Ibadah-ibadah besar dalam Islam memiliki tujuan-tujuan akhlak yang jelas. Shalat, sebagai ibadah harian utama dalam kehidupan seorang muslim, memiliki fungsi penting dalam membentuk pengendali diri dan mendidik hati nurani keagamaan. Allah berfirman:
إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ
“Dan laksanakanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Shalat juga merupakan pasokan akhlak bagi seorang muslim yang digunakannya untuk menghadapi kesulitan hidup. Allah berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ
“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Zakat, yang dalam Al-Qur’an selalu digandengkan dengan shalat, bukan sekadar pajak harta yang diambil dari orang kaya untuk diberikan kepada orang miskin. Zakat adalah sarana pembersihan dan penyucian dalam ranah akhlak, sekaligus sarana perolehan dan pengembangan dalam ranah harta. Allah berfirman:
خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةًۭ تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا
“Ambillah zakat dari harta mereka, dengan zakat itu engkau membersihkan dan menyucikan mereka.” (QS. At-Taubah: 103)
Puasa dalam Islam bertujuan untuk melatih jiwa menahan diri dari syahwatnya dan melawan kebiasaan-kebiasaannya. Dengan kata lain, puasa mempersiapkan jiwa untuk meraih takwa, yang merupakan inti dari seluruh akhlak Islam. Allah berfirman:
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Haji dalam Islam adalah latihan bagi seorang muslim untuk membersihkan diri, melepaskan diri, dan meninggalkan gemerlap kehidupan, kemewahan, pertengkaran, dan perselisihan. Karena itu, Islam mewajibkan ihram agar seorang muslim memasuki kehidupan yang berlandaskan kesederhanaan, kerendahan hati, kedamaian, kesungguhan, dan zuhud dalam gemerlap kehidupan dunia. Allah berfirman:
ٱلْحَجُّ أَشْهُرٌۭ مَّعْلُومَـٰتٌۭ ۚ فَمَن فَرَضَ فِيهِنَّ ٱلْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِى ٱلْحَجِّ
“(Musim) haji itu adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barangsiapa menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik, dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Ketika ibadah-ibadah dalam Islam ini kehilangan makna-makna tersebut dan tidak mencapai tujuan-tujuan itu, maka ia kehilangan maknanya dan inti misinya, sehingga menjadi jasad tanpa ruh. Tidak mengherankan jika hadis-hadis Nabi yang mulia menegaskan hal itu dengan gaya bahasa yang fasih dan jelas.
Tentang shalat, beliau ﷺ bersabda:
رُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ
“Betapa banyak orang yang bangun malam, namun tidak ada bagian baginya dari qiyamnya kecuali begadang.” (HR. Ibnu Majah)
Juga diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud: “Barangsiapa yang shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia tidak bertambah dari Allah kecuali semakin jauh.”
Tentang puasa, beliau ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh pada usahanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari)
رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَالْعَطَشُ
“Betapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.” (HR. Ibnu Majah)
Sumber: Al-Qaradawi.net





