RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,063)
  • Akhlak (135)
  • Al-Qur'an (80)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (444)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (12)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (199)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (138)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Al-Qur'an

Membaca Pandangan Para Penentang Tafsir Ilmiah Al-Qur’an

  • 05-05-2026
  • No comments
Jj4

Oleh: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

Di zaman kita saat ini, dikenal sebuah corak tafsir baru yang disebut “tafsir ilmiah Al-Qur’an”. Yang dimaksud dengan tafsir ini adalah penafsiran yang menggunakan ilmu-ilmu alam modern, baik fakta-fakta maupun teori-teorinya, untuk menjelaskan tujuan-tujuan Al-Qur’an dan memperjelas makna-maknanya. Para ilmuwan alam dan fisika pada umumnya peduli dengan corak tafsir ini dan bersemangat terhadapnya, sementara mereka bukanlah dari kalangan ulama agama dan syariat.

Ulama agama dan syariat berbeda pendapat di antara mereka mengenai kebolehan corak tafsir ini dan sejauh mana legitimasinya. Pada tahun 1950-an, terjadi perdebatan sengit di halaman-halaman surat kabar Mesir antara dua kelompok ulama agama tentang isu ini. Saya perkirakan perselisihan mengenai hal ini masih terus berlangsung hingga hari ini, antara pihak yang mendukung pendapat ini dan pihak yang menentangnya. Sebelum itu, kita dapati di antara para ulama besar, peneliti, dan ahli hadis, terdapat yang mendukung maupun yang menentang, meskipun para penentang lebih banyak jumlahnya.

Penentangan Syekh Syaltut

Di antara para penentang, kita dapati Imam Besar Mahmud Syaltut –semoga Allah merahmatinya– yang mengingkari dalam mukadimah tafsirnya terhadap sekelompok intelektual yang mengambil sedikit dari ilmu pengetahuan modern, lalu beralih atau menimba sedikit dari teori-teori ilmiah, filosofis, dan lainnya, kemudian mereka mulai mendasarkan pada budaya modern mereka dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengannya. Syekh berkata tentang mereka:

“Mereka melihat ke dalam Al-Qur’an, lalu mendapati bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: ‘Tidak pernah Kami lalai di dalam Kitab dari sesuatu apa pun’, lalu mereka menakwilkannya dengan cara yang menghiasi pandangan mereka untuk membuka pintu penafsiran baru dalam Al-Qur’an. Maka mereka menafsirkannya berdasarkan teori-teori ilmiah modern, dan menerapkan ayat-ayat-Nya pada kaidah-kaidah ilmu alam yang mereka temui. Mereka mengira bahwa dengan demikian mereka telah melayani Al-Qur’an, meninggikan martabat Islam, dan mengadakan dakwah yang paling efektif untuknya di kalangan ilmiah dan budaya.

Mereka memandang Al-Qur’an atas dasar ini, sehingga hal itu merusak hubungan mereka dengan Al-Qur’an, dan menjerumuskan mereka pada pola pikir yang tidak dikehendaki Al-Qur’an, serta tidak sesuai dengan tujuan yang karenanya Allah menurunkannya.

Pandangan terhadap Al-Qur’an ini keliru tanpa keraguan; karena Allah tidak menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi kitab di mana Dia berbicara kepada manusia tentang teori-teori ilmiah, seluk-beluk seni, dan berbagai jenis pengetahuan.

Dan ini keliru karena ia menjadikan Al-Qur’an berputar-putar mengikuti permasalahan-permasalahan ilmu pengetahuan di setiap waktu dan tempat, sementara ilmu pengetahuan tidak mengenal kestabilan, ketetapan, atau pendapat final. Bisa jadi apa yang benar di mata seorang ilmuwan hari ini, besok menjadi bagian dari khurafat.

Seandainya kita menerapkan Al-Qur’an pada permasalahan-permasalahan ilmiah yang berubah-ubah ini, niscaya kita akan menjadikannya berubah-ubah bersamanya, menanggung konsekuensi kesalahan di dalamnya, dan dengan demikian kita akan menempatkan diri kita pada posisi yang sulit dalam membelanya. Maka biarkanlah Al-Qur’an dengan keagungan dan keluhurannya, dan mari kita jaga kesucian dan kewibawaannya. Dan ketahuilah bahwa apa yang terkandung di dalamnya berupa isyarat kepada rahasia-rahasia penciptaan dan fenomena-fenomena alam, hanyalah untuk tujuan mendorong perenungan, penelitian, dan pemikiran, agar manusia bertambah iman di samping iman mereka.

Cukuplah bagi kita bahwa Al-Qur’an tidak bertentangan dengan fitrah, dan tidak bertentangan –dan tidak akan pernah bertentangan– dengan satu fakta pun dari fakta-fakta ilmu pengetahuan yang benar-benar meyakinkan akal.

Diriwayatkan: “Wahai Rasulullah, mengapa bulan sabit tampak tipis seperti benang, lalu membesar hingga menjadi besar, lurus, dan bundar, kemudian terus mengecil dan menipis hingga kembali seperti semula, tidak pernah dalam satu keadaan?” Maka turunlah firman Allah Ta’ala:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَهِلَّةِ ۖ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ…
“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ‘Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan ibadah haji…'” (QS. Al-Baqarah: 189).

Dan sungguh engkau dapati hal ini demikian pula pada pertanyaan mereka tentang ruh, di mana Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: ‘Ruh itu dari urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit'” (QS. Al-Isra’: 85).

Bukankah dalam hal ini terdapat petunjuk yang jelas bahwa Al-Qur’an bukanlah kitab yang dengannya Allah hendak menjelaskan hakikat-hakikat alam semesta, melainkan ia adalah kitab petunjuk, perbaikan, dan syariat?” [1]

Penentangan Syekh Al-Khuli dan Lainnya

Di antara para penentang, kita dapati Ustadz Syekh Amin Al-Khuli dalam penelitiannya yang berjudul At-Tafsir: Ma’ālim Hayātihi, Manhajuhul Yawm. Di dalamnya, ia menyampaikan pendapat Asy-Syathibi dan keberatannya terhadap mereka yang ingin mengeluarkan Al-Qur’an dari jalannya dalam berbicara kepada orang-orang Arab dengan apa yang mereka pahami dan dalam batasan ilmu serta pengetahuan yang mereka ketahui. Ia juga menanggapi mereka yang mengklaim bahwa dalam Al-Qur’an terkandung ilmu pengetahuan orang-orang terdahulu dan kemudian, baik agama maupun duniawi, syar’i maupun rasional.

Ini adalah pendapat Syaikhul Akbar Muhammad Mushthafa Al-Maraghi, mantan Syekh Al-Azhar. Ia sampaikan dalam mukadimahnya untuk buku Abdul Aziz Ismail Al-Islam wa Ath-Thibb Al-Hadits [2].

Ini juga pendapat Dr. Abdul Halim Mahmud, Syekh Abdullah Al-Masyad, dan Syekh Abu Bakar Zakari, yang mereka nyatakan dalam mukadimah tafsir ringkas mereka terhadap Al-Qur’an, yang pernah dimuat di majalah Nur Al-Islam, lisan para ulama dakwah dan bimbingan di Al-Azhar.

Penentangan Sayyid Quthb

Pengarang Adh-Dhilal, Sayyid Quthb –semoga Allah merahmatinya– mengikuti kecenderungan ini dalam tafsirnya terhadap ayat “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit” [3]. Ia berkata dengan pena yang fasih: “Dan sungguh aku heran terhadap kepolosan orang-orang yang bersemangat membela Al-Qur’an ini, yang berusaha menambahkan kepadanya apa yang bukan darinya, dan memaksakan makna kepadanya apa yang tidak dikehendaki, serta mengeluarkan darinya rincian-rincian dalam ilmu kedokteran, kimia, astronomi, dan seterusnya… seolah-olah dengan ini mereka mengagungkan dan membesarkannya!

Sesungguhnya Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna dalam pokok bahasannya, dan pokok bahasannya lebih besar dari semua ilmu itu… karena ia membahas manusia itu sendiri yang menemukan informasi-informasi ini dan mengambil manfaat darinya… Dan penelitian, eksperimen, dan penerapan adalah karakteristik akal pada manusia. Al-Qur’an menangani pembangunan manusia ini –pembangunan kepribadian, nuraninya, akalnya, dan pemikirannya– sebagaimana ia juga menangani pembangunan masyarakat manusia yang memungkinkan penggunaan yang optimal dari potensi-potensi yang tersimpan dalam dirinya. Setelah proses menciptakan manusia yang lurus dalam sudut pandang, pemikiran, dan perasaan, serta menciptakan masyarakat yang memungkinkannya untuk beraktivitas, Al-Qur’an akan meninggalkan manusia untuk meneliti, bereksperimen, salah maupun benar, dalam bidang ilmu, penelitian, dan eksperimen. Dan Dia telah menjamin baginya timbangan tashawwur, tadabbur, dan pemikiran yang benar.

Demikian pula, tidak diperbolehkan bagi kita mengaitkan fakta-fakta final yang terkadang disebutkan Al-Qur’an tentang alam semesta –dalam cara menciptakan tashawwur yang benar tentang hakikat wujud dan keterikatannya dengan Penciptanya, serta hakikat keselarasan antar bagian-bagiannya– dengan asumsi-asumsi akal manusia dan teori-teorinya, bahkan tidak juga dengan apa yang kita sebut ‘fakta-fakta ilmiah’ dari apa yang dihasilkan dengan cara eksperimen yang dianggap meyakinkan menurut pandangannya.

Sesungguhnya fakta-fakta Qur’ani adalah fakta-fakta final yang meyakinkan lagi mutlak. Adapun apa yang dihasilkan oleh penelitian manusia –apa pun alat yang tersedia baginya– maka itu adalah fakta-fakta yang tidak final dan tidak meyakinkan, serta terikat dengan batasan-batasan eksperimennya, kondisi eksperimen tersebut, dan alat-alatnya. Maka dengan pemikiran seperti ini, adalah kesalahan metodologis –dengan sendirinya berdasarkan metodologi ilmiah kemanusiaan itu sendiri– bahwa kita mengaitkan fakta-fakta final Qur’ani dengan fakta-fakta yang tidak final. Dan fakta-fakta yang tidak final itu adalah segala sesuatu yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan manusia.

Ini pembahasan dalam kaitannya dengan ‘fakta-fakta ilmiah’. Adapun dalam kaitannya dengan teori-teori dan hipotesis-hipotesis yang diberi nama ‘ilmiah’, hal itu lebih jelas lagi. Di antara teori-teori dan hipotesis-hipotesis ini adalah semua teori astronomi, semua teori khusus tentang asal-usul manusia dan tahap-tahapannya, semua teori khusus tentang jiwa manusia dan perilakunya, serta semua teori khusus tentang asal-usul masyarakat dan tahap-tahapannya. Maka semua ini bukanlah ‘fakta-fakta ilmiah’ bahkan dalam ukuran kemanusiaan. Tetapi itu adalah teori-teori dan hipotesis-hipotesis yang seluruh nilainya adalah bahwa ia layak untuk menafsirkan sebanyak mungkin fenomena alam, hayati, psikologis, atau sosial, hingga muncul hipotesis lain yang menafsirkan fenomena yang lebih banyak atau menafsirkan fenomena-fenomena itu dengan tafsir yang lebih teliti. Oleh karena itu, hal itu dimungkinkan untuk berubah, dimodifikasi, dikurangi, dan ditambah, bahkan dimungkinkan untuk menjadi terbalik seratus delapan puluh derajat, dengan munculnya alat deteksi baru, atau dengan tafsir baru terhadap sekumpulan observasi lama.

Setiap upaya untuk mengaitkan isyarat-isyarat Qur’ani yang umum dengan apa yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan –baik dengan teori-teori yang terus diperbarui dan berubah-ubah, atau bahkan dengan fakta-fakta ilmiah yang tidak mutlak sebagaimana telah kami jelaskan– mengandung, pertama-tama, kesalahan metodologis fundamental. Dan juga mencakup tiga makna yang semuanya tidak layak bagi Al-Qur’an al-Karim:

Makna pertama: Adanya kekalahan internal yang membayangkan kepada sebagian orang bahwa ilmu pengetahuan adalah yang dominan dan Al-Qur’an adalah pengikut. Maka dari sini, mereka berusaha untuk menetapkan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan, atau ber-istidlal dari ilmu pengetahuan untuk Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an adalah kitab yang sempurna dalam pokok bahasannya, dan final dalam fakta-fakta mutlaknya. Sementara ilmu pengetahuan masih, dalam pokok bahasannya, membatalkan hari ini apa yang telah ditetapkan kemarin, dan segala sesuatu yang dihasilkannya adalah tidak final dan tidak mutlak; karena ia terikat dengan keluasan manusia, akalnya, dan alat-alatnya, yang semuanya tidak dari sifatnya yang memberikan satu kebenaran yang final dan mutlak.

Makna kedua: Adanya pemahaman yang buruk terhadap hakikat Al-Qur’an dan fungsinya. Bahwa ia adalah kebenaran final yang mutlak yang menangani pembangunan manusia dengan pembangunan yang sesuai –sejauh yang dimungkinkan oleh sifat manusia yang nisbi– dengan hakikat wujud dan hukum ilahi-Nya, sehingga manusia tidak bertentangan dengan alam semesta di sekelilingnya, bahkan ia mendukungnya dan mengetahui sebagian rahasianya, serta menggunakan sebagian hukum-Nya dalam tugasnya sebagai khalifah. Hukum-Nya yang tersingkap baginya dengan observasi, penelitian, eksperimen, dan penerapan, sesuai dengan apa yang ditunjukkan oleh akalnya yang dikaruniakan untuknya agar bekerja, bukan untuk menerima informasi-informasi material dalam keadaan siap pakai.

Makna ketiga: Adalah penakwilan terus-menerus –disertai dengan memaksakan diri dan memaksakan kehendak– terhadap nash Al-Qur’an, agar kita bisa membawa dan terengah-engah mengikuti di belakang hipotesis-hipotesis dan teori-teori yang tidak stabil dan tidak tetap, yang setiap hari ada yang baru, dan semua itu tidak sesuai dengan keagungan Al-Qur’an. Sebagaimana hal itu juga mengandung kesalahan metodologis, sebagaimana telah kami paparkan sebelumnya [4].

Imam Al-Ghazali dan Tafsir Ilmiah

Isu ini telah diangkat sejak lama. Tampaknya yang pertama mengangkatnya adalah Imam Abu Hamid Al-Ghazali –semoga Allah merahmatinya. Ia telah menyebutkan dalam Al-Ihya’ perkataan Ibnu Mas’ud: “Barang siapa yang menginginkan ilmu orang-orang terdahulu dan yang kemudian, maka hendaklah ia merenungkan Al-Qur’an,” dan perkataan-perkataan lain yang semisal. Kemudian ia berkata: “Secara garis besar, semua ilmu masuk dalam perbuatan-perbuatan Allah dan sifat-sifat-Nya. Dalam Al-Qur’an terdapat penjelasan tentang dzat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan sifat-sifat-Nya. Ilmu-ilmu ini tidak ada batasnya, dan di dalam Al-Qur’an terdapat isyarat kepada pokok-pokoknya.” [5]

Dalam kitabnya Jawāhir Al-Qur’ān, yang merupakan karya yang disusun setelah kitab Al-Ihya’, ia kembali lagi kepada topik ini dan memperluas pembahasannya. Di dalamnya ia menyebutkan bahwa semua ilmu pengetahuan bersumber dari satu samudera dari samudera-samudera ma’rifah Allah Ta’ala, yaitu samudera perbuatan-perbuatan. Sungguh telah kami sebutkan bahwa ia tidak bertepi. [6]

Kemudian ia menyebutkan dari perbuatan-perbuatan Allah Ta’ala berupa kesembuhan dan penyakit, sebagaimana firman Allah Ta’ala, menceritakan dari Ibrahim:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ
“Dan apabila aku sakit, maka Dialah Yang menyembuhkan aku” (QS. Asy-Syu’ara’: 80).

Ia berkata: “Perbuatan yang satu ini tidak akan mengetahuinya kecuali orang yang mengetahui kedokteran secara keseluruhan. Karena tidak ada makna kedokteran kecuali ma’rifah tentang penyakit secara sempurna dan tanda-tandanya, serta ma’rifah tentang kesembuhan dan sebab-sebabnya… hingga ia berkata: ‘Tidak akan mengetahui kesempurnaan makna firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيمِ الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ
“Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan engkau terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah? Yang telah menciptakanmu, lalu menyempurnakan kejadianmu, lalu menjadikanmu seimbang? Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu?” (QS. Al-Infithar: 6-8)

– kecuali orang yang mengetahui anatomi anggota badan manusia secara lahir dan batin, jumlahnya, jenis-jenisnya, hikmahnya, manfaatnya… dst.’ Inilah dua contoh penggalian Al-Ghazali terhadap berbagai ilmu dari Al-Qur’an.”

Dari sini, kita memahami makna perkataan Al-Ghazali: “Sesungguhnya ilmu-ilmu orang terdahulu dan yang kemudian tidaklah berada di luar Al-Qur’an.” Maka seolah-olah dia berkata: “Sesungguhnya semua ilmu adalah pelayan untuk kebaikan pemahaman Al-Qur’an, sebagaimana Al-Qur’an itu sendiri menunjukkan dan menunjuk kepada ilmu-ilmu itu, dengan salah satu bentuk isyarat yang tersirat atau global.”

Sungguh ia telah berkata dalam kitab Al-Ihya’: “Bahkan, setiap apa yang rumit pemahamannya bagi para teoritikus –dan diperselisihkan oleh manusia di dalamnya dalam hal-hal yang teoritis– maka di dalam Al-Qur’an terdapat lambang-lambang isyarat kepadanya, dan petunjuk-petunjuk atasnya, yang hanya dapat dijangkau oleh orang-orang yang memiliki pemahaman.” [7]

Ibnu Abil Fadl Al-Mursi dan As-Suyuthi

Setelah Al-Ghazali, datanglah Ibnu Abil Fadl Al-Mursi. As-Suyuthi mencatat pendapatnya dalam Al-Itqān [8] yang mirip dengan pendapat Al-Ghazali. Ia menyebutkan –di antara apa yang ia sebutkan– bahwa pokok-pokok keahlian disebutkan dalam Al-Qur’an, seperti ilmu menjahit dalam firman-Nya:

وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِنْ وَرَقِ الْجَنَّةِ
“Dan keduanya mulai menjahit daun-daunan” (QS. Al-A’raf: 22);

ilmu pandai besi dalam firman-Nya:

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ
“Berilah aku kepingan-kepingan besi” (QS. Al-Kahfi: 96);

ilmu bangunan dalam beberapa ayat [9]; ilmu pertukangan kayu dalam firman-Nya:

وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Dan buatlah kapal dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami” (QS. Hud: 37);

ilmu memintal dalam firman-Nya:

كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا
“Seperti orang yang telah menguraikan pintalannya setelah dipintal dengan kuat” (QS. An-Nahl: 92);

ilmu pelayaran dalam firman-Nya:

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ…
“Adapun perahu itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut…” (QS. Al-Kahfi: 79);

ilmu tembikar dalam firman-Nya:

فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ
“Maka bakarlah api untukku di atas tanah liat” (QS. Al-Qashash: 38); … dan seterusnya.

As-Suyuthi mendukung dalam kitab Al-Itqān dan kitab Iklīl at-Ta`wīl fī Istinbāṭ at-Tanzīl kecenderungan ini, dan berargumentasi untuknya dengan Al-Qur’an dan hadis, serta dengan perkataan Ibnu Mas’ud, Al-Hasan, Asy-Syafi’i, dan lainnya.

Abu Ishaq Asy-Syathibi dan Tafsir Ilmiah

Sungguh kita telah melihat Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi –semoga Allah merahmatinya– menentang kecenderungan ini dalam kitabnya Al-Muwāfaqāt, dengan berpegang pada bahwa syariat pada dasarnya diturunkan untuk kaum yang ummi. Maka ia –menurut ungkapan istilahnya– adalah syariat yang ummi. Tidak pantas kita mengeluarkannya kepada batasan memaksakan diri, kerumitan, dan berfilsafat berlebihan. Walaupun ia berlebihan dalam hal itu sampai-sampai dikritik oleh al-‘Allamah Syaikh Thahir bin ‘Asyur dalam mukadimah tafsirnya At-Taḥrīr wa at-Tanwīr, sebagaimana juga dikritik sebagiannya oleh al-‘Allamah Syaikh Abdullah Darraz dalam catatan kakinya terhadap Al-Muwāfaqāt [10].

Asy-Syathibi menjelaskan bahwa syariat Islam adalah syariat yang ummi; karena Allah mengutus seorang rasul yang ummi kepada kaum yang ummi, sebagaimana firman-Nya Ta’ala:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ
“Dialah yang mengutus di tengah-tengah orang-orang yang ummi seorang Rasul dari kalangan mereka” (QS. Al-Jumu’ah: 2),

dan sabda beliau ‘alaihi ash-shalātu was salām: “Kita adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung” (Muttafaq ‘alaih, dari Ibnu ‘Umar), maka konsekuensinya syariat itu sesuai dengan kebiasaan mereka dan setara dengan kemampuan mereka.

Kemudian setelah penjelasan ini, Asy-Syathibi memperjelas bahwa syariat –dalam membenarkan apa yang dibenarkannya, dan membatalkan apa yang dibatalkannya– telah memaparkan dari hal itu apa yang diketahui oleh orang-orang Arab dari ilmu-ilmu, dan tidak keluar dari apa yang biasa mereka lakukan. Kemudian ia mengarahkan kecaman kepada segolongan orang yang menambahkan kepada Al-Qur’an setiap ilmu orang-orang terdahulu dan yang kemudian. Ia membantah klaim ini seraya berkata:

“Apa yang telah ditetapkan tentang ummiyyah syariat, dan bahwa ia berjalan di atas metode para penganutnya –yaitu orang-orang Arab– menjadi landasan dibangunnya kaidah-kaidah, di antaranya: bahwa banyak dari manusia melampaui batas –dalam klaim mereka terhadap Al-Qur’an–, lalu mereka menambahkan kepadanya setiap ilmu yang disebutkan untuk orang-orang terdahulu dan yang kemudian, dari ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu pengajaran [seperti geometri dan ilmu matematika lainnya], logika, dan ilmu huruf, dan semua yang diteliti oleh para peneliti dari seni-seni ilmu ini dan sejenisnya. Ini, jika kita bandingkan dengan apa yang telah disebutkan sebelumnya, maka tidak sah.” [11]

Kemudian Asy-Syathibi memberikan dalil untuk pendapatnya ini dan berargumentasi dengannya berdasarkan apa yang diketahui dari generasi salaf tentang pandangan mereka terhadap Al-Qur’an. Ia berkata: “Sesungguhnya salafus shalih –dari kalangan sahabat, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka– adalah orang yang paling mengetahui tentang Al-Qur’an, tentang ilmu-ilmunya, dan apa yang terkandung di dalamnya. Tidak sampai kepada kita bahwa seorang pun dari mereka berbicara tentang sesuatu dari klaim ini, selain apa yang telah disebutkan sebelumnya, dan apa yang telah tetap di dalamnya berupa hukum-hukum taklif, hukum-hukum akhirat, dan apa yang mengikuti hal itu. Seandainya dahulu bagi mereka dalam hal itu keterlibatan dan pemikiran, niscaya akan sampai kepada kita dari mereka sesuatu yang menunjukkan kita pada pokok permasalahan. Namun seolah-olah hal itu tidak ada. Maka hal itu menunjukkan bahwa hal itu tidak ada di sisi mereka. Dan itu adalah bukti bahwa Al-Qur’an tidak dimaksudkan di dalamnya sesuatu pun dari apa yang mereka klaim. Benar, ia mengandung ilmu-ilmu dari jenis ilmu-ilmu orang Arab atau apa yang dapat dibangun di atas kebiasaan mereka, yang menjadi keajaiban bagi orang-orang yang berakal, dan tidak akan dicapai oleh pemahaman akal-akal yang unggul tanpa terlebih dahulu mendapatkan hidayah melalui tanda-tandanya, dan pencerahan dengan cahayanya. Adapun bahwa di dalamnya ada sesuatu yang bukan dari itu, maka tidak.” [12]

Kemudian Asy-Syathibi setelah ini menyebutkan bukti-bukti yang dijadikan sandaran oleh para penganut tafsir ini, seraya berkata: “Terkadang mereka berargumentasi untuk klaim mereka dengan firman-Nya Ta’ala:

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“Dan Kami telah menurunkan Kitab kepadamu sebagai penjelasan untuk segala sesuatu” (QS. An-Nahl: 89),

dan firman-Nya:

وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ
“Tidak pernah Kami lalai di dalam Kitab dari sesuatu pun” (QS. Al-An’am: 38),

…dan yang semisal, dan dengan huruf fawatih surah –padahal huruf-huruf itu tidak dikenal di kalangan orang Arab– dan dengan apa yang diriwayatkan dari manusia tentangnya, dan terkadang diriwayatkan hal itu dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan selainnya.”

Setelah itu, mulailah Asy-Syathibi membantah bukti-bukti ini, satu per satu, dengan logikanya yang kuat, seraya berkata, semoga Allah merahmatinya: “Adapun ayat-ayat: Maka yang dimaksud dengannya menurut para mufassir adalah apa yang berkaitan dengan keadaan taklif dan pengabdian. Atau yang dimaksud dengan kitab dalam firman-Nya: ‘Tidak pernah Kami lalai di dalam Kitab dari sesuatu pun’ adalah Lauh Mahfuz. Dan mereka tidak menyebutkan di dalamnya ayat-ayat itu apa yang mengisyaratkan kandungannya dari semua ilmu naqli dan ‘aqli.

Adapun fawatih surah: Maka sungguh manusia telah berbicara di dalamnya tentang apa yang mengimplikasikan bahwa bagi orang-orang Arab ada pengetahuan terhadapnya, seperti bilangan numerik yang mereka ketahui dari ahli kitab, berdasarkan apa yang disebutkan oleh para penulis sejarah, atau termasuk ayat-ayat yang mutasyabihat yang tidak mengetahui takwilnya kecuali Allah Ta’ala, dan selain itu. Adapun menafsirkannya dengan sesuatu yang tidak dikenal bagi mereka, maka tidak mungkin. Tidak ada seorang pun yang mengklaimnya dari generasi sebelumnya. Maka tidak ada bukti dalam hal itu untuk apa yang mereka klaim. Apa yang diriwayatkan dari Ali atau selainnya dalam hal ini tidak terbukti. Maka tidaklah diperbolehkan menambahkan kepada Al-Qur’an apa yang tidak dituntut olehnya, dalam upaya bantuan untuk memahaminya tanpa segala hal yang pengetahuannya dinisbatkan kepada orang-orang Arab secara khusus. Maka dengan demikianlah seseorang dapat mencapai pengetahuan tentang apa yang terkandung dari hukum-hukum syariat. Barang siapa mencarinya dengan selain apa yang merupakan alat dan adat kebiasaan yang sah untuknya, niscaya dia tersesat dalam pemahamannya, dan mengada-ada perkataan dusta atas nama Allah dan Rasul-Nya di dalamnya. Allah Maha Mengetahui, dan kepada-Nya petunjuk.” [13]

Logika Asy-Syathibi di sini adalah logika yang kuat, dan argumen-argumennya tidak ada cela padanya, kecuali apa yang merupakan ketergantungannya pada “ummiyyah” syariat yang didasarkan pada ummiyyah umat. Hal itu bahwa ummiyyah umat bukanlah perkara yang dituntut atau yang diinginkan. Bahkan, Allah mengutus rasul-Nya di tengah-tengah orang-orang yang ummi sebagai rasul untuk mengeluarkan mereka dari ummiyyah menuju halaman luas ilmu pengetahuan dan cahaya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
“Dialah yang mengutus di tengah-tengah orang-orang yang ummi seorang Rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata” (QS. Al-Jumu’ah: 2).

Ini adalah tugas sang rasul terhadap orang-orang ummi: tilawah, tazkiyah, dan mengajarkan Kitab dan Hikmah. Tidak mengherankan bahwa ayat-ayat pertama dari wahyu memberitakan tentang hal itu:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan dengan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Dan Allah bersumpah dengan pena, seraya berfirman:

ن ۚ وَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُونَ
“Nun, demi pena dan apa yang mereka tulis” (QS. Al-Qalam: 1).

Maka, ummiyyah itu terpuji dalam diri Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam; karena lebih menunjukkan kepada kemukjizatan. Dan ia bukanlah terpuji di dalam umat. Kewajiban umat adalah membebaskan diri darinya, belajar, mendalami agama, dan merenungkan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah. Sungguh Allah Ta’ala telah berfirman:

هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9).

Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang pertama yang memerangi buta huruf, sebagaimana kita lihat ketika beliau menerima tebusan dari para tawanan perang Badar bahwa sebagian dari mereka yang bisa menulis dapat menebus dirinya dengan mengajari sepuluh anak kaum muslimin tulis-menulis. Karena itu, kami tidak menerima gagasan ummiyyah syariat, kecuali jika gagasan itu dipahami dengan makna fitrah dan kemudahan, serta jauh dari sikap memaksakan diri dan kerumitan. Hanya kepada Allah kita memohon petunjuk.

Sumber: Al-Qaradawi

Catatan Kaki:

[1] Mukadimah Tafsir Syekh Syaltut, hlm. 11-14, cetakan Dar Asy-Syuruq, Mesir.

[2] Hal ini disebutkan oleh Dr. Adz-Dzahabi dalam jilid kedua kitabnya At-Tafsīr wal Mufassirūn, hlm. 495-496, cetakan Al-Mukhtar Al-Islami, tahun 1985, terbitan Maktabah Wahbah.

[3] Yaitu firman-Nya Ta’ala: “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: ‘Itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan ibadah haji…'” (QS. Al-Baqarah: 189).

[4] Fī Ẓilāl Al-Qur’ān, jilid 1, hlm. 180-182, cetakan Dar Asy-Syuruq.

[5] Al-Iḥyā’, 1/289, Dar Al-Ma’rifah, Beirut.

[6] Lihat Jawāhir Al-Qur’ān, hlm. 32-34.

[7] Iḥyā ‘Ulūm Ad-Dīn, tempat yang sama.

[8] Dalam jenis yang ke-65: Fī al-‘ulūm al-mustanbaṭah min al-Qur’ān, 4/27-31.

[9] Yakni dalam seperti firman-Nya Ta’ala: “Dan ketika Ibrahim mengangkat dasar-dasar Baitullah bersama Ismail” (QS. Al-Baqarah: 127).

[10] Lihat Al-Muwāfaqāt dan catatan-catatan Darraz, 2/69 dan seterusnya.

[11] Al-Muwāfaqāt, 2/79.

[12] Al-Muwāfaqāt, 2/79-80.

[13] Al-Muwāfaqāt, 2/81-82.

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Al-Qur'an
  • Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
  • Tafsir
Anda Mungkin Juga Menyukai
Malik shibly lKbz2ejxYbA unsplash
View Post
  • Al-Qur'an

Tadabur Ayat: Kelicikan Syaithan dalam Menyesatkan Manusia

Jj4
View Post
  • Al-Qur'an
  • Fiqih

Menafsirkan Al-Qur’an tanpa Ilmu adalah Perbuatan Terlarang

Dome putra mosque malaysia sunset 181624
View Post
  • Akhlak
  • Al-Qur'an

Allah Azza wa Jalla Menggambarkan Rasul-Nya sebagai Pembawa Berita Gembira dan Pemberi Peringatan

Malik shibly lKbz2ejxYbA unsplash
View Post
  • Al-Qur'an
  • Aqidah

Al-Qur’anul Karim: Kitab untuk Sepanjang Zaman dan Seluruh Umat Manusia

Images 15 640x424
View Post
  • Al-Qur'an

Tilawah Al-Qur’an Baiknya Suara Keras, Pelan, atau di Dalam Hati?

Images 10 640x336
View Post
  • Al-Qur'an

Mengumpulkan Manusia saat Khataman Al-Qur’an; Sunnah Para Salaf yang Terlupakan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • Ap 6971847a1bb35 1
    • Akhbar Dauliyah
    KTT NATO 2026: Transformasi Aliansi dan Diplomasi Donald Trump
    • 06.07.26
  • 2284304248 2
    • Akhbar Dauliyah
    Seruan Balas Dendam Menggema di Teheran pada Prosesi Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei
    • 06.07.26
  • AFP 20260706 B9CZ8LV v1 HighRes PalestinianIsraelConflictGaza 3
    • Akhbar Dauliyah
    Hamas Umumkan Pembubaran Badan Pemerintahan Gaza
    • 07-07-2026
  • 62014211719 4
    • Akhbar Dauliyah
    Penulis Arab Soroti Narasi Politik Mesir: “Tidak Ada Tempat bagi Ikhwanul Muslimin”
    • 07-07-2026
  • WhatsApp Image 2026 07 07 at 3.30.19 PM (1) 5
    • Kabar Umat
    Kemenag Integrasikan Edukasi Pencegahan Penyebaran Budaya LGBTQ ke Pendidikan Agama
    • 08.07.26
  • 42e1161e72ec8f17f03eca12b8c65c2e 6
    • Kabar Umat
    Ketua BAZNAS: Dunia Menanti Sistem Ekonomi Syariah sebagai Alternatif Kapitalisme
    • 08.07.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi Taliban trump Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.