Jakarta, MUI Digital — Meningkatnya kasus kekerasan yang terjadi di sejumlah lingkungan pesantren menjadi perhatian serius Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Sebagai respons atas fenomena tersebut, Komisi Pesantren MUI akan menggelar Halaqah Pesantren bertema “Pesantren Aman dan Pesantren Ramah Anak” pada Kamis, 11 Juni 2026, di Pondok Pesantren Al-Amin, Kediri, Jawa Timur.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Pra Kongres Umat Islam (KUI) VIII yang akan digelar pada Juli mendatang.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Pesantren, KH Chaerul Shaleh Rasyid, menyatakan fenomena kekerasan di lingkungan pesantren tidak bisa dipandang sebagai persoalan biasa dan membutuhkan perhatian bersama dari seluruh pemangku kepentingan.
“Agenda ini dilakukan dalam rangka merespons fenomena kekerasan di lingkungan pondok pesantren yang cukup marak akhir-akhir ini sehingga menjadi urgensi nasional yang menuntut perhatian secara serius,” ujar Kiai Chaerul.
Menurutnya, berbagai kasus yang muncul umumnya berkaitan dengan kehidupan santri di lingkungan asrama atau peseramaan pesantren.
Karena itu, diperlukan langkah konkret untuk memperkuat kembali tradisi pengasuhan pesantren yang berorientasi pada perlindungan, pendidikan, dan kemaslahatan santri.
“Halaqah ini akan menjadi ruang diskusi mendalam bagi para pengasuh pesantren untuk mereaktualisasi nilai-nilai pengasuhan dalam perspektif maqashid syariah, khususnya menjaga keselamatan jiwa dan kehormatan para santri,” katanya.
Kiai Chaerul menjelaskan, forum tersebut tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga diharapkan mampu melahirkan gagasan dan rekomendasi strategis bagi penguatan sistem pendidikan pesantren di Indonesia.
Pembahasan akan mencakup berbagai aspek, termasuk kemungkinan penguatan kurikulum, sistem pengasuhan, serta mekanisme perlindungan santri agar pesantren semakin aman, nyaman, dan ramah bagi peserta didik.
Sejumlah tokoh dan pengasuh pesantren dijadwalkan hadir sebagai narasumber dalam halaqah tersebut. Di antaranya pengasuh pesantren putri di Kediri, Nyai Aina, Ketua MUI Jawa Timur Prof Halim Soebar, anggota Komisi Pesantren MUI Prof Haris, serta sejumlah pengasuh pesantren lainnya dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Komisi Pesantren MUI juga mengundang unsur pemerintah untuk terlibat dalam pembahasan, termasuk pejabat Kementerian Agama dari Direktorat Jenderal Pendidikan Islam hingga Direktorat Pesantren.
Selain itu, Kepala Kantor Staf Presiden (KSP), Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman, direncanakan hadir sebagai keynote speaker dalam forum tersebut.
Kiai Chaerul menjelaskan, halaqah ini merupakan bagian dari ikhtiar MUI menghimpun aspirasi dan masukan dari kalangan pesantren untuk dibawa ke forum Kongres Umat Islam VIII.
“Harapannya, dari halaqah ini lahir rekomendasi-rekomendasi konstruktif yang dapat memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang aman, nyaman, dan ramah bagi para santri,” ujarnya.
Melalui forum ini, MUI berharap pesantren tidak hanya terus menjadi pusat pendidikan dan kaderisasi umat, tetapi juga menjadi lingkungan yang mampu menjamin keselamatan, kehormatan, dan tumbuh kembang santri secara optimal.
Sumber: MUI Digial





