Pertanyaan:
Assalamu’alaikum, Ustadz. Semoga selalu dalam keadaan sehat walafiat dan dalam perlindungan Allah. ‘Afwan mau bertanya. Apakah harta anak adalah harta orang tuanya juga?
Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:
Wa’alaikumussalam wa rahmatullah.
Ya, hadisnya sahih.
أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ
Artinya: “Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu.” (HR. Ahmad, Abu Daud)
Namun hadis ini tidak boleh dimaknai secara harfiah.
Syaikh Abdul Karim Al-Khushawanah – mufti di Al-Ifta Yordania – menjelaskan:
جَعَلَ اللَّهُ تَعَالَى لِكُلٍّ مِنَ الْأَبِ وَالِابْنِ ذِمَّةً مَالِيَّةً مُسْتَقِلَّةً، بِدَلِيلِ أَنَّ الِابْنَ لَا يُخْرِجُ الزَّكَاةَ عَنْ وَالِدِهِ، وَلَا الِابْنُ عَنْ أَبِيهِ، وَأَنَّ الْأَبَ يَرِثُ مِنِ ابْنِهِ نَصِيبًا مَفْرُوضًا، وَلَوْ كَانَ الْمَالُ لَهُ لَوَجَبَ أَنْ يَأْخُذَهُ كُلَّهُ وَلَا يَقْتَصِرَ عَلَى هَذَا الْقَدْرِ، وَعَلَى هَذَا اتَّفَقَ جَمِيعُ أَهْلِ الْعِلْمِ. وَلِذَلِكَ فَلَا يَجُوزُ تَفْسِيرُ الْحَدِيثِ الَّذِي يُرْوَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: (أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ) رَوَاهُ أَحْمَدُ فِي “الْمُسْنَدِ” (11/ 503) لَا يَجُوزُ تَفْسِيرُهُ بِأَنَّ الْأَبَ يَمْلِكُ مَالَ ابْنِهِ عَلَى وَجْهِ الْحَقِيقَةِ، أَوْ أَنَّ لَهُ التَّصَرُّفَ فِيهِ كَيْفَمَا يَشَاءُ دُونَ عِلْمِ الْوَلَدِ وَرِضَاهُ، فَهَذَا الْقَوْلُ لَمْ يَقُلْ بِهِ أَحَدٌ مِنَ الْعُلَمَاءِ أَلْبَتَّةَ. بَلْ مَعْنَى الْحَدِيثِ أَنَّهُ إِذَا احْتَاجَ الْأَبُ إِلَى مَالِ الْوَلَدِ لِلنَّفَقَةِ – بِأَنْ كَانَ فَقِيرًا – أَخَذَ مِنْهُ قَدْرَ الْحَاجَةِ كَمَا يَأْخُذُ مِنْ مَالِ نَفْسِهِ، وَإِذَا لَمْ يَكُنْ لِلِابْنِ مَالٌ وَكَانَ قَادِرًا عَلَى الْكَسْبِ لَزِمَ الِابْنَ أَنْ يَكْتَسِبَ وَيُنْفِقَ عَلَى أَبِيهِ، وَلَيْسَ الْمُرَادُ بِالْحَدِيثِ إِبَاحَةَ مَالِ الِابْنِ عَلَى إِطْلَاقِهِ لِلْأَبِ أَنْ يَأْخُذَ مِنْهُ مَا يَشَاءُ
Artinya: “Allah Ta’ala menjadikan bagi ayah dan anak masing-masing tanggung jawab harta (kepemilikan) yang mandiri. Hal ini dibuktikan dengan beberapa hal: bahwa anak tidak mengeluarkan zakat atas nama ayahnya, dan ayah juga tidak mengeluarkan zakat atas nama anaknya. Demikian pula seorang ayah mewarisi dari anaknya bagian yang telah ditentukan. Seandainya harta anak itu sepenuhnya milik ayah, tentu ayah berhak mengambil semuanya dan tidak hanya terbatas pada bagian tersebut. Dalam hal ini seluruh ulama sepakat.
Karena itu, tidak boleh menafsirkan hadis yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ: ‘Kamu dan hartamu adalah milik ayahmu’ (HR. Ahmad dalam Musnad-nya) dengan makna bahwa ayah benar-benar memiliki harta anaknya secara hakiki, atau bahwa ayah bebas menggunakannya sesuka hati tanpa sepengetahuan dan kerelaan anak. Pendapat seperti ini tidak pernah dikatakan oleh seorang pun dari para ulama sama sekali.
Makna hadis tersebut adalah: apabila seorang ayah membutuhkan harta anaknya untuk nafkah—misalnya karena ia miskin—maka ia boleh mengambil dari harta anaknya sekadar kebutuhan, sebagaimana ia mengambil dari hartanya sendiri.
Dan apabila anak tidak memiliki harta tetapi mampu bekerja, maka anak wajib bekerja dan menafkahi ayahnya.
Jadi, maksud hadis itu bukanlah membolehkan ayah mengambil harta anak secara mutlak sesuka hati.” (Al-Ifta, Fatwa No. 633)
Wallahu A’lam.
Sumber: Alfahmu.id





