Al-Manawi’ berkata, “Al-Uswah (keteladanan) adalah kondisi di mana seseorang diikuti oleh orang lain, apakah perilakunya baik atau buruk, mendatangkan keuntungan atau petaka.”Dalam menafsirkan firman Allah,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia.” (Al-Mumtahanah: 4)
Syeikh Muhammad Amin Asy-Syinqithi berkata bahwa Al-Uswah sama maknanya dengan Al-Qudwah, yang berarti mengikuti orang lain dengan segala sifat, akhlak, dan perilaku yang ia miliki, baik atau buruk.
Al-Qurthubi berkata, “Ulama berbeda pendapat tentang keteladanan pada diri Rasulullah saw., pertama, apakah uswah itu wajib sehingga ada dalil yang menyunnahkannya, dan kedua, apakah dia sunnah sehingga ada dalil yang mewajibkannya. Dan, kemungkinan juga bermakna wajib dalam urusan agama dan sunnah dalam perkara dunia.”
Seorang manusia harus memiliki uswah yang riil dan figur yang kuat. Kita takkan mampu menundukkan hati seseorang, kecuali setelah ia menyaksikan contoh keteladanan yang menarik dan memikat hatinya.
Manusia akan merasa gentar terhadap kekuatan, namun ia sangat menghargai kepahlawanan. Makna-makna yang indah akan menarik seluruh hatinya dan mengalir dalam jiwanya. Membangunkan perasaannya dan akan terbuka lebar pandangan matanya terhadap makna kebenaran yang tampak di hadapannya. Derajat tertinggi dari kekuatan adalah kekuatan terhadap kebenaran, menyeru manusia untuk menuju pada kebenaran dan bersabar di atas jalannya.
Andai bukan karena Rasulullah saw., niscaya takkan ada sahabat-sahabat beliau yang seperti itu. Dan, andai bukan karena mereka, maka takkan ada manusia-manusia teladan sesudahnya yang menjadikan mereka sebagai contoh keteladanan. Andai bukan karena kemenangan yang diraih Rasulullah saw. bersama sahabat-sahabatnya, niscaya manusia takkan datang bergelombang untuk masuk ke dalam agama ini.
Tak ada unsur materi yang terkait dengan hal ini, tapi justru kekuatan materilah yang akhirnya tunduk di bawah superioritas kebenaran. Kebaikan itu akhirnya merebak secara merata bersama dengan diutusnya Muhammad saw., sebagai Rasul akhir zaman yang datang mengubah lembar sejarah manusia. Semuanya menjadi tuntas melalui tangan beliau dan sahabat-sahabatnya yang berjuang bersamanya. Mereka adalah unsur yang bekerja dan merealisasikan program-program dakwah, sementara wahyu Ilahi adalah unsur pertama yang diterima oleh Rasulullah saw. dari Dzat yang Maha Mencipta, Allah Azza wa Jalla dan kemudian disampaikannya kepada para sahabatnya.
Wahyu Ilahi ini adalah seruan untuk menghancurkan belenggu-belenggu Jahiliyah dan perantara munculnya kekuatan besar itu adalah Muhammad saw. Sementara para sahabatnya adalah contoh kebenaran dan kekuatan yang saling bergandengan untuk menghancurkan belenggu-belenggu itu. Menyeru manusia agar mereka mengeluarkan diri mereka dari belenggu kezaliman
Tak ada jalan lain bagi kaum Muslimin, kecuali jalan ini. Pilihan generasi perintis yang mengikuti jalan yang dilalui Muhammad bersama sahabat-sahabatnya. Sehasta demi sehasta, selangkah demi selangkah, dalam keadaan sembunyi dan terang-terangan. Mereka mengikutinya dalam beribadah, berpikir, berperang, menata jamaah, berpolitik, berdakwah dengan penuh keberanian dan hikmah.
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمَا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ، ذَلِكُمْ وَصَنَكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa.” (Al-An’am: 153)
Sesungguhnya Muhammad saw. tidak diutus untuk memperbaiki sistem perekonomian, akhlak, kesehatan, politik, manajemen atau ilmu pengetahuan saja. Akan tetapi, beliau diutus untuk memperbaiki iman manusia dan menyeru mereka mengesakan Allah. Setelah unsur keimanan itu menjadi baik, maka lahirlah segala bentuk kebaikan dan kekuatan darinya.
Lelaki dengan kekuatan aqidah yang bersemayam dalam dadanya, adalah unsur paling utama yang dapat melakukan terapi terhadap berbagai bentuk penyimpangan yang terjadi di atas muka bumi ini. Lelaki aqidah adalah bekal terbesar yang dapat kita persembahkan untuk menyelamatkan aqidah manusia dari kesesatan.
Beberapa Jenis Keteladanan :
Syeikh Shalih bin Hamid menyebutkan bahwa uswah (keteladanan) mengandung dua sisi pada diri manusia, yakni kebaikan dan keburukan Kebaikan diperoleh dengan mengikuti pelaku baik dan keutamaan yang terkait dengan perkara yang baik serta utama. Sementara keburukan adalah berjalan di atas jalan yang hina, mengikuti, dan meneladani pelaku keburukan tanpa ilmu sedikit pun.
Urgensi Keteladanan :
Sementara itu, keteladanan dapat meliputi hal-hal berikut ini:
1) Keteladanan yang hidup dan sampai pada batas kesempurnaan akan berpengaruh besar pada diri orang yang menyaksikannya, menciptakan kekaguman, penghargaan, dan cinta.
2) Al-Qudwah Al-Hasanah (contoh yang baik) akan menciptakan ata padanya. ketenangan dalam jiwa orang lain dan untuk mencapai akhlak yang mulia serta keutamaan seperti itu adalah sesuatu yang memungkinkan.
3) Orang-orang yang melihat keteladanan pada diri seseorang akan memandangnya dengan antusias, jeli, dan penuh perhatian, tanpa ia ketahui.
Ada tiga dasar keteladanan, yaitu Pertama, kebaikan, yang bersumber dari 3 pilar utama: keimanan, ibadah, dan keihklasan, kedua, akhlak yang baik, dan ketiga, adanya kesesuaian antara kata dan perbuatan.
Bukti-bukti Konkret Tentang Keteladanan
Para sahabat telah memperlihatkan contoh yang sangat indah pada kemuliaan akhlak mereka. Dan, di atas semua itu adalah pemimpin dan teladan kita Muhammad saw. Kita juga menyaksikan keteladanan itu pada diri Imam Ahmad dalam kasus khalqul Qur’an (Al-Qur’an adalah makhluk). Demikian juga para ulama yang telah berkarya pada sepanjang sejarah kehidupan manusia.
Sumber : Kekuatan Sang Murabbi, Prof. Dr. Taufik Yusuf Al-Wa’iy, Al-Itishom Cahaya umat, 2003 Halaman 22 -25.





