Di tengah eskalasi militer paling signifikan sejak Taliban kembali berkuasa pada 2021, pemerintah Afghanistan menyatakan kesediaan untuk bernegosiasi dengan Pakistan. Pernyataan ini muncul setelah angkatan bersenjata Pakistan melancarkan serangan udara yang meluas, menargetkan ibu kota Kabul dan Kandahar—basis kepemimpinan Taliban—serta sejumlah kota lainnya pada hari Jumat (27/2).
Juru bicara pemerintah Afghanistan, Zabihullah Mujahid, menyatakan, “Keamiran Islam Afghanistan selalu berupaya menyelesaikan masalah melalui dialog, dan sekarang kami juga ingin menyelesaikan masalah ini melalui dialog.” Namun, ia juga mengonfirmasi bahwa serangan Pakistan telah menghantam wilayah Kabul, Kandahar, Paktia, Paktika, Khost, dan Laghman.
“Sekarang Ini Adalah Perang Terbuka”
Di pihak Pakistan, nada yang jauh lebih keras disampaikan. Menteri Pertahanan Khawaja Asif mendeklarasikan “konfrontasi total” dengan pemerintah Taliban di Afghanistan melalui platform X. “Sekarang ini adalah perang terbuka antara kami dan kalian,” tulisnya.
Juru bicara militer Pakistan, Letnan Jenderal Ahmed Sharif Chaudhry, mengklaim bahwa operasi darat dan udara Pakistan telah menewaskan setidaknya 274 anggota pasukan Afghanistan dan milisi afiliasi, serta melukai lebih dari 400 lainnya. Pihaknya melaporkan 12 tentara Pakistan tewas, 27 terluka, dan satu orang hilang dalam pertempuran tersebut.
Mujahid dengan tegas menolak klaim tingginya korban di pihak Afghanistan sebagai “palsu.” Sebaliknya, ia mengklaim 55 tentara Pakistan tewas, dengan jenazah 23 di antaranya dibawa ke Afghanistan, dan “banyak” tentara Pakistan ditangkap. Pihaknya mengakui 13 tentara Afghanistan tewas dan 22 terluka, serta 13 warga sipil juga terluka. Klaim korban dari kedua belah pihak belum dapat diverifikasi secara independen.
Akar Konflik dan Keterbatasan Pakistan
Ketegangan yang telah lama membara ini dipicu oleh tuduhan Pakistan bahwa Afghanistan melindungi pejuang Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) yang menggunakan wilayah Afghanistan sebagai pangkalan untuk melancarkan serangan lintas batas — sebuah tuduhan yang berulang kali dibantah oleh Kabul.
Analis yang berbasis di Swedia, Abdul Sayed, menjelaskan bahwa faktor domestik di Pakistan membatasi kemampuannya untuk melancarkan perang skala penuh melawan Afghanistan. “Keterbatasan ini berasal dari ikatan mendalam antara populasi kedua negara, terutama suku-suku yang tinggal di kedua sisi Garis Durand,” garis perbatasan sepanjang 2.575 km yang diakui secara internasional sebagai perbatasan Pakistan, namun tidak diakui Afghanistan. Akibatnya, meskipun memiliki kemampuan militer yang besar, Pakistan tidak dapat mempertahankan pertumpahan darah skala besar yang akan ditimbulkan oleh konflik bersenjata dengan Afghanistan.
Upaya Diplomasi dan Kekhawatiran Internasional
Hubungan kedua negara tetangga ini telah memburuk drastis dalam beberapa bulan terakhir, dengan penyeberangan perbatasan darat sebagian besar ditutup sejak pertempuran mematikan pada Oktober 2025 yang menewaskan lebih dari 70 orang di kedua belah pihak. Beberapa putaran negosiasi yang dimediasi Qatar dan Turki setelah gencatan senjata awal gagal menghasilkan kesepakatan abadi. Setelah berulang kali terjadi pelanggaran gencatan senjata awal, Arab Saudi melakukan intervensi bulan ini dengan memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditangkap oleh Afghanistan pada Oktober.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan “keprihatinan mendalam atas eskalasi kekerasan” antara Afghanistan dan Pakistan serta dampaknya terhadap penduduk sipil. Rusia, Iran, dan Irak termasuk di antara negara-negara yang menyerukan penghentian segera pertempuran.
Dengan kedua belah pihak sama-sama mengklaim telah menimbulkan kerugian besar dan pintu dialog yang ditawarkan, namun juga perang terbuka yang dideklarasikan, masa depan hubungan Pakistan-Afghanistan masih berada di ujung tanduk.
Sumber: Al Jazeera





