Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Sesungguhnya seorang Muslim yang sejati bukanlah seperti ekor atau orang yang hanya ikut-ikutan, yang berjalan mengikuti ke mana saja orang pergi dan mengambil dari mereka apa yang buruk maupun yang baik. Melainkan ia selalu melihat, merindukan, dan mengarahkan pandangannya kepada yang terbaik dari segala sesuatu. Allah Ta’ala telah memuji hamba-hamba-Nya yang mendapat petunjuk, berakal, dan yang mendapat kabar gembira, dengan berfirman:
وَالَّذِيْنَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوْتَ اَنْ يَّعْبُدُوْهَا وَاَنَابُوْٓا اِلَى اللّٰهِ لَهُمُ الْبُشْرٰىۚ فَبَشِّرْ عِبَادِۙ ١٧الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ هَدٰىهُمُ اللّٰهُ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمْ اُولُوا الْاَلْبَابِ ١٨
“Maka sampaikanlah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Az-Zumar: 17-18).
Demikianlah sikap seorang Muslim terhadap berbagai budaya dan peradaban. Ia mengambil yang terbaik darinya, menggabungkannya dengan apa yang ia miliki, lalu memberikan sentuhan jiwanya sehingga ia kehilangan identitas aslinya dan menjelma menjadi bagian dari sistem budaya Muslim.
Hubungannya dengan berbagai budaya ini mirip dengan lebah, yang bekerja berdasarkan petunjuk dan ilham dari Tuhannya. Ia berpindah di antara pohon-pohon dan bunga-bunga, memakan dari setiap buah yang baik, menempuh jalan-jalan yang telah dipermudah Tuhannya. Kemudian ia menghisap, mencerna, dan mengasimilasi apa yang dimakannya, lalu mengubahnya menjadi minuman (madu) yang keluar dari perutnya dalam berbagai warna, dan di dalamnya terdapat penyembuh bagi manusia.




