Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, Ro Khanna, mengungkapkan bahwa ia menyaksikan langsung kondisi yang disebutnya “sangat tidak manusiawi” di wilayah pendudukan West Bank. Pernyataan ini disampaikan menyusul insiden penghadangan kendaraannya oleh pemukim ilegal Israel bersenjata yang dibantu oleh tentara Israel.
Melalui video yang diunggah di media sosial X pada hari Sabtu, Khanna mengakui insiden tersebut sempat membuatnya takut. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa dampak psikologis terbesar yang ia rasakan justru datang dari kisah-kisah memilukan yang didengarnya langsung dari keluarga Palestina dan warga Amerika keturunan Palestina.
“Hati saya benar-benar tersentuh sebagai sesama manusia, bukan sebagai politisi,” ungkapnya.
Salah satu warga yang ia temui adalah seorang ayah yang kehilangan putranya yang baru berusia 14 tahun. Remaja yang memegang kewarganegaraan AS tersebut tewas di tangan tentara Israel. Sang ayah tak kuasa menahan tangis saat bercerita bahwa ia sengaja membiarkan kamar tidur anaknya tetap utuh karena rasa duka yang teramat dalam.
Khanna juga menyoroti ketimpangan ekstrem terkait akses air bersih. Ia melihat banyak keluarga Palestina yang kesulitan mendapatkan air, bahkan sekadar untuk mencuci baju atau menyiram toilet. Sebaliknya, para pemukim ilegal Israel yang tinggal di dekat mereka justru mendapat pasokan air berlipat ganda.
Saat berkunjung ke sebuah sekolah, seorang kepala sekolah menceritakan kepadanya tentang seorang siswa yang tewas tertembak. Hingga saat ini, kepala sekolah tersebut mengaku tidak pernah dihubungi oleh polisi maupun tentara Israel, dan tidak tahu apakah kasus tersebut diselidiki atau tidak.
Di Hebron, para pedagang mengeluhkan perlakuan keji yang kerap mereka terima dari para pemukim Israel yang tinggal di lantai atas toko mereka. Para pedagang ini sering dilempari air kencing, sayuran busuk, hingga cairan asam.
Selain itu, Khanna mengkritik sistem diskriminatif yang membatasi ruang gerak di West Bank, mulai dari pemisahan pos pemeriksaan hingga perbedaan warna pelat nomor kendaraan antara warga Palestina dan pemukim Israel.
Seorang warga Amerika keturunan Palestina juga menceritakan pengalaman pahitnya kepada Khanna. Ia dipukuli dan dirampok oleh petugas di pos pemeriksaan hanya karena tidak bisa berbahasa Ibrani. Pria tersebut mengaku sudah bertahun-tahun tinggal di luar negeri sehingga tidak mampu berkomunikasi dengan para penjaga.
Khanna menyamakan sistem pemisahan ini dengan era segregasi rasial (Jim Crow) yang dulu pernah terjadi di wilayah Selatan Amerika Serikat.
“Apa pun ideologi Anda, itu tidak penting,” tegasnya. “Apa yang terjadi di West Bank benar-benar tidak manusiawi. Tidak ada satu pun manusia yang sanggup menoleransinya.”
Khanna berkomitmen untuk memanfaatkan posisinya demi menyuarakan penderitaan warga Palestina dan warga Amerika keturunan Palestina yang selama ini luput dari perhatian media dan panggung politik dunia.
“Kita harus membela martabat kemanusiaan. Kita harus menyuarakan apa yang sebenarnya menimpa warga Palestina dan warga Amerika keturunan Palestina di West Bank,” pungkasnya. Khanna memastikan dirinya akan terus mengangkat isu ini dalam beberapa waktu ke depan.
Sumber: Anadolu





