ISTANBUL, 10 Mei 2026 — Kota Istanbul menjadi tuan rumah penyelenggaraan pameran industri pertahanan, penerbangan, dan antariksa internasional “SAHA 2026”. Edisi kali ini digambarkan sebagai yang terbesar dalam sejarah industri militer Turki, dengan rekor jumlah partisipasi dan kontrak yang ditandatangani. Pameran ini juga menjadi ajang penyampaian pesan politik dan militer yang mencerminkan besarnya ambisi Turki untuk bertransformasi menjadi kekuatan pertahanan global.
Pameran tahun ini berlangsung pada saat yang sangat kritis secara regional dan internasional, hanya sebulan setelah perang AS-Israel melawan Iran dan disusul dengan perubahan konsep pencegahan serta perang berbiaya rendah. Hal ini tercermin jelas pada jenis teknologi dan persenjataan yang menjadi fokus perusahaan-perusahaan peserta.
Pameran yang berlangsung dari 5 hingga 9 Mei ini mencakup area hampir 400.000 meter persegi, dengan partisipasi lebih dari 1.700 perusahaan lokal dan internasional, termasuk 263 perusahaan asing. Selain itu, turut hadir delegasi resmi dan para ahli dari lebih dari 120 negara. Pameran ini menarik lebih dari 200.000 pengunjung, termasuk sekitar 30.000 spesialis di bidang industri pertahanan, penerbangan, dan antariksa.
Edisi tahun ini menyaksikan pengungkapan 203 produk baru untuk pertama kalinya, termasuk drone tempur, amunisi pintar, sistem rudal, radar, kapal perang, dan teknologi perang elektronik. Puluhan konferensi teknis dan sekitar 30.000 pertemuan bilateral antara perusahaan dan delegasi yang berpartisipasi juga diselenggarakan, dalam upaya untuk memperkuat kemitraan pertahanan Turki dan memperluas ekspor militernya.
Dampak pada Persepsi Israel
Pameran ini menunjukkan fokus yang jelas pada amunisi pintar bergerak dan solusi militer berbiaya rendah—kategori senjata yang telah membuktikan efektivitasnya dalam perang-perang terakhir, terutama di Ukraina, Gaza, dan perang AS-Israel melawan Iran.
Direktur Utama perusahaan drone Turki Baykar dan Ketua Dewan SAHA Istanbul, Haluk Bayraktar, mengatakan bahwa perusahaannya memilih untuk memamerkan lebih banyak amunisi bergerak pada tahun ini. Ia menegaskan bahwa perkembangan terbaru menunjukkan bahwa “teknologi berbiaya rendah, produktivitas tinggi, bergerak, dan berukuran kecil mulai memainkan peran penting di medan perang.”
SAHA 2026 tidak hanya terbatas pada aspek komersial, tetapi juga berubah menjadi platform untuk menunjukkan kemajuan militer dan teknologi Turki, di tengah upaya Ankara untuk memperkuat kemandirian pertahanannya dan mengurangi ketergantungan pada pemasok Barat. Pameran ini juga menjadi ruang untuk memamerkan industri Turki di hadapan pasar Afrika, Asia, dan Arab, terutama dengan partisipasi delegasi pembelian resmi dari puluhan negara.
Tampilan Kekuatan Maritim
Dalam rangkaian acara “Hari Pameran Maritim” dalam pameran industri pertahanan, penerbangan, dan antariksa internasional, kapal serbu amfibi Turki TCG Anadolu melakukan kunjungan dan berlabuh di Marina Ataköy, Istanbul. Kunjungan tersebut menarik perhatian internasional yang signifikan, dengan kapal itu menerima 52 perwakilan dari 14 negara, termasuk Menteri Pertahanan Nigeria, Duta Besar Jepang beserta Atase Angkatan Laut Jepang, Komandan Gendarmerie Yordania, serta pejabat militer dari Korea Selatan, Portugal, Aljazair, Rumania, Lituania, Guatemala, Spanyol, Mongolia, Kirgistan, Turkmenistan, dan Indonesia.
Kunjungan itu mencakup tur ke area pameran amfibi di atas kapal, demonstrasi pesawat dan peralatan di dek penerbangan, serta pengenalan jembatan komando dan menara kontrol penerbangan. Langkah ini bertujuan untuk menunjukkan kemampuan maritim dan amfibi Turki kepada delegasi asing.
Keberhasilan pameran ini memicu reaksi luas di Turki, dengan para pejabat, politisi, dan lembaga pertahanan menganggapnya sebagai bukti transformasi industri militer Turki menjadi salah satu pilar pengaruh regional dan internasional Ankara.
Reaksi dan Pencapaian Ekonomi
Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, dalam sebuah unggahan di platform X, mengatakan bahwa “industri pertahanan, penerbangan, dan antariksa Turki telah menjadi sistem yang dipercaya, diminati, dan diutamakan di seluruh dunia, tidak hanya di kawasan.” Ia mengungkapkan bahwa total nilai transaksi mencapai 8 miliar dolar, dengan 6 miliar dolar dialokasikan untuk perjanjian ekspor langsung. Ia menganggap bahwa Turki “telah menjadi salah satu negara yang bintangnya bersinar secara global di bidang pertahanan, penerbangan, dan antariksa.”
Haluk Bayraktar menegaskan bahwa pameran tersebut menerima sekitar 112.000 pengunjung selama empat hari, dan mengatakan bahwa angka-angka ini mencerminkan besarnya kemajuan yang dicapai Turki di bidang industri pertahanan, penerbangan, dan antariksa. Sementara itu, Ketua Dewan Eksekutif dan Direktur Teknis Baykar, Selçuk Bayraktar, menyoroti produk terbaru perusahaannya, mengumumkan bahwa amunisi pintar berkeliaran “Al-Mosquito” dipamerkan selama pameran, setelah muncul dalam latihan “Afs”.
Banyak pengamat menganggap bahwa jenis amunisi ini mencerminkan pergeseran Turki menuju pengembangan senjata kecil berbiaya rendah dan efektivitas tinggi, yang sesuai dengan sifat perang modern.
Kekhawatiran Israel dan Kesimpulan Analis
Sebaliknya, peningkatan ini tidak luput dari perhatian Israel. Saluran 13 Israel menyiarkan laporan panjang yang menyatakan bahwa doktrin “Tanah Air Biru” Turki dengan cepat mengubah Ankara menjadi “kekuatan angkatan laut strategis yang membentang dari Yunani hingga Yaman,” dan menggambarkannya sebagai “tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya” bagi Israel. Laporan itu menunjukkan bahwa Turki tidak lagi puas hanya dengan menggambar peta, tetapi mulai memaksakan visinya melalui “proyeksi kekuatan dan diplomasi agresif.”
Laporan tersebut menghubungkan antara perluasan pengaruh Turki di Mediterania Timur, Tanduk Afrika, Suriah, Gaza, dan Libya, dengan doktrin “Tanah Air Biru” yang dirumuskan oleh perwira angkatan laut Turki pada tahun 2006, sebelum kemudian berubah menjadi salah satu pilar kebijakan luar negeri Presiden Erdoğan. Doktrin ini bertujuan untuk memaksakan kontrol maritim yang luas atas sekitar 462.000 kilometer persegi, mengamankan pengaruh Turki di jalur laut vital antara Laut Hitam dan Laut Mediterania, serta akses ke cadangan gas dan minyak di Mediterania Timur.
Menurut saluran Israel, Turki bekerja untuk membangun jaringan pengaruh yang membentang dari Suriah utara hingga Libya, Tanduk Afrika, dan Jalur Gaza, memungkinkannya untuk mempengaruhi jalur pelayaran dan energi di kawasan. Pangkalan dan pelabuhan Turki di Libya dan Somalia memberi Ankara kemampuan yang meningkat untuk mempengaruhi Selat Bab al-Mandab dan rute perdagangan maritim, di mana Israel melihat bahwa ekspansi ini dapat membatasi kebebasan gerak militer dan keamanannya di Mediterania Timur dan Laut Merah.
Saluran Israel menganggap bahwa kebangkitan Turki sebagai kekuatan regional dan internasional bukan lagi sekadar ambisi politik, tetapi proyek geopolitik terintegrasi yang menggabungkan industri militer, ekspansi maritim, dan aliansi regional. Hal ini menempatkan Israel di hadapan “tantangan yang kompleks dan belum pernah terjadi sebelumnya,” terutama karena Ankara bergerak dari dalam sistem Barat sebagai anggota NATO dan mitra strategis AS.
Sumber: Al Jazeera





