Karakteristik Dakwah
Pertama: Rabbaniyyah (Bersumber dari Tuhan)
Imam berkata:
“Adapun karakter rabbaniyyah (ketuhanan) pada dakwah ini adalah karena fondasi yang mengitari seluruh tujuan kita adalah: agar manusia mengenal Tuhan mereka, dan agar mereka memperoleh dari limpahan hubungan ini spiritualitas yang mulia—yang menjunjung jiwa mereka dari kebekuan dan kemungkaran materi yang pekat menuju kesucian dan keindahan kemanusiaan yang utama.
Kami, Ikhwanul Muslimin, berseru dari lubuk hati kami: ‘Allah adalah tujuan kami’ (Allahu ghayatuna). Maka tujuan pertama dakwah ini adalah agar manusia kembali mengingat hubungan yang menghubungkan mereka dengan Allah Tabaraka wa Ta’ala.”[1]
Kedua: ‘Alamiyyah (Universal)
Imam berkata:
“Adapun karakter ‘alamiyyah (universal) pada dakwah ini adalah karena ia ditujukan kepada seluruh manusia. Karena manusia dalam pandangan dakwah ini adalah saudara: asal-usul mereka satu, bapak mereka satu, dan keturunan mereka satu.
Kami tidak percaya pada rasialisme kebangsaan, dan kami tidak mendukung fanatisme ras dan warna kulit. Namun kami menyerukan persaudaraan yang adil di antara seluruh anak manusia.”[2]
Ketiga: ‘Ilmiyyah (Berlandaskan Ilmu)
Imam berkata:
“Sebagaimana bangsa-bangsa membutuhkan kekuatan, mereka juga membutuhkan ilmu pengetahuan—yang mendukung kekuatan tersebut, mengarahkannya sebaik-baiknya, dan membekalinya dengan berbagai temuan dan penemuan yang diperlukan.
Islam tidak menolak ilmu, bahkan menjadikannya sebagai kewajiban sebagaimana kewajiban untuk memiliki kekuatan, dan Islam pun membelanya. Cukuplah bagimu bahwa ayat pertama yang turun dari Kitabullah adalah ‘Bacalah!’ (Iqra’).
Al-Qur’an tidak membedakan antara ilmu dunia dan ilmu agama, bahkan mewasiatkan keduanya sekaligus, mengumpulkan ilmu-ilmu alam dalam satu ayat, dan menjadikan penguasaan ilmu tersebut sebagai jalan menuju takwa kepada-Nya dan jalan untuk mengenal-Nya.”[3]
Keempat: Syumuliyyah (Menyeluruh)
Imam berkata:
“Sebagai konsekuensi dari pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap Islam di kalangan Ikhwanul Muslimin, gagasan mereka mencakup seluruh aspek perbaikan dalam umat. Seluruh elemen dari gagasan perbaikan lainnya tercermin di dalamnya. Setiap pembaharu yang tulus akan menemukan cita-citanya di dalamnya. Harapan para pecinta perbaikan yang mengenal dan memahami tujuan-tujuannya bertemu di sana.
Dan engkau dapat mengatakan—tanpa rasa keberatan—bahwa Ikhwanul Muslimin adalah:
Dakwah Salafiyah (karena menyerukan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah)
Thariqah Sunniyah (karena beramal dengan Sunnah)
Hakikat Sufiyah (karena memperhatikan kesucian jiwa)
Hai’ah Siyasiyah (organisasi politik)
Jama’ah Riyadhiyah (kelompok olahraga)
Rabithah ‘Ilmiyah Tsaqafiyah (ikatan ilmiah dan kultural)
Syirkah Iqtishadiyah (perusahaan ekonomi)
Fikrah Ijtima’iyyah (gagasan sosial)”[4]
Kelima: Tajarrud (Kemandirian/Eksklusivitas)
Imam berkata:
“Ini adalah dakwah yang tidak menerima sekutu, karena sifat dasarnya adalah kesatuan.
Barang siapa yang siap untuk itu, maka ia telah hidup bersama dakwah dan dakwah hidup bersamanya. Dan barangsiapa yang lemah memikul beban ini, maka ia akan kehilangan pahala para mujahid, akan menjadi bersama orang-orang yang tertinggal, akan duduk bersama orang-orang yang tidak berbuat, dan Allah akan menggantikan dakwah-Nya dengan kaum yang lain.”[5]
Keenam: I’tidal wa Al-Insyaf (Moderasi dan Keadilan)
Imam berkata:
“Islam yang dibangun di atas karakter moderat dan keadilan yang sempurna—tidak mungkin para pengikutnya menjadi penyebab tercerai-berainya kesatuan yang utuh. Sebaliknya, Islam justru memberikan kesatuan ini formula kesucian religius—setelah sebelumnya kesatuan itu hanya mengandalkan kekuatan dari naskah sipil (Piagam Madinah) semata.”[6]
Kedelapan hingga Keempat Belas
Kedelapan: Menghindari area-area perselisihan
Kesembilan: Menghindari dominasi tokoh-tokoh dan orang-orang besar
Kesepuluh: Menghindari partai-partai dan organisasi-organisasi (yang memecah belah)
Kesebelas: Memperhatikan pembinaan (tarbiyah) dan bertahap dalam langkah
Kedua belas: Mengutamakan sisi produktif dan praktis daripada propaganda dan pengumuman
Ketiga belas: Antusiasme yang kuat dari kalangan pemuda
Keempat belas: Cepatnya penyebaran di desa-desa dan kota-kota
Tujuan dan Sasaran
Pendahuluan
Dengan mencermati perkataan Imam Asy-Syahid (Imam Hasan Al-Banna)—semoga Allah merahmatinya—kita dapat mengatakan bahwa tujuan tertinggi, yaitu rida Allah, dalam pandangan beliau tidak akan tercapai kecuali dengan kerja sungguh-sungguh untuk menegakkan dakwah dan membela syariat.
Dalam hal ini, Imam berkata:
“Demikianlah Allah menghendaki kita untuk mewarisi beban berat ini, agar cahaya dakwah kalian bersinar di tengah kegelapan ini, dan agar Allah mempersiapkan kalian untuk meninggikan kalimat-Nya dan menampakkan syariat-Nya.” (Sumber: Risalah Baina Al-Ams wal Yaum)
Dan di tempat lain beliau berkata:
“Harapan kami adalah keridaan Allah. Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”[7]
Pembagian Tujuan
Kita akan membagi tujuan menjadi:
Ghayah (Tujuan akhir/visi strategis) – yang membentuk orientasi strategis proyek dakwah secara umum.
Ahdaf (Tujuan dalam arti luas) – yang membentuk batasan yang lebih rinci.
Tangga penyederhanaan – yang menyajikan urutan logis bidang-bidang tujuan.
Memahami tujuan secara mendalam dan urutannya adalah keniscayaan mendesak. Setiap ketidakjelasan dalam tujuan ini dan dialektika hubungan di antara mereka pasti akan mempengaruhi perencanaan, dan berpotensi menghamburkan upaya tanpa hasil, atau bahkan menghilangkan semangat terhadap proyek karena ketidakjelasan arah—yang pada akhirnya menghilangkan justifikasi gerakan dan aktivitas.
Ghayah (Tujuan Akhir)
Imam Asy-Syahid berkata:
“Ikhwanul Muslimin bekerja untuk dua tujuan:
Tujuan dekat (ghayah qaribah) – yang tujuannya tampak dan buahnya terlihat sejak hari pertama seseorang bergabung ke dalam jamaah, atau sejak jamaah Ikhwan tampil di medan amal publik.
Tujuan jauh (ghayah ba’idah) – yang di dalamnya diperlukan menunggu kesempatan, memberi waktu, persiapan yang baik, dan pembinaan yang mendahului.”[8]
Tujuan Dekat
Tujuan dekat adalah: berkontribusi dalam kebaikan umum—apa pun warna dan jenisnya—dan pelayanan sosial selama kondisi memungkinkan.
Ketika seorang saudara bergabung dengan Ikhwan, ia dituntut untuk:
Membersihkan dirinya
Meluruskan perilakunya
Mempersiapkan ruh, akal, dan tubuhnya untuk perjuangan panjang yang menantinya di masa depan.
Kemudian ia dituntut untuk menyebarkan ruh ini dalam keluarganya, teman-temannya, dan lingkungannya.
Seseorang belum menjadi muslim sejati hingga ia menerapkan hukum-hukum Islam dan akhlak Islam pada dirinya sendiri, dan berhenti pada batasan perintah dan larangan yang dibawa oleh Rasulullah ﷺ dari Tuhannya.
Allah berfirman:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا * فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا * قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
*Artinya: “Demi jiwa dan penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams [91]: 7-10)*
Apakah ini semua yang diinginkan Ikhwanul Muslimin? Apakah mereka mempersiapkan diri dan membiasakan diri hanya untuk ini?
Tidak, wahai saudara-saudara. Ini bukanlah semua yang kami inginkan. Ini adalah sebagian dari apa yang kami inginkan—dalam rangka mencari keridaan Allah. Ini adalah tujuan dekat: menghabiskan waktu dalam ketaatan dan kebaikan hingga saat yang tepat tiba dan waktu bekerja untuk perbaikan menyeluruh yang dicita-citakan tiba.
Tujuan Jauh (Tujuan Utama)
Tujuan dasar Ikhwanul Muslimin… Tujuan tertinggi Ikhwan… Perbaikan yang diinginkan Ikhwan dan yang mereka persiapkan diri untuknya… adalah perbaikan yang menyeluruh dan sempurna, yang di dalamnya seluruh kekuatan umat bekerja sama dan seluruh umat mengarah kepadanya, yang mencakup seluruh kondisi yang ada dengan perubahan dan penggantian (taghyir wa tabdil).
Imam berkata:
“Ikhwanul Muslimin bekerja agar sistem diperkuat oleh para penguasa, dan agar negara Islam hidup kembali.”[9]
Sistem Bertahap Menurut Imam Hasan Al-Banna
Setelah memaparkan tujuan dekat dengan manifestasinya dalam praktik, dan menjelaskan tujuan jauh yang menjadi fondasi berdirinya gerakan berkah ini serta garis yang ia persiapkan untuk dirinya sendiri, kita dapat melihat sistematika Imam berikut dan menyikapinya:
Al-Fard Al-Muslim (Individu Muslim)
Al-Bait Al-Muslim (Rumah Tangga Muslim)
Asy-Sya’b Al-Muslim (Masyarakat Muslim)
Al-Hukumat Al-Muslimah (Pemerintahan Muslim)
Al-Khilafah (Kekhalifahan)
Al-Ustadziyyah (Kepemimpinan Global – Kepemimpinan Umat Manusia)
Dalam hal ini, Imam Asy-Syahid berkata:
“Sungguh, manhaj Ikhwanul Muslimin terbatas tahapannya dan jelas langkah-langkahnya.
Kami sungguh tahu persis apa yang kami inginkan, dan kami tahu cara mewujudkan pengelolaan ini.
Kami inginkan pertama: individu muslim.
Kemudian setelah itu: rumah tangga muslim.
Kemudian setelah itu: masyarakat muslim.
Kemudian setelah itu: pemerintahan muslim.
Kemudian setelah itu: setiap bagian dari tanah air Islam kami bergabung dengan kami.
Kemudian setelah itu: kami kibarkan panji Allah berkibar tinggi di atas wilayah-wilayah itu.
Kemudian setelah itu—dan bersamaan dengannya—kami umumkan dakwah kami ke seluruh dunia, kami sampaikan kepada seluruh manusia, dan kami sebarkan ke seluruh penjuru bumi.”[10]
Ringkasan
Berdasarkan pembagian awal Imam, tujuan di atas dapat dibagi sebagai berikut:
| Tujuan Dekat (Ghayah Qaribah) | Tujuan Jauh (Ghayah Ba’idah) |
|---|---|
| Individu Muslim | Pemerintahan Muslim |
| Rumah Tangga Muslim | Kekhalifahan |
| Masyarakat Muslim | Kedaulatan (Siyadah) |
| Kepemimpinan Global (Ustadziyyah) |
Amanat Terakhir: Dua Tujuan Dasar
Dalam “Risalah Perpisahan” (Risalah Baina Al-Ams wal Yaum)—risalah yang ditulisnya ketika beliau menduga akan dipisahkan dari jamaah—Imam menuliskan dengan sangat jelas apa yang menurutnya paling penting untuk difokuskan oleh jamaah sebagai tujuan. Beliau berkata:
“Tetapi ingatlah selalu bahwa kalian memiliki dua tujuan dasar:
Terbebasnya tanah air Islam dari segala penjajahan asing.
Dan berdirinya negara Islam yang merdeka di atas tanah air yang merdeka ini.”[11]
Seberapa Luas Ruang Lingkup Perubahan yang Diinginkan?
Apakah perubahan terbatas pada satu negeri tertentu? Apakah ia mencakup seluruh negeri?
Imam Asy-Syahid menjawab:
“Kami ingin mewujudkan kedua tujuan ini:
Di Lembah Nil (Mesir)
Di negeri-negeri Arab
Dan di setiap bumi yang diberkahi Allah dengan akidah Islam.”[12]
Catatan Kaki:
[1] – [12] Kumpulan pernyataan Imam Hasan Al-Banna dari berbagai sumber, terutama Majmu’ah ar-Rasa’il.
Sumber: Tarbiyaa




