Oleh: Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Iman antara Penampilan dan Esensi
Di antara manusia, ada yang hampir tidak mementingkan dari Islam kecuali bentuk, bukan esensi; gambaran, bukan hakikat.
Yang paling penting baginya dalam agamanya adalah:
Memelihara janggut dan memanjangkannya,
Memendekkan pakaian,
Membawa siwak,
Merapatkan telapak kaki dengan telapak kaki dalam salat,
Atau meletakkan tangan saat berdiri di dada atau di atas pusar,
Minum sambil duduk, tidak sambil berdiri,
Mengharamkan semua jenis nyanyian dan musik,
Mewajibkan cadar bagi wanita,
Dan seterusnya.
Semua ini adalah perkara yang berkaitan dengan penampilan lebih daripada esensi.
Saya berharap kepada saudara-saudaraku ini—seandainya mereka mengarahkan perhatian terbesar mereka kepada esensi dan ruh ajaran-ajaran Islam—sebagai ganti dari bentuk dan materi.
Islam adalah:
Akidah: esensinya adalah tauhid.
Ibadah: esensinya adalah ikhlas.
Muamalah: esensinya adalah kejujuran.
Akhlak: esensinya adalah kasih sayang.
Legislasi: esensinya adalah keadilan.
Amal: esensinya adalah profesionalisme.
Adab: esensinya adalah rasa.
Hubungan: esensinya adalah persaudaraan.
Peradaban: esensinya adalah keseimbangan.
Barang siapa yang menyia-nyiakan tauhid dalam akidah, ikhlas dalam ibadah, kejujuran dalam muamalah, kasih sayang dalam akhlak, keadilan dalam legislasi, profesionalisme dalam amal, rasa dalam adab, persaudaraan dalam hubungan, dan keseimbangan dalam peradaban—maka sungguh ia telah menyia-nyiakan esensi Islam, meskipun ia berpegang teguh pada hal-hal yang lahiriah berupa penggambaran dan bentuk-bentuk.
Pernyataan ini bukanlah sekadar klaim tanpa bukti. Sebaliknya, bukti-bukti atas pernyataan ini dari Al-Qur’an dan As-Sunnah sangat banyak.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ كَانَ فِيهِ شُعْبَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ»
“Empat perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, maka ia adalah munafik murni—meskipun ia salat, puasa, dan mengaku sebagai muslim. Dan barang siapa yang terdapat padanya satu dari perkara-perkara tersebut, maka pada dirinya terdapat satu cabang kemunafikan hingga ia meninggalkannya: (1) apabila berbicara, ia berbohong; (2) apabila dipercaya, ia berkhianat; (3) apabila berjanji, ia mengingkari; (4) apabila berselisih, ia berlaku curang.” (Muttafaq ‘alaih)
Iman antara Pengetahuan dan Penerapan
Sebagian orang menyangka bahwa iman yang menyelamatkan manusia dari api neraka, membuatnya layak untuk masuk surga di akhirat, dan menjadikannya layak untuk mendapat perlindungan Allah Ta’ala, pertolongan-Nya, dan pembelaan-Nya di dunia—hanyalah pengetahuan mental, yang sering diisi dengan akalnya.
Dengan kata yang lebih tepat: “Disimpan dalam ingatannya pada masa kecil dan diajarkan secara indoktrinasi bahwa Allah Ta’ala itu Maha Esa, Maha Sempurna, Maha Suci dari setiap kekurangan, dan bahwa Dia memiliki sifat-sifat luhur.”
Saya masih ingat bagaimana mereka mengajarkan kepada kami—di madrasah kuttab—akidah menurut mazhab Asy’ariyyah akhir, yaitu bahwa Allah Ta’ala memiliki dua puluh sifat: Wujud, Qidam, Baqa’, Mukhalafatu lil hawadits, Qiyamuhu bi nafsihi, Wahdaniyyah, ‘Ilm, Iradah, Qudrah, Hayah, Sam’, Basar, Kalam, serta kawnuhu ‘Aliman, Muridan, Qadiran, Hayyan, Sami’an, Basiran, Mutakalliman.
Kami menghafal sifat-sifat ini dengan urutan begini, dan kami tidak mengetahui dari maknanya sedikit pun.
Setelah aku besar dan sadar, aku berusaha untuk memahami perbedaan antara al-‘ilm dan kawnuhu ‘aliman, antara al-qudrah dan kawnuhu qadiran, dan seterusnya. Aku tidak mampu memahaminya, dan aku tidak menemukan siapa pun yang mampu membuatku mengerti, meskipun kami mempelajari sifat-sifat ini di tingkat pendidikan dasar, menengah, dan tinggi dari studi di Al-Azhar Asy-Syarif.
Lebih penting dari itu—bahwa studi tentang akidah ini tidak menyentuh dawai jiwa manusia, atau menggerakkan baginya hatinya, atau menghidupkan di dalamnya hati nurani.
Studi ini adalah studi yang kering, kosong dari madu keimanan yang sejati—yang dijadikan landasan manhaj Al-Qur’an dalam membentuk iman dan dalam memantapkan iman.
Manhaj tersebut adalah manhaj yang berdiri di atas pandangan dan pemikiran pada tanda-tanda kekuasaan Allah Ta’ala pada diri mereka sendiri dan alam semesta.
Allah Ta’ala berfirman:
أَوَلَمْ يَنْظُرُوا فِي مَلَكُوتِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا خَلَقَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ
“Tidakkah mereka melihat pada kerajaan langit dan bumi dan apa pun yang diciptakan Allah dari sesuatu?” (Q.S. Al-A’raf: 185)
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ * وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin. Dan pada diri kalian sendiri. Maka tidakkah kalian melihat?” (Q.S. Adz-Dzariyat: 20-21)
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang—benar-benar terdapat tanda-tanda bagi pemilik akal sehat.” (Q.S. Ali ‘Imran: 190)
Saya mengagumi manhaj salaf—karena perhatiannya untuk kembali kepada Al-Qur’an al-Karim dan As-Sunnah al-Muthahharah dalam menetapkan akidah dan memantapkannya, lebih mengutamakan metode Al-Qur’an di atas metode filsafat Yunani.
Saya juga mengagumi dari manhaj ini fokusnya pada memurnikan tauhid dari segala kotoran kesyirikan—besar dan kecil, terang-terangan dan tersembunyi—dan membebaskan manusia dari perbudakan terhadap manusia, serta memurnikan penghambaan hanya untuk Allah semata.
Akan tetapi, arus salafiyah kontemporer—tenggelam dalam pusaran debat dalam masalah-masalah akidah, dan menjadi kesibukan utamanya—apa yang berkaitan dengan apa yang disebutnya “Ayat-ayat sifat” dan “Hadis-hadis sifat”—yang dimaksud adalah sifat-sifat khabariyyah yang terjadi perselisihan antara salaf dan khalaf tentang penakwilan atau ketidaklakwilannya—seolah-olah itulah inti akidah dan esensi tauhid.
Keberatanku terhadap arus ini—sebagaimana diajarkan sekarang—ada dua hal:
Pertama: Fokusnya pada topik yang diperselisihkan ini, dengan mengorbankan apa yang disepakati, yang merupakan pokok dalam akidah—dari: menetapkan wujud Allah Ta’ala, keesaan-Nya dalam zat, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya; memurnikan ibadah hanya untuk-Nya semata; mensifati-Nya dengan setiap kesempurnaan yang layak bagi-Nya ‘Azza wa Jalla; dan meniadakan setiap kekurangan dari-Nya, seperti sekutu, anak, tandingan, dan yang serupa.
Allah Ta’ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.” (Q.S. Asy-Syura: 11)
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya.” (Q.S. Al-Ikhlas: 3-4)
Kewajiban mengajarkan hal-hal yang diperselisihkan ini—sebagaimana datang dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah—bukanlah dikumpulkan sebagiannya dengan sebagian yang lain dalam konteks yang satu, yang memberikan dari nuansa apa yang tidak diberikan konteksnya pada posisi-posisi mereka yang tersebar dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Kedua: Arus ini terjatuh pada apa yang juga terjadi pada arus rasionalis Asy’ariyyah yang lain—dari menganggap iman sebagai masalah pengetahuan mental.
Dengan kata lain: Memahami pernyataan yang tersusun rapi, dan menghafal kalimat-kalimat dan istilah-istilah yang dituangkan dalam pola-pola yang kaku.
Barang siapa yang menghafal pernyataan atau istilah-istilah ini—maka akidahnya selamat, imannya menjadi benar, tauhidnya bebas dari hal-hal yang mengandung kesyirikan dan kekufuran.
Saya pernah menghadiri sebuah majelis yang menghimpun sebagian ahli ilmu. Di antara yang dikatakan oleh salah seorang dari mereka dalam rangka mengingkari seseorang—bahwa “orang itu akidahnya campur aduk, tauhidnya tercela, ia tidak mengetahui makna ‘Ar-Rabb’, dan tidak makna ‘Ath-Thaghut’, dan tidak makna ‘Tauhid al-Asma’ wa as-Sifat’.”
Seolah-olah semua yang dituntut dari seseorang untuk berbahagia di dunia dan beruntung di akhirat—hanyalah menghafal definisi-definisi atau istilah-istilah ini di luar kepala, dan mendemonstrasikannya ketika diminta darinya.
Ini bukanlah iman yang disebutkan dalam Al-Qur’an, disebutkan oleh As-Sunnah, dan mereka mengaitkan pengaruh-pengaruhnya dan buah-buahnya di dunia dan akhirat di atasnya.
Iman Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah
Sesungguhnya iman versi Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah sesuatu yang lain.
Ia adalah cahaya yang menerangi semua sisi jiwa: menerangi akal, menyegarkan perasaan, menggerakkan emosi, memotivasi kemauan.
Ia adalah kekuatan yang memberi petunjuk, kekuatan yang menggerakkan, kekuatan yang mengendalikan, dan kekuatan yang menenteramkan.
Kekuatan yang Memberi Petunjuk
Ia adalah kekuatan yang memberi petunjuk; karena ia menentukan bagi manusia arahnya, memperkenalkannya tujuannya dan manhaj-nya. Maka ia hidup di atas cahaya, dan berjalan di atas pandangan yang jelas.
Allah Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ
“Dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk hatinya.” (Q.S. At-Taghabun: 11)
وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan barang siapa berpegang teguh kepada Allah, maka sungguh ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. Ali ‘Imran: 101)
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
“Apakah orang yang mati lalu Kami hidupkan dan Kami jadikan baginya cahaya yang dengannya ia berjalan di tengah-tengah manusia—sama seperti orang yang perumpamaannya dalam kegelapan tidak dapat keluar dari padanya?” (Q.S. Al-An’am: 122)
Kekuatan inilah yang menjadikan Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam menolak ketuhanan bintang, bulan, dan matahari—ketika ia berkata:
إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada Dzat yang menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan lurus, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.” (Q.S. Al-An’am: 79)
Kekuatan yang Menggerakkan
Ia adalah kekuatan yang menggerakkan, yang memotivasi manusia untuk memberi, membangun, mengerjakan amal saleh, dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Karenanya, Al-Qur’an menggandengkan iman dengan amal dalam hampir sembilan puluh tempat.
Oleh karena itu, ulama salaf berkata:
“Iman bukanlah dengan angan-angan. Tetapi apa yang mantap di dalam hati dan dibenarkan oleh amal.“
Ketika orang-orang Yahudi dan Nasrani berkata: “Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama Yahudi atau Nasrani”, Allah menjawab mereka dengan firman-Nya:
وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَىٰ ۗ تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ * بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِنْدَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Dan mereka berkata: ‘Tidak akan masuk surga kecuali orang yang beragama Yahudi atau Nasrani.’ Itu adalah angan-angan mereka. Katakanlah: ‘Bawakanlah bukti kalian jika kalian orang-orang yang benar.’ Tidak—(tetapi) barang siapa yang berserah diri dengan sepenuh hati kepada Allah, dan ia berbuat baik, maka baginya pahalanya di sisi Tuhannya, dan tidak ada rasa takut pada mereka dan tidak mereka bersedih.” (Q.S. Al-Baqarah: 111-112)
Inilah bukti atas kebenaran iman: menghadapkan wajah kepada Allah disertai dengan kebaikan amal.
Al-Qur’an mewujudkan iman dalam akhlak, perasaan, dan amal—bukan dalam kalimat dan pernyataan.
Dia Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ * الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ * أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا ۚ لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah apabila disebut nama Allah, hati mereka menjadi gemetar; dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah iman mereka; dan hanya kepada Tuhan mereka mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang mendirikan salat, dan dari apa yang Kami rezekikan kepada mereka mereka infakkan. Mereka itulah orang-orang yang beriman sebenarnya. Mereka akan mendapat derajat-derajat di sisi Tuhan mereka, ampunan, dan rezeki yang mulia.” (Q.S. Al-Anfal: 2-4)
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian tidak ragu, dan berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.S. Al-Hujurat: 15)
Hal ini ditegaskan oleh hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang menjadikan iman sebagai enam puluh lebih atau tujuh puluh lebih cabang—di mana tentang hal ini terdapat kitab-kitab yang komprehensif untuk menjelaskannya, menghitungnya, dan mensyarahnya.
Dalam Shahihain:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ، أَوْ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَعْلاَهَا: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَأَدْنَاهَا: إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ»
“Iman itu enam puluh lebih atau tujuh puluh lebih cabang. Yang tertinggi adalah ‘La ilaha illallah’. Yang terendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu adalah cabang dari iman.” (Muttafaq ‘alaih)
Iman adalah yang membuat Ibrahim Al-Khalil ‘alaihis salam bersedia menyembelih anaknya dan buah hatinya—taat kepada Allah.
Dan ia menjadikan putranya, pemuda yang tumbuh, berkata kepada ayahnya—ketika Ibrahim berkata: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa yang engkau lihat.” Maka ia menjawab:
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang engkau perintahkan. Engkau akan mendapati, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar.” (Q.S. Ash-Shaffat: 102)
Kekuatan yang Mengendalikan
Iman—sebagaimana ia adalah kekuatan pendorong untuk melakukan kebaikan—ia juga kekuatan pengendali yang mencegah pemiliknya dari kejahatan, mengekangnya dengan kendali takwa, dan menghalanginya dari dosa, dan dari perbuatan keji—apa yang tampak dari padanya dan apa yang tersembunyi.
Iman adalah yang meletakkan di depan mata orang yang beriman selalu pengawasan Allah Ta’ala, perhitungan akhirat, keyakinan tentang pahala dan siksa, surga dan neraka.
Dengan demikian, ia menjadi pengawas atas dirinya sendiri: bermusyawarah dengannya sebelum amal, menghitungnya setelah amal, menyalahkannya ketika lalai, dan dapat menghukumnya dengan teguran pedas dan kecaman, dan dengan selain keduanya dari sarana pendisiplinan—sebagaimana kebiasaan nafsu yang mencela.
Iman adalah yang menjadikan putra Adam yang baik berkata kepada saudaranya yang jahat:
لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ
“Sungguh jika engkau menghulurkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menghulurkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al-Ma’idah: 28)
Iman adalah yang menjadikan Yusuf bin Ya’qub ‘alaihis salam menolak syahwat haram—ketika ia di puncak masa mudanya dan kekuatan kejantanannya—wanita yang merayunya, dan ia tidak merayunya.
Maka ia berkata kepada wanita yang ia berada di rumahnya, dan yang menguasai urusannya, dan yang menggodanya dengan terus terang, bukan dengan sindiran:
وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۖ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
“Dan wanita itu berkata: ‘Mari mendekatlah!’ Yusuf menjawab: ‘Aku berlindung kepada Allah! Sesungguhnya Tuhanku telah memperlakukan baik tempat tinggalku. Sesungguhnya tidak akan beruntung orang-orang yang zalim.'” (Q.S. Yusuf: 23)
Ketika rayuan tidak berhasil dengannya, ia mencoba dengan ancaman. Barang siapa yang tidak dapat dicegah oleh janji, mungkin ancaman meluluhkannya.
Maka ia berkata di hadapan para wanita:
وَلَقَدْ رَاوَدْتُهُ عَنْ نَفْسِهِ فَاسْتَعْصَمَ ۖ وَلَئِنْ لَمْ يَفْعَلْ مَا آمُرُهُ لَيُسْجَنَنَّ وَلَيَكُونًا مِنَ الصَّاغِرِينَ
“Dan sungguh aku telah merayunya untuk dirinya, maka ia memelihara diri. Dan sungguh jika ia tidak melakukan apa yang aku perintahkan kepadanya, niscaya ia akan dipenjarakan dan niscaya ia akan menjadi termasuk orang-orang yang hina.” (Q.S. Yusuf: 32)
Maka jawaban pemuda mukmin ini—selain berlindung kepada pilar yang kokoh dan benteng yang kuat—ia berlindung kepada Tuhannya, seraya berkata:
رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُنْ مِنَ الْجَاهِلِينَ
“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku cintai daripada apa yang mereka seru aku kepadanya. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, aku akan cenderung kepada mereka dan aku akan menjadi termasuk orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Yusuf: 33)
Sumber Ketenangan
Dan iman—setelah itu—adalah kekuatan yang menanamkan dalam jiwa ketenangan, dalam hati keamanan dan ketenteraman—yang merupakan sumber kebahagiaan sejati yang bersumber dari dalam dan tidak diundang dari luar.
Allah Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang yang beriman, agar bertambah iman mereka di samping iman mereka.” (Q.S. Al-Fath: 4)
Al-Qur’an menceritakan kepada kita tentang Ibrahim—ketika kaumnya mendebatinya dan membantahnya, serta menakut-nakutinya dengan sesembahan mereka—bahwa akan menimpanya keburukan.
Maka ia berkata:
أَتُحَاجُّونِّي فِي اللَّهِ وَقَدْ هَدَانِ ۚ وَلَا أَخَافُ مَا تُشْرِكُونَ بِهِ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ رَبِّي شَيْئًا ۗ وَسِعَ رَبِّي كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ۗ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ * وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُمْ بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا ۚ فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ * الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
“Apakah kamu mendebatiku tentang Allah, padahal Dia telah memberi petunjuk kepadaku? Dan aku tidak takut kepada apa yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali jika Tuhanku menghendaki sesuatu. Pengetahuan Tuhanku meliputi segala sesuatu. Maka tidakkah kamu berpikir? Dan bagaimana aku takut kepada apa yang kamu persekutukan, sementara kamu tidak takut bahwa kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Dia tidak menurunkan otoritas untuknya kepada kalian? Maka manakah di antara dua golongan yang lebih berhak dengan keamanan, jika kamu mengetahui? (Yaitu) orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman. Merekalah yang mendapat keamanan untuk mereka, dan mereka orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-An’am: 80-82)
Makna “tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman” —yaitu tidak mencampuri tauhid mereka dengan kesyirikan.
Maka mereka tidak beragama kecuali kepada Allah, tidak bersujud kecuali kepada Allah, dan tidak mengharap atau takut kecuali kepada Allah semata.
Tauhid yang murni inilah yang memberikan kepada mereka keamanan psikologis yang diharamkan dari selain mereka—mereka yang takut kepada segala sesuatu, bahkan dari khayalan.
Sebagaimana kebiasaan ahli syirik yang Allah berfirman tentang mereka:
سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا ۖ وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ ۚ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ
“Kami akan menanamkan ke dalam hati orang-orang yang kafir rasa takut, karena mereka mempersekutukan dengan Allah sesuatu yang Dia tidak menurunkan otoritas untuknya. Dan tempat kembali mereka adalah neraka. Dan seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zalim.” (Q.S. Ali ‘Imran: 151)
Dari sini kita dapati orang yang beriman bagaikan gunung yang tinggi:
Dunia di sekelilingnya berguncang,
Badai mengamuk,
Guntur menderu,
Kilat menyambar,
Pohon-pohon tercabut,
Sungai-sungai meluap,
Gelombang lautan meninggi.
Dan ia—tetap, tidak bergeser; kokoh, tidak goyah.
Ia telah meletakkan kakinya di pintu Allah, dan meletakkan tangannya di tangan Allah, dan menyambungkan tali-talinya dengan tali Allah Ta’ala:
Maka dengan-Nya ia berpegang teguh,
Dari-Nya ia memperoleh kekuatan,
Kepada-Nya ia berpaling,
Kepada-Nya ia bertawakal.
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Al-Anfal: 49)
Slogannya adalah apa yang Allah firmankan kepada Rasul-Nya:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Katakanlah: ‘Tidak akan menimpa kami kecuali apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami. Dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakal.'” (Q.S. At-Taubah: 51)
Tidaklah kesulitan menambahinya—kecuali iman dan ketenteraman—sebagaimana emas murni tidaklah api menambahinya—kecuali kemurnian dan kilauan.
Demikianlah Allah ‘Azza wa Jalla menggambarkan orang-orang yang beriman dari para sahabat Rasul-Nya ﷺ—di saat-saat yang paling gelap gulita, dan krisis yang paling berat dan mencemaskan—sebagaimana dalam Perang Khandaq, ketika pasukan penyerang mengepung Madinah dengan kepungan gelombang terhadap kapal, dan manusia berprasangka terhadap Allah berbagai prasangka, dan orang-orang yang beriman diuji dan diguncang dengan goncangan yang dahsyat.
Di sini muncul peran iman—meniupkan harapan, menghidupkan kepercayaan diri, dan memberikan kekuatan—sebagaimana kita lihat dalam gambaran Al-Qur’an terhadap kelompok orang-orang yang beriman:
وَلَمَّا رَأَى الْمُؤْمِنُونَ الْأَحْزَابَ قَالُوا هَٰذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ ۚ وَمَا زَادَهُمْ إِلَّا إِيمَانًا وَتَسْلِيمًا
“Dan ketika orang-orang yang beriman melihat pasukan sekutu, mereka berkata: ‘Ini adalah apa yang telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kami; dan benarlah Allah dan Rasul-Nya.’ Dan tidaklah janji itu menambah mereka—kecuali iman dan kepasrahan.” (Q.S. Al-Ahzab: 22)
Saya tidak dapat menyebutkan di sini—walaupun secara singkat—buah-buah iman Al-Qur’ani, dalam jiwa dan dalam kehidupan.
Saya telah menulis tentang hal itu sebuah kitab yang lengkap—berjudul “Al-Imān wa al-Hayāh” —di mana saya jelaskan pengaruh iman dalam kehidupan individu, dan dalam kehidupan masyarakat, dan bahwa itu adalah keharusan bagi individu untuk berbahagia dan menyucikan diri, dan keharusan bagi masyarakat untuk tetap kokoh dan maju.
Yang penting —bahwa iman inilah adalah iman yang sejati, dan yang dibawa oleh Kitab Allah dan dirincikan oleh Sunnah Rasulullah ﷺ, dan yang dikenal dan dihayati oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, dan dikenal oleh orang-orang yang rabbani dari anak-anak umat ini—mereka hidup dengannya dalam surga spiritual yang mereka masuki di dunia sebelum akhirat, dan mereka merasakan bersamanya kebahagiaan yang penyair mereka berkata:
“Seandainya para raja mengetahui nilainya, niscaya mereka akan memerangi kami dengan pedang!”
Adapun wabah umat Islam di masa-masa kemunduran dan umat Islam saat ini juga—maka adalah ketiadaan iman yang positif yang tidak ada sesuatu pun yang dapat menggantikan kedudukannya—baik ilmu, sastra, filsafat, maupun hukum.
Benar…
Sesungguhnya ketiadaan makna-makna iman yang rabbani—yang menghubungkan hati dengan kesejukan keyakinan, menyegarkan jiwa dengan hembusan cinta dan kerinduan kepada Allah, dan menggerakkan tekad dengan dorongan harapan akan rahmat Allah Ta’ala dan rasa takut dari azab-Nya—adalah celah yang paling menonjol dalam kehidupan seorang muslim, yang membutuhkan untuk ditutup.
Maka ia berlindung ke pelukan tasawwuf, berusaha menemukan di dalamnya apa yang dicarinya yang ia dambakan dan yang tidak ditemukannya pada orang-orang yang menenggelamkan manusia dengan cabang-cabang fiqih dan perselisihannya; tidak pula pada para pendebat dalam akidah dari ulama kalam yang menyibukkan manusia tentang Allah Jalla Jalāluhu dengan debat yang panas dan terus-menerus seputar nama-nama dan sifat-sifat-Nya Subḥānahu.
Jika seorang muslim menemukan seorang sufi yang berkomitmen dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah, jauh dari hal-hal yang mengandung kesyirikan dalam akidah, bid’ah dalam ibadah, dan kekacauan dalam perilaku—maka ini adalah keberuntungannya, dan karunia Allah atasnya.
Akan tetapi, bahaya terletak pada orang-orang yang kacau dan menyimpang dari pengaku tasawwuf—dari orang-orang yang menjadikannya sebagai mata pencaharian dan perdagangan.
Atau dari orang-orang yang tidak pandai memahami hakikat tasawwuf—karena mereka tidak pandai memahami hakikat Islam.
Dan mereka adalah mayoritas yang ada di panggung dengan nama tasawwuf. Dan mereka tidak sedikit pun dari tasawwuf—baik dalam banyak maupun sedikit.
Sumber: “Al-Īmān wa al-Ḥayāh” (Iman dan Kehidupan), dan tulisan-tulisan lainnya oleh Yang Mulia Syekh Al-Qardhawi.





