Di sebuah rumah sederhana di pinggiran Madinah, seorang pemuda duduk termenung. Hatinya bergejolak antara cinta kepada keluarga dan cinta kepada kebenaran. Ia baru saja mendengar ucapan yang sangat berbahaya dari ayah tirinya—ucapan yang meragukan kenabian Muhammad ﷺ. Sebagai anak, ia tidak ingin membuka aib keluarganya. Namun, sebagai muslim, ia tidak bisa membiarkan kemungkaran berlalu begitu saja.
Pemuda itu adalah Umair bin Sa’ad. Usianya baru sekitar 13 tahun. Namun, keberaniannya dalam membela kebenaran telah menggetarkan langit, hingga Allah menurunkan ayat Al-Qur’an yang membenarkan kesaksiannya.
Inilah kisah Umair bin Sa’ad, pemuda yatim yang menjadi gubernur pilihan Umar, teladan dalam kesetiaan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bukti bahwa cinta sejati adalah cinta yang dibangun di atas keimanan.
Masa Kecil yang Penuh Kasih
Umair bin Sa’ad tumbuh dalam keadaan yatim. Ayah kandungnya telah tiada sejak ia masih kecil. Beberapa waktu kemudian, ibunya menikah lagi dengan seorang laki-laki kaya bernama Al-Jullas bin Suwaid. Al-Jullas adalah saudagar terpandang yang hidup berkecukupan. Bersamanya, Umair kecil dapat hidup dalam kecukupan dan kasih sayang.
Ketika berusia 10 tahun, Umair masuk Islam bersama kaumnya dari kalangan Ansar. Sejak saat itu, selain mencintai ayah tirinya, ia pun sangat mencintai Rasulullah ﷺ. Dalam dadanya bersemayam dua cinta: cinta kepada keluarga dan cinta kepada Nabi. Namun, ia tidak menyangka bahwa kedua cinta ini kelak akan diuji dengan ujian yang sangat berat.
Menjelang Perang Tabuk: Saat Harta Berhamburan di Jalan Allah
Tahun ke-9 Hijriah, Rasulullah ﷺ mempersiapkan pasukan besar untuk menghadapi Kekaisaran Romawi di Tabuk. Ini adalah ekspedisi militer terberat yang pernah dihadapi kaum muslimin. Jarak tempuh yang jauh, cuaca yang panas membakar, dan musim panen yang sedang tiba membuat banyak orang berat hati untuk berangkat.
Rasulullah ﷺ pun memotivasi para sahabat agar berinfak di jalan Allah. Beliau bersabda:
مَنْ جَهَّزَ جَيْشَ الْعُسْرَةِ فَلَهُ الْجَنَّةُ
“Siapa saja yang mempersiapkan (keperluan) pasukan ‘usrah (Tabuk), maka baginya surga.”
Para sahabat berlomba-lomba berinfak. Utsman bin Affan, sang dermawan, berdiri dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan muatan dan pelananya di jalan Allah!” Rasulullah terus memotivasi, dan Utsman terus menambah infaknya hingga 300 unta lengkap dengan perlengkapannya. Melihat kemurahan hati Utsman, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ هَذَا
“Tidak ada yang dapat membahayakan Utsman setelah ini (dia telah melakukan amalan yang menjamin surga).” (H.R. At-Tirmidzi)
Dalam riwayat lain, Abdurrahman bin Samurah berkata, “Utsman bin Affan datang kepada Nabi ﷺ dengan membawa 1.000 dinar dalam kantong pakaiannya, ketika itu Nabi ﷺ tengah mempersiapkan pasukan dalam Jaisy al-‘Usrah, maka Nabi ﷺ menerimanya dan bersabda:
مَا ضَرَّ ابْنَ عَفَّانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ
‘Tidak ada yang dapat membahayakan Ibnu ‘Affan setelah hari ini (jaminan surga),’ beliau mengulang-ulang perkataan ini.” (Musnad Imam Ahmad)
Umar bin Khattab bersedekah dengan separuh hartanya. Ia mengira itu bisa mengalahkan Abu Bakar. Ternyata, Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab dengan kalimat yang sangat terkenal: “Aku tinggalkan untuk mereka, Allah dan Rasul-Nya.” Umar pun berkata, “Tidak akan pernah aku mengalahkan Abu Bakar selama-lamanya.” (Sunan Abi Dawud)
Abdurrahman bin Auf berinfak 2.000 dirham—separuh dari hartanya. Thalhah bin Ubaidillah, Abbas bin Abdul Muthallib, Muhammad bin Maslamah, dan Ashim bin Adi juga menyumbangkan harta dalam jumlah besar. (Al-Maghāzī karya Al-Wāqidī)
Bahkan orang-orang miskin pun ikut menyumbang. Abu Uqail datang membawa setengah sha’ kurma—hanya segenggam kurma. Namun, orang-orang munafik mengejeknya, “Sungguh Allah tidak butuh sedekah sesedikit itu. Tidaklah orang berinfak sedemikian rupa melainkan hanya untuk riya’.”
Maka Allah menurunkan firman-Nya:
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“(Orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)
Ucapan Berbahaya di Rumah Sendiri
Di tengah gelora semangat jihad dan infak itu, terjadi peristiwa besar di rumah kecil Umair bin Sa’ad. Al-Jullas bin Suwaid, ayah tirinya, sedang bersiap-siap ikut serta dalam Perang Tabuk. Namun, di dalam hatinya, ia ragu. Ia tidak benar-benar yakin dengan kebenaran risalah Muhammad.
Suatu ketika, ia berkata kepada keluarganya dengan nada mengejek:
وَاللهِ لَئِنْ كَانَ هَذَا الرَّجُلُ صَادِقًا لَنَحْنُ شَرٌّ مِنَ الْحَمِيرِ
“Demi Allah, jika orang ini (Muhammad) benar, maka kita lebih buruk dari keledai!” (Lihat: Ad-Durr al-Mantsūr, As-Suyuthi)
Ucapan ini didengar oleh Umair bin Sa’ad. Betapa terkejut dan sedihnya ia mendengar kata-kata itu keluar dari mulut ayah tirinya yang selama ini ia hormati. Hatinya bergolak hebat. Jika ia diam, berarti ia membiarkan kemungkaran. Jika ia melapor, ia akan membuka aib keluarganya sendiri.
Namun, imannya yang teguh memenangkan pertarungan batin itu. Ia berkata dalam hati: “Aku tidak bisa membinasakan diriku sendiri karena diam terhadap penyelewengan agama.” Maka, ia pun melaporkan ucapan Al-Jullas kepada Rasulullah ﷺ.
Allah Membenarkan Kesaksian Seorang Anak
Rasulullah ﷺ memanggil Al-Jullas dan mengonfirmasi ucapan itu. Al-Jullas, yang merasa aman karena tidak ada saksi lain selain Umair, mengingkari dengan tegas. “Demi Allah, aku tidak mengucapkan itu,” katanya bersumpah. “Anak ini berdusta!”
Umair hanya bisa pasrah. Ia telah mengatakan yang sebenarnya, namun tidak ada saksi lain. Ia hanya berharap kepada Allah.
Dan Allah tidak mengecewakan hamba-Nya yang jujur. Turunlah wahyu yang membenarkan kesaksian Umair:
يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ مَا قَالُوا وَلَقَدْ قَالُوا كَلِمَةَ الْكُفْرِ وَكَفَرُوا بَعْدَ إِسْلَامِهِمْ وَهَمُّوا بِمَا لَمْ يَنَالُوا ۚ وَمَا نَقَمُوا إِلَّا أَنْ أَغْنَاهُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ مِنْ فَضْلِهِ ۚ فَإِنْ يَتُوبُوا يَكُ خَيْرًا لَهُمْ ۖ وَإِنْ يَتَوَلَّوْا يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ عَذَابًا أَلِيمًا فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۚ وَمَا لَهُمْ فِي الْأَرْضِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
“Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan di akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.” (QS. At-Taubah: 74)
Al-Jullas gemetar mendengar ayat ini. Ia tahu firman Allah tidak mungkin dusta. Maka, ia segera bertobat:
تُبْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ، صَدَقَ أُمَيْرٌ وَكَذَبْتُ أَنَا، أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ، بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي!
“Sungguh aku bertobat, wahai Rasulullah! Umair berkata benar, dan akulah yang berbohong. Kini aku memohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya, bahkan kujadikan diri ini sebagai tebusan bagi engkau!”
Al-Jullas kembali ke pangkuan Islam. Keislamannya setelah itu bahkan semakin baik. Setiap kali ada yang menyebut-nyebut Umair, ia berkata:
جَزَاهُ اللَّهُ عَنِّي خَيْرًا، فَإِنَّهُ أَنْقَذَنِي مِنَ الْكُفْرِ وَأَعْتَقَنِي مِنَ النَّارِ
“Semoga Allah membalas kebaikan atas jasanya pada diriku, sebab dialah penyelamatku dari kekufuran dan pembebasku dari api neraka!” (Shuwar min Hayāt aṣ-Ṣaḥābah, hlm. 248)
Umair bin Sa’ad telah melakukan hal yang sangat berat: melaporkan ayah tirinya sendiri demi membela kebenaran. Dan Allah tidak menyia-nyiakan pengorbanannya.
Gubernur Hims Pilihan Umar
Tahun-tahun berlalu. Umair bin Sa’ad tumbuh menjadi pemuda yang saleh dan tangguh. Ia ikut berjihad di negeri Syam bersama para sahabat lainnya. Di sana ia dikenal sebagai pribadi yang zuhud, wara’, dan amanah.
Khalifah Umar bin Khattab, yang sangat teliti dalam memilih pejabat, menginginkan seorang gubernur yang tidak memiliki perbedaan dengan rakyatnya dalam makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Lintas pikirannya tertuju pada Umair bin Sa’ad. Ia memanggilnya dari medan jihad di Syam, lalu menunjuknya sebagai gubernur di Hims (sebuah kota di Suriah).
Umair menerima amanah itu dengan berat hati, namun ia tahu bahwa jabatan adalah amanah, bukan kemuliaan. Ia pun menjalankan tugasnya dengan penuh ketakwaan.
Suatu hari, Umar memanggilnya untuk menyetorkan harta fai’ (rampasan perang yang dikelola negara). Umair datang berjalan kaki dari Hims ke Madinah—sebuah perjalanan yang sangat jauh. Ketika ditanya mengapa ia tidak menggunakan kendaraan, ia menjawab dengan polos:
مَا كَانَ لِيَ مَنْ يُحَمِّلُنِي، وَلَمْ أَسْأَلْهُمْ
“Tidak ada orang yang menyediakan kendaraan untukku, dan aku pun tidak memintanya.”
Ketika ditanya tentang harta fai’ yang seharusnya disetorkan, Umair menjawab bahwa ia telah memanfaatkannya sebagaimana mestinya, dan sisanya telah dikirimkan kepada khalifah. Karena itu, ia tidak datang membawa harta apa pun.
Setelah itu, ia mengundurkan diri dari jabatannya dan meminta izin untuk tinggal di pinggiran Kota Madinah. Jabatan duniawi tidak membuatnya tergiur.
Hidup Sederhana, Dermawan di Jalan Allah
Umar bin Khattab yang sangat mengagumi Umair, pernah menyuruh Al-Harits untuk melihat keadaan mantan gubernurnya itu. Jika kondisinya kekurangan, Umar menyuruh Al-Harits memberikan 100 dinar kepadanya.
Al-Harits pun pergi ke tempat Umair. Betapa terkejutnya ia melihat Umair hidup dalam kekurangan yang sangat. Rumahnya sederhana, makanannya seadanya. Umair bahkan berkata kepada tamunya itu:
لَقَدْ أَسَفَّنِي مَا جِئْتَ، فَلَيْسَ عِنْدِي إِلَّا خُبْزٌ مِنْ شَعِيرٍ أَعْجَلْتُ بِهِ الضَّيْفَ
“Aku akan susah jika engkau menginap bersamaku, karena hanya ada sedikit roti gandum yang khusus disiapkan untuk tamu.”
Al-Harits kemudian memberikan 100 dinar pemberian Umar. Namun, Umair menolak. Istrinya mendesak agar ia mau menerimanya. Akhirnya, Umair menerima, namun setelah Al-Harits pergi, ia membagikan seluruh uang itu kepada anak-anak para syuhada dan fakir miskin. Tidak ada yang tersisa untuk dirinya sendiri.
Suatu saat, Umar kembali memanggilnya dan menanyakan tentang pemberian 100 dinar itu. Umair menjawab dengan tenang:
أَنْفَقْتُهُ فِيمَا يَنْفَعُنِي يَوْمَ لَا يَنْفَعُ فِيهِ مَالٌ وَلَا بَنُونَ
“Harta itu telah dihabiskan untuk kepentinganku dalam menghadapi hari ketika tidak bermanfaat harta maupun anak.”
Umar bermaksud memberinya satu gantang makanan dan dua helai pakaian. Umair menolak makanan itu dengan alasan ia masih menyimpan makanan di rumahnya, dan Allah akan memberinya setelah habis. Adapun pakaian, ia terima dengan alasan:
أَمَّا الثِّيَابُ فَنَعَمْ، فَإِنِّي أَحْتَاجُ إِلَى ثَوْبٍ لِامْرَأَتِي، فَإِنَّهَا لَا تَكَادُ تَجِدُ مَا تَسْتَتِرُ بِهِ
“Aku membutuhkan (pakaian) untuk istriku, sebab hampir-hampir dia tidak berpakaian (layak).”
Subhanallah. Seorang mantan gubernur, istrinya hampir tidak memiliki pakaian yang layak. Dunia benar-benar tidak berarti di matanya.
Wafatnya Sang Pemuda Mulia
Tidak lama setelah pertemuan itu, Umair bin Sa’ad jatuh sakit. Penyakitnya semakin parah, hingga akhirnya ia menghembuskan napas terakhir. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’ Al-Gharqad, berdekatan dengan para sahabat mulia lainnya. Ia pergi dalam usia yang masih muda, meninggalkan warisan ketakwaan yang tak ternilai.
Umar bin Khattab berdiri di sisi kuburnya dengan mata berkaca-kaca. Ia berkata:
لَوْ كَانَ لِي مِثْلُ عُمَيْرِ بْنِ سَعْدٍ عَشَرَةً، لَاسْتَعَنْتُ بِهِمْ عَلَى أُمُورِ الْمُسْلِمِينَ، مَا اخْتَلَفَتْ عَلَيْهِ ثِيَابُهُ وَلَا مَطْعَمُهُ وَلَا مَنْزِلُهُ
“Seandainya aku memiliki (gubernur) sepuluh orang seperti Umair bin Sa’ad, niscaya aku akan meminta bantuan mereka untuk mengurus urusan kaum muslimin. Keadaan (pakaian, makanan, dan tempat tinggalnya) tidak berubah sama sekali (dari sebelumnya).”
Dalam riwayat lain, Umar berkata:
لَوْ كَانَ لِي عَشَرَةٌ مِثْلُ عُمَيْرٍ، لَاسْتَعَنْتُ بِهِمْ عَلَى أُمُورِ النَّاسِ
“Seandainya ada sepuluh orang seperti Umair, niscaya akan aku angkat mereka sebagai pemimpin di berbagai negeri!” (Ṣifatush Ṣafwah, 2/127)
Pengakuan Para Sahabat
Ibnu Umar, putra Khalifah Umar yang sangat terkemuka, pernah berkata kepada Abdurrahman—putra Umair bin Sa’ad:
مَا أَعْلَمُ أَحَدًا مِنَ الْمُسْلِمِينَ فِي عَهْدِ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ أَفْضَلَ مِنْ أَبِيكَ
“Tidak seorang pun di antara kaum muslimin dari kalangan sahabat (Nabi) yang lebih utama daripada ayahmu.”
Ibnu Sirin juga meriwayatkan bahwa Umar sangat mengagumi Umair bin Sa’ad, sampai-sampai menyebutnya sebagai sosok yang tiada banding.
Al-Mufaddal Al-Ghulabi berkata:
ثَلَاثَةٌ مِنَ الْأَنْصَارِ عُرِفُوا بِالزُّهْدِ: أَبُو الدَّرْدَاءِ، وَشَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ، وَعُمَيْرُ بْنُ سَعْدٍ
“Tiga orang Ansar yang dikenal kezuhudannya: Abu Darda’, Syaddad bin Aus, dan Umair bin Sa’ad.” (Siyar A’lām an-Nubalā’, II/105)
Warisan Umair
Umair bin Sa’ad telah tiada. Namun, ia meninggalkan warisan yang sangat berharga bagi generasi setelahnya:
Pertama, keberanian membela kebenaran. Ia berani melaporkan ayah tirinya sendiri demi membela agama Allah. Cinta kepada keluarga tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
Kedua, kejujuran yang tak tergoyahkan. Meski tidak ada saksi lain, ia tetap bersikukuh pada kebenaran. Ia yakin Allah akan membela hamba-Nya yang jujur.
Ketiga, zuhud terhadap dunia. Sebagai gubernur, ia hidup seperti rakyat biasa. Ia tidak mengambil keuntungan sedikit pun dari jabatannya. Ketika diberi uang, ia infakkan semuanya.
Keempat, rendah hati. Ia berjalan kaki dari Hims ke Madinah, tidak mau meminta kendaraan. Ia hidup sederhana di pinggiran kota, jauh dari gemerlap dunia.
Kelima, istiqamah hingga akhir. Dari kecil hingga wafat, ia tetap teguh di jalan Allah.
Umair bin Sa’ad mengajarkan kepada kita bahwa iman sejati harus dibuktikan dengan pengorbanan. Bahwa cinta kepada Allah harus didahulukan dari cinta kepada siapa pun. Dan bahwa dunia ini hanyalah persinggahan sementara, sedangkan akhirat adalah tujuan abadi.
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzab: 23)
Semoga Allah meridhai Umair bin Sa’ad dan mengumpulkan kita bersamanya di surga-Nya. Āmīn.
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.





