Kelahiran Nabi Muhammad ﷺ bukanlah peristiwa biasa dalam sejarah, melainkan sebuah pengumuman tentang lahirnya sebuah umat yang akan memimpin umat manusia yang kebingungan menuju cahaya dan keadilan.
Hal ini diungkapkan oleh Rib’i bin ‘Amir r.a. dengan keyakinan seorang mukmin dan kejelasan visi di hadapan Rustum, panglima Persia, ketika ia berkata: “Allah mengutus kami untuk mengeluarkan siapa yang Dia kehendaki dari penghambaan manusia kepada penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju keluasannya, dan dari ketidakadilan agama-agama menuju keadilan Islam.” Perkataan ini merangkum risalah Nabi ﷺ, yang menghidupkan suatu umat dari ketiadaan, seperti yang disabdakan oleh seorang penyair:
Saudaramu Isa menghidupkan orang mati sehingga ia bangkit karenanya
Sedangkan engkau Muhammad menghidupkan generasi-generasi dari ketiadaan
Tidaklah berlebihan jika kita katakan bahwa Nabi ﷺ menghidupkan seluruh umat manusia. Allah mengutusnya sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman-Nya:
وَمَآ أَرْسَلْنَـٰكَ إِلَّا رَحْمَةًۭ لِّلْعَـٰلَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)
Beliau datang untuk membebaskan bangsa Arab dan seluruh umat manusia dari perbudakan manusia menuju penghambaan kepada Allah, dari kegelapan kebodohan dan masa Jahiliyah menuju cahaya ilmu, akal, dan pemikiran, dari perpecahan dan pertikaian karena sebab-sebab sepele menuju keadilan, cinta, dan persatuan. Beliau menjadikan umatnya sebagai umat yang moderat, yang menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan menyeru kepada kebaikan, sebagaimana firman-Nya:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran: 110)
Ketika kita berbicara tentang peringatan kelahiran beliau yang mulia ﷺ, kita tidak hanya berbicara tentang pemimpin para pemimpin agung, tetapi tentang peristiwa besar yang penuh dengan makna dan petunjuk.
Peringatan ini adalah seruan kepada kaum muslimin untuk meneladani makna-makna kekuatan dan kemuliaan, memperdalam hubungan mereka dengan Allah, memperkuat ikatan persatuan dan cinta dalam masyarakat, serta memberikan kebaikan kepada seluruh manusia. Ini adalah peringatan kelahiran umat Islam, yang ditakdirkan untuk memimpin bangsa-bangsa menuju makna-makna kebaikan, keadilan, kebebasan, dan martabat kemanusiaan, berdasarkan nilai-nilai yang diletakkan oleh Rasulullah ﷺ.
Di antara pelajaran terpenting dari peringatan kelahiran Nabi adalah kehidupan yatim dan kehilangan yang dialami Nabi ﷺ:
Beliau lahir dalam keadaan yatim, kehilangan ibunda dan kakeknya di usia muda, sehingga ia merasakan pahitnya keyatiman dan kesulitan di masa kecil dan remajanya. Penderitaan ini membentuk kepribadiannya, menjadikannya penyayang kepada orang-orang miskin dan anak-anak yatim, merasakan sakitnya penderitaan manusia dan berbelas kasih kepada mereka, sebagaimana firman Allah:
فَبِمَا رَحْمَةٍۢ مِّنَ ٱللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ ٱلْقَلْبِ لَٱنفَضُّوا۟ مِنْ حَوْلِكَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (QS. Ali ‘Imran: 159)
Menanggung kesulitan dengan sabar dan keteguhan:
Beliau adalah seorang pahlawan yang menghadapi tanggung jawab dakwah dan tantangannya, untuk mendidik generasi Qur’ani yang unik, yang meneladani sirahnya yang harum, dan memimpin umat manusia dengan pengorbanan dan teladan luhur. Ketika umat ini memahami risalah yang dibebankan kepadanya, ia berkuasa di dunia, berubah dari umat yang hina tak punya tempat di antara bangsa-bangsa menjadi umat yang mulia dan disegani. Seperti yang diungkapkan oleh Umar bin Khaththab r.a.: “Kami dahulu adalah umat yang paling hina, lalu Allah memuliakan kami dengan Islam. Maka jika kami mencari kemuliaan dengan selain apa yang Allah gunakan untuk memuliakan kami, niscaya Allah akan menghinakan kami.” Al-Qur’an mengisyaratkan transformasi ini dengan firman-Nya:
لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًۭا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَـٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَـٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَـٰلٍۢ مُّبِينٍۢ
“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika (Allah) mengutus di tengah-tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sungguh, sebelum itu, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali ‘Imran: 164)
Dengan kelahirannya ﷺ, umat manusia terbebas dari perbudakan kemusyrikan menuju cahaya Islam.
Menghidupkan peringatan kelahiran Nabi yang mulia dan menyatakan kecintaan kepadanya ﷺ menuntut keteladanan dalam perkataan dan perbuatan, serta meneladani sirahnya dalam segala urusan kehidupan dan muamalah. Sebagaimana firman Allah:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ
“Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.'” (QS. Ali ‘Imran: 31)
Dan firman-Nya:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Peringatan ini adalah seruan untuk introspeksi diri, merenungkan kondisi umat kita yang menderita perpecahan, kehinaan, dan ketamakan musuh-musuh terhadapnya, serta bekerja sungguh-sungguh untuk mengangkatnya, dengan meneladani kejayaan generasi salaf saleh.
Peringatan maulid Nabi datang di tengah tantangan yang dihadapi umat, berupa keterpecahan dan kelemahan. Oleh karena itu, kita harus meneladani pelajaran kesabaran Nabi ﷺ dan ketangguhannya menahan derita dalam menyebarkan dakwahnya. Beliau disakiti, dikepung di Syi’ib Abi Thalib, hijrah dari Makkah ke Madinah, dan mengalami percobaan pembunuhan, namun ia tetap teguh hingga Allah menyempurnakan agama-Nya. Peringatan ini adalah kesempatan untuk menegaskan persatuan umat dalam menghadapi musuh-musuhnya, dan mengembalikan makna sejati dari kekuatan dan kemuliaan.
Sesungguhnya peringatan maulid Nabi yang mulia adalah kesempatan besar untuk menghadirkan makna-makna luhur, dan mengambil bekal yang membantu kita melewati krisis kita, yang disebabkan oleh keterlepasan kita dari manhaj Nabi ﷺ. Mari kita luruskan kompas kita dengan kembali kepada petunjuk dan sirahnya, agar umat kita kembali menjadi kuat dan mulia, memimpin dunia dengan kebaikan dan keadilan, sebagaimana Allah menghendakinya menjadi sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia, dan sebagaimana Rasulullah ﷺ menghendakinya menjadi umat yang saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi… umat yang bagaikan satu tubuh.





