Dari Pelarian di Negeri Habasyah Menuju Kemuliaan Abadi di Mu’tah
Di sebuah padang pasir yang tandus di negeri Syam, ribuan pasukan Muslimin terdesak oleh ratusan ribu tentara Romawi. Di tengah pertempuran dahsyat itu, seorang lelaki gagah berani memegang bendera Islam dengan tangan kanannya. Tangannya ditebas musuh hingga putus. Ia pindahkan bendera ke tangan kiri. Tangan kirinya pun ditebas hingga putus. Dengan kedua lengan yang mengucurkan darah, ia memeluk bendera itu erat-erat ke dadanya, hingga tubuhnya penuh dengan tusukan tombak dan sabetan pedang.
Lelaki itu adalah Ja’far bin Abi Thalib. Sepupu Rasulullah, kakak kandung Ali bin Abi Thalib, dan sosok yang paling mirip dengan Nabi dalam akhlak dan rupa. Ia gugur sebagai syahid di usia 33 tahun, dan Allah mengganti kedua tangannya yang putus dengan dua sayap yang indah untuk terbang di surga.
Inilah kisah Ja’far, sang pemberani yang menjadi “Bapaknya Orang-orang Miskin”, diplomat ulung yang memukau Raja Najasyi, dan syahid mulia yang dikenang sepanjang masa.
Wajah yang Mirip, Hati yang Sama
Ja’far bin Abi Thalib adalah kakak kandung Ali bin Abi Thalib. Usianya sepuluh tahun lebih tua dari Ali. Ia dan istrinya, Asma binti Umais, masuk Islam di masa-masa awal dakwah, sebelum Rasulullah berdakwah di Darul Arqam. Mereka masuk Islam berkat jasa Abu Bakar Ash-Shiddiq yang dengan gigih menyebarkan ajaran Islam kepada orang-orang terdekatnya.
Ja’far memiliki keistimewaan yang sangat langka: ia sangat mirip dengan Rasulullah, baik dari segi fisik maupun akhlak. Suatu ketika, tiga sahabat—Ja’far, Ali, dan Zaid bin Haritsah—berkumpul dan masing-masing mengklaim sebagai orang yang paling dicintai Rasulullah. Mereka pun sepakat untuk bertanya langsung kepada Nabi.
Usamah bin Zaid menceritakan peristiwa itu:
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أُسَامَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: اجْتَمَعَ جَعْفَرٌ وَعَلِيٌّ وَزَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ، فَقَالَ جَعْفَرٌ: أَنَا أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ. وَقَالَ عَلِيٌّ: أَنَا أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ. وَقَالَ زَيْدٌ: أَنَا أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ. فَقَالُوا: انْطَلِقُوا بِنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ حَتَّى نَسْأَلَهُ. فَأَتَوْهُ فَاسْتَأْذَنُوا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «اخْرُجْ فَانْظُرْ مَنْ هَؤُلَاءِ؟» فَخَرَجْتُ فَقُلْتُ: هَذَا جَعْفَرٌ وَهَذَا عَلِيٌّ وَهَذَا زَيْدٌ. قَالَ: «ائْذَنْ لَهُمْ». فَدَخَلُوا فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ: «فَاطِمَةُ». قَالُوا: إِنَّمَا نَسْأَلُكَ عَنِ الرِّجَالِ. قَالَ: «أَمَّا أَنْتَ يَا جَعْفَرُ، فَأَشْبَهْتَ خَلْقِي وَخُلُقِي، وَأَنْتَ مِنِّي وَمِنْ شَجَرَتِي. وَأَمَّا أَنْتَ يَا عَلِيُّ، فَصِهْرِي وَأَبُو وَلَدِي، وَأَنَا مِنْكَ وَأَنْتَ مِنِّي. وَأَمَّا أَنْتَ يَا زَيْدُ، فَمَوْلَايَ وَمِنِّي وَإِلَيَّ، وَأَحَبُّ الْقَوْمِ إِلَيَّ».
“Dari Muhammad bin Usamah, dari ayahnya, ia berkata: Ja’far, Ali, dan Zaid bin Haritsah berkumpul. Ja’far berkata: ‘Aku adalah orang yang paling dicintai Rasulullah.’ Ali berkata: ‘Aku adalah orang yang paling dicintai Rasulullah.’ Zaid berkata: ‘Aku adalah orang yang paling dicintai Rasulullah.’ Mereka pun berkata: ‘Mari kita pergi kepada Rasulullah dan menanyakannya.’ Mereka datang dan meminta izin masuk. Nabi bersabda: ‘Keluarlah, lihat siapa mereka itu.’ Maka aku keluar dan berkata: ‘Ini Ja’far, ini Ali, dan ini Zaid.’ Beliau bersabda: ‘Izinkan mereka masuk.’ Mereka pun masuk dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, siapakah yang paling engkau cintai?’ Beliau menjawab: ‘Fatimah.’ Mereka berkata: ‘Kami bertanya kepadamu tentang laki-laki.’ Beliau bersabda: ‘Adapun engkau wahai Ja’far, bentuk fisikmu menyerupai bentuk fisikku, dan akhlakmu menyerupai akhlakku. Engkau bagian dariku dan dari pohon keturunanku. Adapun engkau wahai Ali, engkau adalah menantuku dan ayah dari anak-anakku. Aku darimu dan engkau dariku. Adapun engkau wahai Zaid, engkau adalah maulaku (sahabat dekat), engkau bagian dariku dan menuju kepadaku, dan engkau adalah orang yang paling aku cintai di antara kaum (pada saat itu).'” (HR. Ahmad)
Ja’far adalah salah satu dari lima orang yang dikenal sangat mirip dengan Rasulullah. Selain Ja’far, ada juga Abu Sufyan bin Al-Harits (sepupu Nabi yang awalnya memusuhi beliau lalu masuk Islam), Qutham bin Al-Abbas, As-Sa’ib bin Ubaid (kakek Imam Syafi’i), dan Al-Hasan bin Ali, cucu Rasulullah.
Hijrah ke Negeri Habasyah: Mencari Suaka Kebenaran
Ketika tekanan kaum Quraisy terhadap Muslimin semakin tak tertahankan, Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk berhijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia). Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:
عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: لَمَّا ضَاقَتْ مَكَّةُ عَلَى أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَرَأَوْا مَا يَصِيبُهُمْ مِنَ الْبَلَاءِ، وَفَتَنَتِهِمْ فِي دِينِهِمْ، قَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ بِأَرْضِ الْحَبَشَةِ مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ، فَالْحَقُوا بِبِلَادِهِ حَتَّى يَجْعَلَ اللَّهُ لَكُمْ فَرَجًا وَمَخْرَجًا مِمَّا أَنْتُمْ فِيهِ». فَخَرَجْنَا إِلَيْهَا أَرْسَالًا، حَتَّى اجْتَمَعْنَا بِأَرْضِهِ.
“Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: ‘Ketika Makkah terasa sempit bagi para sahabat Rasulullah ﷺ dan mereka melihat apa yang menimpa diri mereka berupa cobaan dan fitnah dalam agama mereka, Rasulullah ﷺ bersabda kepada mereka: “Sesungguhnya di negeri Habasyah ada seorang raja yang tidak seorang pun dizalimi di sisinya. Maka pergilah kalian ke negerinya, hingga Allah menjadikan bagi kalian jalan keluar dan kelapangan dari apa yang kalian alami.” Maka kami pun pergi ke negeri itu secara bergelombang, hingga akhirnya kami berkumpul di negerinya.'” (Musnad Ahmad)
Ummu Salamah juga menuturkan: “Ketika kami tinggal di negeri Habasyah, kami mendapat perlindungan dari sebaik-baik tetangga, yaitu Raja Najasyi. Ia memberi kami keamanan untuk menjalankan agama kami, dan kami menyembah Allah tanpa gangguan dan tanpa mendengar sesuatu yang kami benci.”
Diplomasi Quraisy dan Keteguhan Ja’far
Ketika berita tentang keamanan yang dinikmati Muslimin di Habasyah sampai ke Quraisy, mereka mengirim dua utusan: Abdullah bin Abu Rabi’ah dan Amr bin Ash (yang saat itu belum masuk Islam). Mereka membawa hadiah-hadiah berharga untuk Najasyi dan para pembesarnya.
Amr bin Ash dan Abdullah bin Abu Rabi’ah menghadap Najasyi, sujud kepadanya, dan berkata: “Sesungguhnya ada sekelompok dari kami yang telah meninggalkan agama kaumnya dan datang ke negerimu. Mereka membawa agama baru yang tidak kami anut dan juga tidak engkau anut. Para pemuka kaumnya telah mengutus kami kepadamu untuk membawa mereka kembali.”
Najasyi memanggil para sahabat Rasulullah. Ketika mereka berkumpul, ia bertanya: “Agama apa ini, yang karenanya kalian berpisah dari kaum kalian, namun kalian juga tidak masuk ke dalam agamaku dan tidak pula ke dalam salah satu agama lain?”
Maka tampillah Ja’far bin Abi Thalib sebagai juru bicara. Dengan fasih dan tegas, ia menjelaskan:
قَالَ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: أَيُّهَا الْمَلِكُ، كُنَّا قَوْمًا أَهْلَ جَاهِلِيَّةٍ، نَعْبُدُ الْأَصْنَامَ، وَنَأْكُلُ الْمَيْتَةَ، وَنَسُوءُ الْجِوَارَ، وَيَأْكُلُ الْقَوِيُّ مِنَّا الضَّعِيفَ، فَكُنَّا عَلَى ذَلِكَ حَتَّى بَعَثَ اللَّهُ إِلَيْنَا رَسُولًا مِنَّا نَعْرِفُ نَسَبَهُ وَصِدْقَهُ وَأَمَانَتَهُ وَعَفَافَهُ، فَدَعَانَا إِلَى اللَّهِ لِنُوَحِّدَهُ وَنَعْبُدَهُ، وَنَخْلَعَ مَا كُنَّا نَعْبُدُ نَحْنُ وَآبَاؤُنَا مِنَ الْحِجَارَةِ وَالْأَوْثَانِ. وَأَمَرَنَا بِصِدْقِ الْحَدِيثِ، وَأَدَاءِ الْأَمَانَةِ، وَصِلَةِ الرَّحِمِ، وَحُسْنِ الْجِوَارِ، وَكَفِّ الْأَيْدِي عَنِ الْمَحَارِمِ وَالدِّمَاءِ. فَعَدَا عَلَيْنَا قَوْمُنَا، فَعَذَّبُونَا، وَفَتَنُونَا عَنْ دِينِنَا، لِيَرُدُّونَا إِلَى عِبَادَةِ الْأَوْثَانِ. فَلَمَّا قَهَرُونَا وَظَلَمُونَا، وَشَقَّ عَلَيْنَا، وَحِيلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ دِينِنَا، خَرَجْنَا إِلَى بِلَادِكَ، وَاخْتَرْنَاكَ عَلَى مَنْ سِوَاكَ، وَرَغِبْنَا فِي جِوَارِكَ، وَرَجَوْنَا أَنْ لَا نُظْلَمَ عِنْدَكَ أَيُّهَا الْمَلِكُ.
“Ja’far bin Abi Thalib menjawab: ‘Wahai Raja, dahulu kami adalah suatu kaum yang hidup dalam kejahiliyahan; kami menyembah berhala, memakan bangkai, berbuat keji, memutus silaturahim, berbuat buruk terhadap tetangga, dan yang kuat di antara kami menindas yang lemah. Kami hidup demikian sampai Allah mengutus kepada kami seorang Rasul dari kalangan kami sendiri. Kami mengenal nasabnya, kejujurannya, amanahnya, dan kesuciannya. Ia menyeru kami agar menyembah Allah semata dan tidak mempersekutukan-Nya, serta meninggalkan apa yang disembah nenek moyang kami berupa batu dan berhala. Ia memerintahkan kami untuk berkata benar, menunaikan amanah, menyambung silaturahim, berbuat baik kepada tetangga, serta menahan diri dari yang haram dan dari pertumpahan darah. Namun kaum kami memusuhi kami, menyiksa kami, dan berusaha memalingkan kami dari agama kami, agar kami kembali menyembah berhala. Ketika mereka mengalahkan dan menindas kami, serta menghalangi kami untuk menjalankan agama kami, maka kami keluar menuju negerimu. Kami memilihmu di atas selainmu, kami berharap mendapat perlindunganmu, dan kami yakin tidak akan dizalimi di sisimu, wahai Raja.'”
Ayat Al-Qur’an yang Membuat Najasyi Menangis
Najasyi terkesan dengan penjelasan Ja’far. Ia lalu bertanya: “Apakah engkau memiliki sesuatu dari apa yang dibawa oleh Nabi kalian dari Allah?” Ja’far menjawab: “Ada.” Lalu ia membacakan permulaan Surah Maryam:
كهيعص ١ ذِكْرُ رَحْمَةِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا ٢
“Kaf Ha Ya ‘Ain Shad. (Inilah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria.” (QS. Maryam: 1-2)
Begitu mendengar ayat-ayat suci itu, Najasyi menangis hingga janggutnya basah. Para uskupnya pun menangis hingga membasahi kitab-kitab mereka. Kemudian Najasyi berkata:
“Sesungguhnya ini dan apa yang dibawa oleh Isa keluar dari satu cahaya yang sama.”
Amr bin Ash yang menyaksikan hal itu merasa cemas. Ia berkata, “Demi Allah, besok aku pasti akan membinasakan musuh mereka.” Namun Abdullah bin Abu Rabi’ah yang lebih lembut melarangnya. Amr tetap bersikeras dan kembali menemui Najasyi. Ia berkata: “Wahai Raja, sesungguhnya mereka berkata tentang Isa bin Maryam suatu ucapan yang besar. Panggillah mereka dan tanyakan apa yang mereka katakan tentangnya.”
Najasyi kembali memanggil para sahabat dan bertanya: “Apa yang kalian katakan tentang Isa bin Maryam?” Ja’far menjawab:
“Kami mengatakan tentangnya sebagaimana yang dibawa Nabi kami, yaitu bahwa dia adalah hamba Allah, Rasul-Nya, ruh-Nya, dan kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam sang perawan yang suci lagi terjaga.”
Mendengar itu, Najasyi mengambil sebatang kayu kecil dari tanah, lalu berkata:
“Demi Allah, Isa bin Maryam tidak melebihi apa yang kamu katakan ini, walaupun hanya sebesar kayu ini.”
Para uskup di sekitarnya mendengus marah. Tetapi Najasyi berkata dengan tegas: “Meskipun kalian marah, demi Allah, kami tidak akan berbeda dari apa yang mereka katakan!” Kemudian ia berkata kepada kaum Muslimin: “Pergilah, kalian aman di negeriku. Siapa pun yang mencela kalian akan didenda, siapa pun yang menyakiti kalian akan dihukum. Demi Allah, aku tidak suka memiliki gunung emas asalkan dengan itu aku harus mengganggu salah seorang dari kalian.”
Kembali ke Madinah dan Sambutan Rasulullah
Setelah beberapa tahun di Habasyah, Ja’far dan rombongannya kembali ke Madinah. Saat itu Rasulullah baru saja menaklukkan Khaibar. Abu Musa Al-Asy’ari meriwayatkan:
عَنْ أَبِي مُوسَى، قَالَ: قَدِمْنَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ بَعْدَ أَنْ فَتَحَ خَيْبَرَ، فَقَدِمَ جَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، فَاسْتَقْبَلَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَقَبَّلَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَقَالَ: «وَاللَّهِ مَا أَدْرِي بِأَيِّهِمَا أَنَا أَفْرَحُ، بِقُدُومِ جَعْفَرٍ، أَمْ بِفَتْحِ خَيْبَرَ».
“Dari Abu Musa, ia berkata: Kami tiba menghadap Rasulullah ﷺ setelah beliau menaklukkan Khaibar. Maka datanglah Ja’far bin Abi Thalib, lalu Rasulullah ﷺ menyambutnya, mencium di antara kedua matanya, dan beliau bersabda: ‘Demi Allah, aku tidak tahu mana yang lebih membuatku gembira: kedatangan Ja’far, atau kemenangan atas Khaibar.'” (HR. Al-Bukhari)
Bapaknya Orang-Orang Miskin
Ja’far dikenal dengan julukan “Abu Al-Masakin” — Bapaknya Orang-Orang Miskin. Ia sangat perhatian dan dermawan kepada kaum duafa. Suatu ketika, para sahabat menceritakan:
كُنَّا نَدْعُو جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَبَا الْمَسَاكِينِ، فَكُنَّا إِذَا أَتَيْنَاهُ قَرَّبَ إِلَيْنَا مَا حَضَرَ، فَأَتَيْنَاهُ يَوْمًا فَلَمْ يَجِدْ عِنْدَهُ شَيْئًا، فَأَخْرَجَ جَرَّةً مِنْ عَسَلٍ فَكَسَرَهَا، فَجَعَلْنَا نَلْعَقُ مِنْهَا.
“Dulu kami menyebut Ja’far bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sebagai ‘Abu Al-Masakin’ (Bapaknya orang-orang miskin). Bila kami mendatanginya, ia menyuguhkan apa pun yang ada. Suatu hari kami mendatanginya namun ia tidak mendapati apa pun, lalu ia mengeluarkan sebuah kendi berisi madu, kemudian ia memecahkannya, maka kami pun menjilati (sisa) yang ada di dalamnya.” (HR. At-Tirmidzi)
Kedermawanan Ja’far tak terbatas. Ia selalu berusaha membahagiakan orang lain, bahkan dengan apa yang ia miliki.
Perang Mu’tah: Medan Terakhir
Tahun ke-8 Hijriyah, Rasulullah mengutus Al-Harits bin Umair Al-Azdi untuk menyampaikan surat dakwah kepada pembesar Bashra di Syam. Namun di perjalanan, ia ditangkap oleh Syurahbil bin Amr Al-Ghassani, gubernur di Balqa’ yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Al-Harits dipenggal lehernya dengan kejam.
Pembunuhan duta besar adalah tindakan yang sangat biadab, bahkan di kalangan bangsa Arab jahiliyah. Rasulullah pun memobilisasi pasukan besar untuk membela kehormatan kaum Muslimin. Angkatan perang Muslimin dikirim pada bulan Jumadil Ula tahun 8 H (September 629 M).
Rasulullah menunjuk tiga panglima secara berurutan: Zaid bin Haritsah sebagai panglima pertama, jika ia gugur maka digantikan Ja’far bin Abi Thalib, dan jika Ja’far gugur maka digantikan Abdullah bin Rawahah.
Pasukan Muslimin berjumlah sekitar 3.000 orang. Mereka harus menghadapi pasukan Romawi yang jumlahnya mencapai 200.000 orang — gabungan tentara Romawi dan Arab Kristen.
Keberanian yang Tak Tertandingi
Pertempuran dahsyat pun terjadi. Zaid bin Haritsah maju dengan gagah berani, namun akhirnya gugur terkena tusukan tombak musuh. Bendera perang diambil alih oleh Ja’far bin Abi Thalib.
Ja’far bertempur dengan kegigihan luar biasa. Ia maju ke barisan depan, memotong barisan musuh dengan pedangnya. Namun musuh terlalu banyak. Tangannya yang kanan memegang bendera ditebas hingga putus. Dengan sigap ia pindahkan bendera ke tangan kiri. Tangan kirinya pun ditebas hingga putus.
Tak mampu lagi memegang dengan tangan, Ja’far memeluk bendera itu erat-erat dengan kedua lengannya ke dadanya. Ia terus bertempur dalam keadaan berlumuran darah, hingga tubuhnya penuh dengan tusukan tombak dan sabetan pedang. Ia gugur sebagai syahid di usia 33 tahun.
Abdullah bin Umar yang menyaksikan kejadian itu bercerita:
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ عَمْرٍو، عَنِ ابْنِ أَبِي هِلاَلٍ، قَالَ وَأَخْبَرَنِي نَافِعٌ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، أَخْبَرَهُ أَنَّهُ، وَقَفَ عَلَى جَعْفَرٍ يَوْمَئِذٍ وَهْوَ قَتِيلٌ، فَعَدَدْتُ بِهِ خَمْسِينَ بَيْنَ طَعْنَةٍ وَضَرْبَةٍ، لَيْسَ مِنْهَا شَيْءٌ فِي دُبُرِهِ يَعْنِي فِي ظَهْرِهِ.
“Nafi’ mengabarkan kepadaku bahwa Ibnu Umar mengabarkannya: pada hari (Perang Mu’tah) ia berdiri di sisi Ja’far yang saat itu telah gugur. Ia menghitung pada (tubuh) Ja’far lima puluh luka, antara tikaman dan sabetan, dan tidak satu pun di antaranya mengenai bagian belakangnya (punggung).” (HR. Al-Bukhari)
Lima puluh luka! Dan semuanya di bagian depan. Itu berarti Ja’far tidak pernah lari dari medan perang. Ia maju terus, menghadapi musuh dengan dada, hingga titik darah penghabisan.
Dua Sayap di Surga
Ketika berita gugurnya tiga panglima sampai ke Madinah, Rasulullah ﷺ sangat berduka. Beliau masuk ke rumah Ja’far dan keluarganya, berdoa dan menangis. Namun di tengah kesedihan itu, beliau menyampaikan kabar gembira:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: أَصَابَ جَعْفَرَ يَوْمَ مُؤْتَةَ قَطْعَ فِي يَدَيْهِ، فَأَخَذَ الرَّايَةَ بِيَدِهِ الْيُسْرَى حَتَّى قُطِعَتْ، فَاحْتَضَنَهَا بِعَضُدَيْهِ حَتَّى قُتِلَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ اللَّهَ أَبْدَلَهُ بِهِمَا جَنَاحَيْنِ يَطِيرُ بِهِمَا فِي الْجَنَّةِ».
“Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: ‘Pada hari (Perang) Mu’tah, kedua tangan Ja’far bin Abi Thalib terputus. Ia mengambil bendera dengan tangan kirinya hingga terputus juga. Lalu ia memeluk bendera itu dengan kedua lengannya sampai ia terbunuh, padahal usianya baru tiga puluh tiga tahun. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mengganti kedua tangannya dengan dua sayap, dengan keduanya ia terbang di surga.”‘” (HR. Al-Bukhari)
Sejak saat itu, Ja’far dikenal dengan julukan “Ja’far At-Thayyar” — Ja’far yang terbang. Ia adalah satu-satunya sahabat yang memiliki sayap di surga.
Setelah Ja’far
Setelah Ja’far gugur, bendera diambil alih oleh Abdullah bin Rawahah. Ia juga maju dengan gagah berani, sempat ragu sejenak, lalu memacu kudanya ke tengah musuh hingga gugur sebagai syahid. Kemudian Tsabit bin Arqam mengambil bendera dan menyerahkannya kepada Khalid bin Walid yang baru masuk Islam beberapa bulan sebelumnya. Khalid dengan strategi cerdiknya berhasil menarik mundur pasukan Muslimin dengan selamat.
Ketika kembali ke Madinah, Rasulullah menyambut mereka. Beliau memeluk Khalid dan berkata: “Engkau adalah pedang di antara pedang-pedang Allah.” Sejak itu Khalid bin Walid dijuluki “Saifullah” — Pedang Allah.
Namun tempat khusus di hati Rasulullah tetap untuk Ja’far. Beliau pernah berkata kepada Asma binti Umais, istri Ja’far:
“Apakah engkau tidak ingin bergembira? Sesungguhnya Ja’far telah terbang di surga dengan kedua sayapnya.”
Asma menangis haru, namun juga bahagia. Suaminya telah meraih kedudukan tertinggi di sisi Allah.
Warisan Ja’far
Ja’far bin Abi Thalib telah tiada. Namun ia meninggalkan warisan yang sangat berharga:
Pertama, keberanian dalam membela kebenaran. Ia berani berbicara di hadapan Raja Najasyi dengan penuh hikmah, dan berani mati di medan Mu’tah dengan gagah berani.
Kedua, kedermawanan tanpa batas. Ia adalah bapaknya orang-orang miskin, selalu berusaha membahagiakan orang lain meski harus mengorbankan miliknya.
Ketiga, kemiripan dengan Nabi. Baik secara fisik maupun akhlak, ia adalah cerminan Rasulullah. Jika orang ingin melihat akhlak Nabi, mereka bisa melihat pada Ja’far.
Keempat, kesetiaan kepada pemimpin. Ia taat kepada Rasulullah dan para panglima yang ditunjuk, hingga titik darah penghabisan.
Kelima, kemuliaan sebagai syahid. Ia gugur di jalan Allah, dengan lima puluh luka di tubuhnya, dan Allah memberinya dua sayap untuk terbang di surga.
Semoga Allah meridhai Ja’far bin Abi Thalib, sang pemilik dua sayap, dan mengumpulkan kita bersamanya di surga-Nya yang abadi. Aamiin.
“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepadanya, dan mereka bersukacita terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Ali Imran: 169-170)
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.





