Yusuf al-Qaradawi rahimahullah
Siapa yang meneliti hubungan Ahlus Sunnah kontemporer dengan Syiah Imamiyah akan menemukan mereka terbagi menjadi tiga golongan:
Golongan pertama: Mereka yang mengkafirkan Syiah secara umum dan mengeluarkan mereka dari Islam. Pandangan ini dinukil dari sebagian ulama salaf, dan merupakan kecenderungan mayoritas salafi. Tokoh yang paling menulis tentang hal ini adalah al-Ustadz Sayyid Muhibbuddin al-Khatib, sejarawan dan peneliti, pemilik majalah al-Fath dan az-Zahra, serta pernah menjadi pemimpin redaksi harian al-Ikhwan al-Muslimun dan majalah al-Azhar.
Al-Khatib menulis risalah terkenalnya berjudul al-Khuthuth al-‘Aridhah li Usus ad-Din asy-Syi‘ah al-Imamiyah al-Itsna ‘Asyariyah, yang membahas isu-isu serius seperti pandangan Syiah tentang Al-Qur’an, tuduhan tahrif dan pengurangan, serta kitab Fashl al-Khithab fi Itsbat Tahrif Kitab Rabb al-Arbab karya an-Nuri ath-Thabarsi. Ia juga menjelaskan sikap Syiah terhadap Sunnah, sahabat, taqiyyah, dan hal-hal lain yang jelas berbeda dari Ahlus Sunnah.
Setelah itu muncul karya ulama Pakistan, Ihsan Ilahi Zhahir, yang memperluas kajian al-Khatib dengan merujuk langsung pada kitab-kitab Syiah, hingga akhirnya beliau terbunuh dalam sebuah peristiwa yang dituduh didalangi oleh Syiah.
Qaradawi menilai sikap ini mengandung ghuluw (ekstrem), sebab takfir adalah perkara besar. Ia menekankan perlunya kehati-hatian sebelum mengkafirkan individu, apalagi kelompok besar yang berjumlah jutaan. Ia juga mengingatkan bahwa di kalangan Syiah pun ada golongan ghuluw yang mengkafirkan Ahlus Sunnah, bahkan sahabat Nabi, sebagaimana dalam kitab al-Anwar an-Nu‘maniyah karya Ni‘matullah al-Jazairi.
Golongan kedua: Mereka yang menilai Syiah hanya dari sisi politik, bukan dari akidah atau ushul mereka. Mereka mengabaikan pandangan Syiah tentang Al-Qur’an, Sunnah, sahabat, konsep imam maksum, serta ritual-ritual seperti peringatan tragedi Karbala dengan cara melukai diri. Mereka hanya melihat keberhasilan politik Revolusi Khomeini, sikap anti-Amerika dan Israel, serta peran Hizbullah dalam melawan Israel.
Qaradawi menegaskan perlunya membedakan antara sikap politik dan akidah. Ia mendukung Hizbullah dalam perang melawan Israel, namun tetap menolak penyebaran akidah Syiah di tengah masyarakat Sunni.
Golongan ketiga: Kelompok moderat yang menolak akidah dan praktik Syiah yang menyelisihi Sunnah, tetapi tidak sampai mengkafirkan mereka secara mutlak, kecuali dalam hal-hal yang jelas tidak bisa ditakwil. Qaradawi menempatkan dirinya dalam kelompok ini: tidak mengkafirkan seluruh Syiah, tetapi tetap berbeda dalam banyak prinsip dasar.
Ia menegaskan bahwa perbedaan utama bukan pada fiqh cabang, melainkan pada ushul dan prinsip akidah. Karena itu, perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syiah Imamiyah bukan sekadar perbedaan mazhab fiqh, melainkan perbedaan dua kelompok besar dalam Islam.
Qaradawi juga menyebut adanya sebagian Syiah Zaidiyah di Yaman yang lebih dekat dengan Ahlus Sunnah, karena mereka menerima kitab-kitab hadis Sunni dan tidak menolak sahabat. Namun perbedaan mendasar tetap terjadi dengan Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah.
Di akhir, ia menyebut adanya arus reformis di kalangan Syiah Irak dan Iran yang mencoba mendekat ke Sunnah, meski masih lemah. Ia menekankan pentingnya Ahlus Sunnah mendekati kelompok reformis ini untuk membendung kaum ekstremis.
Catatan: Teks ini adalah terjemahan ringkas dari karya Yusuf al-Qaradawi Waqafat ma‘a asy-Syi‘ah al-Itsna ‘Asyariyah, yang merupakan kesimpulan terakhir beliau tentang pengalaman mendekatkan Sunni-Syiah.
Sumber: مجلة انصار النبي صلى الله عليه و سلم





