Ya, sebagaimana amal saleh yang dilakukan berlipat-lipat pahalanya, maka demikian pula maksiat yang dilakukan pada waktu-waktu agung dan mulia juga berlipat-lipat dosanya. Hal ini berdasarkan ayat berikut:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di bulan-bulan tersebut (yaitu bulan-bulan haram).” (QS. At-Taubah: 36)
Imam Ibnu Katsir mengatakan:
أَيْ: فِي هَذِهِ الْأَشْهُرِ الْمُحَرَّمَةِ؛ لِأَنَّهُ آكَدُ وَأَبْلَغُ فِي الْإِثْمِ مِنْ غَيْرِهَا، كَمَا أَنَّ الْمَعَاصِيَ فِي الْبَلَدِ الْحَرَامِ تُضَاعَفُ
“Maksudnya (larangan berbuat zalim) adalah di bulan-bulan haram ini; karena berbuat zalim (dosa) di bulan-bulan ini lebih ditekankan dan lebih besar dosanya dibanding di bulan lainnya, sebagaimana maksiat di tanah haram juga berlipat-lipat dosanya.” (Tafsīr Al-Qur’ān Al-‘Aẓīm, 4/148)
Bulan-bulan haram adalah bulan-bulan mulia, yaitu Zulkaidah, Zulhijah, Muharam, dan Rajab. Adapun Ramadan adalah bulan paling agung dari semuanya, Rasulullah ﷺ menyebutnya dengan Sayyidusy Syuhūr (pemimpinnya bulan-bulan).
Imam Ibnu Muflih, mengutip dari Imam Ibnu Taimiyah:
الْمَعَاصِي فِي الْأَيَّامِ الْمُعَظَّمَةِ وَالْأَمْكِنَةِ الْمُعَظَّمَةِ تُغَلَّظُ مَعْصِيَتُهَا وَعِقَابُهَا بِقَدْرِ فَضِيلَةِ الزَّمَانِ وَالْمَكَانِ
“Maksiat yang dilakukan di waktu atau tempat yang mulia, dosa dan hukumannya dilipatgandakan, sesuai dengan tingginya kemuliaan waktu dan tempat tersebut.” (Al-Ādāb Asy-Syar’iyyah, 3/430)
Imam Ibnu Rajab Al-Hambali berkata:
وَمِنْ ذَٰلِكَ مَعْصِيَةُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي هَذِهِ الْأَزْمِنَةِ وَالْأَمْكِنَةِ الْمُشَرَّفَةِ، فَإِنَّهَا أَشَدُّ عُقُوبَةً مِنْ غَيْرِهَا
“Di antara (konsekuensi) itu adalah bahwa maksiat kepada Allah di waktu dan tempat yang mulia lebih berat hukumannya dibandingkan dengan di waktu dan tempat lainnya.” (Laṭā’if Al-Ma’ārif, hlm. 163)
Demikian. Wallāhu A’lam. Wa Ṣallallāhu ‘alā Nabiyyinā Muḥammadin wa ‘alā Ālihi wa Ṣaḥbihi wa Sallam.
Sumber: Alfahmu.id – Website Resmi Ustadz Farid Nu’man.





