GAZA, 4 Februari 2026 – Sebanyak dua belas warga Palestina dilaporkan tewas dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan udara dan artileri Israel yang menyasar Kota Gaza dan Khan Yunis pada hari ini, Rabu (4/2). Sementara itu, upaya evakuasi dan repatriasi melalui Pos Lintas Rafah kembali menghadapi kendala besar yang diberlakukan oleh otoritas militer Israel.
Serangan Mematikan di Dua Kota Besar
Laporan langsung dari lapangan mengkonfirmasi bahwa korban jiwa berjatuhan di dua kota utama di Jalur Gaza akibat serangan intensif yang dilancarkan pasukan Israel. Serangan ini terjadi di tengah situasi yang sudah sangat tegang dan rentan, di mana korban sipil terus bertambah meskipun terdapat berbagai kesepakatan gencatan senjata. Identitas dan kondisi pasti para korban masih dalam proses verifikasi oleh pihak berwenang setempat.
Kemacetan dan Pembatasan di Pos Lintas Rafah
Di sisi lain, proses perlintasan manusia di Pos Lintas Rafah yang baru dibuka secara terbatas menghadapi hambatan signifikan. Meski dilaporkan sebanyak 40 warga Palestina berhasil kembali masuk ke Gaza melalui pos lintas tersebut pada hari ini, proses tersebut dikabarkan berjalan sangat lambat dan penuh dengan “rintangan dan kesulitan besar” yang diterapkan oleh tentara Israel.
Sumber-sumber lokal menyebutkan bahwa pihak Israel memberlakukan prosedur pemeriksaan yang sangat ketat dan rumit, yang secara efektif membatalkan atau menunda banyak koordinasi perjalanan yang telah dijadwalkan sebelumnya. Hal ini khususnya memengaruhi warga sipil, pasien kritis, dan para pengungsi yang sangat bergantung pada jalur ini untuk mendapatkan perawatan medis atau kembali ke rumah mereka.
Latar Belakang dan Konteks yang Berlarut
Krisis kemanusiaan di Gaza telah memasuki fase yang semakin kompleks. Pembukaan Pos Lintas Rafah beberapa hari lalu, yang diharapkan dapat menjadi katup pelepas bagi tekanan kemanusiaan, ternyata belum mampu beroperasi dengan kapasitas penuh akibat berbagai pembatasan keamanan. Di sisi lain, eskalasi militer seperti yang terjadi hari ini di Kota Gaza dan Khan Yunis terus mengikis stabilitas yang rapuh dan meningkatkan penderitaan penduduk sipil.
Kombinasi antara kekerasan yang terus berlanjut dan akses bantuan kemanusiaan yang terhambat ini semakin memperpanjang penderitaan sekitar 2,4 juta penduduk Gaza, yang sebagian besar merupakan pengungsi internal yang hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Sumber: Al Jazeera.





