RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,049)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (79)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (137)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Sejarah Islam

Nasab Utsman bin Affan r.a.

  • 23-04-2026
  • No comments
Utsman bin Affan

Beliau adalah Utsman bin Affan bin Abi al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr al-Adawi al-Qurasyi.

Ibunya bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabi’ah bin Habib bin Abdu Syams. Ibunya adalah Ummu Hakim binti Abdul Muththalib bin Hasyim, yang dikenal dengan julukan al-Baidha, saudara kembar dari Abdullah bin Abdul Muththalib. Dengan demikian, ia adalah bibi dari Rasulullah ﷺ. Ibu dari Ummu Hakim adalah Fatimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum, dan dia adalah nenek dari Rasulullah ﷺ.

Gelar Utsman bin Affan r.a.

Utsman bin Affan r.a. digelari Dzu an-Nurayn. Yang dimaksud dengan dua cahaya adalah dua putri Rasulullah ﷺ, yaitu Ruqayyah dan Ummu Kultsum r.a. Rasulullah ﷺ menikahkannya dengan putrinya Ruqayyah, dan ketika Ruqayyah wafat, beliau menikahkannya dengan putri keduanya, Ummu Kultsum r.a. Abdullah bin Umar bin Aban al-Ja’fi berkata: “Pamanku, Husain al-Ja’fi, bertanya kepadaku, ‘Wahai anakku, tahukah engkau mengapa Utsman dijuluki Dzu an-Nurayn?’ Aku menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Ia berkata, ‘Tidak ada seorang pun yang dikumpulkan dengan dua putri seorang nabi sejak Adam diciptakan hingga hari Kiamat selain Utsman bin Affan. Karena itulah ia dijuluki Dzu an-Nurayn.'”

Kunyah Utsman bin Affan r.a.

Di masa Jahiliyah, ia biasa dipanggil dengan kunyah Abu Amr. Ketika ia dikaruniai seorang anak laki-laki dari Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ yang bernama Abdullah, ia menggunakan kunyah tersebut. Maka kaum muslimin memanggilnya Abu Abdullah.

Kelahirannya

Ia lahir di Makkah enam tahun setelah Tahun Gajah, menurut pendapat yang sahih.

Sifat Fisik Utsman bin Affan r.a.

Beliau adalah seorang laki-laki yang tidak pendek dan tidak tinggi. Kulitnya halus. Jenggotnya lebat dan besar. Tulang-tulang persendiannya besar. Bidang antara kedua bahunya lebar. Rambut kepalanya lebat. Beliau biasa mewarnai jenggotnya dengan warna kuning. Badannya kekar. Kedua kakinya memiliki kelengkungan alami. Hidungnya mancung dengan ujung yang tipis dan sedikit bengkok di tengahnya. Betisnya kekar. Kedua lengannya panjang. Rambutnya menutupi kedua lengannya. Rambutnya keriting. Giginya adalah yang terindah di antara manusia. Rambut kepalanya berada di bawah kedua telinganya. Wajahnya tampan. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa kulitnya berwarna putih, meskipun ada juga yang mengatakan bahwa ia berkulit sawo matang.

Para Istri Utsman bin Affan r.a.

Utsman r.a. menikahi delapan orang istri, semuanya setelah Islam. Mereka adalah:

  1. Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ. Ia melahirkan Abdullah bin Utsman.

  2. Ummu Kultsum binti Rasulullah ﷺ.

  3. Fakihah binti Ghazwan. Ia melahirkan Abdullah al-Ashghar.

  4. Ummu Amr binti Jundab al-Azdiyyah. Ia melahirkan Amr, Khalid, Aban, Umar, dan Maryam.

  5. Fatimah binti al-Walid bin Abdu Syams bin al-Mughirah al-Makhzumiyyah. Ia melahirkan al-Walid, Sa’id, dan Ummu Sa’d.

  6. Ummu al-Banin binti ‘Uyainah bin Hishn al-Fazariyyah. Ia melahirkan Abdul Malik.

  7. Ramlah binti Syaibah bin Rabi’ah al-Umawiyyah. Ia melahirkan ‘Aisyah, Ummu Aban, dan Ummu ‘Amr. Ramlah masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah ﷺ.

  8. Na’ilah binti al-Farafishah al-Kalbiyyah. Ia sebelumnya beragama Nasrani, lalu masuk Islam dan baik keislamannya sebelum digauli oleh Utsman.

Anak-anak Laki-laki Utsman bin Affan r.a.

Ia memiliki sembilan orang anak laki-laki dari lima orang istri:

  1. Abdullah (ibunya Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ). Lahir dua tahun sebelum Hijrah. Di awal-awal kehidupan di Madinah, seekor ayam jantan mematuk wajahnya dekat matanya. Bekas patukan itu terus membesar hingga ia wafat pada tahun keempat Hijrah dalam usia enam tahun.
  2. Abdullah al-Ashghar (ibunya Fakihah binti Ghazwan).
  3. Amr (ibunya Ummu Amr binti Jundab). Ia meriwayatkan hadis dari ayahnya dan dari Usamah bin Zaid. Ia juga diriwayati oleh Ali bin al-Husain, Sa’id bin al-Musayyib, dan Abu az-Zinad. Hadisnya sedikit. Ia menikah dengan Ramlah binti Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Wafat pada tahun 80 H.
  4. Khalid (ibunya Ummu Amr binti Jundab).
  5. Aban (ibunya Ummu Amr binti Jundab). Ia adalah seorang imam dalam fikih, bergelar Abu Sa’id. Ia menjabat sebagai gubernur Madinah selama tujuh tahun pada masa pemerintahan al-Malik bin Marwan. Ia mendengar hadis dari ayahnya dan dari Zaid bin Tsabit. Hadisnya sedikit.
  6. Umar (ibunya Ummu Amr binti Jundab).
  7. Al-Walid (ibunya Fatimah binti al-Walid bin Abdu Syams bin al-Mughirah al-Makhzumiyyah).
  8. Sa’id (ibunya Fatimah binti al-Walid al-Makhzumiyyah). Ia menjabat sebagai gubernur Khurasan pada tahun 56 H di masa Mu’awiyah bin Abi Sufyan.
  9. Abdul Malik (ibunya Ummu al-Banin binti ‘Uyainah bin Hishn). Ia wafat di usia muda.

Anak-anak Perempuannya

Ia memiliki tujuh orang anak perempuan dari lima orang istri. Di antaranya:

  1. Maryam (ibunya Ummu Amr binti Jundab).

  2. Ummu Sa’d (ibunya Fatimah binti al-Walid bin Abdu Syams al-Makhzumiyyah).

  3. ‘Aisyah (ibunya Ramlah binti Syaibah bin Rabi’ah).

  4. Maryam (ibunya Na’ilah binti al-Farafishah).

  5. Ummu al-Banin (ibunya seorang budak yang melahirkannya).

Pernikahannya dengan Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ

Kisahnya adalah bahwa Rasulullah ﷺ sebelumnya telah menikahkan Ruqayyah dengan ‘Utbah bin Abi Lahab, dan menikahkan saudarinya Ummu Kultsum dengan ‘Utaibah bin Abi Lahab. Ketika surat al-Masad turun, keduanya berkata kepada kedua putranya, “Ceraikanlah kedua putri Muhammad.” Maka keduanya menceraikan Ruqayyah dan Ummu Kultsum sebelum mereka menggaulinya, sebagai kemuliaan dari Allah untuk kedua putri Rasul-Nya dan sebagai penghinaan bagi kedua putra Abu Lahab.

Begitu Utsman bin Affan r.a. mendengar berita perceraian Ruqayyah, ia sangat gembira dan segera melamarnya kepada Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ pun menikahkannya dengan beliau. Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid yang mengantarkan pengantin wanita. Utsman adalah salah satu pemuda Quraisy yang paling tampan, dan Ruqayyah pun seimbang dengannya dalam ketampanan dan kecantikan. Maka ketika ia diarak menuju Utsman, dikatakan:

“Sepasang suami istri terindah yang pernah dilihat manusia,
Ruqayyah dan suaminya Utsman.”

Pernikahannya dengan Ummu Kultsum binti Rasulullah ﷺ

Ummu Kultsum dikenal dengan kunyah-nya. Tidak diketahui namanya yang asli kecuali apa yang disebutkan oleh al-Hakim dari Mush’ab az-Zubairi bahwa namanya adalah Ummayah. Ia lebih tua usianya daripada Fatimah r.a.

Sa’id bin al-Musayyib berkata: “Utsman ditinggal mati oleh Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ, dan Hafsah binti Umar juga ditinggal mati oleh suaminya. Umar bertemu dengan Utsman, lalu berkata, ‘Bagaimana jika engkau menikahi Hafsah?’ Utsman telah mendengar Rasulullah ﷺ menyebut-nyebut keutamaan Hafsah, maka ia tidak menjawabnya. Umar kemudian menceritakan hal itu kepada Nabi ﷺ. Maka beliau bersabda, ‘Maukah engkau menikah dengan yang lebih baik dari itu? Aku akan menikahi Hafsah, dan aku akan menikahkan Utsman dengan yang lebih baik darinya, yaitu Ummu Kultsum.'”

Dari Ummul Mukminin ‘Aisyah binti ash-Shiddiq, ia berkata: “Ketika Nabi menikahkan putrinya Ummu Kultsum, beliau bersabda kepada Ummu Aiman, ‘Persiapkanlah putriku Ummu Kultsum, antarakan dia kepada Utsman, dan pukullah rebana di hadapannya.’ Maka ia pun melakukannya. Nabi datang setelah tiga malam, lalu masuk menemui Ummu Kultsum dan bersabda, ‘Wahai putriku, bagaimana engkau mendapati suamimu?’ Ia menjawab, ‘Sebaik-baik suami.'”

Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Nabi ﷺ berdiri di depan pintu masjid lalu bersabda: “Wahai Utsman, ini Jibril mengabarkan kepadaku bahwa Allah telah menikahkanmu dengan Ummu Kultsum dengan maskawin yang sama seperti maskawin Ruqayyah dan dengan kebersamaan yang sama seperti dengannya.” Peristiwa itu terjadi pada tahun ketiga Hijrah di bulan Rabi’ul Awwal. Beliau menggaulinya pada bulan Jumadil Akhir.

Ketika Ummu Kultsum wafat di bulan Sya’ban tahun 9 Hijrah, Utsman r.a. sangat terpengaruh dan bersedih atas kepergiannya. Rasulullah ﷺ melihat Utsman berjalan dengan penampilan yang patah semangat dan wajahnya tampak sedih karena musibah yang menimpanya. Maka beliau mendekatinya dan bersabda:

لَوْ كَانَ عِنْدَنَا ثَالِثَةٌ لَزَوَّجْنَاكَهَا يَا عُثْمَانُ

“Seandainya kami memiliki yang ketiga, niscaya kami akan menikahkanmu dengannya, wahai Utsman.” (HR. Ahmad)

Ini adalah bukti kecintaan Rasulullah kepada Utsman, bukti kesetiaan Utsman kepada Nabinya dan penghormatannya, dan bukti untuk meniadakan anggapan sial dalam situasi seperti ini, karena ketetapan Allah pasti berlaku, perintah-Nya berjalan, dan tidak ada yang dapat menolak kehendak-Nya.

Di Masa Jahiliyah

Utsman r.a. adalah salah seorang terbaik di antara kaumnya. Ia memiliki kedudukan yang luas, kaya raya, sangat pemalu, dan lembut perkataannya. Kaumnya sangat mencintai dan menghormatinya. Ia tidak pernah bersujud kepada berhala sama sekali pada masa Jahiliyah, dan tidak pernah melakukan perbuatan keji sama sekali. Ia tidak pernah meminum minuman keras sebelum Islam, dan ia biasa berkata, “Minuman keras itu menghilangkan akal, sedangkan akal adalah anugerah tertinggi yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Manusia harus meninggikannya, bukan membinasakannya.”

Ia berkata tentang dirinya: “Aku tidak pernah bernyanyi, tidak pernah mengkhayal, tidak pernah menyentuh kemaluanku dengan tangan kananku sejak aku berbaiat dengan tangan kananku kepada Rasulullah ﷺ. Aku tidak pernah meminum khamr di masa Jahiliyah maupun Islam, dan aku tidak pernah berzina di masa Jahiliyah maupun Islam.”

Utsman r.a. memiliki pengetahuan tentang pengetahuan bangsa Arab di masa Jahiliyah, di antaranya: nasab, peribahasa, dan berita-berita masa lalu. Ia banyak bepergian, berdagang ke Syam dan Habasyah. Ia bergaul dengan bangsa-bangsa non-Arab, sehingga ia mengetahui keadaan dan situasi mereka yang tidak diketahui oleh orang lain. Ia mengurus perdagangan yang diwariskan dari ayahnya, sehingga kekayaannya bertambah dan ia menjadi salah satu tokoh Bani Umayyah yang memiliki kedudukan di Quraisy. Masyarakat Makkah di masa Jahiliyah sangat menghargai laki-laki berdasarkan harta mereka, dan seorang laki-laki disegani karena anak-anak, saudara, kerabat, dan kaumnya. Utsman mendapatkan kedudukan terhormat di kalangan kaumnya dan kecintaan yang besar.

Ibnu Ishaq meriwayatkan: “Ketika Abu Bakar r.a. masuk Islam, ia menampakkan keislamannya, menyeru kepada Allah dan Rasul-Nya. Abu Bakar adalah seorang yang disukai oleh kaumnya, mudah bergaul, dan dicintai. Ia adalah orang Quraisy yang paling mengetahui nasab, seorang pedagang yang berakhlak mulia dan dikenal kebaikannya. Orang-orang dari kaumnya biasa mendatanginya dan merasa dekat kepadanya karena berbagai hal: karena ilmunya, perdagangannya, dan kebersamaannya yang baik. Maka ia mulai menyeru kepada Allah dan Islam orang-orang yang ia percayai dari kaumnya yang biasa mendatanginya dan duduk bersamanya. Maka masuk Islam melalui seruannya: Utsman bin Affan, az-Zubair bin al-‘Awwam, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqash, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Mereka pergi bersama Abu Bakar hingga menemui Rasulullah ﷺ. Rasulullah ﷺ lalu memaparkan Islam kepada mereka, membacakan Al-Qur’an kepada mereka, mengabarkan kepada mereka tentang hak-hak Islam dan kemuliaan yang dijanjikan Allah kepada mereka. Maka mereka beriman dan mulai mengakui kebenaran Islam. Maka mereka inilah delapan orang –artinya bersama Ali dan Zaid bin Haritsah– yang terdahulu dalam keislaman. Mereka shalat, membenarkan Rasulullah ﷺ, dan beriman kepada apa yang datang dari Allah.”

Utsman r.a. berusia sekitar 34 tahun ketika Abu Bakar ash-Shiddiq mendakwahinya. Ia tidak dikenal ragu-ragu atau terhambat; bahkan ia sangat cepat dan langsung memenuhi seruan ash-Shiddiq. Dengan demikian ia termasuk as-sabiqun al-awwalun. Ia adalah orang keempat yang masuk Islam di antara laki-laki. Hal ini mungkin sebagai hasil dari apa yang ia alami ketika kembali dari Syam. Ia menceritakannya kepada Rasulullah ﷺ ketika ia dan Thalhah bin ‘Ubaidillah masuk menemui beliau. Rasulullah ﷺ lalu memaparkan Islam kepada mereka, membacakan al-Qur’an, mengabarkan kepada mereka hak-hak Islam, dan menjanjikan kemuliaan dari Allah. Maka berimanlah mereka dan membenarkan Rasulullah. Lalu Utsman berkata, “Wahai Rasulullah, aku baru saja kembali dari Syam. Ketika kami berada di antara daerah Mu’an dan az-Zarqa’, kami setengah tertidur dalam perjalanan, tiba-tiba ada penyeru yang menyeru kami, ‘Wahai orang-orang yang tidur, bangunlah! Sesungguhnya Ahmad telah muncul di Makkah.’ Maka kami pun datang dan mendengar berita tentangmu.”

Tidak diragukan bahwa peristiwa ini memberikan pengaruh luar biasa dalam jiwanya yang tidak dapat diabaikannya ketika ia melihat kenyataan terhampar di depan matanya. Siapakah orang yang setelah diizinkan untuk menyaksikan keluarnya seorang nabi sebelum ia shalat di negeri tempat tinggalnya, lalu ia menginap di negeri itu dan mendapati semua peristiwa dan kenyataan berbicara tentang kebenaran apa yang ia dengar, kemudian ia masih ragu untuk memenuhi seruan itu? Ia merenungkan seruan baru ini dengan tenang, seperti kebiasaannya dalam memproses berbagai masalah. Ia mendapati bahwa seruan ini adalah seruan kepada kebajikan dan menolak kejahatan, seruan kepada tauhid dan peringatan dari kemusyrikan, seruan kepada ibadah dan peringatan dari kelalaian, seruan kepada akhlak mulia dan peringatan dari akhlak buruk. Kemudian ia melihat kaumnya, ternyata mereka menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat buruk terhadap tetangga, dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan. Sementara Nabi Muhammad ﷺ adalah seorang yang jujur dan terpercaya, dikenal dengan segala kebaikan dan tidak dikenal dengan keburukan sedikit pun. Beliau tidak pernah tercatat berdusta, dan tidak pernah dihitung berkhianat.

Utsman r.a. masuk Islam melalui Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dan terus melangkah maju dalam keimanannya dengan kuat, menjadi pemberi petunjuk, rendah hati, penyabar, agung, lagi rida. Ia pemaaf, dermawan, pemurah, suka berbuat baik, penyayang, suka memberi, menyantuni kaum mukminin, dan menolong kaum mustadh’afin, hingga tiang Islam menjadi kokoh.

Kesabaran Utsman bin Affan dalam Menghadapi Penyiksaan dan Hijrahnya ke Habasyah

Utsman disakiti dan disiksa di jalan Allah oleh pamannya, al-Hakam bin Abi al-‘Ash bin Umayyah. Al-Hakam menangkapnya, mengikatnya, lalu berkata, “Apakah engkau berpaling dari agama nenek moyangmu menuju agama yang baru? Demi Allah, aku tidak akan melepaskanmu selamanya hingga engkau meninggalkan agama baru yang engkau jalani ini.” Utsman menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan pernah meninggalkannya, dan tidak akan berpisah darinya.” Ketika al-Hakam melihat keteguhannya dalam agamanya, ia melepaskannya. Ia termasuk orang yang hijrah ke tanah Habasyah dalam hijrah pertama dan kedua, bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah ﷺ.

Sumber: Islamstory.com

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Utsman bin Affan
Anda Mungkin Juga Menyukai
توسعات المسجد النبوي عبر التاريخ
View Post
  • Kisah Nabi
  • Sejarah Islam

Antara Hijrah Para Nabi dan Hijrah Rasulullah ﷺ

Shutterstock 1491610727 scaled
View Post
  • Sejarah Islam
  • Wasathiyah

Nikmatnya Sirah Nabawiyah

ÇáÍÖÇÑÉ ÇáÇÓáÇãíÉ
View Post
  • Sejarah Islam

Lembaga-lembaga Amal dalam Sejarah Muslim

Tokoh rabiah
View Post
  • Akhlak
  • Sejarah Islam
  • Tokoh Islam

Rabiah Al-Adawiyah dan Pengasingan Dirinya dari Manusia

1807465768غضب
View Post
  • Sejarah Islam

Sebab Kemarahan Rasulullah ﷺ kepada Seorang Sahabat di Makkah

4957291موقف
View Post
  • Sejarah Islam

Sikap Yahudi dan Musyrik Madinah terhadap Rasulullah ﷺ

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • 2zliilslbukgssw4wg 800xauto 1
    • Wasathiyah
    Nilai Rabbaniyah (Ketuhanan) di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
    • 16.05.26
  • 2iguzpftd0kkkwss84 800xauto 2
    • Wasathiyah
    Juma’t Seruan Langit untuk Persatuan Bumi
    • 16.05.26
  • Salh alkhtyb 3
    • Akhbar Dauliyah
    “Kami Dulu Raja-Raja”: Empat Kesaksian tentang Penderitaan Pengungsian dan Keindahan Palestina Sebelum Nakba
    • 16.05.26
  • Kapan 1 dzulhijjah 2026 ini jadwal sidang isbat penentuan idul adha 1447 h gemini ai 4H3EM 4
    • Kabar Umat
    Besok, Sidang Isbat Penetapan Kapan Idul Adha akan Digelar
    • 16-05-2026
  • Trumpp 3 5
    • Akhbar Dauliyah
    Trump dan Iran: Diplomasi Ancaman ala Trump Temui Jalan Buntu
    • 16.05.26
  • Ap 6a094b67377b4 6
    • Akhbar Dauliyah
    Dua Syahid di Gaza, Tembakan Intensif di Khan Younis dan Lingkungan Al-Tuffah
    • 17.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.