Di suatu malam yang sunyi di Madinah, terdengar alunan suara merdu membacakan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Suara itu mengalun indah, bagaikan seruling Dawud yang menembus keheningan malam. Rasulullah ﷺ yang sedang berada di rumahnya tersenyum mendengarnya. Beliau tahu persis siapa pemilik suara itu, meskipun rumahnya tidak terlihat dari tempatnya berada.
Itulah Abu Musa Al-Asy’ari. Seorang sahabat yang dianugerahi suara merdu bagaikan seruling Nabi Dawud. Ia adalah pemimpin kaum Asy’ariyyin, kelompok yang dikenal dengan kelembutan hati, kebersamaan yang luar biasa, dan keistimewaan memiliki dua kali hijrah.
Inilah kisahnya, seorang lelaki dari Yaman yang menyeberangi lautan demi mencari kebenaran, lalu menjadi qari yang membuat Rasulullah terpukau.
Dari Yaman Menuju Cahaya
Abu Musa Al-Asy’ari bernama asli Abdullah bin Qais Al-Asy’ari. Ia berasal dari Bani Al-Asy’ar, salah satu kabilah Arab Qahthaniyyah di Yaman. Ketika kabar tentang diutusnya Rasul terakhir sampai ke telinganya, hatinya segera tergetar. Tanpa menunggu lama, ia bergegas menuju Makkah untuk menemui Rasulullah ﷺ.
Setelah memeluk Islam, ia tidak sendiri. Ia mengajak pamannya, Abu Amir, untuk turut masuk Islam. Bersama beberapa orang dari kaumnya, mereka tinggal beberapa hari di Makkah, lalu kembali ke Yaman untuk mendakwahkan Islam kepada kaumnya.
Namun, perjalanan mereka menuju Madinah tidaklah mudah.
Dua Kali Hijrah: Keistimewaan yang Tak Dimiliki Siapa Pun
Abu Musa menceritakan sendiri perjalanan hijrahnya yang penuh liku:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : بَلَغَنَا مَخْرَجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ بِالْيَمَنِ فَخَرَجْنَا مُهَاجِرِينَ إِلَيْهِ أَنَا وَأَخَوَانِ لِي أَنَا أَصْغَرُهُمْ أَحَدُهُمَا أَبُو بُرْدَةَ وَالْآخَرُ أَبُو رُهْمٍ إِمَّا قَالَ : فِي بِضْعٍ وَإِمَّا ، قَالَ : فِي ثَلَاثَةٍ وَخَمْسِينَ أَوِ اثْنَيْنِ وَخَمْسِينَ رَجُلًا مِنْ قَوْمِي فَرَكِبْنَا سَفِينَةً فَأَلْقَتْنَا سَفِينَتُنَا إِلَى النَّجَاشِيِّ بِالْحَبَشَةِ ، وَوَافَقْنَا جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأَصْحَابَهُ عِنْدَهُ ، فَقَالَ جَعْفَرٌ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” بَعَثَنَا هَاهُنَا وَأَمَرَنَا بِالْإِقَامَةِ فَأَقِيمُوا مَعَنَا فَأَقَمْنَا مَعَهُ حَتَّى قَدِمْنَا جَمِيعًا فَوَافَقْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ افْتَتَحَ خَيْبَرَ فَأَسْهَمَ لَنَا أَوْ ، قَالَ : فَأَعْطَانَا مِنْهَا وَمَا قَسَمَ لِأَحَدٍ غَابَ عَنْ فَتْحِ خَيْبَرَ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا لِمَنْ شَهِدَ مَعَهُ إِلَّا أَصْحَابَ سَفِينَتِنَا مَعَ جَعْفَرٍ وَأَصْحَابِهِ قَسَمَ لَهُمْ مَعَهُمْ
“Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Sampailah kepada kami kabar tentang hijrahnya Nabi ﷺ ketika kami masih di Yaman. Maka kami berangkat hijrah menuju beliau, aku dan dua saudaraku—aku yang paling kecil di antara mereka—yang bernama Abu Burdah dan Abu Ruhm, bersama sekitar lima puluh dua atau lima puluh tiga orang dari kaumku. Kami menaiki sebuah kapal, lalu kapal itu membawa kami ke Najasyi di Habasyah. Di sana kami bertemu dengan Ja’far bin Abi Thalib dan para sahabatnya yang sedang berada di sisinya. Ja’far berkata: “Rasulullah ﷺ mengutus kami ke sini dan memerintahkan kami untuk menetap. Maka tinggallah bersama kami.” Kami pun tinggal bersamanya hingga kami semua datang (ke Madinah) bersama-sama. Kami tiba di Madinah tepat ketika Rasulullah ﷺ baru saja menaklukkan Khaibar. Beliau memberi kami bagian dari rampasan perang. Beliau tidak memberikan bagian kepada siapa pun yang tidak ikut serta dalam penaklukan Khaibar, kecuali para penumpang kapal bersama Ja’far dan sahabat-sahabatnya; beliau memberikan bagian kepada mereka.'” (HR. Al-Bukhari)
Peristiwa ini membuat Abu Musa dan rombongannya mendapatkan keistimewaan luar biasa: dua kali hijrah. Sekali karena mereka berangkat dari Yaman menuju Habasyah, dan sekali lagi karena mereka berangkat dari Habasyah menuju Madinah.
Suatu hari, Umar bin Khattab masuk menemui Hafshah dan melihat Asma’ binti Umais—istri Ja’far—sedang berada di sisinya. Umar berkata kepada Asma’ dengan nada sombong:
“Kami telah mendahului kalian dalam hijrah, maka kami lebih berhak atas Rasulullah ﷺ daripada kalian.”
Asma’ kemudian mengadukan hal ini kepada Rasulullah. Beliau menjawab dengan tegas:
“Umar tidak lebih berhak kepadaku daripada kalian. Bagi dia dan para sahabatnya satu kali hijrah, sedangkan bagi kalian—wahai para penumpang kapal—dua kali hijrah.”
Sejak itu, Abu Musa dan rombongannya dikenal sebagai “Ahlus Safinah” —para penumpang kapal—yang memiliki keistimewaan tiada duanya.
Kaum yang Hatinya Paling Lembut
Kedatangan Abu Musa dan kaum Asy’ariyyin ke Madinah disambut dengan penuh kegembiraan oleh Rasulullah. Bahkan sebelum mereka tiba, beliau telah memberi kabar kepada para sahabat:
عَنْ حُمَيْدٍ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” يَقْدَمُ عَلَيْكُمْ غَدًا أَقْوَامٌ ، هُمْ أَرَقُّ قُلُوبًا لِلْإِسْلَامِ مِنْكُمْ ” ، قَالَ : فَقَدِمَ الْأَشْعَرِيُّونَ ، فِيهِمْ أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ ، فَلَمَّا دَنَوْا مِنَ الْمَدِينَةِ ، جَعَلُوا يَرْتَجِزُونَ يَقُولُونَ : غَدًا نَلْقَى الْأَحِبَّهْ مُحَمَّدًا وَحِزْبَهْ فَلَمَّا أَنْ قَدِمُوا تَصَافَحُوا ، فَكَانُوا هُمْ أَوَّلَ مَنْ أَحْدَثَ الْمُصَافَحَةَ
“Dari Humaid, ia berkata: Aku mendengar Anas bin Malik berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Akan datang kepada kalian besok suatu kaum yang hati mereka lebih lembut terhadap Islam dibandingkan kalian.’ Anas berkata: Maka datanglah kaum Asy’ariyyin, di antara mereka terdapat Abu Musa Al-Asy’ari. Ketika mereka sudah mendekati Madinah, mereka melantunkan syair (rajaz) seraya berkata: ‘Besok kami akan berjumpa dengan para kekasih, Muhammad dan golongannya.’ Ketika mereka telah tiba, mereka saling berjabat tangan. Maka merekalah orang-orang pertama yang memulai tradisi berjabat tangan (mushafahah).” (HR. Ahmad)
Bayangkan! Rasulullah sendiri yang menyatakan bahwa hati mereka lebih lembut terhadap Islam. Dan mereka pula yang pertama kali memperkenalkan tradisi berjabat tangan—sebuah amalan mulia yang hingga kini terus lestari di kalangan umat Islam.
Kebersamaan yang Menakjubkan
Kaum Asy’ariyyin dikenal dengan solidaritas dan kebersamaan yang luar biasa. Rasulullah ﷺ menggambarkan hal ini dengan indah:
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْأَشْعَرِيِّينَ إِذَا أَرْمَلُوا فِي الْغَزْوِ أَوْ قَلَّ طَعَامُ عِيَالِهِمْ بِالْمَدِينَةِ جَمَعُوا مَا كَانَ عِنْدَهُمْ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ ثُمَّ اقْتَسَمُوهُ بَيْنَهُمْ فِي إِنَاءٍ وَاحِدٍ بِالسَّوِيَّةِ فَهُمْ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُمْ
“Dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya kaum Asy’ariyyin apabila mereka kehabisan perbekalan dalam peperangan atau makanan untuk keluarga mereka tinggal sedikit di Madinah, maka mereka kumpulkan perbekalan dan makanan yang tersisa itu dalam satu kain. Kemudian mereka membagi makanan tersebut di antara mereka dalam satu wadah dengan sama rata. Mereka itu golonganku dan aku golongan mereka.'” (HR. Muslim)
Betapa indahnya persaudaraan mereka. Tidak ada yang merasa lebih baik dari yang lain. Semua sama, semua berbagi, semua merasakan apa yang dirasakan saudaranya.
Suara Merdu yang Menggetarkan Hati
Keistimewaan terbesar Abu Musa adalah suaranya yang merdu dalam melantunkan Al-Qur’an. Rasulullah ﷺ sangat mengagumi bacaannya. Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:
عَنْ عَائِشَةَ ، قالت : سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِرَاءَةَ أَبِي مُوسَى فَقَالَ : ” لَقَدْ أُوتِيَ هَذَا مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام “
“Dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah pernah mendengar bacaan Al-Qur’an Abu Musa, maka beliau bersabda: ‘Sungguh, orang ini telah dianugerahi suara yang indah, seperti salah satu seruling (mazmār) dari seruling-seruling keluarga Dawud ‘alaihis salam.'” (HR. An-Nasa’i)
Bahkan, Rasulullah ﷺ dapat mengenali suara kaum Asy’ariyyin dari kejauhan:
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْرِفُ أَصْوَاتَ رُفْقَةِ الْأَشْعَرِيِّينَ بِالْقُرْآنِ حِينَ يَدْخُلُونَ بِاللَّيْلِ وَأَعْرِفُ مَنَازِلَهُمْ مِنْ أَصْوَاتِهِمْ بِالْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ وَإِنْ كُنْتُ لَمْ أَرَ مَنَازِلَهُمْ حِينَ نَزَلُوا بِالنَّهَارِ
“Dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Sesungguhnya saya mengenali alunan suara kaum Asy’ariyyin yang membaca Al-Qur’an ketika mereka memasuki waktu malam hari. Dan saya mengenali rumah-rumah mereka dan alunan suara mereka ketika membaca Al-Qur’an pada malam hari, meskipun saya tidak pernah melihat rumah mereka pada siang hari ketika mereka berada di rumah.'” (HR. Muslim)
Subhanallah! Rasulullah ﷺ mengenali bacaan mereka meskipun rumah mereka tidak terlihat. Begitu istimewanya suara mereka.
Para sahabat pun senang mendengar bacaan Abu Musa. Abu Salamah berkata:
“Dahulu Umar bin Al-Khattab biasa berkata kepada Abu Musa—sementara ia sedang duduk di majelis—: ‘Wahai Abu Musa, ingatkanlah kami kepada Rabb kami.’ Maka Abu Musa pun membacakan (Al-Qur’an) di hadapannya, sementara ia tetap duduk di majelis itu, dan ia membaca dengan memperindah serta melagukan suaranya.” (HR. Ibnu Hibban)
Bertabarruk dengan Air Bekas Rasulullah
Kecintaan Abu Musa kepada Rasulullah sangat dalam. Suatu ketika, saat Rasulullah ﷺ sedang singgah di Ji’ranah antara Makkah dan Madinah, seorang Arab Badui datang dan meminta agar Nabi menepati janji yang telah diberikan kepadanya. Rasulullah bersabda, “Bergembiralah!” Namun orang itu berkata, “Engkau terlalu sering mengatakan ‘bergembiralah’ kepadaku.”
Rasulullah yang merasa sedikit tersinggung lalu berpaling kepada Abu Musa dan Bilal dengan raut wajah seperti orang yang marah. Beliau bersabda:
“Orang itu menolak kabar gembira. Maka terimalah kalian berdua.”
Abu Musa dan Bilal menjawab, “Kami terima.”
Kemudian Rasulullah meminta diambilkan sebuah bejana berisi air. Beliau membasuh kedua tangan dan wajahnya di dalam bejana itu, lalu meludahkannya (sedikit). Kemudian beliau bersabda:
“Minumlah darinya, dan tuangkanlah ke wajah kalian dan dada kalian, serta bergembiralah.”
Maka Abu Musa dan Bilal mengambil bejana itu dan melakukannya. Kemudian Ummu Salamah berseru dari balik tabir, “Berikanlah sedikit untuk ibumu!” Maka mereka pun memberinya sedikit dari air itu. (HR. Al-Bukhari)
Betapa bahagianya Abu Musa mendapatkan air bekas wudhu Rasulullah, yang menjadi berkah sepanjang hayat.
Diutus ke Yaman: Mengajarkan Ilmu dan Akhlak
Rasulullah ﷺ mengutus Mu’adz bin Jabal dan Abu Musa ke Yaman untuk mengajarkan Islam. Beliau berpesan kepada keduanya:
بَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا ، وَيَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا ، وَتَطَاوَعَا وَلَا تَخْتَلِفَا
“Berilah kabar gembira dan janganlah membuat orang lari (menjauh), mudahkanlah dan janganlah mempersulit, serta taatilah satu sama lain dan janganlah berselisih.” (HR. Ahmad)
Masing-masing dari mereka memiliki tenda sendiri, namun mereka saling mengunjungi dan berbagi ilmu. Inilah metode dakwah yang diajarkan Rasulullah: kemudahan, kegembiraan, dan persatuan.
Kedudukan Ilmu yang Tinggi
Abu Musa dikenal sebagai salah satu sahabat yang sangat berilmu. Abul Bakhtari pernah bertanya kepada Ali bin Abi Thalib tentang Abu Musa. Ali menjawab dengan pujian yang sangat tinggi:
“Ia seakan dicelupkan ke dalam lautan ilmu, lalu keluar menjadi seorang yang berilmu.” (Tarikh Al-Fasawi, II/540)
Al-Aswad bin Yazid berkata: “Tidak ada penduduk Kufah yang lebih tinggi ilmunya daripada Ali dan Abu Musa.” (Tarikh Ibnu Asakir)
Masruq berkata: “Hakim pada masa sahabat ada enam orang: Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Ubay, Zaid, dan Abu Musa.” (Tarikh Dimasyqi, Abu Zar’ah)
Shafwan bin Sulaim berkata: “Tidak ada sahabat yang memberikan fatwa di masjid pada masa Nabi, kecuali empat sahabat: Umar, Ali, Mu’adz, dan Abu Musa.” (Tarikh Ibnu Asakir)
Betapa mulianya kedudukan Abu Musa di antara para sahabat.
Dalam Medan Jihad
Abu Musa tidak hanya pandai membaca Al-Qur’an dengan merdu, tetapi juga pemberani dalam medan perang. Setelah Perang Hunain, Rasulullah menugaskan Abu Amir—paman Abu Musa—untuk menyerang Authas. Abu Musa turut menyertainya.
Dalam peperangan itu, Abu Amir berhasil membunuh Duraid bin Ashimah, seorang panglima perang Quraisy yang terkenal. Namun nasib berkata lain. Lutut Abu Amir terkena tembakan panah. Abu Musa segera mengejar lelaki yang memanah pamannya dan berhasil mengalahkannya.
Abu Musa juga turut serta dalam penaklukan wilayah Persia, yakni Qum dan Qasyan, serta dalam Perang Tustar yang dahsyat.
Menghindari Fitnah Perang Saudara
Ketika terjadi perselisihan antara Ali dan Mu’awiyah, Abu Musa termasuk sahabat yang menghindarkan diri dari fitnah. Mu’awiyah pernah mengirim surat kepadanya agar bergabung dengan pihaknya, dan menawarkan jabatan Gubernur Kufah dan Bashrah untuk anak-anaknya. Namun Abu Musa menolaknya dengan tegas.
Setelah peristiwa itu, Mu’awiyah tetap berbuat baik kepada Abu Musa. Keduanya menjaga hubungan baik meskipun berbeda pandangan dalam masalah politik.
Wafatnya Sang Qari Merdu
Abu Musa Al-Asy’ari wafat pada bulan Dzulhijjah tahun 44 Hijriyah (665 Masehi). Para ulama berbeda pendapat mengenai tahun wafatnya—ada yang mengatakan 42 H, 44 H, 50 H, atau 53 H—namun pendapat yang lebih kuat (rajih) adalah bahwa ia wafat pada tahun 44 H.
Ia meninggalkan warisan yang sangat besar: kelembutan hati, kebersamaan yang indah, bacaan Al-Qur’an yang merdu, dan ilmu yang luas. Ia adalah bukti bahwa suara yang indah adalah anugerah Allah yang bisa digunakan untuk hal-hal mulia.
Warisan Abu Musa
Abu Musa Al-Asy’ari telah tiada. Namun ia meninggalkan warisan yang tak ternilai:
Pertama, kelembutan hati. Rasulullah sendiri yang menyatakan bahwa hati kaum Asy’ariyyin lebih lembut terhadap Islam. Ini adalah teladan tentang bagaimana seharusnya seorang muslim bersikap: lembut, tidak kasar, dan mudah menerima kebenaran.
Kedua, kebersamaan yang luar biasa. Kaum Asy’ariyyin selalu berbagi dalam suka dan duka. Mereka tidak pernah merasa lebih baik dari saudaranya. Mereka adalah contoh persaudaraan sejati.
Ketiga, suara yang indah untuk Al-Qur’an. Abu Musa mengajarkan bahwa membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu adalah sunnah yang dianjurkan. Bahkan Rasulullah pun mengaguminya.
Keempat, dua kali hijrah. Ia mengajarkan bahwa perjuangan menegakkan agama mungkin memerlukan pengorbanan yang berulang, namun Allah akan memberikan keistimewaan bagi mereka yang bersungguh-sungguh.
Kelima, ilmu yang luas dan fatwa yang bijak. Ia adalah salah satu dari enam hakim di kalangan sahabat, dan termasuk dari empat orang yang berfatwa di masjid Nabawi.
Semoga Allah meridhai Abu Musa Al-Asy’ari, sang qari merdu yang suaranya dikenali oleh Rasulullah hingga dari kejauhan, dan mengumpulkan kita bersamanya di surga-Nya yang abadi. Aamiin.
Allah berfirman:
إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ ٱلْبَرِيَّةِ * جَزَآؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّـٰتُ عَدْنٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَـٰرُ خَـٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًۭا ۖ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِىَ رَبَّهُۥ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka adalah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah: 7-8
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.





