Abu Hudzaifah menunjukkan pengorbanan terbesar mereka.

Bendera kaum Muhajirin dipegang oleh Salim Maula Abu Hudzaifah, sementara bendera kaum Ansar dipegang oleh Tsabit bin Qais. Keduanya adalah para qari dan penghafal Al-Qur’an yang mulia.

Tsabit bin Qais berdiri teguh memegang erat bendera Ansar. Ia telah memakai pewangi khusus mayat dan mengenakan kain kafan, siap menemui syahid. Dan benar, ia pun gugur sebagai syuhada.

Kaum Muhajirin mulai goyah. Mereka khawatir musuh akan menyerang dari arah Salim. Melihat keadaan ini, Salim berseru dengan lantang:

إِنْ تَرَكْتُمُونِي هَكَذَا، إِنِّي لَبِئْسَ حَامِلُ الْقُرْآنِ

“Jika mereka kubiarkan begitu saja, sungguh aku seburuk-buruk penghafal Al-Qur’an!”

Zaid bin Al-Khattab—saudara Umar bin Khattab—berteriak membakar semangat:

وَاللَّهِ لَا أَتَكَلَّمُ حَتَّى يُهْزَمُوا، أَوْ أَلْقَى اللَّهَ فَأُكَلِّمَهُ بِحُجَّتِي

“Demi Allah, aku tidak akan berbicara sampai Allah meluluhlantakkan mereka, atau sampai aku bertemu Allah dan berbicara kepada-Nya dengan membawa bukti (amal jihad)!”

Abu Hudzaifah, ayah angkat Salim, berseru menggema:

يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ! زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِالْعَمَلِ

“Wahai para penghafal Al-Qur’an! Hiasilah Al-Qur’an dengan perbuatan!”

Syahid Berdampingan dengan Orang Tercinta

Salim maju dengan gagah berani. Bendera perang dipegang dengan tangan kanannya. Seorang prajurit musuh menebas tangannya hingga putus. Dengan darah mengucur, ia segera memindahkan bendera ke tangan kiri. Tebasan lain datang, tangan kirinya pun putus.

Tak mampu lagi memegang dengan tangan, Salim memeluk bendera itu erat-erat ke dadanya. Di saat-saat terakhir hidupnya, ia melantunkan ayat suci Al-Qur’an:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ ۚ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ

“Dan Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)?” (QS. Ali Imran: 144)

Ayat ini seolah menjadi wasiat terakhirnya. Ia mengingatkan pasukan muslimin agar tetap teguh, meski pemimpin mereka telah tiada.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Salim mencari Abu Hudzaifah di tengah hiruk-pikuk peperangan. Ia ingin bersama orang yang telah mengangkatnya, membesarkannya, dan mencintainya karena Allah.

Setelah pertempuran usai, jasad mereka ditemukan dalam keadaan yang mengharukan: jasad salah seorang berada di bagian kaki sebagian yang lain. Mereka syahid berdekatan, berpelukan dalam kematian sebagaimana mereka saling mencintai dalam kehidupan.

Abu Hudzaifah dan Salim, ayah dan anak yang diikat oleh cinta karena Allah, kini bersama selamanya di surga.

Dirindukan oleh Umar bin Khattab

Kepergian Salim dan para syuhada Yamamah lainnya meninggalkan duka yang mendalam, terutama di hati Umar bin Khattab. Suatu hari, ia berkumpul dengan para sahabatnya. Umar berkata kepada mereka, “Berangan-anganlah kalian!”

Mereka berkata, “Kami berangan-angan seandainya rumah ini penuh dengan emas, lalu kami infakkan di jalan Allah dan kami sedekahkan.”

Umar berkata lagi, “Berangan-anganlah!”

Mereka berkata, “Kami berangan-angan seandainya rumah ini penuh dengan permata, lalu kami infakkan di jalan Allah dan kami sedekahkan.”

Umar berkata lagi, “Berangan-anganlah!”

Mereka kebingungan, “Kami tidak tahu harus berkata apa.”

Maka Umar berkata:

لَكِنِّي أَتَمَنَّى لَوْ أَنَّ هَذَا الْبَيْتَ مَمْلُوءٌ رِجَالًا مِثْلَ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَحُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ

“Tetapi aku berangan-angan seandainya rumah ini penuh dengan laki-laki seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Salim maula Abu Hudzaifah, dan Hudzaifah bin Al-Yaman.” (H.R. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak)

Umar, sang Amirul Mukminin yang perkasa, tidak menginginkan emas atau permata. Ia hanya merindukan kehadiran orang-orang seperti Salim. Sebuah pengakuan yang tak ternilai dari seorang pemimpin besar.

Warisan Salim

Salim Maula Abu Hudzaifah telah pergi. Namun, warisannya tetap hidup. Ia adalah bukti nyata bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kesetaraan. Seorang budak bisa menjadi imam, menjadi guru Al-Qur’an, dan menjadi teladan keimanan.

Ia mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan bukan diukur dari keturunan, warna kulit, atau status sosial. Kemuliaan sejati adalah ketakwaan dan kedekatan dengan Al-Qur’an.

Salim juga mengajarkan arti cinta sejati karena Allah. Cinta antara ia dan Abu Hudzaifah tidak putus oleh mati. Mereka syahid berdekatan, dan insya Allah bersama di surga.

Dan yang terpenting, Salim mengajarkan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dihafal, tetapi juga untuk diamalkan dan diperjuangkan hingga titik darah penghabisan. Ia gugur dengan ayat Al-Qur’an di bibirnya, menjadi saksi bahwa ia telah menghiasi Al-Qur’an dengan perbuatannya.

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)

Salim Maula Abu Hudzaifah adalah salah satu dari mereka yang telah menepati janji. Semoga Allah meridhainya dan mengumpulkan kita bersamanya di surga. Āmīn.

Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Salim Maula Abu Hudzaifah
Anda Mungkin Juga Menyukai
توسعات المسجد النبوي عبر التاريخ
View Post
  • Kisah Nabi
  • Sejarah Islam

Antara Hijrah Para Nabi dan Hijrah Rasulullah ﷺ

Shutterstock 1491610727 scaled
View Post
  • Sejarah Islam
  • Wasathiyah

Nikmatnya Sirah Nabawiyah

ÇáÍÖÇÑÉ ÇáÇÓáÇãíÉ
View Post
  • Sejarah Islam

Lembaga-lembaga Amal dalam Sejarah Muslim

Tokoh rabiah
View Post
  • Akhlak
  • Sejarah Islam
  • Tokoh Islam

Rabiah Al-Adawiyah dan Pengasingan Dirinya dari Manusia

1807465768غضب
View Post
  • Sejarah Islam

Sebab Kemarahan Rasulullah ﷺ kepada Seorang Sahabat di Makkah

4957291موقف
View Post
  • Sejarah Islam

Sikap Yahudi dan Musyrik Madinah terhadap Rasulullah ﷺ

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • 2zliilslbukgssw4wg 800xauto 1
    • Wasathiyah
    Nilai Rabbaniyah (Ketuhanan) di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
    • 16.05.26
  • 2iguzpftd0kkkwss84 800xauto 2
    • Wasathiyah
    Juma’t Seruan Langit untuk Persatuan Bumi
    • 16.05.26
  • Salh alkhtyb 3
    • Akhbar Dauliyah
    “Kami Dulu Raja-Raja”: Empat Kesaksian tentang Penderitaan Pengungsian dan Keindahan Palestina Sebelum Nakba
    • 16.05.26
  • Kapan 1 dzulhijjah 2026 ini jadwal sidang isbat penentuan idul adha 1447 h gemini ai 4H3EM 4
    • Kabar Umat
    Besok, Sidang Isbat Penetapan Kapan Idul Adha akan Digelar
    • 16-05-2026
  • Trumpp 3 5
    • Akhbar Dauliyah
    Trump dan Iran: Diplomasi Ancaman ala Trump Temui Jalan Buntu
    • 16.05.26
  • Ap 6a094b67377b4 6
    • Akhbar Dauliyah
    Dua Syahid di Gaza, Tembakan Intensif di Khan Younis dan Lingkungan Al-Tuffah
    • 17.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.