RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,065)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (444)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (139)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Al-Qur'an
  • Wasathiyah

Mengapa Berpegang pada Prinsip Itu Suatu Keharusan?

  • 07-04-2026
  • No comments
Vv3

Pertama: Pentingnya Kaidah Ini

Seseorang harus membiasakan dirinya untuk selalu mencari kebenaran, mengikutinya, dan mengikat nasibnya dengannya. Ia harus bersama kebenaran di mana pun kebenaran berada, dan ia harus berputar bersamanya ke mana pun ia berputar. Pada saat yang sama, ia harus berhati-hati terhadap keterikatan kepada individu.

Kaidah ini diwajibkan oleh alasan-alasan berikut:

a) Kebenaran itu Tetap, Sementara Individu itu Fana:

Kebenaran itu dahulu, kebenaran itu abadi, dan kebenaran itu esa. Kebenaran mengambil sifat-sifat ini dari Allah semata. Allah berfirman:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلْبَـٰطِلُ وَأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلْعَلِىُّ ٱلْكَبِيرُ

“Demikian itu karena Allah, Dialah yang hak, dan apa yang mereka seru selain Dia, itulah yang batil. Dan sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al-Hajj: 62)

Adapun individu akan lenyap dan berubah-ubah. Mereka digoyahkan oleh hawa nafsu dan syahwat, diselimuti oleh keraguan, digoda oleh setan, dan dikalahkan oleh jiwa. Berpegang pada mereka seperti berjalan di atas tanah yang bergetar dan berguncang, atau seperti menaiki kapal yang dihantam ombak dan terancam tenggelam serta binasa.

b) Kebenaran Itu Hakim, Sementara Individu Itu Yang Dihukum:

Kebenaranlah yang menghukum individu, apakah mereka baik atau rusak, lurus atau menyimpang, mendapat petunjuk atau sesat. Individu ditimbang dengan timbangan kebenaran. Maka beratlah orang yang kebenaran berat bersamanya, dan ringanlah orang yang kebenaran ringan bersamanya. Dan tidak ada timbangan sama sekali bagi orang yang mengingkari kebenaran dan membelakanginya. Allah berfirman:

وَٱلْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ ٱلْحَقُّ ۚ فَمَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan penimbangan pada hari itu adalah penimbangan yang hak. Maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 8)

Dan firman-Nya:

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِٱلْأَخْسَرِينَ أَعْمَـٰلًا * ٱلَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا * أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِـَٔايَـٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهِۦ فَحَبِطَتْ أَعْمَـٰلُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَـٰمَةِ وَزْنًا

“Katakanlah, ‘Maukah kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka mengira bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang ingkar kepada ayat-ayat Tuhan mereka dan ingkar kepada pertemuan dengan-Nya, maka hapuslah pahala amal mereka, dan Kami tidak akan memberikan penilaian sedikit pun atas amal mereka pada hari Kiamat.'” (QS. Al-Kahfi: 103-105)

Kedua: Faktor-Faktor Penyebab Pertentangan dengan Kebenaran

Hanya sedikit jiwa yang dengan sukarela dan pilihan sendiri menyerahkan kendalinya kepada kebenaran. Sebab, jiwa sering digerogoti oleh berbagai dorongan dan desakan, kecuali jiwa yang ditarik dengan keras, dikendalikan dengan kekang takwa, dan dididik serta disucikan, sehingga ia beruntung dan bahagia. Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّىٰهَا * وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9-10)

Di antara dorongan tersebut adalah:

a) Mengikuti Hawa Nafsu:

Ada orang yang bersegera melakukan apa yang diperintahkan oleh hawa nafsunya, ditunjukkan oleh pendapatnya, dan dicenderungi oleh perasaannya, tanpa mengukur perkara tersebut dengan timbangan kebenaran. Mereka ini termasuk manusia yang paling sesat dan buta. Allah berfirman:

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا۟ لَكَ فَٱعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَآءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ ٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ بِغَيْرِ هُدًۭى مِّنَ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّـٰلِمِينَ

“Maka jika mereka tidak menjawab tantanganmu, maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti hawa nafsunya. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya tanpa petunjuk dari Allah? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Qashash: 50)

Dan firman-Nya:

أَفَرَءَيْتَ مَنِ ٱتَّخَذَ إِلَـٰهَهُۥ هَوَىٰهُ وَأَضَلَّهُ ٱللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍۢ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِۦ وَقَلْبِهِۦ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِۦ غِشَـٰوَةًۭ فَمَن يَهْدِيهِ مِنۢ بَعْدِ ٱللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya, dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya, serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk setelah Allah? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jatsiyah: 23)

b) Merasa Diri Besar:

Ini adalah penyakit berbahaya. Orang yang mengidapnya memandang dirinya di atas orang lain, menjadikan dirinya sebagai tolok ukur, sementara ia sendiri tidak tunduk pada ukuran kebenaran yang telah ditetapkan. Akibatnya, ia buta terhadap kebenaran dan menjauh darinya. Yang pertama kali terkena penyakit ini adalah Iblis yang terkutuk. Ia diperintahkan sujud kepada Adam, namun ia menolak, menyombongkan diri, dan menjadi orang kafir, didorong oleh rasa dirinya yang besar. Allah berfirman:

قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا۠ خَيْرٌۭ مِّنْهُ ۖ خَلَقْتَنِى مِن نَّارٍۢ وَخَلَقْتَهُۥ مِن طِينٍۢ

“Allah berfirman, ‘Apa yang menghalangimu untuk tidak sujud kepada Adam ketika Aku memerintahkanmu?’ Ia menjawab, ‘Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah.'” (QS. Al-A’raf: 12)

Penyakit ini juga menghalangi Fir’aun dari jalan kebenaran, sehingga ia sesat dan menyesatkan kaumnya bersamanya. Allah berfirman melalui lisan Fir’aun:

أَمْ أَنَا۠ خَيْرٌۭ مِّنْ هَـٰذَا ٱلَّذِى هُوَ مَهِينٌۭ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ * فَلَوْلَآ أُلْقِىَ عَلَيْهِ أَسْوِرَةٌۭ مِّن ذَهَبٍ أَوْ جَآءَ مَعَهُ ٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ مُقْتَرِنِينَ * فَٱسْتَخَفَّ قَوْمَهُۥ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ قَوْمًۭا فَـٰسِقِينَ

“Atau aku lebih baik daripada ini (Musa), orang yang hina ini, dan dia hampir tidak dapat menjelaskan perkataannya? Maka mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas, atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?’ Maka Fir’aun telah memperdaya kaumnya, dan mereka menaatinya. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 52-54)

Yusuf bin Al-Hasan pernah mengirim pesan nasihat kepada Al-Junaid, “Semoga Allah tidak memberimu merasakan dirimu sendiri. Karena jika kamu merasakannya sekali, kamu tidak akan pernah merasakan kebaikan setelahnya.”

c) Menyesuaikan Diri dengan Realitas yang Rusak:

Terkadang realitas yang batil memaksakan dirinya, dan adat istiadat serta tradisi memperdaya orang yang tidak menjadikan cahaya kebenaran sebagai petunjuk di jalan kehidupannya. Maka ia berpegang teguh pada kebatilan yang telah biasa ia lakukan, dan menolak setiap perubahan, meskipun menuju kebenaran. Allah berfirman:

أَجَعَلَ ٱلْـَٔالِهَةَ إِلَـٰهًۭا وَٰحِدًا ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىْءٌ عُجَابٌۭ * وَٱنطَلَقَ ٱلْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ ٱمْشُوا۟ وَٱصْبِرُوا۟ عَلَىٰٓ ءَالِهَتِكُمْ ۖ إِنَّ هَـٰذَا لَشَىْءٌۭ يُرَادُ * مَا سَمِعْنَا بِهَـٰذَا فِى ٱلْمِلَّةِ ٱلْـَٔاخِرَةِ إِنْ هَـٰذَآ إِلَّا ٱخْتِلَـٰقٌ

“Apakah dia menjadikan tuhan-tuhan itu sebagai Tuhan Yang Esa? Sungguh, ini benar-benar sesuatu yang sangat mengherankan. Dan pergilah pemuka-pemuka mereka, ‘Pergilah kalian, dan tetaplah kalian menyembah tuhan-tuhan kalian. Sungguh, ini benar-benar suatu yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama nenek moyang kami yang terakhir. Ini tidak lain hanyalah buatan.'” (QS. Shad: 5-7)

Lebih mengherankan lagi adalah doa orang-orang musyrik ketika mereka bertemu dengan kaum muslimin di Perang Badar, “Ya Allah, putuskanlah tali silaturahmi kami dan binasakanlah orang yang datang kepada kami dengan sesuatu yang tidak kami kenal.” Maksud mereka dengan itu adalah Rasulullah ﷺ!

d) Mengikuti Tradisi Nenek Moyang:

Sebagian manusia terfitnah oleh perilaku nenek moyang mereka, betapa pun perilaku itu menyimpang dari kebenaran. Allah berfirman:

بَلْ قَالُوٓا۟ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍۢ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم مُّهْتَدُونَ * وَكَذَٰلِكَ مَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ فِى قَرْيَةٍۢ مِّن نَّذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَآ إِنَّا وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍۢ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَـٰرِهِم مُّقْتَدُونَ

“Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka.’ Dan demikianlah, Kami tidak mengutus seorang pemberi peringatan pun sebelum engkau ke suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.'” (QS. Az-Zukhruf: 22-23)

e) Keterikatan pada Individu Secara Umum:

Baik karena kepemimpinan mereka yang dominan, kekuatan kepribadian mereka, dan pengaruh kuat mereka terhadap orang lain, atau karena kehebatan mereka dalam salah satu aspek kebenaran.

Contoh pertama dalam firman Allah:

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِى ٱلنَّارِ يَقُولُونَ يَـٰلَيْتَنَآ أَطَعْنَا ٱللَّهَ وَأَطَعْنَا ٱلرَّسُولَا۠ * وَقَالُوا۟ رَبَّنَآ إِنَّآ أَطَعْنَا سَادَتَنَا وَكُبَرَآءَنَا فَأَضَلُّونَا ٱلسَّبِيلَا۠ * رَبَّنَآ ءَاتِهِمْ ضِعْفَيْنِ مِنَ ٱلْعَذَابِ وَٱلْعَنْهُمْ لَعْنًۭا كَبِيرًۭا

“Pada hari ketika wajah mereka dibolak-balikkan dalam neraka, mereka berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya kami taat kepada Allah dan taat kepada Rasul.’ Dan mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah menaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan yang benar. Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat, dan laknatlah mereka dengan laknat yang besar.'” (QS. Al-Ahzab: 66-68)

Inilah sikap penyesalan dan kehancuran setelah terlambat. Mereka berangan-angan seandainya mereka mengikuti kebenaran yang terwakili dalam dua sumbernya, Kitab Allah dan Rasul-Nya. Kemudian mereka mengakui bahwa mereka telah mengikuti para pemimpin, tokoh, dan pembesar, dan mereka tidak mendapatkan apa-apa selain kesesatan di dunia, lalu kebinasaan dan siksa di akhirat. Kita telah melihat ini pada Musailamah si pendusta bersama kaumnya; mereka mengikutinya dalam kesesatannya. Hampir tidak ada seorang pun dari mereka yang selamat dari fitnah itu hingga mereka tewas di tangan kaum muslimin di dunia, dan sungguh azab akhirat lebih berat dan lebih kekal.

Contoh kedua: Fitnah Khawarij. Para pengikut terfitnah oleh mereka karena kehebatan mereka dalam hal ibadah dan ketaatan. Namun, pemikiran mereka melayang jauh dan mereka tersesat dengan kesesatan yang besar, sehingga mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah keluar dari sasaran. Bersama mereka keluar pula orang-orang yang terpukau oleh ibadah mereka dan terikat kepada mereka karenanya. Nabi ﷺ bersabda tentang mereka:

تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَقِرَاءَتَكُمْ مَعَ قِرَاءَتِهِمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Kalian menganggap remeh shalat kalian dibanding shalat mereka, puasa kalian dibanding puasa mereka, dan bacaan kalian dibanding bacaan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari sasaran.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

f) Rasa Takut:

Terkadang rasa takut menguasai hati manusia ketika kebenaran disodorkan kepada mereka. Mereka membayangkan berbagai macam siksaan dan cobaan yang akan menimpa mereka jika mereka mengikutinya. Maka mereka lebih memilih keselamatan dan bersandar pada ketenangan serta kenyamanan dengan tetap berada dalam kebatilan. Allah berfirman:

وَقَالُوٓا۟ إِن نَّتَّبِعِ ٱلْهُدَىٰ مَعَكَ نُتَخَطَّفْ مِنْ أَرْضِنَآ ۚ أَوَلَمْ نُمَكِّن لَّهُمْ حَرَمًا ءَامِنًۭا يُجْبَىٰٓ إِلَيْهِ ثَمَرَٰتُ كُلِّ شَىْءٍۢ رِّزْقًۭا مِّن لَّدُنَّا وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan mereka berkata, ‘Jika kami mengikuti petunjuk bersamamu, niscaya kami akan diusir dari negeri kami.’ Dan apakah Kami tidak meneguhkan kedudukan mereka di tanah suci yang aman, yang didatangkan ke tempat itu buah-buahan dari segala macam sebagai rezeki dari sisi Kami? Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-Qashash: 57)

Yang mendorong mereka melakukan ini—pada hakikatnya—adalah ketidaktahuan mereka akan hakikat segala sesuatu: وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ “Akan tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (QS. Al-An’am: 37). Demikian juga terjerumusnya mereka dalam perangkap tipu daya setan, meskipun tipu daya setan itu lemah:

إِنَّ كَيْدَ ٱلشَّيْطَـٰنِ كَانَ ضَعِيفًا

“Sungguh, tipu daya setan itu lemah.” (QS. An-Nisa’: 76)

Setan juga menakut-nakuti mereka dengan pengikut-pengikutnya yang lemah:

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ ٱلشَّيْطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya setan itu hanyalah menakut-nakuti kamu dengan pengikut-pengikutnya. Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175)

Ketiga: Bentuk-Bentuk Keterikatan pada Kebenaran

1. Pemutusan Total Menuju Kebenaran

Manusia terikat dengan ikatan kuat seperti hubungan kekerabatan, persaudaraan, atau perbesanan, lalu mereka berjalan bersama di padang kehidupan tanpa cahaya, tanpa pandangan yang tajam, dan tanpa petunjuk. Kemudian datanglah penyeru iman dan pendakwah kebenaran. Sebagian dari mereka segera menyambut dan mengikuti, lalu mereka mengungguli ikatan-ikatan lama tersebut dan menganggapnya ringan ketika bertentangan dengan kebenaran yang telah mereka yakini, yang telah menjadi sesuatu yang paling berharga dan paling tinggi yang mereka banggakan dan jaga.

Contoh-contohnya adalah sebagai berikut:

a) Abu Bakar dengan putranya: Ketika putranya memberi tahu bahwa ia menghindari membunuh ayahnya dalam pertempuran Badar, Abu Bakar Ash-Shiddiq menjawabnya, “Akan tetapi aku sangat ingin membunuhmu, dan jika engkau berada dalam jangkauan panahku, niscaya aku akan membunuhmu.”

b) Ibrahim Al-Khalil dengan ayahnya: Ibrahim berlepas diri dari ayahnya ketika telah jelas bahwa ayahnya adalah musuh Allah. Sebelumnya, Ibrahim telah berjanji akan memohonkan ampun untuknya. Ibrahim adalah orang yang paling berbakti kepada ayahnya, paling lembut dengannya, dan paling perhatian kepadanya. Allah berfirman:

وَمَا كَانَ ٱسْتِغْفَارُ إِبْرَٰهِيمَ لِأَبِيهِ إِلَّا عَن مَّوْعِدَةٍۢ وَعَدَهَآ إِيَّاهُ فَلَمَّا تَبَيَّنَ لَهُۥٓ أَنَّهُۥ عَدُوٌّۭ لِّلَّهِ تَبَرَّأَ مِنْهُ ۚ إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ لَأَوَّٰهٌ حَلِيمٌۭ

“Dan tidaklah permohonan ampun Ibrahim kepada ayahnya, melainkan karena suatu janji yang telah diucapkannya kepada ayahnya. Maka ketika jelas baginya bahwa ayahnya adalah musuh Allah, maka ia berlepas diri darinya. Sungguh, Ibrahim adalah orang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun.” (QS. At-Taubah: 114)

c) Sa’ad bin Abi Waqqash dengan ibunya: Ibunya bersumpah tidak akan makan, tidak akan minum, tidak akan bernaung, dan tidak akan menyisir rambut hingga Sa’ad meninggalkan Muhammad. Maka Sa’ad memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada seluruh dunia tentang mengutamakan kebenaran dan mengungguli ikatan yang paling kuat sekalipun. Ia berkata, “Demi Allah, wahai ibuku, seandainya engkau memiliki seratus nyawa yang keluar satu per satu, aku tetap tidak akan meninggalkan agamaku.”

d) Mush’ab bin Umair dengan saudaranya: Saudaranya berjalan dengan rantai dan menahan salah seorang muslim. Saudaranya itu melihat Mush’ab yang sedang dalam keadaan yang memprihatinkan. Ia mengira Mush’ab akan menjadi seperti perahu penyelamat bagi orang yang tenggelam, tetapi ia terkejut dengan jawaban Mush’ab kepada orang yang menahannya, “Ikatlah dia dengan kuat, karena ia memiliki ibu yang kaya raya, semoga ia bisa menebusnya.” Saudaranya berkata dengan penuh penyesalan dan patah hati, “Inikah wasiatmu untuk saudaramu?” Mush’ab kemudian menjawab dengan pukulan yang lebih keras, “Dia adalah saudaraku, bukan engkau.” Mahasuci Allah! Sampai sejauh itukah kebenaran membentuk hati? Ya, bahkan lebih dari itu!

2. Ketidakhadiran Simbol Kebenaran

Terkadang simbol kebenaran dan pembawa panjinya tidak hadir di arena, karena kematian atau sebab lainnya. Apa yang harus dilakukan oleh tentara kebenaran dan para pendukungnya saat itu? Apakah mereka akan mengingkari janji dan berpaling, atau mereka akan berpegang teguh, bersabar, mantap, dan melanjutkan perjalanan? Inilah yang akan kami jelaskan berikut ini:

a) Wafatnya Nabi ﷺ: Rasulullah ﷺ berpindah ke sisi Yang Maha Tinggi. Berita itu mengguncang manusia dengan hebat. Ada yang terisak, ada yang menangis tersedu-sedu, dan ada yang jatuh pingsan. Umar bin Khaththab, ketika mendengar berita itu, tidak mempercayainya. Bahkan ia mengancam dan menakut-nakuti siapa pun yang mengatakan bahwa Nabi telah wafat. Ia berkata, “Nabi hanya pingsan. Dia pasti akan bangkit dan memotong lidah orang-orang munafik yang mengatakan bahwa dia telah mati. Dia belum mati, dan dia tidak akan mati hingga menjadi yang terakhir di antara kita mati.”

Aisyah r.a. menggambarkan keadaan manusia saat musibah ini, “Manusia seperti kambing-kambing kecil di malam yang hujan.” Kemudian Abu Bakar datang dengan keteguhan iman, kebijaksanaan, dan ketegasannya. Ia meyakini kebenaran berita itu, lalu naik ke mimbar dan berseru dengan suara lantang, yang terus bergema di telinga dunia dan mencatat pelajaran berharga tentang keterikatan pada prinsip dan kebenaran, bukan pada individu, bahkan bukan pada Rasulullah ﷺ, pemimpin manusia pertama dan terakhir: “Wahai manusia, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah mati. Barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak pernah mati.” Beliau membacakan firman Allah:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌۭ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَـٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًۭٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّـٰكِرِينَ

“Dan Muhammad hanyalah seorang rasul; sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan berbalik ke belakang? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran: 144)

Mendengar itu, Umar menjadi tenang, lalu ia jatuh pingsan. Ketika sadar dari pingsannya yang terakhir ini, ia berkata, “Seolah-olah aku belum pernah membaca ayat itu sebelumnya.”

b) Isu Kematian Nabi ﷺ dalam Perang Uhud: Isu ini menyebar di kalangan manusia seperti api menyambar semak belukar. Orang-orang duduk kebingungan, pasrah, dan meninggalkan pertempuran. Musuh terus berkeliaran di medan perang, menghujamkan pedang mereka ke leher orang-orang mukmin. Di saat itu, Anas bin An-Nadlr r.a. melewati Umar dan Thalhah bin Ubaidillah yang sedang duduk menangis. Ia bertanya, “Apa yang membuat kalian duduk begini?” Mereka menjawab, “Rasulullah telah terbunuh.” Anas kemudian memberikan pelajaran berharga dengan kata-kata iman yang dalam dan kesadaran yang tajam, “Bangkitlah, matilah kalian sebagaimana Rasulullah ﷺ mati.” Kemudian ia melesat seperti badai yang menghancurkan segalanya dengan perintah Tuhannya, hingga ia meraih syahid dan bertemu Tuhannya bersama orang-orang yang jujur. Tubuhnya terkena lebih dari delapan puluh luka—atau bahkan lebih—sehingga tidak ada yang mengenalnya kecuali saudara perempuannya yang mengenali dari ujung jarinya. Tentang orang seperti itulah firman Allah turun:

مِّنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌۭ صَدَقُوا۟ مَا عَـٰهَدُوا۟ ٱللَّهَ عَلَيْهِ ۖ فَمِنْهُم مَّن قَضَىٰ نَحْبَهُۥ وَمِنْهُم مَّن يَنتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوا۟ تَبْدِيلًۭا

“Di antara orang-orang mukmin itu ada laki-laki yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah meninggal, dan di antara mereka ada yang masih menunggu. Mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab: 23)

3. Memihak Kebenaran dalam Suatu Situasi

Terkadang manusia menyimpang dari sebagian tuntutan komitmen terhadap kebenaran dalam suatu situasi, atau mereka tidak melaksanakan kewajiban yang dituntut oleh keteguhan pada kebenaran. Maka kita melihat kelompok lain yang memahami makna keterikatan pada prinsip, mereka memihak kebenaran dan mengutamakannya di atas semua hubungan dan ikatan lainnya, seperti yang terlihat dalam contoh-contoh berikut:

a) Abdullah bin Abdullah bin Ubay dengan ayahnya: Ketika ayahnya mengucapkan perkataannya yang keji, “Sungguh, jika kita kembali ke Madinah, pasti orang yang mulia akan mengusir orang yang hina darinya,” Abdullah menghadangnya dengan pedang di pinggiran Madinah, sambil menantang dan memberinya pelajaran, “Engkaulah yang mengatakan demikian. Demi Allah, engkau akan tahu untuk siapa kehormatan hari ini, untukmu atau untuk Rasulullah. Demi Allah, naungan rumahmu tidak akan menaungimu, dan rumahmu tidak akan menaungimu selamanya, kecuali dengan izin Rasulullah ﷺ.”

b) Seorang Laki-laki yang Memukul: Seorang laki-laki melihat orang lain sedang memukul. Ia berkata kepadanya, “Rasulullah ﷺ melarang memukul, dan beliau bersabda, ‘Memukul tidak dapat menangkap buruan dan tidak dapat membunuh musuh.'” Kemudian ia melihatnya lagi masih memukul. Maka ia berkata, “Aku katakan kepadamu bahwa Rasulullah ﷺ melarang memukul, namun aku masih melihatmu memukul. Demi Allah, aku tidak akan pernah berbicara denganmu selamanya.”

c) Al-Karrar dalam Perang Mu’tah: Khalid bin Walid r.a. menarik mundur pasukan muslim dari hadapan pasukan Romawi dalam Perang Mu’tah dengan siasat yang cemerlang. Ia membawa pasukan selamat kembali ke Madinah. Namun, orang-orang tidak menerima hal ini dan menganggapnya sebagai pelarian dari medan pertempuran. Mereka mencela pasukan itu dengan mengatakan, “Wahai para pelari!” Ini terjadi karena mereka terbawa oleh tuntutan membela kebenaran yaitu harus tetap teguh dan berani, apapun hasilnya. Akan tetapi, Nabi ﷺ meluruskan pandangan mereka dengan mengatakan, “Bahkan mereka adalah Al-Karrar, dan aku adalah barisan belakang mereka.” Beliau menjelaskan bahwa ini bukanlah pelarian yang dilarang dan diancam dengan murka Allah dan siksa neraka, melainkan ini adalah bergabung dengan barisan, yang diperbolehkan dan tidak apa-apa ketika kaum muslimin menghadapi musuh yang tidak mampu mereka hadapi dari segi jumlah dan perlengkapan.

d) Tiga Orang yang Tertinggal dari Perang Tabuk: Ketika Nabi ﷺ mengucapkan satu kalimat, “Janganlah kalian berbicara dengan mereka,” bumi seolah-olah membenci mereka. Bumi yang mereka kenal—bumi persaudaraan dan kasih sayang—berubah, hingga sepupu Ka’ab bin Malik tidak mau menjawab sekadar salamnya. Ka’ab mendatangi rumah sepupunya, memanjat dinding rumahnya karena sepupunya tidak mengizinkannya masuk. Ka’ab berbicara kepadanya, sementara sepupunya hanya diam dan tidak menjawabnya. Ketika Ka’ab putus asa, ia kembali dengan perasaan hancur dan keadaan yang buruk. Tidak ada yang mendorong sepupu Ka’ab untuk bersikap seperti itu selain komitmennya pada kebenaran, dengan mengorbankan hubungan personal, betapa pun kuat dan dalamnya hubungan itu.

e) Abu Khaitsamah: Ia ragu-ragu untuk keluar bersama Nabi ﷺ dalam Perang Tabuk hingga pasukan telah berangkat. Kemudian Nabi singgah di suatu tempat dekat Madinah untuk memeriksa para prajurit. Beliau bertanya, “Apa yang dilakukan Abu Khaitsamah?” Mereka menjawab, “Ia tertinggal, wahai Rasulullah.” Maka jawaban beliau tegas dan pasti, “Jika ia memiliki kebaikan, maka Allah akan mempertemukannya dengan kalian. Jika tidak, maka Allah telah membebaskan kalian darinya.” Dengan tegas demikian, kafilah kebenaran berjalan, tidak peduli dengan orang-orang yang duduk dan tertinggal, betapa pun kedudukan dan sejarah mereka. Hal ini sangat berat bagi kaum muslimin. Kemudian beberapa saat berlalu, penjaga berkata, “Ada seseorang menunggang kuda di jalan, wahai Rasulullah.” Rasulullah ﷺ bersabda, “Itu adalah Abu Khaitsamah.” Memang itulah dia. Tidak mungkin Nabi salah dalam menebak, karena beliau mengenal orang-orangnya dan tentaranya dengan baik. Namun, itu tidak menghalanginya untuk menetapkan kaidah sebelumnya dan melontarkan slogan abadi itu, “Jika ia memiliki kebaikan, maka Allah akan mempertemukannya dengan kalian.” Hal ini terulang juga pada Abu Dzar. Beliau mengucapkan kalimat yang sama ketika mendengar bahwa Abu Dzar tertinggal. Kemudian Abu Dzar menyusul mereka dengan berjalan kaki sambil membawa barang-barangnya karena untanya lamban. Ketika para penjaga memberitahukan tentang kedekatan sosok hitam orang itu, beliau bersabda, “Itu adalah Abu Dzar.” Memang itulah dia.

Keempat: Satu Kebaikan dalam Keterikatan pada Tokoh

Meskipun keterikatan pada individu bukan pada prinsip memiliki banyak bahaya dan risiko, sebagaimana telah kita ketahui, namun ia memiliki satu kebaikan yang tidak boleh kita abaikan. Yaitu ketika seorang individu memanfaatkan hubungannya dengan orang lain, kepercayaan mereka kepadanya, dan pengikutan mereka kepadanya, untuk membawa mereka bersama-sama menuju ke arena kebenaran yang telah ia yakini. Kami kemukakan contoh-contoh berikut untuk memperjelas makna ini:

a) Dhamam bin Tsa’labah: Ia datang kepada Rasulullah ﷺ menanyakan tentang rukun Islam. Kemudian ia berjanji kepada beliau untuk melaksanakannya tanpa tambahan atau pengurangan, sebagai harga untuk masuk surga. Nabi ﷺ bersabda tentangnya, “Beruntunglah pemilik dua jambang itu, jika ia jujur.” Ia memulai dakwahnya kepada Allah ketika kembali kepada kaumnya. Ia memprovokasi mereka dengan ucapannya, “Al-Lata dan Al-‘Uzza adalah seburuk-buruk tuhan.” Kaumnya menjadi terkejut dan berkata, “Diam, wahai Dhamam, takutlah terkena penyakit belang, takutlah terkena penyakit kusta.” Ia menjawab dengan logika iman yang kuat yang menarik perhatian dan membuka hati, sambil mengingatkan mereka tentang Allah dan menjelaskan hakikat berhala-berhala itu yang tidak memberi mudarat dan manfaat, tidak merendahkan dan tidak meninggikan, tidak memberi dan tidak mencegah. Hingga seluruh kaumnya masuk Islam, dan ia menjadi utusan yang paling beruntung bagi kaumnya.

b) Sa’ad bin Mu’adz: Ketika ia masuk Islam melalui perantaraan Mush’ab bin Umair, ia kembali kepada kaumnya, Bani Abdil Asyhal. Ia mengumpulkan mereka dan bertanya, “Wahai Bani Abdil Asyhal, bagaimana pendapat kalian tentang diriku di antara kalian?” Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami, putra pemimpin kami.” Ia berkata, “Maka berbicara dengan laki-laki dan perempuan kalian adalah haram bagiku, hingga kalian bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah.” Maka tidak ada seorang pun dari Bani Abdil Asyhal yang bermalam kecuali dalam keadaan muslim.

Sumber: Tarbiyaa.com

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Prinsip
  • Prinsip Dalam Islam
Anda Mungkin Juga Menyukai
ChatGPT Image Jul 22 2026 01 31 38 PM 1024x512
View Post
  • Wasathiyah

Pentingnya Pendidikan Spiritual dalam Kepemimpinan Modern

Malik shibly lKbz2ejxYbA unsplash
View Post
  • Al-Qur'an

Tadabur Ayat: Kelicikan Syaithan dalam Menyesatkan Manusia

D0wykae7tnkks00og8 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Ketekunan/Profesionalisme dalam Bekerja: Investasi yang Keuntungannya Dipanen Seumur Hidup

Jj4
View Post
  • Al-Qur'an
  • Fiqih

Menafsirkan Al-Qur’an tanpa Ilmu adalah Perbuatan Terlarang

K634p0el8iokwgk8c0 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Tujuan Syariat tentang Kebebasan (Bagian 2)

1ts5ut2buv8ks0k4so 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Antara Asap Perang dan Harapan Fajar – Pembacaan Atas Pemandangan Dunia dari Teheran hingga Gaza

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 6971847a1bb35 1
    • Akhbar Dauliyah
    KTT NATO 2026: Transformasi Aliansi dan Diplomasi Donald Trump
    • 06.07.26
  • 2284304248 2
    • Akhbar Dauliyah
    Seruan Balas Dendam Menggema di Teheran pada Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
    • 06.07.26
  • AFP 20260706 B9CZ8LV v1 HighRes PalestinianIsraelConflictGaza 3
    • Akhbar Dauliyah
    Hamas Umumkan Pembubaran Badan Pemerintahan Gaza
    • 07-07-2026
  • 62014211719 4
    • Akhbar Dauliyah
    Penulis Arab Soroti Narasi Politik Mesir: “Tidak Ada Tempat bagi Ikhwanul Muslimin”
    • 07-07-2026
  • WhatsApp Image 2026 07 07 at 3.30.19 PM (1) 5
    • Kabar Umat
    Kemenag Integrasikan Edukasi Pencegahan Penyebaran Budaya LGBTQ ke Pendidikan Agama
    • 08.07.26
  • 42e1161e72ec8f17f03eca12b8c65c2e 6
    • Kabar Umat
    Ketua BAZNAS: Dunia Menanti Sistem Ekonomi Syariah sebagai Alternatif Kapitalisme
    • 08.07.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Taliban trump Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.