Setiap tanggal 2 Oktober, masyarakat dunia memperingati Hari Anti-Kekerasan Internasional (International Day of Non-Violence). Peringatan ini menjadi momen untuk mengingat kembali pentingnya menghentikan berbagai bentuk kekerasan dan terus merawat perdamaian dalam kehidupan bersama.
Bagi umat Muslim, nilai-nilai yang mendorong perdamaian, penghormatan terhadap kehidupan, kelembutan, dan penyelesaian konflik secara baik bukanlah hal yang asing. Nilai-nilai tersebut memiliki landasan dalam Al-Qur’an dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Kehadiran Rasulullah SAW bahkan ditegaskan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Allah SWT berfirman:
وَمَآ أَرْسَلْنَٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَٰلَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107).
Ayat tersebut menggambarkan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat yang tidak terbatas kepada kelompok tertentu, tetapi mencakup seluruh alam. Semangat inilah yang menjadi salah satu landasan penting dalam membangun hubungan yang penuh kasih sayang, penghormatan, dan perdamaian.
5 Prinsip Perdamaian dan Anti-Kekerasan dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an memberikan arahan mengenai bagaimana manusia seharusnya menghargai kehidupan, memperlakukan sesama, menyelesaikan perbedaan, dan menghindari tindakan yang merusak hubungan antarmanusia.
1. Menghargai Kesucian Jiwa Manusia
Islam menempatkan kehidupan manusia sebagai sesuatu yang sangat berharga. Al-Qur’an menggambarkan besarnya nilai menjaga kehidupan melalui firman Allah SWT:
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍۢ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًۭا ۖ وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًۭا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًۭا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
“Barangsiapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah: 32).
Ayat ini menunjukkan betapa tinggi nilai kehidupan manusia dan pentingnya menjaga jiwa dari tindakan yang zalim.
2. Mengedepankan Sikap Lemah Lembut
Perdamaian tidak hanya dibangun dengan menghindari kekerasan fisik, tetapi juga melalui cara kita berbicara dan memperlakukan orang lain. Dalam berkomunikasi maupun memimpin, kelembutan menjadi salah satu sikap yang ditekankan dalam Al-Qur’an.
Allah SWT berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى ٱلْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 159).
Rasulullah SAW juga bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ
“Sungguh, kelembutan itu tidaklah ada pada sesuatu melainkan akan memperindahnya, dan tidaklah kelembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan memperburuknya.” (HR. Muslim).
Kelembutan bukan berarti kehilangan ketegasan. Ia merupakan cara untuk menyampaikan sikap dan menyelesaikan persoalan tanpa memperbesar permusuhan.
3. Membalas Kejahatan dengan Kebaikan
Islam juga mengajarkan manusia untuk tidak memperpanjang lingkaran permusuhan. Ketika menghadapi keburukan, seseorang didorong untuk merespons dengan cara yang lebih baik apabila hal tersebut dapat meredakan konflik dan membuka jalan menuju perdamaian.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَسْتَوِى ٱلْحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّيِّئَةُ ۚ ٱدْفَعْ بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِى بَيْنَكَ وَبَيْنَهُۥ عَدَٰوَةٌۭ كَأَنَّهُۥ وَلِىٌّ حَمِيمٌۭ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang setia.” (QS. Fussilat: 34).
Ayat ini menunjukkan bahwa keburukan tidak selalu harus dibalas dengan keburukan. Kebaikan dapat menjadi jalan untuk meredakan permusuhan dan mengubah hubungan yang sebelumnya penuh konflik menjadi lebih baik.
Namun, membalas keburukan dengan kebaikan tidak berarti mengabaikan keadilan atau membiarkan tindakan zalim terus berlangsung. Prinsip tersebut mengajarkan cara merespons keburukan dengan sikap yang dapat menghentikan permusuhan, bukan memperpanjangnya.
4. Mengedepankan Dialog dan Cara yang Baik
Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan manusia. Karena itu, perbedaan tidak semestinya menjadi alasan untuk saling menghina atau menggunakan kekerasan. Al-Qur’an mengajarkan agar manusia menyampaikan pendapat dengan hikmah dan cara yang baik.
Allah SWT berfirman:
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sungguh, Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An-Nahl: 125).
Ayat ini memberikan gambaran bahwa menyampaikan keyakinan dan menghadapi perbedaan dapat dilakukan melalui hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun.
5. Tidak Memaksakan Keyakinan
Salah satu prinsip penting dalam kehidupan beragama adalah bahwa keyakinan tidak dapat dibangun melalui paksaan. Al-Qur’an menyatakan:
لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ ۚ فَمَن يَكْفُرْ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسْتَمْسَكَ بِٱلْعُرْوَةِ ٱلْوُثْقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَا ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama. Sungguh, telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).
Ayat ini menegaskan bahwa keimanan tidak seharusnya lahir dari tekanan atau pemaksaan. Keyakinan memiliki dimensi batin yang tidak dapat dibangun melalui kekerasan.
Relevansi dalam Kehidupan Sehari-hari
Nilai perdamaian dan anti-kekerasan tidak hanya relevan dalam persoalan besar seperti konflik bersenjata atau pertikaian antarkelompok. Nilai tersebut juga dapat dimulai dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Menjaga lisan dan jari di media sosial. Perkembangan media sosial membuat seseorang dapat menyampaikan perkataan kepada banyak orang hanya dalam hitungan detik. Karena itu, menghindari ujaran kebencian, penghinaan, komentar yang menyakiti, dan perundungan siber merupakan salah satu bentuk nyata menjaga perdamaian di ruang digital.
Al-Qur’an mengingatkan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا يَسْخَرْ قَوْمٌۭ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُوا۟ خَيْرًۭا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَآءٌۭ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيْرًۭا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوٓا۟ أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا۟ بِٱلْأَلْقَٰبِ ۖ بِئْسَ ٱلِٱسْمُ ٱلْفُسُوقُ بَعْدَ ٱلْإِيمَٰنِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olok. Dan jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, boleh jadi perempuan yang diperolok-olokkan lebih baik dari perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah panggilan yang buruk setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11).
Menciptakan suasana rumah yang aman. Nilai anti-kekerasan juga dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga. Menolak kekerasan dalam rumah tangga, membangun komunikasi yang sehat, serta membiasakan pola asuh yang penuh kasih sayang merupakan bentuk nyata dalam menghadirkan rasa aman di dalam rumah.
Saling menghargai perbedaan. Perbedaan agama, pandangan, latar belakang, maupun kebiasaan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Menghormati perbedaan dan menjaga hubungan yang baik dapat dilakukan tanpa harus menghilangkan keyakinan masing-masing.
Hari Anti-Kekerasan Internasional dapat menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak hanya dibangun melalui keputusan-keputusan besar, tetapi juga melalui pilihan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat memulainya dari hal yang paling dekat, seperti menjaga tutur kata, menahan emosi, menghormati perbedaan, dan memilih untuk menyebarkan kebaikan di lingkungan sekitar.





