ISLAMABAD/KABUL, 26 Februari 2026 — Hubungan dua negara tetangga, Pakistan dan Afghanistan, kembali memanas setelah serangkaian serangan udara Pakistan di wilayah Afghanistan menewaskan puluhan warga sipil. Insiden ini menandai eskalasi terbaru dalam konflik berkepanjangan yang akarnya terkait erat dengan warisan kolonial Inggris: Garis Durand.
Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Informasi Pakistan, serangan pada hari Minggu (23/2) itu menargetkan “tujuh kamp dan persembunyian teroris” yang terkait dengan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) dan satu cabang dari kelompok Islamic State (IS). Pakistan mengklaim tindakan ini sebagai respons atas serangkaian serangan bunuh diri di dalam negerinya, termasuk serangan terhadap sebuah masjid di Islamabad awal Februari lalu.
Namun, pihak Afghanistan membantah keras klaim tersebut. Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, menegaskan bahwa Pakistan “membombardir warga sipil kami” di Provinsi Nangarhar dan Paktika, menewaskan dan melukai puluhan orang, termasuk perempuan dan anak-anak.
Garis Durand: Warisan Kolonial yang Tak Kunjung Usai
Akar konflik ini dapat ditelusuri kembali ke tahun 1893, ketika diplomat Inggris Sir Mortimer Durand dan Amir Afghanistan Abdur Rahman Khan menandatangani perjanjian yang menetapkan garis batas antara Afghanistan dan India Britania. Garis sepanjang 2.640 kilometer ini, yang dikenal sebagai Garis Durand, secara efektif membelah wilayah suku Pashtun.
Saat Pakistan merdeka dari India pada tahun 1947, garis ini menjadi perbatasan de facto antara Pakistan dan Afghanistan. Namun, tidak ada pemerintahan Afghanistan yang secara resmi mengakui legitimasi garis ini. Afghanistan adalah satu-satunya negara yang menentang keanggotaan Pakistan di PBB pada tahun 1947. Para pemimpin Afghanistan secara konsisten memandang Garis Durand sebagai peninggalan kolonial yang memaksakan pemisahan yang tidak adil terhadap tanah dan rakyat mereka.
Pandangan ini kontras dengan Pakistan, yang bersama Amerika Serikat dan NATO, mengakui Garis Durand sebagai perbatasan internasional yang sah.
Implikasi Geopolitik dan Keamanan
Peneliti urusan Asia, Muhammad Makram Balawi, menjelaskan beberapa dimensi krusial dari konflik ini:
Kedalaman Strategis: Topografi pegunungan di sepanjang perbatasan membuat kontrol militer menjadi sangat mahal dan sulit.
Identitas Suku: Garis Durand secara artifisial membagi wilayah suku Pashtun, menciptakan ikatan sosial dan kekerabatan yang melintasi batas negara. Hal ini secara historis dimanfaatkan oleh berbagai kelompok bersenjata untuk pergerakan dan dukungan logistik.
Pentingnya Perlintasan: Titik-titik seperti Celah Khyber, Torkham, dan Spin Boldak adalah jalur vital untuk perdagangan dan pergerakan manusia, yang sering menjadi titik konflik.
Ketegangan meningkat tajam sejak Taliban kembali berkuasa di Kabul pada tahun 2021. Pakistan menuduh pemerintah Afghanistan melindungi militan TTP yang menggunakan wilayah Afghanistan sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan ke Pakistan. Tuduhan ini berulang kali dibantah oleh otoritas Afghanistan.
Dari Diplomasi ke Bentrokan Militer
Pada Oktober 2025, bentrokan perbatasan menewaskan lebih dari 70 orang dari kedua belah pihak, sebelum gencatan senjata yang dimediasi oleh Qatar dan Turki meredakan situasi. Namun, gencatan senjata itu rapuh. Pada Desember 2025, bentrokan kembali pecah di dekat perlintasan Spin Boldak-Chaman.
Laporan Misi PBB di Afghanistan (UNAMA) menyebutkan bahwa pada tiga bulan terakhir tahun 2025, 70 warga sipil tewas dan hampir 480 lainnya terluka di Afghanistan akibat aksi yang dikaitkan dengan pasukan Pakistan.
Analisis: Antara Eskalasi dan Peluang Diplomasi
Program “Mā Warā’ al-Khabar” (Beyond the News) Al Jazeera membedah krisis ini dengan menghadirkan berbagai perspektif:
Analis Afghanistan, Mohibullah Sharif, memperingatkan bahwa serangan udara Pakistan merusak upaya membangun kepercayaan. Pendekatan militer yang berkelanjutan, katanya, dapat mengarah pada “serangan habis-habisan” yang tidak menguntungkan kedua belah pihak.
Jurnalis Pakistan, Abu Bakar Siddiq, menekankan bahwa solusi sejati terletak pada menghidupkan kembali saluran mediasi regional (Qatar, Turki, Arab Saudi) dan meningkatkan kerja sama intelijen.
Spesialis Asia, Wael Awwad, berpendapat bahwa eskalasi terjadi dalam “lingkungan keamanan yang rapuh” pascakembalinya Taliban. Ketidakpercayaan adalah pendorong utama konflik. Ia juga memperingatkan bahwa ketegangan ini tidak dapat dipisahkan dari persaingan internasional (AS-China) dan kepentingan India di kawasan.
Dengan korban sipil yang terus berjatuhan dan saling tuduh yang tak kunjung reda, masa depan hubungan Pakistan-Afghanistan masih diselimuti ketidakpastian. Jalur menuju perdamaian hanya mungkin jika ada kemauan politik yang kuat dan langkah-langkah nyata untuk membangun kepercayaan, sebelum konflik ini meluncur ke arah yang lebih buruk.
Sumber: Al Jazeera





