Di sebuah malam yang gelap gulita di Madinah, angin bertiup sangat kencang dan udara terasa sangat dingin hingga menusuk tulang. Itu adalah malam Perang Khandaq, saat pasukan musuh mengepung kota dari segala penjuru. Para sahabat menggigil kedinginan, tak mampu berbuat banyak. Di tengah kegelapan dan kedinginan itu, Rasulullah ﷺ bersuara:
مَنْ رَجُلٌ يَأْتِينِي بِخَبَرِ الْقَوْمِ يَكُنْ مَعِي فِي الْجَنَّةِ؟
“Tidakkah ada seseorang yang mau pergi membawakan berita keadaan pasukan musuh kepadaku, maka ia akan bersamaku pada hari kiamat?”
Para sahabat terdiam. Suasana sunyi, hanya suara angin menderu. Rasulullah mengulangi pertanyaannya sekali lagi. Sunyi. Ketiga kalinya, beliau bersabda:
قُمْ يَا حُذَيْفَةُ، فَأْتِنِي بِخَبَرِ الْقَوْمِ
“Bangunlah, wahai Hudzaifah, dan bawakan kepadaku berita pasukan musuh.”
Hudzaifah bin Al-Yaman bangkit. Ia tidak punya pilihan. Sebelum berangkat, Rasulullah berdoa dengan doa yang tak pernah beliau panjatkan untuk siapa pun:
اللَّهُمَّ احْفَظْهُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ، وَعَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ، وَمِنْ فَوْقِهِ وَمِنْ تَحْتِهِ
“Ya Allah, jagalah dia dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dari atas dan dari bawah.”
Hudzaifah pergi dalam lindungan doa Nabi. Ia menyusup ke tengah pasukan musuh, mendengar rencana mereka, dan kembali dengan selamat. Malam itu adalah malam yang mengukuhkan namanya dalam sejarah sebagai pemegang rahasia terbesar Rasulullah.
Inilah kisah Hudzaifah bin Al-Yaman, sang penyimpan rahasia, yang mengetahui nama-nama munafik, yang diberitahu tentang fitnah hingga hari kiamat, dan yang menjadi pahlawan di balik penyatuan mushaf Al-Qur’an.
Dari Tanah Perantauan Menjadi Ansar Sejati
Hudzaifah bin Al-Yaman memiliki latar belakang yang unik. Ayahnya, Husail bin Jabir, berasal dari suku ‘Abs. Pada masa jahiliah, ia terlibat dalam sebuah kasus pembunuhan di daerah asalnya. Untuk menghindari balas dendam, ia meninggalkan kampung halamannya dan pindah ke Madinah. Di kota itu, ia bersekutu dengan Bani Abdul Asyhal dari kaum Ansar. Karena tinggal bersama mereka, ia dijuluki Al-Yamani (orang Yaman), dan putranya kemudian dikenal sebagai Hudzaifah bin Al-Yaman.
Hudzaifah tumbuh besar di Yatsrib (Madinah) dalam keluarga yang sudah mengenal Islam. Ketika beranjak dewasa, ayahnya mengajaknya melakukan perjalanan ke Makkah. Di kota suci itulah mereka berdua berjumpa dengan Rasulullah ﷺ, mendengarkan dakwah beliau secara langsung, lalu menyatakan keislaman mereka.
Setelah masuk Islam, Rasulullah melihat dalam diri Hudzaifah tanda-tanda kecerdikan dan kemuliaan. Beliau bersabda kepadanya:
إِنْ شِئْتَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ، وَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْأَنْصَارِ، فَاخْتَرْ
“Jika engkau mau, engkau termasuk kaum Muhajirin, dan jika engkau mau, engkau termasuk kaum Ansar. Pilihlah mana yang engkau sukai.”
Hudzaifah memilih menjadi bagian dari kaum Ansar, dan Nabi ﷺ menyetujui pilihannya sehingga ia dianggap sebagai Ansar. (Ma’rifat aṣ-Ṣaḥābah, Abu Nu’aim Al-Ashbahani dan Al-Ma’ārif, Ibnu Qutaibah)
Pilihan ini menunjukkan kerendahan hati Hudzaifah. Ia bisa saja memilih menjadi Muhajirin—golongan yang lebih utama dalam beberapa hal—namun ia memilih Ansar, karena di sanalah ia dibesarkan.
Pemegang Rahasia Rasulullah
Hudzaifah memiliki kedudukan yang sangat istimewa di sisi Rasulullah. Beliau mempercayakan kepadanya sebuah rahasia besar: nama-nama orang munafik di Madinah. Ini adalah amanah yang sangat berat, karena jika tersebar, bisa menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat.
Az-Zuhri berkata:
عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: إِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ لَا يُصَلِّي عَلَى أَحَدٍ حَتَّى يُصَلِّيَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ، فَإِنْ صَلَّى عَلَيْهِ صَلَّى عَلَيْهِ عُمَرُ، وَإِلَّا تَرَكَهُ، فَسُئِلَ حُذَيْفَةُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَخْبَرَنِي بِأَسْمَاءِ الْمُنَافِقِينَ، وَإِنِّي لَا أُخْبِرُ بِهَا أَحَدًا
“Az-Zuhri berkata: ‘Umar bin Khattab tidak mau menyalatkan jenazah seseorang sampai Hudzaifah bin Al-Yaman menyalatkannya terlebih dahulu. Jika Hudzaifah menyalatkannya, maka Umar ikut menyalatkannya. Jika Hudzaifah tidak menyalatkannya, Umar pun meninggalkannya. Lalu Hudzaifah ditanya tentang hal itu, maka ia menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah memberitahuku nama-nama orang-orang munafik, dan aku tidak akan memberitahukannya kepada siapa pun.”‘” (Musnad Ahmad, sanad hasan; Al-Hakim, Al-Mustadrak)
Bayangkan! Umar bin Khattab, sang Amirul Mukminin yang perkasa, tidak berani menyalatkan jenazah seseorang tanpa restu Hudzaifah. Ia takut jika jenazah itu ternyata adalah seorang munafik yang namanya ada dalam daftar rahasia Hudzaifah.
Hudzaifah sendiri mendefinisikan orang munafik dengan sangat sederhana namun dalam:
عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، أَنَّ أَعْدَى النَّاسِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَدْنَاهُمْ مِنْهُ وَأَقْرَبُهُمْ لَهُ، هُوَ أَهْلُ النِّفَاقِ، قَالَ حُذَيْفَةُ: “مَنْ يُحَدِّثُ بِالْإِسْلَامِ، وَهُوَ لَا يُعْمِلُ بِهِ”
“Dari Utsman bin Abi Syaibah, dari Ibnu Abi Dzi’b, dari Ali bin Abi Thalib, bahwa orang yang paling dibenci oleh Rasulullah ﷺ adalah orang yang dekat dengannya, namun sebenarnya termasuk golongan munafik. Lalu Hudzaifah berkata: ‘(Orang munafik itu ialah) orang yang berbicara tentang Islam tetapi tidak mengamalkannya.'” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lām an-Nubalā’)
Umar yang Khawatir pada Dirinya Sendiri
Meskipun Umar adalah khalifah yang sangat tegas dan dikenal dengan keadilannya, ia tetap khawatir jangan-jangan dirinya termasuk golongan munafik. Suatu hari ia bertanya kepada Hudzaifah:
عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ قَالَ: كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَسْأَلُ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ: أَنَاشِدُكَ اللَّهَ هَلْ سَمَّانِي رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَعَ الْمُنَافِقِينَ؟ فَيَقُولُ: لَا، وَلَا أُزَكِّي بَعْدَكَ أَحَدًا
“Amr bin Maimun berkata: ‘Umar bin Al-Khattab pernah berkata kepada Hudzaifah bin Al-Yaman: “Aku memohon kepadamu dengan nama Allah, apakah Rasulullah ﷺ menyebut namaku termasuk dalam golongan orang-orang munafik?” Hudzaifah menjawab: “Tidak. Dan aku tidak akan memberikan penilaian (tazkiyah) kepada siapa pun setelahmu.”‘” (Musnad Ahmad)
Lihatlah ketakutan Umar! Seorang khalifah yang dijamin surga, namun tetap khawatir akan kemunafikan. Sementara orang-orang munafik sejati justru merasa aman-aman saja.
Dalam kesempatan lain, Umar bertanya tentang para gubernurnya:
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ، فَقَالَ: هَلْ تَرَى فِي عُمَّالِي أَحَدًا مُنَافِقًا؟ قَالَ: نَعَمْ رَجُلٌ وَاحِدٌ. قَالَ عُمَرُ: مَنْ هُوَ؟ قَالَ: لَا أُخْبِرُكَ. قَالَ: فَكَأَنَّهُ دَلَّهُ عَلَيْهِ، فَأَعْزَلَهُ
“Umar bin Al-Khattab bertanya kepada Hudzaifah bin Al-Yaman: ‘Apakah engkau melihat ada seseorang di antara para gubernurku yang termasuk munafik?’ Hudzaifah menjawab: ‘Ya, ada satu orang.’ Umar berkata: ‘Siapa dia?’ Hudzaifah menjawab: ‘Aku tidak akan menyebutkan namanya.’ Namun Umar seakan-akan diberi petunjuk tentang siapa orang itu, lalu ia pun memberhentikannya dari jabatannya.” (Ibnu Sa’d, Aṭ-Ṭabaqāt al-Kubrā; Al-Hakim, Al-Mustadrak)
Hudzaifah tidak pernah menyebut nama-nama munafik itu kepada siapa pun, termasuk kepada Umar. Ia menjaga amanah Rasulullah hingga akhir hayat.
Dialog tentang Fitnah Hingga Akhir Zaman
Salah satu keistimewaan terbesar Hudzaifah adalah pengetahuannya tentang fitnah yang akan terjadi hingga hari kiamat. Ia sering bertanya kepada Rasulullah tentang hal-hal yang tidak ditanyakan orang lain. Ia berkata:
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قُلْتُ: وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، وَفِيهِ دَخَنٌ. قُلْتُ: وَمَا دَخَنُهُ؟ قَالَ: قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ. قُلْتُ: فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ، دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، صِفْهُمْ لَنَا. قَالَ: هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا. قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ؟ قَالَ: تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ. قُلْتُ: فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ؟ قَالَ: فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ، حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
“Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: ‘Orang-orang biasa bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan, sedangkan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan karena khawatir hal itu akan menimpaku. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam masa jahiliah dan keburukan, lalu Allah mendatangkan kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan?” Beliau menjawab: “Ya.” Aku bertanya: “Apakah setelah keburukan itu akan ada kebaikan?” Beliau menjawab: “Ya, tetapi di dalamnya ada kabut (kekeruhan).” Aku bertanya: “Apa kekeruhannya?” Beliau menjawab: “Suatu kaum yang memberi petunjuk tidak dengan petunjukku, engkau mengenali mereka dan mengingkari (sebagian perbuatan mereka).” Aku bertanya: “Apakah setelah kebaikan itu akan ada keburukan?” Beliau menjawab: “Ya, yaitu para penyeru di pintu-pintu neraka Jahanam. Barang siapa yang memenuhi seruan mereka, mereka akan melemparkannya ke dalam neraka.” Aku berkata: “Wahai Rasulullah, gambarkanlah mereka kepada kami.” Beliau bersabda: “Mereka dari kulit kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita.” Aku bertanya: “Apa yang engkau perintahkan kepadaku jika aku mendapati masa itu?” Beliau bersabda: “Hendaklah engkau tetap berpegang pada jamaah kaum muslimin dan pemimpin mereka.” Aku bertanya: “Jika tidak ada jamaah dan tidak ada pemimpin?” Beliau bersabda: “Maka tinggalkanlah semua golongan itu, meskipun engkau harus menggigit akar pohon hingga maut menjemputmu dalam keadaan demikian.”‘” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim)
Hudzaifah juga berkata tentang pengetahuannya:
إِنِّي قَدْ عَلِمْتُ مَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ، وَمَا مِنْ فِتْنَةٍ تَكُونُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ إِلَّا أَنَا أَعْلَمُ مَنْ يُشْرِكُ النَّاسَ فِيهَا، وَمَا مِنْهَا أَحَدٌ أَقْرَبُ إِلَى الْهُدَى مِنِّي
“Sungguh aku telah mengetahui apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. Tidak ada satu fitnah pun yang terjadi hingga hari kiamat kecuali aku mengetahui siapa yang menyebabkan manusia terjerumus ke dalamnya, dan tidak ada seorang pun yang lebih dekat kepada petunjuk daripadaku.” (H.R. Muslim)
Dalam riwayat lain:
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ مَقَامًا، فَأَخْبَرَنَا بِمَا كَانَ وَمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى أَنْ تَقُومَ السَّاعَةُ، حَفِظَ ذٰلِكَ مَنْ حَفِظَهُ وَنَسِيَهُ مَنْ نَسِيَهُ
“Dari Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah berdiri di tengah-tengah kami dan menyampaikan sesuatu, lalu memberitahukan kepada kami segala yang telah terjadi dan yang akan terjadi hingga hari kiamat. Barang siapa yang menghafalnya, maka ia hafal; dan barang siapa yang melupakannya, maka ia lupa.” (H.R. Al-Bukhari)
Menjaga Keikhlasan
Meski memiliki kedudukan tinggi, Hudzaifah sangat menjaga keikhlasan amalnya. Suatu ketika, ia menangis dalam salatnya. Setelah selesai, ia terkejut melihat ada seorang lelaki di belakangnya. Ia segera berkata:
لَا تُحَدِّثَنَّ أَحَدًا بِمَا رَأَيْتَ
“Jangan sekali-kali engkau menceritakan apa yang telah kamu lihat.” (Ṣifatush Ṣafwah, I/256)
Ia takut amalnya diketahui orang lain, karena bisa mengurangi keikhlasan atau menimbulkan riya’.
Tragedi di Perang Uhud
Pada Perang Uhud, terjadi musibah yang sangat menyedihkan bagi Hudzaifah. Ayahnya, Husail bin Jabir, ikut serta dalam perang. Dalam kekacauan pertempuran, para sahabat tidak mengenalinya dan hampir saja membunuhnya. Hudzaifah berteriak, “Itu ayahku! Itu ayahku!” Namun mereka tetap membunuhnya karena tidak mendengar atau tidak mengenali.
Abu Burdah bin Abi Musa meriwayatkan dari ayahnya:
عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ حُذَيْفَةَ بْنَ الْيَمَانِ، يَوْمَ أُحُدٍ أَصَابَتْهُ الْمُصِيبَةُ فِي أَبِيهِ، فَأَرَادَ الْقَوْمُ أَنْ يَقْتُلُوا أَبَاهُ، فَقَالَ: ” أَبِي أَبِي “، فَقَتَلُوهُ، فَغَفَرَ اللَّهُ لَهُمْ، وَكَانَ أَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَنْ يُؤَدِّيَ الدِّيَةَ، فَجَعَلَهَا حُذَيْفَةُ صَدَقَةً عَلَيْهِمْ، فَزَادَهُ ذٰلِكَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ خَيْرًا
“Dari Abu Burdah bin Abi Musa, dari ayahnya, ia berkata: Pada hari Perang Uhud, ayah Hudzaifah bin Al-Yaman terkena musibah. Kaum muslimin hampir saja membunuh ayahnya. Hudzaifah pun berseru: ‘Itu ayahku! Itu ayahku!’ Namun mereka tetap membunuhnya (karena tidak mengenali). Maka Allah mengampuni mereka. Rasulullah ﷺ ingin membayar diyat (ganti rugi) atas kematian ayah Hudzaifah, tetapi Hudzaifah menjadikannya sebagai sedekah untuk mereka. Sikap itu menambah kedudukan Hudzaifah di sisi Rasulullah ﷺ.” (H.R. Al-Bukhari)
Sungguh mulia akhlak Hudzaifah. Ia tidak menuntut balas atas kematian ayahnya. Bahkan ketika Rasulullah hendak membayar tebusan, ia menyedekahkannya untuk para sahabat yang membunuh ayahnya tanpa sengaja.
Menjadi Pengintai di Perang Khandaq
Kembali ke kisah di awal, Hudzaifah adalah satu-satunya yang berani menjawab panggilan Rasulullah di malam yang sangat dingin dan gelap itu. Ia pergi menyusup ke tengah pasukan musuh. Ia mendengar Abu Sufyan berkata kepada pasukannya:
لِيَنْظُرِ امْرُؤٌ مَنْ جَلِيسُهُ
“Hai orang-orang Quraisy, hendaknya setiap orang melihat siapa yang duduk di sampingnya!”
Hudzaifah dengan cepat meraih tangan orang di sampingnya dan bertanya, “Siapa kamu?” Ia berpura-pura mengenalnya, sehingga orang itu tidak curiga. Setelah mendengar rencana musuh, ia kembali dengan selamat.
Ketika kembali, Rasulullah sedang salat. Hudzaifah berdiri di samping beliau. Setelah selesai, beliau bertanya kabar. Hudzaifah melaporkan bahwa musuh akan mundur karena takut dengan kondisi cuaca. Keesokan harinya, pasukan musuh benar-benar mundur. Allah mengabulkan doa Rasulullah yang memohon perlindungan untuk Hudzaifah.
Menjadi Pemimpin yang Sederhana
Umar mengangkat Hudzaifah menjadi pemimpin di Mada’in (ibu kota Persia). Menjelang kedatangannya, para pemuka Mada’in datang ke perbatasan kota untuk menyambutnya dengan upacara besar. Namun Hudzaifah datang berkendaraan keledai sambil memakan roti dan sekerat daging. Orang-orang tidak menyadarinya karena kesederhanaan penampilannya.
Saat masa tugasnya habis, ia kembali ke Madinah dan disambut Umar dengan ucapan, “Kamu saudaraku, dan aku saudaramu.”
Peran dalam Futuhat Islamiyah
Hudzaifah turut berjasa dalam penaklukan Irak. Hamadan, Ray, dan Dinur jatuh ke tangan muslimin berkat jasanya. Dalam Perang Nahawand, Persia mengerahkan 100.000 pasukan ditambah 50.000, sementara kaum muslimin hanya 30.000 pasukan. Hudzaifah menjadi panglimanya. Peperangan itu dimenangkan oleh kaum muslimin berkat strategi dan keberaniannya.
Menyelamatkan Umat dari Wabah
Saat orang-orang Arab yang berada di wilayah sekitar Mada’in terserang wabah, Umar bin Khattab memerintahkan mereka untuk keluar dari wilayah itu dan mencari wilayah baru. Hudzaifah bin Al-Yaman dan Salman bin Ziyad lalu mencari lokasi hingga sampai di sebuah tempat luas di Kufah. Maka mereka yang pindah ke lokasi ini menjadi pulih dan sehat kembali dengan izin Allah.
Peran Besar dalam Penyatuan Mushaf Al-Qur’an
Salah satu jasa terbesar Hudzaifah adalah perannya dalam penyatuan mushaf Al-Qur’an. Saat turut serta menaklukkan Armenia dan Azerbaijan bersama pasukan Syiria dan Irak, ia menyaksikan fenomena perbedaan pendapat mengenai qira’ah (bacaan) Al-Qur’an.
Penduduk Syiria mengikuti qira’ah Ubay bin Ka’ab, sedangkan penduduk Irak mengikuti qira’ah Abdullah bin Mas’ud. Mereka terkejut karena mendapati pihak lain membaca Al-Qur’an dengan qira’ah yang berbeda. Perselisihan memuncak hingga ada orang yang mengafirkan orang lain karena perbedaan qira’ah.
Hudzaifah segera menghadap kepada Utsman bin Affan untuk melaporkan hal ini:
يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَدْرِكْ هَذِهِ الْأُمَّةَ قَبْلَ أَنْ يَخْتَلِفُوا فِي الْكِتَابِ اخْتِلَافَ الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى
“Wahai Amirul Mukminin, satukanlah umat ini sebelum mereka berselisih tentang Al-Qur’an sebagaimana perselisihan yang telah terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani.”
Laporan ini mendorong Utsman untuk berijtihad melakukan kodifikasi Al-Qur’an. Beliau mengumpulkan para sahabat dan membentuk panitia yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam. Mereka menggunakan mushaf yang disimpan oleh Hafshah sebagai rujukan.
Utsman berkata kepada mereka:
إِذَا اخْتَلَفْتُمْ أَنْتُمْ وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ فِي شَيْءٍ مِنَ الْقُرْآنِ، فَاكْتُبُوهُ بِلِسَانِ قُرَيْشٍ، فَإِنَّمَا نَزَلَ بِلِسَانِهِمْ
“Jika kalian berselisih dengan Zaid bin Tsabit terkait dengan Al-Qur’an, maka tulislah dengan bahasa Quraisy, sebab Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka.”
Setelah mushaf utama selesai, Utsman membuat beberapa salinan untuk dikirimkan ke seluruh pelosok dunia Islam: Makkah, Madinah, Bashrah, Kufah, dan Syiria. Ia juga memerintahkan untuk membakar mushaf-mushaf pribadi yang berbeda.
Para sahabat yang tadinya enggan membakar mushaf pribadi mereka akhirnya rela melakukannya demi persatuan umat, termasuk Abdullah bin Mas’ud yang semula menolak. Mushaf Utsmani itu berhasil memadamkan perselisihan yang terjadi di tengah umat berkaitan dengan bacaan Al-Qur’an.
Wafatnya Sang Pemegang Rahasia
Hudzaifah wafat pada tahun 36 Hijriah (656 Masehi), empat puluh hari setelah terbunuhnya Utsman bin Affan. Utsman wafat pada 18 Zulhijah 35 H, maka Hudzaifah wafat diperkirakan pada 27 Muharam 36 H.
Ia pergi membawa rahasia besar yang tidak pernah ia bocorkan kepada siapa pun. Hingga akhir hayat, ia menjaga amanah Rasulullah. Ia tidak pernah menyebut nama-nama munafik itu, meskipun kepada Umar bin Khattab sekalipun.
Warisan Hudzaifah
Hudzaifah bin Al-Yaman telah tiada. Namun, ia meninggalkan warisan yang sangat berharga:
Pertama, menjaga rahasia. Ia diberi amanah terbesar, dan ia menjaganya hingga mati. Ini adalah pelajaran tentang pentingnya menjaga kepercayaan.
Kedua, keberanian dalam kebenaran. Ia berani menyusup ke tengah musuh di malam yang gelap dan dingin demi membela Islam.
Ketiga, kesabaran dalam musibah. Ia rela kehilangan ayahnya di medan perang, bahkan menyedekahkan tebusan darahnya.
Keempat, keikhlasan dalam beramal. Ia tidak ingin amalnya diketahui orang lain, bahkan hingga menangis dalam salat pun ia sembunyikan.
Kelima, perhatian pada persatuan umat. Ia menyadari bahaya perbedaan qira’ah dan mendorong Utsman untuk menyatukan mushaf, menyelamatkan umat dari perpecahan.
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Aḥzāb: 23)
Semoga Allah meridhai Hudzaifah bin Al-Yaman, sang pemegang rahasia Rasulullah, dan mengumpulkan kita bersamanya di surga-Nya yang abadi. Āmīn.
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.





