Dr. Yusuf Qaradhawi
Mengharapkan pahala dari Allah atas apa yang menimpa seseorang di dunia adalah nikmat spiritual yang meringankan cobaan. Pahala ini terwujud dalam penghapusan kesalahan-kesalahan—yang sungguh banyak jumlahnya—dan pelipatgandaan kebaikan-kebaikan—yang sangat dibutuhkan manusia. Dalam hadis sahih:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حَزَنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah seorang muslim ditimpa kelelahan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapus dosa-dosanya karenanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Seseorang yang saleh pernah terkena sesuatu pada kakinya, namun ia tidak mengeluh dan tidak merintih. Ia justru tersenyum dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ada yang bertanya kepadanya, “Engkau tertimpa ini dan tidak mengeluh?” Ia menjawab, “Sungguh, manisnya pahala membuatku lupa akan pahitnya rasa sakit.”
Kehidupan Tidak Pernah Luput dari Kesulitan
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ. إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ، فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Betapa menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan tidak ada seorang pun yang mendapatkan keutamaan ini selain seorang mukmin. Jika ia mendapat kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia mendapat kesusahan, ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim)
Harapan, rasa aman, keridaan, cinta, dan ketenteraman jiwa adalah buah-buahan yang lezat dari penanaman akidah dalam jiwa seorang mukmin. Ia adalah simpanan yang tak pernah habis untuk bekalnya dalam pertempuran hidup. Sungguh, hidup adalah pertempuran yang panjang, penuh beban, dan dikelilingi oleh bahaya serta kesulitan.
Sebab, tabiat kehidupan dunia dan tabiat manusia di dalamnya menjadikan mustahil bagi seseorang untuk terlepas dari bencana yang menimpanya dan kesulitan yang melanda kehidupannya. Betapa sering usahanya gagal, harapannya pupus, orang yang dicintainya meninggal, badannya sakit, hartanya hilang, atau… atau… dan seterusnya dari apa yang mengalir di sungai kehidupan. Bahkan seorang penyair menggambarkan dunia:
Dunia ini diciptakan penuh dengan kekeruhan, sementara engkau menginginkannya
Bersih dari rasa sakit dan kekeruhan!
Orang yang menuntut kehidupan melawan tabiatnya
Bagaikan menuntut api dari air.
Jika ini adalah sunnah Allah dalam kehidupan secara umum dan pada semua manusia, maka para pembawa risalah khususnya lebih berat terkena bencana dan malapetaka dunia. Mereka menyeru kepada Allah, maka para penyeru thaghut memerangi mereka. Mereka menyerukan kebenaran, maka para pendukung kebatilan melawan mereka. Mereka membimbing kepada kebaikan, maka para pendukung kejahatan memusuhi mereka. Mereka memerintahkan kebaikan, maka para pelaku kemungkaran menentang mereka. Dengan demikian, mereka hidup dalam pusaran cobaan dan rangkaian konspirasi serta fitnah. Itulah sunnah Allah yang menciptakan Adam dan Iblis, Ibrahim dan Namrud, Musa dan Fir’aun, Muhammad dan Abu Jahal. Allah berfirman:
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَـٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍۢ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًۭا
“Demikianlah, Kami jadikan bagi setiap nabi musuh, yaitu setan-setan dari kalangan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah untuk menipu.” (QS. Al-An’am: 112)
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّۭا مِّنَ ٱلْمُجْرِمِينَ
“Dan demikianlah, Kami jadikan bagi setiap nabi musuh dari kalangan orang-orang yang berdosa.” (QS. Al-Furqan: 31)
Demikianlah keadaan para nabi, demikian pula keadaan para pewaris mereka, orang-orang yang berjalan di jalan mereka, dan para penyeru dengan seruan mereka, dalam menghadapi para penguasa zalim yang menghalangi dari jalan Allah.
وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
“Dan tidaklah mereka membenci mereka selain karena mereka beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji.” (QS. Al-Buruj: 8)
Rasulullah ﷺ pernah ditanya, “Siapa yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab:
الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، يُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Para nabi, kemudian orang-orang yang paling utama, kemudian yang paling utama (setelah mereka). Seseorang diuji sesuai kadar agamanya. Jika agamanya kuat, cobaannya semakin berat. Jika dalam agamanya ada kelonggaran, maka Allah mengujinya sesuai kadar agamanya. Maka ujian terus menerpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa membawa dosa.” (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: hasan sahih)
Orang-orang Ateis adalah yang Paling Gelisah
Telah dibuktikan oleh induksi dan pengamatan bahwa orang yang paling gelisah, paling cepat hancur dalam menghadapi kesulitan hidup adalah orang-orang ateis, para peragu, dan yang lemah imannya. Al-Qur’an menggambarkan tipe manusia ini dengan firman-Nya:
وَلَئِنْ أَذَقْنَا ٱلْإِنسَـٰنَ مِنَّا رَحْمَةًۭ ثُمَّ نَزَعْنَـٰهَا مِنْهُ إِنَّهُۥ لَيَـُٔوسٌۭ كَفُورٌۭ
“Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, kemudian Kami cabut rahmat itu darinya, sungguh dia sangat berputus asa lagi sangat ingkar.” (QS. Hud: 9)
لَّا يَسْـَٔمُ ٱلْإِنسَـٰنُ مِن دُعَآءِ ٱلْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ ٱلشَّرُّ فَيَـُٔوسٌۭ قَنُوطٌۭ
“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika ia ditimpa kesusahan, maka ia berputus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49)
وَإِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ كَانَ يَـُٔوسًۭا
“Dan apabila ia ditimpa kesusahan, ia menjadi sangat putus asa.” (QS. Al-Isra’: 83)
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَعْبُدُ ٱللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍۢ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُۥ خَيْرٌ ٱطْمَأَنَّ بِهِۦ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ ٱنقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِۦ خَسِرَ ٱلدُّنْيَا وَٱلْـَٔاخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْخُسْرَانُ ٱلْمُبِينُ
“Dan di antara manusia ada yang beribadah kepada Allah hanya di tepi. Maka jika ia memperoleh kebaikan, tenteramlah hatinya. Dan jika ia ditimpa ujian, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata.” (QS. Al-Hajj: 11)
Mereka tidak beriman kepada takdir sehingga mereka ridha kepadanya. Tidak beriman kepada Tuhan sehingga mereka tenteram dengan hikmah-Nya dalam ciptaan-Nya. Tidak beriman kepada para nabi sehingga mereka menemukan dalam kehidupan mereka yang keras ini teladan dan pelajaran. Tidak beriman kepada kehidupan akhirat sehingga hembusan udaranya yang menyegarkan jiwa, mengusir kesuraman, dan membangkitkan harapan tidak menerpa mereka. Mereka seperti perahu yang kehilangan kemudi, layar, dan semua faktor kestabilan dalam menghadapi ombak dan badai. Maka dengan gerakan angin sekecil apa pun, goyangannya menjadi hebat, ombak mengepung dari segala penjuru, dan dengan cepat ia tenggelam ke dasar!
Tidak mengherankan jika bunuh diri paling banyak terjadi di lingkungan yang lemah agamanya atau kehilangan agama. Jika bukan bunuh diri, maka yang ada adalah kesakitan yang mematikan, kegelisahan yang mencekam, kesuraman yang menyedihkan, kesedihan yang kelam, dan kehidupan yang telah kehilangan makna kehidupan.
Bukan orang yang mati lalu beristirahat yang disebut mati
Sesungguhnya yang mati adalah orang yang masih hidup!
Sesungguhnya yang mati adalah orang yang hidup dalam kesuraman,
Muram pikirannya, sedikit harapannya!
Sumber: Al-Iman wa al-Hayah (Iman dan Kehidupan) oleh Yang Mulia Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi.





