Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh. Ustadz, izin bertanya.
Lebih afdal manakah membaca atau men-tilawah-kan Al-Qur’an di masjid dengan suara pelan atau keras, sedangkan di masjid tersebut masih ada yang berzikir? Apakah membaca dalam hati itu bisa dikategorikan tilawah? Batasan pelan dan keras suara itu seperti apa?
Jawaban Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah:
Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh.
Membaca Al-Qur’an, baik dengan keras maupun pelan, kedua-duanya sama-sama diperbolehkan pada kondisinya masing-masing.
Abu Qatadah mengatakan:
عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ لَيْلَةً، فَإِذَا هُوَ بِأَبِي بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يُصَلِّي يَخْفِضُ مِنْ صَوْتِهِ، قَالَ: وَمَرَّ بِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ وَهُوَ يُصَلِّي رَافِعًا صَوْتَهُ، قَالَ: فَلَمَّا اجْتَمَعَا عِنْدَ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ، مَرَرْتُ بِكَ وَأَنْتَ تُصَلِّي تَخْفِضُ صَوْتَكَ» قَالَ: قَدْ أَسْمَعْتُ مَنْ نَاجَيْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: وَقَالَ لِعُمَرَ: «مَرَرْتُ بِكَ وَأَنْتَ تُصَلِّي رَافِعًا صَوْتَكَ» فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُوقِظُ الْوَسْنَانَ وَأَطْرُدُ الشَّيْطَانَ
“Pada suatu malam Nabi ﷺ keluar, lalu beliau mendapati Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu yang tengah salat dengan memelankan suaranya. Abu Qatadah berkata, ‘Dan beliau juga bertemu dengan Umar bin Khaththab yang tengah salat dengan mengangkat suaranya.’ Abu Qatadah melanjutkan, ‘Ketika keduanya berkumpul di hadapan Nabi ﷺ, beliau bersabda kepada Abu Bakar, “Aku melewatimu ketika kamu sedang salat dengan memelankan suara.” Abu Bakar menjawab, “Suaraku hanya cukup didengar oleh tempatku bermunajat, wahai Rasulullah.” Abu Qatadah berkata, ‘Lalu beliau bersabda kepada Umar, “Sedangkan kamu mengangkat suaramu.” Umar berkata, “Wahai Rasulullah, supaya saya dapat membangunkan orang tidur dan mengusir setan.”‘ (HR. Abu Dawud No. 1329, sahih)
Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bercerita:
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: إِنَّ رَجُلًا قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَقَرَأَ فَرَفَعَ صَوْتَهُ بِالْقُرْآنِ، فَلَمَّا أَصْبَحَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «يَرْحَمُ اللَّهُ فُلَانًا، كَأَيٍّ مِنْ آيَةٍ أَقَامَنِي اللَّيْلَةَ»
“Bahwa seorang laki-laki sedang mengerjakan salat malam, lalu membaca Al-Qur’an dengan mengangkat suaranya. Keesokan harinya, Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Semoga Allah merahmati si Fulan, dia telah mengingatkanku terhadap sekian ayat yang aku lupa semalam.'” (HR. Abu Dawud No. 1331, sahih)
Dua hadis ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ mengizinkan, bahkan memuji, meninggikan suara dalam membaca Al-Qur’an, jika itu membawa maslahat seperti mengingatkan manusia, membuat semangat, mengusir setan, dan membangunkan manusia untuk ibadah, selama dilakukan dengan aman dari rasa riya’ dan ‘ujub.
Namun, kita dapati dalam hadis lain, Abu Sa’id Radhiyallahu ‘Anhu mengatakan:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي الْمَسْجِدِ، فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ، فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ: «أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ» أَوْ قَالَ: «فِي الصَّلَاةِ»
“Suatu ketika Rasulullah ﷺ beriktikaf di masjid, lalu beliau mendengar para sahabatnya mengeraskan bacaan Al-Qur’an mereka. Lantas beliau membuka tirai seraya bersabda, ‘Ketahuilah, sesungguhnya setiap kalian sedang bermunajat kepada Allah. Oleh karena itu, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan jangan pula saling mengeraskan suara dalam membaca Al-Qur’an’ —atau beliau bersabda— ‘dalam salatnya.'” (HR. Abu Dawud No. 1332, sahih)
Dalam hadis ini, Rasulullah ﷺ justru melarang mengeraskan suara jika sampai mengganggu orang lain yang sedang beribadah. Kadang ada juga yang mengeraskan bacaan Al-Qur’an di masjid di tengah-tengah sedang ada kajian atau ta’lim. Maka, yang seperti inilah yang terlarang.
Imam An-Nawawi Rahimahullah mengatakan:
وَأَمَّا الْآثَارُ عَنِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ مِنْ أَقْوَالِهِمْ وَأَفْعَالِهِمْ فَأَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ، وَأَشْهَرُ مِنْ أَنْ تُذْكَرَ، وَهَذَا كُلُّهُ فِيمَنْ لَا يَخَافُ رِيَاءً، وَلَا إِعْجَابًا، وَلَا نَحْوَهُمَا مِنَ الْقَبَائِحِ، وَلَا يُؤْذِي جَمَاعَةً يَلْبِسُ عَلَيْهِمْ صَلَاتَهُمْ وَيَخْلِطُهَا عَلَيْهِمْ
“Adapun atsar-atsar dari para sahabat dan para tabi’in, berupa ucapan dan perbuatan mereka, jumlahnya lebih banyak daripada dapat dihitung, dan lebih masyhur daripada perlu disebutkan satu per satu. Semua ini berlaku bagi orang yang tidak khawatir terkena riya’, tidak pula ‘ujub, dan tidak terkena keburukan-keburukan semacam itu, serta tidak mengeraskan suara sampai mengganggu jamaah lain sehingga membuat mereka kacau dalam bacaan salatnya dan mencampuradukkannya.” (At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur’an, hlm. 60)
Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:
يُحْرَمُ رَفْعُ الصَّوْتِ عَلَى وَجْهٍ يُشَوِّشُ عَلَى الْمُصَلِّينَ وَلَوْ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ، وَيُسْتَثْنَى مِنْ ذَلِكَ دَرْسُ الْعِلْمِ
“Diharamkan mengeraskan suara di masjid hingga menyebabkan terganggunya orang yang salat, walaupun yang dibaca itu adalah Al-Qur’an. Dikecualikan dari hal itu adalah proses belajar mengajar Al-Qur’an.” (Fiqhus Sunnah, 1/251)
Jadi, kesimpulannya:
Membaca Al-Qur’an boleh dengan suara keras maupun pelan. Keduanya pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ.
Pilihan suara disesuaikan dengan maslahat hati, kondisi sekitar, kekhusyukan, dan tidak mengganggu orang lain.
Adapun membaca di dalam hati, maka itu bukanlah tilawah. Istilah yang lebih tepat untuk itu adalah merenung (tafakur, tadabur). Maka, hendaknya ada gerakan lisan saat membacanya, kecuali bagi orang yang sedang sakit dan tidak bisa menggerakkan lisannya.
Imam Ibnu Al-Hajib mengatakan:
وَلَا يَجُوزُ إِسْرَارٌ مِنْ غَيْرِ حَرَكَةِ لِسَانٍ؛ لِأَنَّهُ إِذَا لَمْ يُحَرِّكْ لِسَانَهُ لَمْ يَقْرَأْ، وَإِنَّمَا فَكَّرَ
“Dan tidak boleh disebut membaca secara pelan tanpa menggerakkan lisan; karena jika ia tidak menggerakkan lisannya, berarti ia tidak membaca, melainkan hanya berpikir.” (Mawahib Al-Jalil, 1/317)
Demikian. Wallahu A’lam.
Sumber: Alfahmu.id




