Setiap hari Jumat, pemandangan yang sama terulang: sebuah umat menghadap ke kiblat yang satu, mendengarkan khotbah yang satu, dan melantunkan zikir yang satu… Namun di saat yang sama, mereka hidup dalam perpecahan yang tidak sepadan dengan risalah mereka!
Jumat bukan sekadar ritual ibadah, tetapi seruan rabbani mingguan untuk membangun kembali umat atas dasar persatuan. Seolah-olah Allah Ta’ala berfirman kepada kita: “Berkumpullah dalam salat kalian… agar kalian bersatu dalam takdir kalian.”
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ
*Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah.” (QS. Al-Jumu’ah [62]: 9)*
Pertama: Persatuan Adalah Takdir Umat dan Rahasia Kemenangannya
Persatuan bukanlah kemewahan intelektual, melainkan syarat eksistensi.
Allah Ta’ala berfirman:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
*Artinya: “Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 103)*
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
Artinya: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan satu bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Bukhari & Muslim)
Ibnu Taimiyah menetapkan: “Bersatu adalah pokok yang agung di antara pokok-pokok agama, sedangkan berpecah-belah termasuk sebab terbesar kebinasaan.”
Kedua: Dari Sejarah… Ketika Persatuan Menciptakan Kejayaan
Di Perang Badar: Iman menang ketika barisan bersatu.
Di Pertempuran Hittin: Baitulmaqdis tidak terbebaskan kecuali setelah Shalahuddin Al-Ayyubi mempersatukan barisan.
Di Andalusia: Ia runtuh ketika persatuan berubah menjadi konflik.
Inilah sunnah (hukum Allah) yang tidak pernah berubah: Persatuan = Kekuatan, Perpecahan = Kehancuran.
Ketiga: Realitas Kontemporer: Gencatan Senjata yang Lahiriahnya Damai, Batinnya Konflik
Apa yang sedang dirundingkan tentang “ketenangan” atau “gencatan senjata” antara kekuatan-kekuatan besar, termasuk ketegangan antara Amerika dan Iran, tidak berarti berakhirnya konflik. Itu adalah:
Posisi ulang strategis,
Ujian bagi kesadaran umat,
Peluang… atau ancaman.
Di sinilah muncul pertanyaan: Di manakah posisi kita?
Keempat: Poros Utama: Persatuan Umat secara Akidah dan Pendekatan Antar Ulama
1) Mungkinkah umat bersatu secara akidah?
Ya… tetapi bukan dengan makna menghilangkan keragaman. Melainkan dengan makna: kesepakatan atas pokok-pokok besar (Al-Qur’an, Sunnah, tauhid, kiblat yang satu) dan toleransi dalam cabang-cabang ijtihad.
Allah Ta’ala berfirman:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
*Artinya: “Kemudian jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)*
Imam Syafi’i berkata:
“Pendapatku benar namun mengandung kemungkinan salah, dan pendapat orang lain salah namun mengandung kemungkinan benar.”
2) Mengapa perselisihan semakin memuncak?
Fanatisme mazhab
Politisasi agama
Tidak adanya adab dalam perbedaan
Campur tangan media dalam membesar-besarkan konflik
3) Bagaimana cara mendekatkan para ulama umat?
Pertama: Kembali ke pokok (Al-Qur’an dan Sunnah) — Menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah sebagai referensi tertinggi, mendahulukan teks di atas hawa nafsu dan mazhab.
Kedua: Menghidupkan fikih perbedaan — Membedakan antara perbedaan yang diperbolehkan (khilaf sa’igh) dan perbedaan yang tercela. Menghormati mazhab-mazhab fikih.
Ketiga: Mendirikan lembaga-lembaga ilmiah bersama — Yang menghimpun para ulama umat dari berbagai mazhab, dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan terpadu dalam isu-isu besar.
Keempat: Menghentikan ujaran kebencian — Mengharamkan tindakan takfir (mengkafirkan) dan tabdi’ (menganggap sesat) tanpa ilmu. Menyebarkan budaya kasih sayang. Tidak saling mencaci dan kembali ke pokok kita yang benar.
Kelima: Mengarahkan media keagamaan dari arena konflik menjadi platform persatuan.
4) Model-model sejarah yang gemilang tentang pendekatan:
Keempat imam mazhab—Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad—saling berbeda pendapat, tetapi mereka saling mencintai. Perbedaan mereka tidak menghalangi persatuan umat. Di zaman Shalahuddin Al-Ayyubi, semua mazhab fikih bersatu di bawah panji jihad melawan musuh.
5) Apakah pendekatan (antar ulama) mustahil?
Sama sekali tidak. Bahkan ia adalah: mungkin secara syariat, nyata secara historis, dan kebutuhan yang menentukan nasib. Namun ia membutuhkan: kehendak yang tulus, kepemimpinan yang sadar, dan proyek yang menyatukan.
6) Awal era baru… Bagaimana?
Mengumumkan “Piagam Persatuan Ulama”
Mengadakan konferensi berkala untuk persatuan
Menyatukan wacana dalam isu-isu besar (Palestina, identitas, kemerdekaan)
Membangun generasi baru yang tidak membawa dendam masa lalu, dan bersatu di atas pokok-pokok yang benar dan kokoh.
Kelima: Mengapa Kita Tidak Menang?
Karena kita berbeda-beda.
Karena kita tanpa proyek (peradaban).
Karena kita belum menjadikan agama sebagai kekuatan peradaban.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ
*Artinya: “Dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.” (QS. Al-Anfal [8]: 46)*
Keenam: Menuju Proyek Global untuk Umat
Persatuan pemikiran (intelektual)
Integrasi ekonomi di semua bidang, serta upaya mewujudkan kebangkitan produktif ekonomi, kemandirian umat dalam pangan, obat-obatan, sandang, dan persenjataan
Aliansi politik
Kebangkitan pendidikan dan riset di berbagai bidang
Malik bin Nabi berkata: “Ide-ide jika tidak berubah menjadi amal perbuatan, akan tetap terpenjara di dalam benak.”
Ketujuh: Jumat… Mimbar Pembangunan Persatuan
Khotbah Jumat harus berubah menjadi:
Proyek kesadaran (pembangunan nalar)
Wacana persatuan
Platform perbaikan
Penutup: Antara Hembusan dan Kabar Gembira
Sesungguhnya hari Jumat berkata kepada kita setiap minggu:
“Kembalilah kepada Allah… niscaya kalian bersatu. Bersatulah… niscaya kalian menang. Menanglah… niscaya kalian memimpin dunia kembali.”
Dan awal jalan bukan hanya pada senjata, tetapi juga pada:
Persatuan hati
Persatuan kata (kesepakatan)
Persatuan ulama
Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُم بُنْيَانٌ مَّرْصُوصٌ
*Artinya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash-Shaff [61]: 4)*
Daftar Pustaka:
Al-Qur’an Al-Karim
Shahih Bukhari & Muslim
Tirmidzi
Ibnu Taimiyah – Majmu’ Al-Fatawa – Dar Al-Wafa
Ibnu Al-Atsir – Al-Kamil fi At-Tarikh – Dar Al-Kutub Al-Ilmiyyah
Malik bin Nabi – Syuruth An-Nahdhah – Dar Al-Fikr
Asy-Syafi’i – Ar-Risalah
Ibnu Katsir – Al-Bidayah wa An-Nihayah
Sumber: Tarbiyaa




