Di sebuah malam yang sunyi di Madinah, saat para penduduk terlelap dalam tidurnya, terdengar suara tangis lirih dari sebuah rumah sederhana. Tangisan itu bukan karena kesedihan dunia, melainkan tangisan rindu dan takut kepada Allah. Suaranya berdengung seperti dengungan lebah, menembus kegelapan malam hingga fajar menyingsing.
Pemilik suara itu adalah Abdullah bin Mas’ud. Seorang lelaki bertubuh kurus, pendek, berkulit sawo matang, namun jiwanya begitu besar hingga para malaikat pun iri. Ia adalah sahabat Nabi yang paling mirip dengan Rasulullah dalam perilaku, penampilan, dan cara berjalan. Ia pula yang mendapat kehormatan menjadi guru Al-Qur’an yang direkomendasikan langsung oleh Nabi ﷺ.
Inilah kisahnya, seorang pencari kebenaran yang menjelma menjadi lautan ilmu.
Pertemuan dengan Sang Pembawa Cahaya
Sebelum mengenal Islam, Abdullah bin Mas’ud hanyalah seorang penggembala kambing milik Uqbah bin Abi Mu’ith, salah seorang pembesar Quraisy yang sangat memusuhi Nabi. Setiap hari ia menggembalakan kambing di padang pasir Mekkah, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Suatu hari, di tengah terik matahari yang membakar, dua lelaki muncul di hadapannya. Mereka adalah Muhammad ﷺ dan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang sedang dalam perjalanan. Dengan suara lembut, Nabi bertanya:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كُنْتُ أَرْعَى غَنَمًا لِعُقْبَةَ بْنِ أَبِي مُعَيْطٍ، فَأَتَى عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَمَعَهُ أَبُو بَكْرٍ، فَقَالَ: «يَا غُلَامُ، هَلْ عِنْدَكَ مِنْ لَبَنٍ؟» قُلْتُ: نَعَمْ، وَلَكِنِّي مُؤْتَمَنٌ. قَالَ: «فَهَلْ عِنْدَكَ مِنْ شَاةٍ لَمْ يَنْزُ عَلَيْهَا الْفَحْلُ؟» قُلْتُ: نَعَمْ، فَأَتَيْتُهُ بِهَا، فَأَخَذَ بِضَرْعِهَا، وَجَعَلَ يَمْسَحُهُ، وَدَعَا، فَحَلَبَ أَبُو بَكْرٍ قَدَحًا، فَشَرِبَ النَّبِيُّ ﷺ، ثُمَّ شَرِبَ أَبُو بَكْرٍ، ثُمَّ سَقَيْتَنِي، ثُمَّ قَالَ لِلضَّرْعِ: «اقْلِصْ» فَقَلَصَ
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Aku menggembalakan kambing milik Uqbah bin Abi Mu’ith. Lalu Rasulullah ﷺ datang bersama Abu Bakar. Beliau bertanya: “Wahai anak muda, adakah susu padamu?” Aku menjawab: “Ada, tetapi aku dipercaya (untuk menjaga kambing ini).” Beliau bertanya: “Adakah kambing yang belum dikawini jantan?” Aku menjawab: “Ada.” Maka aku membawakannya seekor kambing. Beliau memegang susunya, mengusapnya, dan berdoa. Maka Abu Bakar memerah susu dalam sebuah bejana. Nabi ﷺ minum, lalu Abu Bakar minum, kemudian beliau memberiku minum. Setelah itu beliau berkata kepada susu kambing itu: “Mengempislah!” Maka mengempislah ia.'” (H.R. Ahmad)
Sejak pertemuan itulah, hati Abdullah bin Mas’ud terpaut pada Nabi. Ia segera memeluk Islam dan menjadi salah satu dari As-Sābiqūn Al-Awwalūn—enam orang pertama yang masuk Islam. Sebuah kehormatan yang tak ternilai.
Yang Terusir namun Dirindukan Langit
Di masa-masa awal dakwah, para pemuka Quraisy sering menghina dan merendahkan para sahabat yang berasal dari kalangan lemah dan miskin. Mereka berkata dengan penuh kesombongan: “Orang-orang semacam inikah yang diberi anugerah oleh Allah di antara kita?”
Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya:
وَلَا تَطْرُدِ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ مَا عَلَيْكَ مِنْ حِسَابِهِمْ مِنْ شَيْءٍ وَمَا مِنْ حِسَابِكَ عَلَيْهِمْ مِنْ شَيْءٍ فَتَطْرُدَهُمْ فَتَكُونَ مِنَ الظَّالِمِينَ
“Janganlah engkau (Nabi Muhammad) mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari, sedangkan mereka mengharapkan rida-Nya. Engkau tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatan mereka (para tokoh Quraisy) dan mereka (pun) tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap perbuatanmu, sehingga engkau (tidak berhak) mengusir mereka. (Jika dilakukan,) engkau termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-An’ām: 52)
Ayat ini menjadi tameng kehormatan bagi Abdullah bin Mas’ud dan sahabat-sahabat lain yang dipandang rendah oleh masyarakat Quraisy. Allah sendiri yang membela mereka.
Pemberani yang Pertama Kali Mengeraskan Bacaan Al-Qur’an
Suatu hari, para sahabat berkumpul dan berbincang tentang orang-orang Quraisy yang belum pernah mendengar Al-Qur’an dibacakan dengan keras. Mereka mencari siapa yang berani membacakannya di hadapan para pembesar Quraisy.
Abdullah bin Mas’ud maju dan berkata, “Aku.”
Mereka berkata, “Kami ingin seseorang yang memiliki keluarga yang akan melindunginya. Engkau tidak memiliki keluarga, mereka akan menyakitimu.”
Abdullah menjawab dengan tegas, “Biarkan aku, sesungguhnya Allah akan melindungiku.”
Keesokan paginya, ia pergi ke Maqam (tempat di dekat Ka’bah) dan berdiri membacakan Al-Qur’an dengan suara keras:
“Bismillāhirrahmānirrahīm, Ar-Raḥmān, ‘Allamal Qur’ān…”
Orang-orang Quraisy terkejut. Mereka bertanya, “Apa yang dikatakan Ibnu Ummi ‘Abd?” Mereka menjawab, “Ia membaca sebagian dari apa yang dibawa Muhammad.” Maka mereka berdiri dan memukulinya. Namun, Abdullah terus membaca hingga mencapai ayat yang dikehendaki Allah. (H.R. Al-Hakim)
Darah mengalir dari wajahnya, namun lisannya tak berhenti melantunkan kalamullah. Ia telah membuktikan bahwa iman lebih berharga dari nyawa.
Paling Mirip dengan Rasulullah
Para sahabat sering bertanya-tanya, siapakah di antara mereka yang paling mirip dengan Rasulullah dalam perilaku, penampilan, dan cara berjalan? Suatu hari, mereka bertanya kepada Hudzaifah bin Al-Yaman.
Hudzaifah menjawab:
عَنْ شَقِيقٍ قَالَ: سَأَلْنَا حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ أَشْبَهِ النَّاسِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدْيًا وَسَمْتًا وَدَلًّا، فَقَالَ: «إِنَّ أَشْبَهَ النَّاسِ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَدْيًا وَسَمْتًا وَدَلًّا، إِذَا خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ إِلَى أَنْ يَرْجِعَ إِلَيْهِ لَا نَدْرِي مَا يَصْنَعُ فِي أَهْلِهِ إِذَا خَلَا، إِلَّا ابْنُ أُمِّ عَبْدٍ»
“Dari Syaqiq, ia berkata: ‘Kami bertanya kepada Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ dalam hal perilaku, penampilan, dan cara berjalan. Maka ia menjawab: ‘Orang yang paling mirip dengan Rasulullah ﷺ dalam hal tersebut, ketika ia keluar dari rumahnya hingga kembali, yang tidak kami ketahui apa yang ia lakukan di rumahnya, adalah Ibnu Ummi ‘Abd (Abdullah bin Mas’ud).'” (H.R. Al-Bukhari)
Betapa mulianya kedudukan ini. Ia adalah cerminan hidup dari akhlak Nabi.
Anggota Keluarga Kehormatan
Kedekatan Abdullah dengan Rasulullah begitu luar biasa. Ia sering keluar masuk rumah Nabi, hingga orang-orang mengira ia dan ibunya adalah bagian dari keluarga Nabi.
Abu Musa Al-Asy’ari berkata:
قَدِمْتُ أَنَا وَأَخِي مِنَ الْيَمَنِ فَمَكَثْنَا حِينًا مَا نُرَى ابْنَ مَسْعُودٍ وَأُمَّهُ إِلَّا مِنْ أَهْلِ الْبَيْتِ مِنْ كَثْرَةِ دُخُولِهِمَا وَلُزُومِهِمَا لَهُ
“Aku dan saudaraku tiba dari Yaman dan tinggal beberapa waktu di Madinah. Kami mengira bahwa Abdullah bin Mas’ud dan ibunya termasuk keluarga Nabi ﷺ karena sering keluar masuk rumah beliau dan selalu bersama beliau.” (H.R. Muslim)
Rasulullah pun memberi keistimewaan khusus kepadanya. Ia berkata kepada Abdullah:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: إِذْنُكَ عَلَيَّ أَنْ يُرْفَعَ الْحِجَابُ، وَأَنْ تَسْتَمِعَ سِوَادِي حَتَّى أَنْهَاكَ
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Tanda izinmu (untuk masuk) adalah tirai yang terangkat dan engkau boleh mendengar perkataan rahasiaku, kecuali aku larang.'” (H.R. Al-Bukhari)
Keistimewaan yang tak diberikan kepada semua orang.
Pembunuh Abu Jahal dengan Pedang Ilmu
Di medan Perang Badar, Abdullah bin Mas’ud menunjukkan keberaniannya yang luar biasa. Ketika Abu Jahal—pemimpin Quraisy yang paling kejam—terluka dan terjatuh dari untanya, Abdullah bin Mas’ud-lah yang menemukannya di tengah medan perang.
Dengan sigap ia memenggal kepala musuh Allah itu dan membawanya kepada Rasulullah. Nabi ﷺ pun bergembira dan bersyukur kepada Allah. Abdullah bin Mas’ud telah menjadi salah satu dari empat orang yang berperan dalam membunuh Abu Jahal: Mu’adz bin Amr bin Jamuh, Mu’adz bin Afra’, Mu’awwidz bin Afra’, dan Abdullah bin Mas’ud.
Guru Al-Qur’an Rekomendasi Nabi
Keahlian Abdullah dalam Al-Qur’an diakui langsung oleh Rasulullah. Beliau bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ: مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَأُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ»
“Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: ‘Ambillah (pelajarilah) Al-Qur’an dari empat orang: dari Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubay bin Ka’b, dan Mu’adz bin Jabal.'” (H.R. Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi)
Rasulullah sendiri yang merekomendasikan Abdullah sebagai guru Al-Qur’an. Sebuah pengakuan yang tak terbantahkan.
Bahkan, dalam kesempatan lain, beliau bersabda:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ عَلَى قِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ
“Barang siapa ingin membaca Al-Qur’an dengan segar sebagaimana diturunkan, hendaknya ia membaca dengan bacaan Ibnu Ummi ‘Abd (Ibnu Mas’ud).” (H.R. Ahmad, Ibnu Majah)
Penguasa Ilmu Al-Qur’an
Abdullah bin Mas’ud memiliki pengetahuan yang mendalam tentang Al-Qur’an. Ia mengetahui tempat turun setiap surah dan sebab turun setiap ayat. Ia berkata dengan penuh keyakinan:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: “وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، مَا نَزَلَتْ سُورَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ إِلَّا وَأَنَا أَعْلَمُ أَيْنَ نَزَلَتْ، وَلَا نَزَلَتْ آيَةٌ مِنْ كِتَابِ اللهِ إِلَّا وَأَنَا أَعْلَمُ فِيمَنْ نَزَلَتْ، وَلَوْ أَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنِّي بِكِتَابِ اللهِ تَبْلُغُهُ الْإِبِلُ لَرَكِبْتُ إِلَيْهِ”
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, tidak ada satu surah pun dari Kitabullah (Al-Qur’an) yang turun kecuali aku mengetahui di mana ia turun, dan tidak ada satu ayat pun dari Kitabullah yang turun kecuali aku mengetahui tentang siapa ayat itu diturunkan. Seandainya aku mengetahui ada orang yang lebih paham tentang Kitabullah daripada aku, dan unta bisa mencapainya, niscaya aku akan menunggangi untaku untuk mendatanginya.'” (H.R. Al-Bukhari)
Ia bahkan mengambil langsung 70 surah dari mulut Rasulullah:
لَقَدْ أَخَذْتُ مِنْ فِي رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبْعِينَ سُورَةً، وَاللهِ لَقَدْ عَلِمَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنِّي أَعْلَمُهُمْ بِكِتَابِ اللهِ، وَلَوْ أَعْلَمُ أَنَّ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنِّي لَرَحَلْتُ إِلَيْهِ
*”Sungguh, aku telah mengambil langsung dari mulut Rasulullah ﷺ 70 surah. Demi Allah, para sahabat Nabi ﷺ sungguh mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling paham tentang Kitabullah (Al-Qur’an) di antara mereka. Seandainya aku mengetahui ada orang yang lebih paham dariku, niscaya aku akan berangkat menemuinya.”* (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Pada tahun wafatnya Nabi, Abdullah memperdengarkan hafalannya dua kali kepada beliau. Ini adalah bentuk pengecekan terakhir sebelum Rasulullah meninggalkan dunia.
Bacaan yang Membuat Nabi Menangis
Suatu hari, Rasulullah meminta Abdullah membacakan Al-Qur’an untuknya. Abdullah terkejut dan berkata, “Aku membacakan untukmu, padahal kepadamulah ia diturunkan?”
Nabi menjawab dengan lembut, “Aku senang mendengarnya dari orang lain.”
Maka Abdullah pun membaca Surah An-Nisa’. Ketika sampai pada ayat:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
“Maka bagaimanakah (keadaan mereka) apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu?” (QS. An-Nisā’: 41)
Abdullah mengangkat kepalanya, dan ia melihat air mata Rasulullah mengalir deras di kedua pipinya. (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Pemandangan yang tak terlupakan: Nabi menangis mendengar ayat yang dibaca sahabatnya.
Betis yang Lebih Berat dari Gunung Uhud
Abdullah bin Mas’ud bertubuh kurus dan pendek. Betisnya kecil, tidak sebanding dengan gunung yang megah. Namun, Rasulullah bersabda tentangnya:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَتَعْلَمُنَّ سَاقَ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَثْقَلَ مِنْ جَبَلِ أُحُدٍ فِي الْمِيزَانِ»
“Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sungguh, kalian akan melihat betis Ibnu Ummi ‘Abd (Abdullah bin Mas’ud) pada Hari Kiamat lebih berat dalam timbangan (amal) daripada Gunung Uhud.'” (H.R. Ahmad)
Subhanallah. Tubuh yang kecil namun amalnya begitu besar di sisi Allah.
Rasa Takut yang Membuncah
Meski dijamin surga, Abdullah bin Mas’ud tetap hidup dalam rasa takut yang mendalam kepada Allah. Al-Hasan Al-Bashri menukil perkataannya:
“Jika terdengar seruan saat aku berdiri di antara surga dan neraka: ‘Pilihlah, kami memberikan kesempatan untuk memilih mana yang paling kamu sukai di antara keduanya, ataukah kamu lebih suka menjadi abu saja?’ Jika demikian aku akan memilih menjadi abu.”
Begitu takutnya ia kepada Allah, hingga ia lebih memilih tidak ada daripada harus mempertanggungjawabkan dosa di hadapan-Nya.
Aun bin Abdullah bercerita tentang saudaranya, Ubaidillah: “Abdullah terbiasa bangun malam tatkala orang telah terlelap lelap, dan sepanjang malam itulah aku mendengar dengungan tangisnya yang seperti dengungan lebah.” (Al-Ma’rifah wa at-Tārīkh, II/548)
Kerendahan Hati yang Menyentuh
Meski kedudukannya begitu tinggi, Abdullah bin Mas’ud tetap rendah hati. Suatu saat ia keluar dari rumahnya, sementara orang-orang mengiringinya. Ia bertanya, “Apa keperluan kalian? Kembalilah, karena perbuatan ini adalah kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah bagi yang diikuti.”
Ia juga berkata:
“Andaikan kalian mengetahui apa yang tersembunyi dariku, niscaya kalian akan menaburkan tanah di kepalaku.” (Ṣifatush Ṣafwah, I/168)
Betapa ia merasa dirinya hina di hadapan Allah, padahal di mata manusia ia begitu mulia.
Kehati-hatian dalam Menyampaikan Hadis
Masruq bercerita: “Abdullah pernah menyebutkan kepada kami: ‘Rasulullah bersabda…’, kemudian sekujur tubuhnya bergetar seraya berkata: ‘Beliau bersabda seperti ini, kurang lebihnya demikian…'”
Ia begitu hati-hati dalam menyampaikan sabda Nabi, takut jika terjadi kesalahan meski sedikit.
Amr bin Maimun dan ‘Alqamah bin Qais juga menyampaikan kesaksian serupa.
Mengutamakan Akhirat
Abdullah berkata tentang dunia dan akhirat:
“Aku tidak peduli dengan yang mana aku diuji, karena hak Allah pada salah satu dari keduanya adalah wajib. Jika aku diuji dengan kekayaan, di dalamnya terdapat kasih sayang terhadap orang miskin; sedangkan jika aku diuji dengan kemiskinan, maka di sana terdapat kesabaran.” (Ṣifatush Ṣafwah, I/168)
Ia memandang ujian sebagai ladang pahala, bukan sebagai beban.
Pujian Umar dan Kedudukannya di Kalangan Sahabat
Zaid bin Wahab bercerita bahwa suatu saat ketika ia duduk bersama Umar bin Khattab, datanglah Abdullah. Kedatangannya nyaris tidak diketahui karena begitu rendah hatinya. Umar segera menghampirinya, berbicara dengannya, wajah mereka berseri-seri, dan sesekali bercanda. Setelah Abdullah pergi, Umar berkata:
جِلْدَةُ مِلْءُ عِلْمٍ
“Bejana yang penuh dengan ilmu.” (Ḥilyatul Auliyā’, I/29)
Masruq berkata: “Aku memperhatikan pribadi para sahabat Rasulullah, maka aku mendapati ilmu mereka bermuara pada enam orang: Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’ab, Abu Darda’, dan Zaid bin Tsabit. Lalu aku memperhatikan keenam sahabat ini, maka aku dapati ilmu mereka bermuara pada dua orang: Ali dan Abdullah.”
Di Akhir Hayatnya
Ketika ajal menjemput, Utsman bin Affan menjenguk Abdullah yang sedang terbaring sakit. Beliau bertanya, “Saudaraku, apa yang kau rasakan?”
Abdullah menjawab dengan jujur, “Dosaku.”
“Lalu apa yang kau harapkan?” tanya Utsman.
“Rahmat Tuhanku,” jawabnya singkat.
“Maukah aku panggilkan seorang dokter?” tawar Utsman.
“Dokter hanya membuatku bertambah sakit, wahai Amirul Mukminin.”
“Maukah aku perintahkan supaya kamu diberi sesuatu?” Utsman kembali menawarkan.
“Aku tidak membutuhkan apa-apa…”
Tidak lama kemudian, Abdullah bin Mas’ud wafat dalam usia 60 tahun. Ia pergi meninggalkan dunia fana, menyusul orang-orang yang dicintainya: Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan para sahabat yang telah mendahuluinya.
Ia dimakamkan di Baqi’, tempat peristirahatan terakhir para sahabat mulia.
Warisan Abadi
Abdullah bin Mas’ud telah tiada. Namun, warisannya tetap hidup. Ia adalah guru Al-Qur’an yang tak tergantikan. Ia adalah teladan dalam keberanian, kerendahan hati, dan ketakwaan.
Ia mengajarkan bahwa ilmu bukan untuk disombongkan, tetapi untuk diamalkan. Bahwa kedekatan dengan Nabi bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk diteladani. Bahwa tubuh yang kecil bisa berisi amal sebesar gunung.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ ﴿٧﴾ جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8)
Semoga Allah meridhai Abdullah bin Mas’ud dan mengumpulkan kita bersamanya di surga-Nya. Āmīn.
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.





