Syariat dalam Islam memiliki tujuan-tujuan yang luhur dan cita-cita yang tinggi, yang senantiasa diupayakan oleh Pembuat Syariat Yang Maha Bijaksana untuk diwujudkan dalam kehidupan manusia. Hal ini menunjukkan bahwa hukum-hukum syariat memiliki alasan yang jelas, dapat dipahami, dan terkait dengan kemaslahatan makhluk. Ini merupakan kesepakatan di kalangan umat Islam secara keseluruhan, kecuali segelintir kecil dari golongan Zhahiriyah dan yang mengikuti jalan mereka.
Bukti atas hal ini adalah ayat-ayat yang tak terhitung jumlahnya dari Kitabullah, dan hadis-hadis yang tak terhitung dari Rasulullah ﷺ. Semuanya menjelaskan alasan di balik perintah, larangan, dan hukum, bahkan ibadah sekalipun. Tentang shalat:
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Tentang zakat yang diambil dari pemilik harta:
خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةًۭ تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا
“…yang membersihkan dan menyucikan mereka dengan (zakat) itu.” (QS. At-Taubah: 103)
Tentang puasa yang diwajibkan atas orang-orang yang beriman:
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“…agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Tentang haji yang telah diserukan kepada mereka:
لِّيَشْهَدُوا۟ مَنَـٰفِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا۟ ٱسْمَ ٱللَّهِ فِىٓ أَيَّامٍۢ مَّعْلُومَـٰتٍۢ
“…agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan.” (QS. Al-Hajj: 28)
Ini—dan masih banyak lagi—menunjukkan bahwa syariat memiliki hikmah dan tujuan di balik apa yang disyariatkan, yang wajib untuk dikaji dan diperhatikan. Di antara tujuan-tujuan tersebut adalah:
1. Agar hubungan muamalah antara manusia didasarkan pada keadilan, yang karenanya langit dan bumi ditegakkan. Tidak ada keberpihakan kepada orang kaya melawan orang miskin, tidak ada istimewa bagi yang kuat atas yang lemah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas non-Arab, maupun orang kulit putih atas orang kulit hitam, kecuali dengan takwa.
Keadilan inilah yang menjadi tujuan semua risalah langit, sebagaimana firman Allah:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِٱلْبَيِّنَـٰتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْمِيزَانَ لِيَقُومَ ٱلنَّاسُ بِٱلْقِسْطِ
“Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan Kami turunkan bersama mereka Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil.” (QS. Al-Hadid: 25)
2. Agar terjalin persaudaraan di antara manusia, terbentang jembatan kepercayaan dan saling pengertian, serta hilangnya sebab-sebab perselisihan dan pertengkaran. Hal ini dicapai dengan menetapkan hak dan kewajiban, menjelaskan rukun dan syarat dalam bermuamalah, mencegah kezaliman, ketidakjelasan, dan kebodohan. Dengan demikian, setiap pemilik hak akan mendapatkan haknya, sehingga jiwa menjadi tenang, kehormatan, darah, harta benda, dan segala yang dilindungi terjaga, serta hubungan muamalah berjalan stabil di atas landasan yang kokoh.
3. Menjaga kemaslahatan makhluk dalam tiga tingkatan: Pertama, kebutuhan primer, yaitu hal-hal yang tanpanya manusia tidak dapat hidup. Kedua, kebutuhan sekunder, yaitu hal-hal yang tanpanya manusia akan mengalami kesulitan dan kesusahan. Ketiga, kebutuhan tersier, yaitu hal-hal yang dengannya kehidupan manusia menjadi sempurna, nyaman, dan berjalan pada jalur terbaik dengan kebiasaan dan keadaan yang paling baik.
4. Agar manusia—setelah merasa aman dan tenteram dalam bermuamalah, pertukaran, dan seluruh hubungan material serta kemanusiaan mereka—dapat mengemban misinya di muka bumi: yaitu beribadah kepada Allah, memakmurkan bumi-Nya, menegakkan kekhalifahan di dalamnya, serta menyeru seluruh alam kepada risalah yang dijadikan-Nya sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Risalah ini memiliki tujuan: kebenaran, kebaikan, dan akhlak yang mulia. Jalannya adalah: keimanan, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Dengan inilah manusia—baik sebagai individu maupun masyarakat—selamat dari kerugian dunia dan akhirat. Inilah yang diringkaskan oleh Surat Al-‘Ashr dalam firman-Nya:
وَٱلْعَصْرِ * إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ * إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
“Demi masa. Sungguh, manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1-3)
Sumber: Al-Qaradawi.net





