RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,049)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (79)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (137)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Sejarah Islam

Abu Dzar Al-Ghifari: Teladan Ketawadhuan Dari Padang Pasir yang Sunyi Menuju Keabadian

  • 22-02-2026
  • No comments
Abu Dzar Al Ghifari

Di sebuah tempat bernama Rabadzah, sekitar 200 kilometer dari Madinah, seorang lelaki tua terbaring lemah di gubuk reyot. Tidak ada perhiasan di tubuhnya. Tidak ada harta di sekelilingnya. Hanya beberapa ekor kambing dan sehelai kain kasar yang membalut tubuhnya. Saat ajal menjemput, ia bahkan tidak memiliki uang untuk mengurus pemakamannya sendiri.

Lelaki itu adalah Abu Dzar Al-Ghifari. Sahabat Nabi yang hidupnya begitu sederhana hingga membuat para pemimpin Quraisy menangis, dan kezuhudannya begitu dalam hingga ia rela diasingkan dari kampung halamannya sendiri.

Inilah kisahnya, seorang pencari kebenaran yang menemukan cahaya, lalu memilih untuk hidup dalam bayang-bayang dunia demi mengejar cahaya abadi di akhirat.

Dari Ghifar Menuju Cahaya

Di tengah padang pasir yang tandus, di kawasan Ghifar, hiduplah seorang pemuda bernama Jundab bin Junadah. Masyarakatnya masih hidup dalam kegelapan jahiliah, menyembah berhala dan tenggelam dalam tradisi nenek moyang. Namun, hati Jundab gelisah. Ia merasa ada sesuatu yang tidak benar dengan penyembahan berhala. Sebuah fitrah yang Allah tanamkan dalam jiwa manusia untuk selalu mencari kebenaran.

Ketika kabar tentang seorang nabi yang diutus di Mekkah sampai ke telinganya, Jundab segera mengutus saudaranya untuk mencari informasi. Namun, jawaban yang dibawa saudaranya tidak memuaskan. Ia memutuskan pergi sendiri ke Mekkah.

Di sana, ia bertemu dengan Ali bin Abi Thalib. Ali yang melihat ada cahaya kebaikan di wajahnya segera membawanya menemui Rasulullah ﷺ. Di hadapan Nabi, Jundab mendengar langsung ajaran Islam. Hatinya yang haus akan kebenaran segera terpuaskan. Ia pun menyatakan keislamannya.

Abu Dzar Al-Ghifari — itulah nama yang kemudian melekat padanya — tercatat sebagai orang kelima yang masuk Islam. Ia termasuk golongan as-Sābiqūn al-Awwalūn, para pendahulu pertama yang mendapatkan kehormatan besar di sisi Allah.

Setelah masuk Islam, Rasulullah memerintahkannya untuk kembali ke kampung halamannya dan berdakwah di sana. Baru setelah Nabi hijrah ke Madinah, Abu Dzar menyusul dan menetap di kota Rasul.

Keislaman yang Dibayar dengan Pukulan

Abu Dzar bukanlah tipikal muslim yang menyembunyikan imannya. Setelah masuk Islam, ia langsung mendatangi Masjidil Haram dan mengumumkan keislamannya di hadapan orang-orang Quraisy. Di tengah-tengah mereka yang masih menyembah berhala, ia berseru dengan lantang:

“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”

Reaksi orang-orang Quraisy tentu saja brutal. Mereka memukulinya hingga babak belur. Untunglah Abbas bin Abdul Muthalib — paman Nabi yang belum masuk Islam tetapi masih memiliki pengaruh — segera datang dan menyelamatkannya. “Celaka kalian!” teriak Abbas. “Kalian pukuli orang dari kabilah Ghifar, padahal mereka adalah kafilah dagang kita?”

Abu Dzar selamat, namun ia telah membuktikan bahwa iman lebih berharga dari nyawanya sendiri.

Pribadi yang Jujur Namun Tegas

Salah satu keistimewaan Abu Dzar adalah kejujurannya yang tanpa kompromi. Namun, kadang kejujuran ini membuatnya bersikap terlalu keras terhadap orang lain. Suatu hari, ia terlibat pertengkaran dengan seorang lelaki. Karena marah, ia menghina lelaki itu dengan menyebut-nyebut ibunya yang bukan orang Arab.

Lelaki itu mengadu kepada Rasulullah ﷺ. Maka, Rasulullah pun menegur Abu Dzar dengan tegas:

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ ، حَدَّثَنَا جَرِيرٌ ، عَنْ الْأَعْمَشِ ، عَنْ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ ، قَالَ : ” رَأَيْتُ أَبَا ذَرٍّ بِالرَّبَذَةِ وَعَلَيْهِ بُرْدٌ غَلِيظٌ وَعَلَى غُلَامِهِ مِثْلُهُ ، قَالَ : فَقَالَ الْقَوْمُ : يَا أَبَا ذَرٍّ ، لَوْ كُنْتَ أَخَذْتَ الَّذِي عَلَى غُلَامِكَ فَجَعَلْتَهُ مَعَ هَذَا فَكَانَتْ حُلَّةً وَكَسَوْتَ غُلَامَكَ ثَوْبًا غَيْرَهُ ، قَالَ : فَقَالَ أَبُو ذَرٍّ إِنِّي كُنْتُ سَابَبْتُ رَجُلًا وَكَانَتْ أُمُّهُ أَعْجَمِيَّةً ، فَعَيَّرْتُهُ بِأُمِّهِ فَشَكَانِي إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ، فَقَالَ : يَا أَبَا ذَرٍّ ، إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ ، قَالَ : إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ فَضَّلَكُمُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ، فَمَنْ لَمْ يُلَائِمْكُمْ فَبِيعُوهُ وَلَا تُعَذِّبُوا خَلْقَ اللَّهِ

“Dari Al-Ma’rur bin Suwaid, ia berkata: ‘Aku melihat Abu Dzar di Rabadzah mengenakan kain tebal, dan budaknya juga mengenakan kain yang sama. Orang-orang berkata: “Wahai Abu Dzar, sekiranya engkau mengambil kain budakmu lalu menggabungkannya dengan kainmu sehingga menjadi sepasang, lalu engkau beri budakmu pakaian lain?” Abu Dzar menjawab: “Aku pernah mencaci seorang lelaki dan mencela ibunya yang bukan Arab. Ia mengadukannya kepada Rasulullah ﷺ. Maka beliau bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang masih memiliki sifat jahiliah.’ Beliau bersabda: ‘Mereka adalah saudara-saudaramu, Allah melebihkan kamu atas mereka. Maka, siapa yang tidak cocok denganmu, juallah dia dan jangan engkau menyiksa makhluk Allah.'”‘” (H.R. Abu Dawud No. 5157)

Teguran ini menjadi pelajaran berharga bagi Abu Dzar. Sejak saat itu, ia selalu memperlakukan budaknya dengan baik, bahkan memakaikan pakaian yang sama dengan yang ia kenakan.

Merindukan Kesendirian

Dalam perjalanan menuju Tabuk, Abu Dzar tertinggal dari rombongan karena untanya lemah. Ia memikul perbekalannya dan berjalan sendirian di padang pasir yang luas hingga akhirnya menyusul Rasulullah ﷺ. Melihat perjuangannya, Rasulullah bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَرْحَمُ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ»

“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Semoga Allah merahmati Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, wafat sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian.'” (H.R. Imam Ahmad dan Al-Hakim)

Hadis ini kelak menjadi kenyataan. Abu Dzar memang menjalani hidupnya dengan kesederhanaan yang ekstrem, hingga akhirnya wafat dalam kesendirian.

Ketawadhuan Seperti Nabi Isa

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ menggambarkan ketawadhuan Abu Dzar dengan perkataan yang sangat indah:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَىٰ تَوَاضُعِ عِيسَىٰ، فَلْيَنْظُرْ إِلَىٰ أَبِي ذَرٍّ

“Barang siapa yang ingin melihat ketawadhuan Nabi Isa, maka hendaklah ia melihat kepada Abu Dzar.” (H.R. Ibnu Abi Syaibah No. 32933)

Subhanallah. Ketawadhuan Abu Dzar disamakan dengan ketawadhuan salah seorang nabi yang paling mulia. Itulah pujian yang tak ternilai harganya.

Tujuh Wasiat Rasulullah

Abu Dzar meriwayatkan wasiat Rasulullah ﷺ kepadanya yang menjadi pedoman hidupnya:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ: أَوْصَانِي بِحُبِّ الْمَسَاكِينِ وَالدُّنُوِّ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ دُونِي، وَلَا أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقِي، وَأَنْ أَصِلَ الرَّحِمَ وَإِنْ أَدْبَرَتْ، وَأَنْ لَا أَسْأَلَ أَحَدًا شَيْئًا، وَأَنْ أَقُولَ الْحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا، وَأَنْ لَا أَخَافَ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ قَوْلِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، فَإِنَّهَا مِنْ كَنْزٍ تَحْتَ الْعَرْشِ

“Dari Abu Dzar ia berkata: ‘Kekasihku Rasulullah ﷺ telah mewasiatkan kepadaku tujuh perkara: (1) Beliau mewasiatkanku agar mencintai orang-orang miskin dan mendekat kepada mereka. (2) Agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku (dalam urusan dunia), dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku. (3) Agar aku menyambung silaturahmi meskipun diputus oleh pihak lain. (4) Agar aku tidak meminta sesuatu pun kepada manusia. (5) Agar aku mengatakan kebenaran meskipun pahit. (6) Agar aku tidak takut terhadap celaan siapa pun dalam menegakkan kebenaran karena Allah. (7) Dan agar aku memperbanyak ucapan: ‘Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh’, karena sesungguhnya kalimat itu adalah salah satu perbendaharaan di bawah ‘Arsy.'” (H.R. Imam Ahmad, Al-Bazzar, Al-Baihaqi)

Tujuh wasiat ini menjadi pegangan hidup Abu Dzar. Ia benar-benar mengamalkannya hingga akhir hayat.

Menolak Jabatan dan Harta

Suatu hari, Abu Dzar meminta kepada Rasulullah untuk diberi jabatan. Namun, jawaban Rasulullah sangat mengejutkan:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبِي، ثُمَّ قَالَ: «يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّكَ ضَعِيفٌ، وَإِنَّهَا أَمَانَةٌ، وَإِنَّهَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ خِزْيٌ وَنَدَامَةٌ، إِلَّا مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ فِيهَا»

“Dari Abu Dzar ia berkata: Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengangkatku (sebagai pejabat/pemimpin)?’ Maka beliau menepuk pundakku dengan tangannya, lalu bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau lemah. Jabatan itu adalah amanah, dan pada hari Kiamat ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang yang mengambilnya dengan benar dan menunaikan kewajiban yang ada padanya.'” (H.R. Muslim)

Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ bersabda:

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنِّي أَرَاكَ ضَعِيفًا، وَإِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي، لَا تَأَمَّرَنَّ عَلَى اثْنَيْنِ، وَلَا تَوَلَّيَنَّ مَالَ يَتِيمٍ

“Wahai Abu Dzar, sungguh aku melihatmu lemah, dan aku mencintai untukmu apa yang aku cintai untuk diriku. Maka janganlah engkau memimpin dua orang (apalagi lebih), dan jangan pula engkau mengurusi harta anak yatim.” (H.R. Muslim)

Nasihat inilah yang membuat Abu Dzar menjauhi jabatan dan kekuasaan. Ia lebih memilih hidup sederhana sebagai rakyat biasa daripada harus mempertanggungjawabkan amanah kepemimpinan di hadapan Allah.

Kontroversi tentang Harta

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, umat Islam hidup dalam kemakmuran. Harta melimpah, masyarakat makan enak, berpakaian bagus, dan membangun rumah-rumah yang luas. Namun, Abu Dzar melihat fenomena ini dengan kacamata berbeda.

Ia berpendapat bahwa seorang muslim tidak boleh menyimpan harta melebihi kebutuhannya. Kelebihan harta harus diinfakkan dan dibagikan kepada orang-orang miskin. Ia berdalil dengan firman Allah:

وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.” (QS. At-Taubah: 34)

Abu Dzar memahami ayat ini secara tekstual: setiap harta yang disimpan dan tidak dizakati akan diseterika di neraka. Sementara para sahabat lain memahami bahwa yang dimaksud adalah harta yang tidak dizakati, bukan sekadar disimpan.

Perbedaan pemahaman ini menyebabkan Abu Dzar berbeda pendapat dengan banyak sahabat terkemuka seperti Abdurrahman bin Auf, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan bahkan Khalifah Utsman bin Affan.

Abu Dzar juga meriwayatkan hadis Nabi yang menjadi landasan pendapatnya:

يَا أَبَا ذَرٍّ فَأَجَبْتُهُ فَقَالَ هَلْ تَرَى أُحُدًا فَنَظَرْتُ مَا عَلَيْهِ مِنْ الشَّمْسِ وَأَنَا أَظُنُّهُ يَبْعَثُنِي فِي حَاجَةٍ فَقُلْتُ أَرَاهُ قَالَ مَا يَسُرُّنِي أَنَّ لِي مِثْلَهُ ذَهَبًا أُنْفِقُهُ كُلَّهُ إِلَّا ثَلَاثَةَ الدَّنَانِيرِ

“Wahai Abu Dzar!” Aku pun menjawabnya, lalu beliau bersabda, “Apakah engkau melihat gunung Uhud itu?” Aku lalu melihat gunung Uhud di balik cahaya matahari, dan aku mengira Rasulullah hendak mengutusku untuk sebuah kepentingan. Lalu aku menjawab, “Ya, aku melihatnya.” Beliau bersabda: “Aku tidak suka seandainya aku punya emas sebesar gunung Uhud, lalu aku pergunakan untuk belanja (pribadi), selain hanya tiga dinar saja.” (H.R. Ahmad)

Hadis ini semakin menguatkan keyakinan Abu Dzar bahwa menyimpan harta berlebih itu tidak dianjurkan.

Menolak Pemberian Gubernur

Suatu ketika, Habib bin Maslamah, Gubernur Syam, mengirimkan 300 dinar kepada Abu Dzar. Namun, Abu Dzar menolaknya dengan tegas: “Gunakanlah uang itu untuk memenuhi kebutuhanmu!”

Ia berkata, “Aku merasa cukup dengan rumah untuk bernaung, beberapa kambing yang bisa diperah susunya, dan beberapa budak yang sukarela membantuku. Lebih dari itu, aku takut memiliki sesuatu yang melebihi kebutuhanku.”

Dalam kesempatan lain, ia pernah melewati rumah Abu Darda yang baru selesai dibangun. Melihat kemegahan rumah itu, Abu Dzar berkata dengan keras:

مَا هَذَا؟ أَتَبْنِي مَا يَأْكُلُ؟ أَمَا إِنَّكَ تَبْنِي بَيْتًا مَأْذُونًا فِي خَرَابِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَأَنْ أَرَاكَ تَتَمَرَّغُ فِي التُّرَابِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَرَاكَ كَمَا أَنْتَ الْآنَ

“Apa ini? Apakah engkau membangun rumah yang akan dimakan (waktu)? Sungguh, engkau membangun rumah yang diizinkan kehancurannya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, melihat engkau berguling-guling di tanah lebih aku sukai daripada melihat keadaanmu saat ini!” (Siyar A’lām an-Nubalā’, II/74)

Teguran ini menunjukkan betapa kerasnya Abu Dzar dalam memegang prinsip kesederhanaan.

Nasihat tentang Harta

Abu Dzar sering menasihati orang-orang tentang hakikat harta. Menurutnya, harta itu pada akhirnya dimiliki oleh tiga pihak:

  1. Takdir — apakah harta itu binasa atau pemiliknya mati lebih dulu.

  2. Ahli waris — yang menunggu kematian pemiliknya.

  3. Diri sendiri — saat menginfakkan harta yang paling dicintainya.

Maka, ia menganjurkan agar manusia bersegera menginfakkan hartanya sebelum semuanya menjadi milik ahli waris atau binasa ditelan masa. (Ṣifatush Ṣafwah, I/246-248)

Bekal Perjalanan Akhirat

Suatu hari, Abu Dzar berdiri di dekat Ka’bah dan menasihati orang-orang yang berkumpul. Ia mengingatkan bahwa setiap perjalanan memerlukan bekal, dan perjalanan akhirat adalah perjalanan yang paling jauh. Orang-orang bertanya tentang bekal apa yang harus dipersiapkan.

Abu Dzar menjawab dengan penuh hikmah:

  • Tunaikanlah haji sebagai bekal menghadapi perkara-perkara yang besar.

  • Berpuasalah sebagai bekal menghadapi lamanya hari di Padang Mahsyar.

  • Salat dua rakaat di malam hari sebagai bekal menghadapi alam kubur yang sunyi.

  • Ucapkanlah perkataan yang baik atau kunci lisan dari perkataan buruk sebagai bekal menghadapi hari Kiamat.

  • Sedekahkanlah harta sebagai bekal menghadapi hari perhitungan.

  • Jadikanlah dunia menjadi dua majelis: satu untuk mencari rezeki yang halal, satu lagi untuk meraih kebahagiaan akhirat. Majelis ketiga hanya akan membuat celaka.

Pesan untuk Pejabat yang Lupa

Suatu kali, Abu Dzar bertemu dengan seorang penduduk Irak. Ia menitipkan pesan untuk Abdullah bin Amir, seorang pejabat di Irak yang dulu pernah belajar Al-Qur’an dan selalu menemaninya, namun kini sibuk dengan jabatan dan kemewahan.

“Dahulu dia belajar Al-Qur’an dan selalu menemaniku, kemudian dia memegang jabatan pemerintahan… sampaikan salam kepadanya dan sampaikan pesanku kepadanya: ‘Kami masih tetap makan kurma, minum air, dan masih bisa hidup sebagaimana kamu saat ini.'”

Ketika pesan itu sampai kepada Abdullah bin Amir, ia menutup mukanya dengan kain dan menangis hingga kain itu basah oleh air matanya. (Ṣifatush Ṣafwah, I/246-247)

Wafat dalam Kesendirian

Abu Dzar memilih mengasingkan diri ke Rabadzah, sebuah tempat sunyi di timur Madinah. Di sana ia tinggal bersama keluarga kecilnya, hidup dari susu kambing dan kurma, jauh dari hiruk-pikuk dunia.

Pada bulan Zulhijah tahun 32 Hijriah (Juli 653 Masehi), ajal menjemputnya. Saat wafat, ia tidak memiliki uang untuk mengurus pemakamannya sendiri. Istri dan anaknya bahkan tidak sanggup menguburkannya.

Kabar duka ini sampai kepada Abdullah bin Mas’ud. Ia segera datang ke Rabadzah untuk mengurus pemakaman sahabatnya itu. Setelah Abu Dzar dimakamkan, atas perintah Khalifah Utsman bin Affan, keluarganya dibawa ke Madinah dan dijamin kesejahteraannya.

Abdullah bin Mas’ud berdiri di sisi kubur Abu Dzar, lalu berlinang air mata seraya berkata:

صَدَقَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، تَمْشِي وَحْدَكَ، وَتَمُوتُ وَحْدَكَ، وَتُبْعَثُ وَحْدَكَ

“Rasulullah ﷺ benar. Engkau berjalan sendirian, wafat sendirian, dan akan dibangkitkan sendirian.”

Warisan Abu Dzar

Abu Dzar Al-Ghifari telah tiada. Namun, warisannya tetap hidup. Ia adalah simbol ketawadhuan, kezuhudan, dan keberanian dalam mengatakan kebenaran. Ia hidup miskin di dunia, namun kaya di sisi Allah. Ia diasingkan dari masyarakat, namun dirindukan oleh para pemimpin.

Ia mengajarkan bahwa kemuliaan bukan pada harta yang dikumpulkan, bukan pada jabatan yang disandang, bukan pula pada rumah megah yang dibangun. Kemuliaan sejati adalah pada ketakwaan, pada keberanian mengatakan kebenaran meskipun pahit, pada kesediaan hidup sederhana agar orang lain bisa hidup berkecukupan.

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Dan orang-orang yang mendahului lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)

Semoga Allah meridhai Abu Dzar Al-Ghifari dan mengumpulkan kita bersamanya di surga. Āmīn.

Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Abu Dzar Al-Ghifari
Anda Mungkin Juga Menyukai
توسعات المسجد النبوي عبر التاريخ
View Post
  • Kisah Nabi
  • Sejarah Islam

Antara Hijrah Para Nabi dan Hijrah Rasulullah ﷺ

Shutterstock 1491610727 scaled
View Post
  • Sejarah Islam
  • Wasathiyah

Nikmatnya Sirah Nabawiyah

ÇáÍÖÇÑÉ ÇáÇÓáÇãíÉ
View Post
  • Sejarah Islam

Lembaga-lembaga Amal dalam Sejarah Muslim

Tokoh rabiah
View Post
  • Akhlak
  • Sejarah Islam
  • Tokoh Islam

Rabiah Al-Adawiyah dan Pengasingan Dirinya dari Manusia

1807465768غضب
View Post
  • Sejarah Islam

Sebab Kemarahan Rasulullah ﷺ kepada Seorang Sahabat di Makkah

4957291موقف
View Post
  • Sejarah Islam

Sikap Yahudi dan Musyrik Madinah terhadap Rasulullah ﷺ

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • 2zliilslbukgssw4wg 800xauto 1
    • Wasathiyah
    Nilai Rabbaniyah (Ketuhanan) di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
    • 16.05.26
  • 2iguzpftd0kkkwss84 800xauto 2
    • Wasathiyah
    Juma’t Seruan Langit untuk Persatuan Bumi
    • 16.05.26
  • Salh alkhtyb 3
    • Akhbar Dauliyah
    “Kami Dulu Raja-Raja”: Empat Kesaksian tentang Penderitaan Pengungsian dan Keindahan Palestina Sebelum Nakba
    • 16.05.26
  • Kapan 1 dzulhijjah 2026 ini jadwal sidang isbat penentuan idul adha 1447 h gemini ai 4H3EM 4
    • Kabar Umat
    Besok, Sidang Isbat Penetapan Kapan Idul Adha akan Digelar
    • 16-05-2026
  • Trumpp 3 5
    • Akhbar Dauliyah
    Trump dan Iran: Diplomasi Ancaman ala Trump Temui Jalan Buntu
    • 16.05.26
  • Ap 6a094b67377b4 6
    • Akhbar Dauliyah
    Dua Syahid di Gaza, Tembakan Intensif di Khan Younis dan Lingkungan Al-Tuffah
    • 17.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.