RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,041)
  • Akhlak (131)
  • Al-Qur'an (77)
  • Aqidah (167)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (190)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (433)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (11)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (198)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (4)
  • Wasathiyah (131)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Wasathiyah

Reformasi Lembaga-lembaga Pendidikan Masyarakat

  • 23-05-2026
  • No comments
1cnptknz0q6880gg40 800xauto

Oleh: M. Ahmad Syusyah

Pendahuluan

Pendidikan masyarakat dan individu-individu di dalamnya membutuhkan lembaga-lembaga pendidikan. Pada hakikatnya, lembaga-lembaga ini adalah sarana (wasâ`ith) yang membawa tujuan-tujuan pendidikan untuk diwujudkan dalam diri anggota masyarakat, dalam berbagai aspek kehidupan mereka: intelektual, psikologis, dan perilaku. Lembaga-lembaga ini adalah alat-alat pendidikan dalam mengubah realitas masyarakat, menanamkan nilai-nilai, konsep-konsep, perasaan-perasaan, dan perilaku-perilaku. Lembaga pendidikan menemani individu dalam setiap tahap kehidupannya.

Dr. Abdurrahman An-Nahlawi berkata: “Setiap proyek atau pencapaian yang ingin direalisasikan memiliki sarana yang sesuai dan mencapai tujuannya. Membangun gedung besar membutuhkan mekanisme, insinyur, bahan bangunan dasar, dan pekerja. Demikian pula pendidikan. Ia adalah proyek yang bertujuan membentuk generasi, memelihara pertumbuhannya untuk mencapai tujuan tertinggi umat—tujuan yang Allah serukan kepada kita, agar kita menjadi umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.”[1]

Lembaga-lembaga ini didefinisikan sebagai: “Lingkungan-lingkungan atau suasana-suasana yang membantu manusia tumbuh secara menyeluruh dalam berbagai aspek kepribadiannya, berinteraksi dengan makhluk di sekitarnya, dan beradaptasi dengan komponen-komponen di sekitarnya.”[2]

Pertama: Lembaga-lembaga (Sarana) Pendidikan

  1. Keluarga

  2. Sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan

  3. Masjid-masjid

  4. Media cetak, elektronik, dan daring

  5. Rumah-rumah budaya: bioskop, teater, pusat kebudayaan, dan perpustakaan umum

  6. Klub olahraga dan sosial, serta pusat-pusat pemuda

  7. Lembaga kepolisian

  8. Lembaga kemiliteran

Dr. Majid Al-Kilani menambahkan: lembaga klan dan suku, lembaga pendidikan politik dan pemerintahan, serta lembaga peradilan dan hisbah (pengawasan pasar dan moral).[3]

Kedua: Syarat-syarat Efektivitas Lembaga Pendidikan

Agar lembaga-lembaga pendidikan menjadi efektif, berpengaruh, dan menjalankan perannya sebagaimana mestinya, harus tersedia hal-hal berikut:

1. Kesatuan Filosofi Pendidikan, Tujuan, dan Kurikulumnya

Di negara-negara kuat, kebijakan-kebijakan pendidikan untuk seluruh lembaga masyarakat dipersatukan. Karena keselarasan kebijakan-kebijakan ini di semua lembaga pendidikan akan memberikan kesatuan pada kepribadian dalam komponen-komponen dasarnya: akidah, pemikiran, dan perilaku. Sebaliknya, jika kebijakan, filosofi, dan tujuan pendidikan tersebut saling bertentangan, maka akan berujung pada perobekan kepribadian dan frustrasi, yang pada gilirannya menyebabkan perobekan masyarakat dan keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan. Kepribadian seperti ini tidak akan mampu bertahan menghadapi tuntutan hidup, pembangunan bangsa, atau melawan musuh.

Allah Ta’ala berfirman:

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَّجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِّرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا ۚ الْحَمْدُ لِلَّهِ ۚ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

“Allah membuat perumpamaan: seorang budak yang dimiliki oleh beberapa orang yang saling berselisih, dan seorang budak yang sepenuhnya dimiliki oleh satu orang. Adakah kedua budak itu sama? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (Q.S. Az-Zumar: 29)

Imam Al-Banna rahimahullah berkata dalam risalah Nahw an-Nur (Menuju Cahaya):

“Kalian akan melihat di hadapan kalian dua jalan. Masing-masing menyeru kalian untuk mengarahkan umat ke jalannya dan menempuh jalannya. Masing-masing memiliki karakteristik, keistimewaan, dampak, hasil, juru dakwah, dan pengembangnya. Adapun jalan pertama: jalan Islam, prinsip-prinsipnya, landasannya, peradabannya, dan kemodernannya. Adapun jalan kedua: jalan Barat, manifestasi kehidupannya, sistem-sistemnya, dan kurikulumnya. Keyakinan kami: bahwa jalan pertama—jalan Islam, landasan-landasannya, dan prinsip-prinsipnya—adalah satu-satunya jalan yang harus ditempuh, dan ke sanalah umat sekarang dan masa depan harus diarahkan.”

2. Harus Berangkat dari dan Mengekspresikan Keyakinan serta Budaya Masyarakat

Keteguhan negara dalam pembangunan, kemajuan, dan pembelaan diri tampak dari kerja seriusnya untuk menyatukan kebijakan-kebijakan pendidikan ini, sesuai dengan budaya dan keyakinan umat, guna mendidik manusia yang kuat, mampu membangun, berinovasi, dan berkreasi—manusia yang saleh lagi reformis (ash-shalih al-mushlih) di kehidupan dunia dan beruntung di akhirat dengan kenikmatannya.

Dalam sebuah artikel tentang reformasi Timur, Imam Al-Banna berkata:

“Boleh jadi cara terbaik untuk mereformasi Timur dan membebaskannya dari kesulitan intelektualnya adalah dengan mengarahkan para pemimpin dan penguasanya—mengarahkan upaya-upaya bangsa—kepada tujuan yang digali dari ruh Timur, sesuai dengan watak penduduknya, tidak terbatas pada sekadar meniru Eropa atau lainnya, tetapi yang menjadi pokoknya adalah membangkitkan Timur dari keterpurukannya, dan menggunakan kekuatan-kekuatan tersembunyinya dalam reformasi ilmiah, ekonomi, dan kemodernan yang kelak akan melahirkan kekuatan material dan moral Timur.”

3. Harus Bekerja Memurnikan Keyakinan dan Budaya dari Penyimpangan dan Takhayul

“Maksudku, banyak muslim di banyak zaman telah melepaskan dari Islam sifat-sifat, gambaran, dan bentuk-bentuk hasil rekayasa mereka sendiri. Mereka menggunakan kelenturan dan keluasannya dengan cara yang merusak, padahal kelenturan dan keluasan itu tidak lain adalah untuk hikmah yang luhur. Maka mereka berselisih tentang makna Islam. Dan terukirlah dalam diri anak-anak bangsa ini beberapa gambaran tentang Islam—dekat atau jauh dari Islam pertama yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabatnya dengan sebaik-baik contoh.” (Konferensi Kelima: Syekh Hasan Al-Banna)

Ketiga: Realitas Lembaga Pendidikan Kita di Dunia Islam

Semua lembaga ini telah mengalami goncangan keras dan penetrasi mendalam dari beberapa sisi:

  1. Lintasan (arah)-nya diubah dari landasan Islam ke landasan Barat sekuler.

  2. Konsekuensinya, beragamlah filosofi, tujuan, dan kurikulum.

  3. Upaya menghapus sekolah-sekolah Islam, atau menghapus sebagiannya sama sekali, seperti katatib (lembaga pendidikan dasar tradisional).

  4. Melemahkan sebagian lembaga, seperti melemahkan tugas dan kinerja masjid, serta melemahkan sekolah-sekolah Islam.

  5. Mengosongkan hampir semua lembaga dari para pembaharu, terutama pembaharu Islam (pengeringan mata air pembaharu).

Keempat: Dampak yang Timbul dari Upaya Mengubah Landasan dan Titik Tolak Pendidikan Islam ke Landasan Barat

  1. Dualitas nilai dalam satu masyarakat: antara nilai-nilai Islam dan nilai-nilai sekuler lainnya.

  2. Perobekan kepribadian akibat konflik psikologis antara dua sistem nilai.

  3. Perobekan satu masyarakat akibat konflik antara para pemilik kedua sistem nilai.

  4. Keterbelakangan pembangunan dalam segala aspek kehidupan.

  5. Ketergantungan (subordinasi) kepada pemilik nilai-nilai Barat sekuler.

  6. Melahirkan elit penguasa yang berperan sebagai agen dan perantara bagi para penjajah.[4]

Inilah kejahatan bangsa-bangsa Islam terhadap diri mereka sendiri—saat ini. Mereka kembali kepada fanatisme kesukuan (ashabiyah qaumiyah) yang mereka alami sebelum Islam, lalu mencampurnya dengan budaya dan sistem impor dari Barat Eropa dan Amerika, dan membentuk dari campuran ini sistem-sistem dan budaya-budaya yang saling bertentangan, bermusuhan, buruk sumbernya, rusak lintasan dan praktiknya, dan berakhir pada campuran yang tidak serasi dari individu-individu dan kelompok-kelompok yang kehilangan identitas, menderita perobekan dan kebingungan.[5]

Syekh Hasan Al-Banna rahimahullah berkata:

“Adapun dampak keguncangan (tadzabdzub) ini dalam manifestasi kehidupan praktis kita sangat besar dan jelas, dan barangkali ia menjadi sumber banyak masalah dalam pendidikan, peradilan, kehidupan keluarga, sumber-sumber budaya umum, dan dalam urusan-urusan publik lainnya. Adakah bangsa selain Mesir yang pendidikannya sejak langkah pertamanya berjalan di atas dua jenis pendidikan: pendidikan agama yang terhubung dengan separuh umat dan berakhir di Al-Azhar, lembaga-lembaga, dan fakultas-fakultasnya; dan pendidikan sipil yang terhubung dengan separuh lainnya—masing-masing memiliki karakteristik dan keistimewaannya sendiri? Apakah ini terjadi kecuali karena rantai pertama adalah sisa Islam yang masih ada dalam jiwa umat ini, dan rantai kedua adalah hasil dari sekadar mengikuti Barat dan mengambil darinya? Lalu apa yang menghalangi kita untuk menyatukan pendidikan pada tahap-tahap awalnya berdasarkan pendidikan nasional Islam, kemudian setelah itu melakukan spesialisasi? Adakah bangsa selain Mesir yang peradilannya terpecah menjadi peradilan syar’i dan non-syar’i? Apakah ini terjadi kecuali karena peradilan pertama adalah dampak Islam dalam kehidupan Mesir, dan peradilan kedua adalah anak dari sekadar meniru Barat dan mengambil darinya? Lalu apa yang menghalangi kita untuk menyatukan pengadilan dengan menjadikan syariat Islam sebagai syariat negara dan sumber kodifikasi? Dan rumah-rumah tangga Mesir ini, bukankah kita melihat di dalamnya dampak kehidupan yang guncang dan kontradiktif ini? Banyak keluarga Mesir yang masih sangat kuat mempertahankan warisan ajaran dan adab Islam, sementara banyak lainnya telah terkelupas dari ajaran-ajaran ini, keluar dari adab-adab ini, dan dikuasai oleh kecenderungan meniru dalam segala hal. Bahkan sebagian kita telah melampaui batas hingga menjadi lebih asing daripada orang-orang Barat itu sendiri.”

“Dan harus ada batasan untuk kesenjangan yang aneh ini, hingga kita bisa meraih umat yang bersatu. Karena tanpa persatuan, tidak akan terwujud kebangkitan, dan tidak akan hidup umat dengan kehidupan yang sempurna.”

Namun, yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang diserukan oleh syahid Hasan Al-Banna. Pengadilan syar’i dihapuskan pada tahun 1955 M, pendidikan sipil dan asing diperluas, dan pendidikan Al-Azhar dilemahkan. Wa la haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhim (Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).

Kelima: Mengobati Kondisi Lembaga Pendidikan Kita di Dunia Islam

A. Beberapa Fakta

  1. Kemajuan peradaban suatu bangsa berangkat dari budayanya dan apa yang dikandungnya berupa agama, adat, dan tradisi. Di antara penyebab keterbelakangannya adalah upaya membangun peradabannya dengan meniru bangsa lain yang tidak sepaham dengan budayanya.

  2. Umat Islam adalah umat yang berakar, dan budaya Islamnya mendalam dalam dirinya.

  3. Islam dengan sistemnya yang komprehensif mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk sistem pendidikan.

  4. Sistem-sistem Islam secara global mampu menyerap apa pun yang ditawarkan oleh peradaban manusia, selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsipnya.

B. Merumuskan Ulang Tujuan Pendidikan bagi Lembaga-lembaga Pendidikan Kita

Ada kebutuhan mendesak untuk merumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang spesifik, yang memiliki keseimbangan antara keaslian (al-ashalah) dan kekinian (al-mu’asharah). Sistem dan lembaga pendidikan yang ada di negara-negara Arab dan Islam masih menderita dalam bidang ini karena dua hal:

Pertama: Sistem dan lembaga pendidikan yang didirikan di negara-negara ini dengan model Eropa dan Amerika masih terasing secara budaya dan pendidikan di kedua benua ini.

Kedua: Menjejalkan (talqin) tujuan-tujuan pendidikan impor ini seperti menjejalkan teks-teks suci, lalu mengabaikan kondisi sosial, ilmiah, dan tahap peradaban yang menyertai tujuan-tujuan ini, serta mengabaikan hasil-hasil yang lahir dari impor ini, dan tidak mengetahui apa pun tentang revisi yang sedang berlangsung terhadap tujuan-tujuan ini di negeri asal dan pembuatnya.[6]

C. Tujuan Akhir dan Sasaran Pendidikan Islam

“Sesungguhnya tujuan utama keberadaan manusia di alam semesta adalah beribadah kepada Allah dan tunduk kepada-Nya, serta menjadi khalifah di bumi untuk memakmurkannya dengan mewujudkan syariat Allah dan ketaatan kepada-Nya. Al-Qur’an telah menyatakan dengan jelas tujuan ini dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 56)

Jika ini adalah tugas manusia dalam kehidupan, maka pendidikannya harus memiliki tujuan yang sama. Karena pendidikan Islam adalah: ‘Pengembangan manusia dan pengaturan perilaku serta emosinya berdasarkan agama Islam’. Dengan demikian, ‘tujuan akhir pendidikan Islam adalah mewujudkan penghambaan (al-‘ubudiyyah) kepada Allah dalam kehidupan individu dan sosial manusia.'”[7]

Di antara makna pengembangan manusia adalah: “Membangun jiwa-jiwa, menegakkan akhlak, dan membekali anak-anak bangsa dengan karakter kepriaan sejati, sehingga mereka mampu bertahan menghadapi rintangan di jalan mereka dan mengatasi kesulitan yang menghadang mereka.” (Imam Al-Banna: Risalah Hal Nahnu Qaum ‘Amaliyyun? – Apakah Kita Bangsa yang Pragmatis?)

Ada perincian tentang masalah penentuan tujuan pendidikan ini, namun tidak ada ruang untuk menyebutkannya di sini dalam tinjauan singkat ini tentang urgensi reformasi lembaga pendidikan di dunia Islam.

Keenam: Peran Negara dalam Reformasi Lembaga Pendidikan

  1. Memantapkan bahwa budaya dan akidah umat adalah Islam, dan menjadikan filosofi Islam serta sistem Islam sebagai landasan tujuan pendidikan.

  2. Kemampuan masyarakat Islam untuk menyerap budaya lain yang datang kepada mereka dengan berbagai sebab, atau yang merupakan salah satu komponen asli masyarakat (minoritas).

  3. Membentuk dewan tinggi untuk lembaga pendidikan di negara yang bertugas merencanakan, memantau, dan mengoordinasikan. Tugasnya meliputi:

    • Menetapkan tujuan-tujuan akhir dan sasaran-sasaran luhur pendidikan Islam yang ingin diwujudkan dalam masyarakat.

    • Mengawasi garis-garis besar konten pendidikan lembaga-lembaga.

    • Memantau rencana setiap lembaga, pelaksanaannya, dan evaluasi berkelanjutan.

  4. Setiap lembaga menyusun rencana pendidikannya, yang meliputi:

    • Tujuan umum, tujuan prosedural, program pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi.

    • Menyusun konten pendidikan berdasarkan tujuan.

    • Melatih kader-kader tentang rencana-rencana dan mempersiapkan mereka untuk pelaksanaan.

Di antara lembaga pendidikan yang paling penting adalah: fakultas dan institut yang melahirkan para guru, institut-institut agama yang melahirkan para dai, serta lembaga-lembaga yang melahirkan para jurnalis, politisi, dan ekonom. Secara ringkas: lembaga-lembaga pendidikan yang melahirkan para pemimpin yang berpengaruh dalam masyarakat dan kehidupan.

Catatan Penting

Umat harus merencanakan sendiri sistem pendidikannya, menentukan filosofi dan tujuannya sendiri, dan tidak menyerahkannya kepada segelintir kecil “birokrasi pendidikan” yang bermain-main membentuk generasi-generasi umat berdasarkan kepentingan partai, kepentingan pribadi, dan loyalitas budaya yang terasing dan kacau.[8]

Daftar Pustaka

[1] Ushul At-Tarbiyah Al-Islamiyyah wa Asalibuha (Pondasi Pendidikan Islam dan Metodenya) – Dr. Abdurrahman An-Nahlawi – Dar Al-Fikr – Damaskus – Beirut.

[2] Website Shoid Al-Fawaid: Buku Muqaddimah fi At-Tarbiyah Al-Islamiyyah (Pendahuluan dalam Pendidikan Islam) – Dr. Shalih bin Ali Abu ‘Arad – Riyadh: Dar Ash-Shaultiyyah.

[3] Website Al-Alukah: Mu’assasat At-Tarbiyah Al-Islamiyyah (Lembaga-lembaga Pendidikan Islam) – Dr. Majid ‘Arisan Al-Kilani.

[4] Carnoy, dari buku Ahdaf At-Tarbiyah Al-Islamiyyah (Tujuan-tujuan Pendidikan Islam) – Dr. Majid Al-Kilani.

[5] Website Al-Alukah: Mu’assasat At-Tarbiyah Al-Islamiyyah – Dr. Majid ‘Arisan Al-Kilani.

[6] Ahdaf At-Tarbiyah Al-Islamiyyah – Dr. Majid ‘Arsan Al-Kilani – Dar Al-Qalam – Uni Emirat Arab – Dubai – edisi pertama 2005.

[7] Ushul At-Tarbiyah Al-Islamiyyah wa Asalibuha – Dr. Abdurrahman An-Nahlawi – Dar Al-Fikr – Damaskus – Beirut.

[8] Ahdaf At-Tarbiyah Al-Islamiyyah – Dr. Majid ‘Arsan Al-Kilani – Dar Al-Qalam – Uni Emirat Arab – Dubai – edisi pertama 2005.

Sumber: Tarbiyaa

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Lembaga Pendidikan
Anda Mungkin Juga Menyukai
Shutterstock 1491610727 scaled
View Post
  • Sejarah Islam
  • Wasathiyah

Nikmatnya Sirah Nabawiyah

3e0r365pdomco0g040 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Metode yang Benar dalam Berdakwah

1cnptknz0q6880gg40 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah (Bagian 4)

٢٠١٥٠٧٠٩ ١٥٠٠٥٥
View Post
  • Tokoh Islam
  • Wasathiyah

Syekh Yusuf Al-Qardhawi: Ibnu Taimiyah di Zaman Ini

963
View Post
  • Wasathiyah

Simbolisme: Salah Satu Rahasia Rangkaian Ibadah Haji

1cnptknz0q6880gg40 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah (Bagian 3)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • 0101 13 1
    • Akhbar Dauliyah
    SAHA: Bagaimana Ambisi Militer Turki Berubah Menjadi Mimpi Buruk Strategis bagi Israel?
    • 10.05.26
  • 7pe2ky6a878ks4oowc 800xauto 2
    • Wasathiyah
    Memahami Islam Secara Menyeluruh (Bagian 2)
    • 10.05.26
  • 03 3
    • Akhlak
    Aku Menyeru Mereka di Siang Hari… dan Berdoa untuk Mereka di Malam Hari
    • 10.05.26
  • Screenshot+2024 08 31+at+7.09.48+PM 4
    • Akhlak
    Hasad (Dengki)
    • 10.05.26
  • 02 5
    • Akhbar Dauliyah
    Pemimpin Tertinggi Iran Bertemu Panglima Militer Tertinggi, Berikan Arahan Baru
    • 10.05.26
  • ÇáÍÖÇÑÉ ÇáÇÓáÇãíÉ 6
    • Sejarah Islam
    Lembaga-Lembaga Amal dalam Sejarah Muslim
    • 11.05.26

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Daud Jordan pada Perang di Front Baru: Israel Tutup Semua Perbatasan Gaza, Warga Kembali Hidup dalam Bayang-bayang Kelaparan
  • Risalah pada Downlod Gratis: 30 Materi Ceramah Ramadhan!
  • Asep M pada Downlod Gratis: 30 Materi Ceramah Ramadhan!
  • Tennoveri Darwis pada Mengenal Khalifah Umar bin Abdul Aziz
  • Risalah pada Khalifah Pertama Bani Abbasiyah: Abul Abbas As-Saffah
  • mauza pada Khalifah Pertama Bani Abbasiyah: Abul Abbas As-Saffah

Input your search keywords and press Enter.