RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,048)
  • Akhlak (134)
  • Al-Qur'an (78)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (191)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (11)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (198)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (136)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Al-Qur'an
  • Aqidah
  • Wasathiyah

Iman Melahirkan Harapan

  • 31-03-2026
  • No comments
Sw2

Dr. Yusuf Qaradhawi

Iman dan harapan adalah dua hal yang saling terkait. Seorang mukmin adalah manusia yang paling luas harapannya, paling optimis dan penuh keyakinan, serta paling jauh dari pesimisme, kebosanan, dan kejengkelan. Karena iman berarti keyakinan akan adanya kekuatan Yang Maha Tinggi yang mengatur alam semesta ini, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya, dan tidak ada sesuatu pun yang melemahkan-Nya. Keyakinan akan kekuatan yang tak terbatas, rahmat yang tak bertepi, dan kemurahan yang tak terhingga. Keyakinan akan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, yang mengabulkan doa orang yang dalam kesulitan, yang menghilangkan kesusahan, yang memberi karunia yang melimpah, yang mengampuni dosa-dosa, yang menerima tobat hamba-hamba-Nya, dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan. Tuhan yang lebih penyayang kepada hamba-hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya, dan lebih baik kepada makhluk-Nya daripada mereka terhadap diri mereka sendiri.

Tuhan yang membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertobat, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertobat.

Tuhan yang bergembira dengan tobat hamba-Nya melebihi kegembiraan orang yang kehilangan lalu menemukan, orang yang jauh lalu kembali, dan orang yang haus lalu mendapatkan air.

Tuhan yang membalas kebaikan dengan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat atau lebih, dan membalas kejahatan dengan yang setimpal atau memaafkannya.

Tuhan yang menyeru orang yang berpaling dari-Nya dari dekat, dan menyambut orang yang mendekat kepada-Nya dari jauh. Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي، إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Aku sesuai dengan persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam suatu kumpulan, Aku mengingatnya dalam kumpulan yang lebih baik dari mereka. Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan, Aku datang kepadanya dengan berlari.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tuhan yang mempergilirkan masa di antara manusia. Dia mengubah ketakutan menjadi keamanan, kelemahan menjadi kekuatan, dan menjadikan setiap kesempitan kelapangan, setiap kesusahan jalan keluar, dan bersama setiap kesulitan ada kemudahan.

Seorang mukmin yang berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, Pemilik Arasy yang mulia, Yang Maha Kuasa melakukan apa yang dikehendaki-Nya—hidup dalam harapan yang tak terbatas, dalam pengharapan yang tak pernah putus. Ia selalu optimis, memandang kehidupan dengan wajah yang tersenyum, dan menyambut peristiwa-peristiwanya dengan bibir yang merekah, bukan dengan wajah yang cemberut dan masam.

Ketika ia berperang, ia yakin akan kemenangan. Karena ia bersama Allah, maka Allah bersamanya. Karena ia milik Allah, maka Allah juga untuknya.

إِنَّهُمْ لَهُمُ ٱلْمَنصُورُونَ * وَإِنَّ جُندَنَا لَهُمُ ٱلْغَـٰلِبُونَ

“Sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Dan sesungguhnya tentara Kami, mereka itulah yang pasti menang.” (QS. Ash-Shaffat: 172-173)

Ketika ia sakit, harapannya akan kesembuhan tak pernah putus.

ٱلَّذِى خَلَقَنِى فَهُوَ يَهْدِينِ * وَٱلَّذِى هُوَ يُطْعِمُنِى وَيَسْقِينِ * وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

“Yaitu Tuhanku yang menciptakan aku, maka Dialah yang memberi petunjuk kepadaku, dan Tuhanku yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (QS. Asy-Syu’ara’: 78-80)

Ketika ia melakukan dosa, ia tidak berputus asa dari ampunan. Sebesar apa pun dosanya, ampunan Allah jauh lebih besar.

۞ قُلْ يَـٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

“Katakanlah: ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53)

Ketika ia dalam kesempitan, ia tetap mengharap kemudahan.

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا

“Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Kesulitan tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan. Ibnu Mas’ud berkata: “Seandainya kesulitan masuk ke dalam lubang, pasti kemudahan akan mengikutinya.”

Ketika musibah menimpanya, ia berharap kepada Allah agar diberi pahala atas musibahnya dan diganti dengan yang lebih baik.

ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَـٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌۭ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ * أُو۟لَـٰٓئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَٰتٌۭ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌۭ ۖ وَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُهْتَدُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali.’ Mereka itulah yang mendapat salawat dari Tuhan mereka dan rahmat. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 156-157)

Ketika ia bermusuhan atau membenci, ia tetap dekat dengan sikap menjalin hubungan dan perdamaian, mengharapkan kejernihan dan kerukunan, serta meyakini bahwa Allah mampu mengubah hati.

عَسَى ٱللَّهُ أَن يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ ٱلَّذِينَ عَادَيْتُم مِّنْهُم مَّوَدَّةًۭ ۚ وَٱللَّهُ قَدِيرٌۭ ۚ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan rasa kasih sayang antara kamu dan orang-orang yang selama ini kamu musuhi di antara mereka. Allah Maha Kuasa. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Mumtahanah: 7)

Ketika ia melihat kebatilan tegak di saat kebenaran lengah, ia yakin bahwa kebatilan akan lenyap dan kebenaran akan muncul serta menang.

بَلْ نَقْذِفُ بِٱلْحَقِّ عَلَى ٱلْبَـٰطِلِ فَيَدْمَغُهُۥ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌۭ

“Sebaliknya, Kami melemparkan kebenaran kepada kebatilan, maka kebenaran itu menghancurkannya, maka seketika itu kebatilan lenyap.” (QS. Al-Anbiya’: 18)

فَأَمَّا ٱلزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَآءًۭ ۖ وَأَمَّا مَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ فَيَمْكُثُ فِى ٱلْأَرْضِ

“Adapun buih, ia akan hilang sebagai sesuatu yang tidak berguna. Adapun yang bermanfaat bagi manusia, maka ia tetap di bumi.” (QS. Ar-Ra’d: 17)

Ketika usia lanjut menjemputnya dan uban telah memenuhi kepalanya, ia tetap mengharapkan kehidupan lain yang di dalamnya ada masa muda tanpa ketuaan, kehidupan tanpa kematian, dan kebahagiaan tanpa kesengsaraan.

جَنَّـٰتُ عَدْنٍ ٱلَّتِى وَعَدَ ٱلرَّحْمَـٰنُ عِبَادَهُۥ بِٱلْغَيْبِ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ وَعْدُهُۥ مَأْتِيًّۭا * لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَـٰمًۭا ۖ وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةًۭ وَعَشِيًّۭا

“(Yaitu) surga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pengasih kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun mereka tidak melihatnya. Sungguh, janji-Nya pasti akan ditepati. Di dalamnya mereka tidak mendengar perkataan yang sia-sia, kecuali ucapan salam. Dan di dalamnya mereka memperoleh rezeki mereka pada pagi dan petang hari.” (QS. Maryam: 61-62)

Kaum materialis hanya berpegang pada sunnah-sunnah yang biasa berlaku dan sebab-sebab yang tampak. Mereka tidak mengharapkan sesuatu di balik itu. Adapun orang-orang mukmin, mereka melampaui hal-hal yang tampak dari sebab-sebab, dan menembus rahasia eksistensi, menuju Allah, Pencipta sebab dan akibat. Dialah yang memiliki sebab-sebab batin yang tersembunyi dari pemahaman hamba-hamba-Nya. Maka mengapa hati mereka tidak tertuju kepada-Nya ketika krisis melanda, kesulitan semakin rumit, dan tekanan semakin menyempit?

Mereka menemukan pada-Nya tempat berlindung di saat kesulitan, teman di saat kesendirian, dan penolong di saat jumlah mereka sedikit. Orang sakit yang penyakitnya tidak dapat disembuhkan oleh para dokter, ia menghadap kepada-Nya dan berdoa dengan penuh harap akan kesembuhan.

Orang yang ditimpa kesusahan menghadap kepada-Nya, memohon kesabaran dan keridaan, serta ganti dari setiap yang hilang dan kompensasi dari setiap yang lenyap.

Orang yang terzalimi menghadap kepada-Nya, penuh harap akan datangnya hari di mana ia menang atas orang yang menzaliminya, karena tidak ada tabir antara doa orang terzalimi dengan Allah.

Orang yang belum dikaruniai anak menghadap kepada-Nya, memohon agar dikaruniai keturunan yang saleh.

Masing-masing dari mereka berharap doanya dikabulkan dan apa yang ia cita-citakan terwujud. Hal itu tidaklah sulit bagi kekuasaan Allah, dan tidaklah mustahil bagi Allah.

Ibrahim memohon keturunan di usianya yang sudah sangat tua:

رَبِّ هَبْ لِى مِنَ ٱلصَّـٰلِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh.” (QS. Ash-Shaffat: 100)

Allah mengabulkannya dan mengutus malaikat kepadanya dalam wujud tamu manusia, seraya berkata:

إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَـٰمٍ عَلِيمٍۢ * قَالَ أَبَشَّرْتُمُونِى عَلَىٰٓ أَن مَّسَّنِىَ ٱلْكِبَرُ فَبِمَ تُبَشِّرُونَ * قَالُوا۟ بَشَّرْنَـٰكَ بِٱلْحَقِّ فَلَا تَكُن مِّنَ ٱلْقَـٰنِطِينَ * قَالَ وَمَن يَقْنَطُ مِن رَّحْمَةِ رَبِّهِۦٓ إِلَّا ٱلضَّآلُّونَ

“Sesungguhnya kami memberi kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) seorang anak laki-laki yang berilmu. Dia berkata: ‘Apakah kamu memberi kabar gembira kepadaku padahal usiaku telah lanjut, lalu dengan apa (cara) kamu memberi kabar gembira ini?’ Mereka menjawab: ‘Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang berputus asa.’ Dia berkata: ‘Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang yang sesat.'” (QS. Al-Hijr: 53-56)

Ibrahim kemudian memuji Tuhannya:

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى وَهَبَ لِى عَلَى ٱلْكِبَرِ إِسْمَـٰعِيلَ وَإِسْحَـٰقَ ۚ إِنَّ رَبِّى لَسَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibrahim: 39)

Ya’qub, setelah putranya Yusuf lama tak terlihat dan jarak waktu semakin jauh, mestinya ia kehilangan harapan untuk bertemu kembali. Kemudian ia kembali diuji dengan ditahannya saudara Yusuf dalam peristiwa kehilangan piala raja. Namun, meskipun demikian, keputusasaan tidak merasuk ke dalam hatinya. Ia justru berkata:

فَصَبْرٌۭ جَمِيلٌ ۖ عَسَى ٱللَّهُ أَن يَأْتِيَنِى بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

“Maka kesabaran yang baik itulah. Semoga Allah mendatangkan mereka semua kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. Yusuf: 83)

Ketika anak-anaknya melihat betapa ia sedih karena Yusuf, mereka berkata:

تَٱللَّهِ تَفْتَؤُا۟ تَذْكُرُ يُوسُفَ حَتَّىٰ تَكُونَ حَرَضًا أَوْ تَكُونَ مِنَ ٱلْهَـٰلِكِينَ * قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf, sehingga engkau menjadi sangat tua atau termasuk orang yang binasa.” Ia menjawab: “Sesungguhnya aku hanya mengadukan kesusahan dan kesedihanku kepada Allah, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Yusuf: 85-86)

Kemudian ia ungkapkan kepada anak-anaknya hakikat harapan indah yang bersemayam dalam dirinya, yang diperkuat oleh keyakinannya kepada Allah bahwa Dia akan mempertemukannya kembali dengan putra-putranya:

يَـٰبَنِىَّ ٱذْهَبُوا۟ فَتَحَسَّسُوا۟ مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَا۟يْـَٔسُوا۟ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ ۖ إِنَّهُۥ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِن رَّوْحِ ٱللَّهِ إِلَّا ٱلْقَوْمُ ٱلْكَـٰفِرُونَ

“Wahai anak-anakku, pergilah, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya. Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

Allah berfirman tentang Zakaria:

رَحْمَتَ رَبِّكَ زَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ نِدَآءً خَفِيًّۭا * قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًۭا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّۭا * وَإِنِّى خِفْتُ ٱلْمَوَٰلِىَ مِن وَرَآءِى وَكَانَتِ ٱمْرَأَتِى عَاقِرًۭا فَهَبْ لِى مِن لَّدُنكَ وَلِيًّۭا * يَرِثُنِى وَيَرِثُ مِنْ ءَالِ يَعْقُوبَ ۖ وَٱجْعَلْهُ رَبِّ رَضِيًّۭا

“(Yaitu) rahmat Tuhanmu yang diberikan kepada hamba-Nya, Zakaria, ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeninggalku, padahal istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah kepadaku seorang anak dari sisi-Mu, yang akan mewarisi aku dan mewarisi dari keluarga Ya’qub, dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridai.'” (QS. Maryam: 2-6)

Maka langit mengabulkan:

يَـٰزَكَرِيَّآ إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَـٰمٍ ٱسْمُهُۥ يَحْيَىٰ لَمْ نَجْعَل لَّهُۥ مِن قَبْلُ سَمِيًّۭا

“Wahai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan seorang anak laki-laki yang namanya Yahya. Kami belum pernah memberikan nama itu kepada siapa pun sebelumnya.” (QS. Maryam: 7)

Allah juga berfirman tentang Ayub:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ * فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ فَكَشَفْنَا مَا بِهِۦ مِن ضُرٍّۢ ۖ وَءَاتَيْنَـٰهُ أَهْلَهُۥ وَمِثْلَهُم مَّعَهُمْ رَحْمَةًۭ مِّنْ عِندِنَا وَذِكْرَىٰ لِلْعَـٰبِدِينَ

“Dan (kisah) Ayub, ketika ia berdoa kepada Tuhannya: ‘Sungguh, aku ditimpa penyakit, padahal Engkau Yang Maha Penyayang di antara para penyayang.’ Maka Kami kabulkan (doa)nya, lalu Kami hilangkan penyakit yang menimpanya, dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipatgandakan (jumlah mereka) sebagai rahmat dari sisi Kami dan sebagai peringatan bagi semua yang beribadah kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya’: 83-84)

Yunus ditelan oleh ikan besar:

وَذَا ٱلنُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَـٰضِبًۭا فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِى ٱلظُّلُمَـٰتِ أَن لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبْحَـٰنَكَ إِنِّى كُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ * فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَنَجَّيْنَـٰهُ مِنَ ٱلْغَمِّ ۚ وَكَذَٰلِكَ نُۨجِى ٱلْمُؤْمِنِينَ

“Maka ia berdoa dalam kegelapan yang berlapis-lapis: ‘Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.’ Maka Kami kabulkan (doa)nya dan Kami selamatkan dia dari kesusahan. Demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anbiya’: 87-88)

Musa, ketika membawa kaumnya berjalan di malam hari untuk menyelamatkan mereka dari Fir’aun dan bala tentaranya, Fir’aun mengetahui perjalanan malam itu dan mengerahkan pasukannya untuk mengejar mereka.

فَأَتْبَعُوهُم مُّشْرِقِينَ * فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَـٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ

“Maka mereka mengejar mereka pada waktu matahari terbit. Setelah kedua kelompok itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita pasti akan tersusul.'” (QS. Asy-Syu’ara’: 60-61)

Keadaan yang lebih terdesak dari ini? Laut di depan, musuh di belakang! Namun Musa tidak gentar dan tidak putus asa. Ia berkata:

كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ

“Sekali-kali tidak. Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu’ara’: 62)

Harapannya tidak sia-sia.

فَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰ مُوسَىٰٓ أَنِ ٱضْرِب بِّعَصَاكَ ٱلْبَحْرَ ۖ فَٱنفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍۢ كَٱلطَّوْدِ ٱلْعَظِيمِ * وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ ٱلْـَٔاخَرِينَ * وَأَنجَيْنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجْمَعِينَ * ثُمَّ أَغْرَقْنَا ٱلْـَٔاخَرِينَ * إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةًۭ ۖ وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُم مُّؤْمِنِينَ

“Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukulkan tongkatmu ke laut.’ Maka terbelahlah laut itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar. Dan Kami dekatkan (Fir’aun dan pengikutnya) ke sana, dan Kami selamatkan Musa dan semua orang yang bersamanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda (kekuasaan Allah)…” (QS. Asy-Syu’ara’: 63-67)

Muhammad berlindung di Gua Tsur dalam perjalanan hijrahnya bersama sahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Kaum musyrik mengikuti jejak kaki mereka. Pelacak mereka berkata: “Muhammad tidak lebih dari tempat ini… Entah ia naik ke langit dari sini, atau turun ke bumi dari sini.” Ketakutan Abu Bakar terhadap pemilik dakwah dan penutup para nabi semakin menjadi. Ia menangis dan berkata: “Seandainya salah seorang dari mereka melihat ke bawah kakinya, pasti mereka akan melihat kita.” Nabi berkata kepadanya: “Bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang Allah adalah yang ketiga di antara mereka?” Maka akhirnya adalah seperti yang disebutkan Al-Qur’an:

إِلَّا تَنصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ ٱللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ثَانِىَ ٱثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِى ٱلْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَـٰحِبِهِۦ لَا تَحْزَنْ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنزَلَ ٱللَّهُ سَكِينَتَهُۥ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُۥ بِجُنُودٍۢ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلسُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ ٱللَّهِ هِىَ ٱلْعُلْيَا ۗ وَٱللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), maka sungguh, Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); dia adalah salah satu dari dua orang ketika mereka berdua berada dalam gua, ketika ia berkata kepada sahabatnya: ‘Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan kepada-Nya dan membantunya dengan bala tentara yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan (agama) orang-orang kafir itulah yang rendah, dan seruan (agama) Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. At-Taubah: 40)

Inilah peristiwa-peristiwa yang diketahui oleh sejarah yang tidak diragukan lagi. Kaum materialis mungkin mengingkari sebagian atau seluruhnya, karena peristiwa-peristiwa itu keluar dari kebiasaan sebab-sebab yang biasa dikenal manusia. Namun, orang-orang mukmin yakin bahwa sebab-sebab yang biasa tidak membatasi kekuasaan mutlak Allah, dan keberlangsungan sebab-sebab itu bukanlah keharusan akal yang tidak dapat berubah. Jika para ilmuwan dan penemu hanya terpaku pada apa yang biasa dilakukan manusia dan apa yang lazim di zaman mereka, niscaya ilmu pengetahuan tidak akan maju selangkah pun, dan kita tidak akan mencapai era atom dan angkasa.

Sumber: Al-Iman wa al-Hayah (Iman dan Kehidupan) oleh Yang Mulia Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi.

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Anda Mungkin Juga Menyukai
1ts5ut2buv8ks0k4so 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Antara Asap Perang dan Harapan Fajar – Pembacaan Atas Pemandangan Dunia dari Teheran hingga Gaza

1ryknkc3gta8wc8cwo 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Kesetaraan Antara Laki-laki dan Perempuan… Sebuah Pandangan Islam

4r2zb29z5ksg84s08w 800xauto
View Post
  • Aqidah
  • Wasathiyah

Renungan Ketuhanan dan Sentuhan Keimanan

2ph6xu3mz0sgoc0g08 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Menghormati Kehendak Umat

4e60a
View Post
  • Akhlak
  • Aqidah

Ikhlas Diperlukan Untuk Kebaikan Hidup

Dome putra mosque malaysia sunset 181624
View Post
  • Akhlak
  • Al-Qur'an

Allah Azza wa Jalla Menggambarkan Rasul-Nya sebagai Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • B3ab3af1 ef5c 4d5a 8a78 8dd805f34ab6 1
    • Wasathiyah
    Realisme Islam dan Realitas Manusia
    • 14.05.26
  • Bd9a91537ef1d32e154e95cc9ea5354f 2
    • Kabar Umat
    Jelang Wukuf di Arafah, KH Kafabihi Machrus Ingatkan Jamaah: Jaga Adab, Hemat Tenaga, dan Fokus pada Rukun Haji
    • 14.05.26
  • Ap 69fb9d51c56b9 3
    • Akhbar Dauliyah
    Empat Syahid dalam Serangan Israel di Gaza Utara
    • 15.05.26
  • Syaikh yusuf qardhawi membela fitrah pertemuan lakilaki dan perempuan xzl 4
    • Wasathiyah
    Pengaruh Dr. Yusuf Al-Qardhawi dalam Pemikiran Islam Kontemporer
    • 15.05.26
  • Images (10) 5
    • Wasathiyah
    Perumusan Misi Dakwah dan Tujuannya oleh Al-Banna (Bagian 2)
    • 15.05.26
  • 1714531601008 6
    • Fiqih
    Sedekah Sunnah Terbaik saat Musim Qurban adalah Qurban
    • 15.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.