Ada kisah-kisah penutup yang sanggup menggetarkan dada dan meneteskan air mata. Terlebih ketika kisah itu datang dari ekspedisi militer terakhir yang dipimpin langsung oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Ini bukan sekadar pergerakan pasukan biasa, melainkan sebuah guncangan jiwa dan ujian keimanan tingkat tertinggi. Dalam sejarah, peristiwa ini dikenal sebagai Perang Tabuk atau Ghazwat al-‘Usrah, yang berarti perang dalam masa-masa sulit. Pada bulan Rajab tahun kesembilan Hijriah, ujian yang datang bukan cuma ancaman musuh, melainkan juga situasi yang melingkupinya. Kaum Muslimin dihimpit sekaligus oleh kemarau panjang, sengatan cuaca yang sangat panas, dan kemiskinan yang parah. Semua ini terjadi tepat saat buah-buahan di Madinah mulai ranum dan orang-orang merindukan ketenangan di bawah naungan pohon yang sejuk.
Namun, ketika iman yang tulus telah berakar kuat di dalam dada, keajaiban pun tercipta. Saat itu Madinah terbelah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah orang-orang munafik yang memilih mundur sambil berseru, “Janganlah berangkat dalam cuaca panas ini!” Kelompok kedua adalah kaum beriman sejati yang merelakan jiwa dan raga mereka. Mereka menantang padang pasir Arabia yang ganas, panas yang membakar, serta bukit pasir yang mematikan, demi memberikan pelajaran militer dan spiritual yang abadi bagi dunia. Bahkan sebelum pertempuran dimulai, moral pasukan Kekaisaran Bizantium sebagai adidaya masa itu sudah runtuh. Mereka memilih mundur setelah Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka saat melihat pasukan yang menyongsong kematian demi syahid dengan penuh semangat.
Di balik linangan air mata rindu, pengorbanan harta yang luar biasa, dan perjuangan mengatasi keterbatasan diri, mari kita renungkan 5 peristiwa penuh emosi dan keyakinan yang diabadikan dalam Surah At-Taubah.
Peristiwa Pertama: Mempersiapkan Pasukan
Saat mengenang Perang Tabuk, nama Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu senantiasa bersinar sebagai teladan tertinggi pengorbanan harta demi membela Islam.
Ketika Rasulullah SAW berdiri di masjid menyerukan penggalangan pasukan, beliau tidak hanya menghadapi ancaman perang, tetapi juga krisis ekonomi yang sangat berat. Bagaimana mungkin membiayai 30.000 prajurit saat Madinah sendiri sedang dilanda kesulitan finansial, hingga makanan untuk prajurit dan perbekalan kuda sangat terbatas?
Pada saat yang serba sulit itu, Utsman bangkit menjawab kebutuhan pasukan. Tindakannya membuat semua orang terpana. Beliau membiayai sendiri sepertiga dari total kebutuhan seluruh pasukan dengan hartanya, meliputi 300 unta beserta perlengkapannya, 50 ekor kuda, serta 1.000 dinar emas yang diserahkan langsung ke pangkuan Rasulullah.
Bayangkan betapa mengharukannya suasana saat itu. Rasulullah SAW membolak-balikkan uang emas tersebut dengan tangan beliau yang mulia. Wajah beliau memancarkan rasa lega dan syukur saat menatap Utsman sambil bersabda:
مَا ضَرَّ عُثْمَانَ مَا عَمِلَ بَعْدَ الْيَوْمِ
“Tidak ada hal yang dapat memudharatkan Utsman atas apa pun yang ia lakukan setelah hari ini.” (HR. Tirmidzi)
Pada saat itulah Utsman telah meraih surga melalui hartanya dan menjadi penopang finansial umat di masa paling kritis.
Meski demikian, kebaikan yang luar biasa ini tidak lepas dari celoteh orang-orang berhati dengki. Kaum munafik justru mengejek. Jika Utsman bersedekah, mereka menuduhnya sekadar pamer. Ketika ada warga miskin yang hanya mampu menyumbang segenggam kurma, mereka mencibir dan berkata bahwa Allah tidak membutuhkan sumbangan secuil itu.
Namun teguran Ilahi turun langsung dari langit untuk membela orang-orang berhati murni sekaligus menelanjangi para pemfitnah melalui Surah At-Taubah:
الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
(Orang-orang munafik itu) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak memperoleh untuk disedekahkan selain sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang sangat pedih. (QS. At-Taubah: 79)
Peristiwa Kedua: Penunjukan Ali untuk Menjaga Madinah dan Air Mata Kaum yang Sedih
Ketika persiapan pasukan telah rampung dan waktu keberangkatan makin dekat, suasana Madinah menggambarkan dua kontras yang tajam. Di satu sisi ada kaum munafik yang sibuk mencari alasan palsu, sementara di sisi lain ada kaum beriman yang imannya meluap-luap hingga menangis karena sangat ingin ikut bertempur.
Sangat berbeda dari kaum munafik yang mengeluhkan cuaca panas, tujuh orang sahabat dari kalangan kurang mampu mendatangi Rasulullah SAW. Mereka tidak meminta uang ataupun perbekalan. Mereka hanya memohon seekor tunggangan agar bisa ikut berjuang di medan perang. Ketika Rasulullah SAW terpaksa menolak karena memang tidak memiliki kendaraan tersisa, mereka berbalik pulang sambil menangis tersedu-sedu. Mereka tidak takut mati, melainkan sedih karena kehilangan kesempatan berjuang bersama Nabi. Al-Qur’an mengabadikan ketulusan air mata mereka melalui ayat berikut:
وَلَا عَلَى الَّذِينَ إِذَا مَا أَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لَا أَجِدُ مَا أَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلَّا يَجِدُوا مَا يُنفِقُونَ
Dan tidak ada dosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (QS. At-Taubah: 92)
Di saat yang sama, kelompok munafik di Madinah sibuk merancang perpecahan melalui Masjid al-Dirar, sebuah tempat yang didirikan bukan untuk beribadah melainkan untuk berkonspirasi. Kondisi dalam kota sangat rawan selama pasukan utama pergi, dan ancaman dari dalam sama bahagianya dengan ancaman musuh dari luar.
Menyadari bahwa keamanan ibu kota sama pentingnya dengan garis depan pertempuran, Rasulullah SAW mempercayakan tugas berat ini kepada sosok yang paling beliau cintai dan paling pemberani, yaitu Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Ali ditunjuk sebagai wakil beliau untuk menjaga para wanita, anak-anak, serta kaum yang lemah di Madinah.
Peristiwa Ketiga: Tekad Unjuk Setia Abu Dzar al-Ghifari
Di kala sebagian orang merasa berat meninggalkan kenyamanan rumah, ada sosok-sosok yang pantang menyerah meski harus mempertaruhkan nyawa.
Dalam perjalanan jauh menembus padang pasir Tabuk yang sangat panas, unta milik Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu kelelahan hingga lambat laun ia tertinggal jauh di belakang rombongan.
Abu Dzar tidak berbalik arah menuju sejuknya Kota Madinah. Sebaliknya, ia mengambil keputusan yang didasari rasa cinta dan kesetiaan yang mendalam. Ia turun dari tunggangannya, memikul sendiri barang bawaannya yang berat di atas punggung, lalu melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki seorang diri menembus terik matahari demi menyusul langkah Rasulullah SAW.
Dari kejauhan, para sahabat di perkemahan melihat bayangan seseorang yang berjalan melintasi fatamorgana gurun. Mereka melapor, “Wahai Rasulullah, ada seseorang berjalan sendirian di sana.” Rasulullah SAW dengan penuh kasih sayang dan rasa kagum bersabda:
كُنْ أَبَا ذَرٍّ
“Semoga dia adalah Abu Dzar.”
Ketika sosok itu makin dekat dan terbukti bahwa ia adalah Abu Dzar, wajah Rasulullah SAW tampak berseri-seri gembira. Beliau kemudian mengucapkan kalimat yang diabadikan oleh sejarah:
يَرْحَمُ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ
“Semoga Allah meredhai Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, ia akan wafat sendirian, dan kelak akan dibangkitkan seorang diri.” (HR. Al-Hakim)
Peristiwa Keempat: Kemenangan Tanpa Pertumpahan Darah
Setelah menempuh perjalanan yang amat panjang serta menahan lapar dan haus yang dahsyat, bahkan sampai ada sahabat yang terpaksa menyembelih unta hanya untuk meminum cairan dari dalam lambungnya, pasukan Muslim terus bergerak maju. Semangat mereka ditempa oleh keimanan yang kokoh, membuat mereka melihat kematian bukan sebagai akhir, melainkan pintu menuju keabadian yang mereka cita-citakan.
Keteguhan jiwa ini berpadu dengan ganasnya alam Gurun Arabia yang terik dan tandus. Ketika pasukan Muslim akhirnya tiba di Tabuk, kedamaian meresap ke dalam dada mereka. Allah menurunkan wahyu yang menghapus rasa lelah dan mengabadikan perjuangan mereka:
ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpa suatu bencana dari musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik. (QS. At-Taubah: 120)
Melihat ketabahan pasukan Muslim, pihak musuh yaitu militer Kekaisaran Bizantium menjadi sangat terkejut. Pimpinan musuh menyadari satu hal yang menakutkan, bahwa pasukan yang sanggup menyeberangi padang pasir mematikan di tengah musim panas demi keyakinan mereka adalah pasukan yang mustahil dikalahkan. Rasa gentar membendung niat mereka untuk bertempur.
Moral pasukan Bizantium runtuh total sebelum pertempuran dimulai. Mereka memilih mundur dan membubarkan diri ke wilayah Syam. Kaum Muslimin pun meraih kemenangan politik dan militer yang gemilang tanpa perlu menumpahkan darah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيرَةَ شَهْرٍ
“Aku diberi kemenangan melalui rasa takut yang ditanamkan ke dalam hati musuhku dari jarak perjalanan satu bulan.” (HR. Bukhari)
Peristiwa Kelima: Kejujuran Tiga Sahabat yang Tertinggal
Sekembalinya Rasulullah SAW dan pasukan ke Madinah, orang-orang munafik berbondong-bondong datang sambil mengucap sumpah palsu untuk membenarkan ketidakhadiran mereka. Rasulullah SAW menerima alasan lahiriah mereka dan menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah.
Namun, tiga sahabat yang dikenal sangat jujur, yaitu Ka’b bin Malik, Mararah bin al-Rabi, dan Hilal bin Umayyah, menolak untuk berbohong. Mereka tertinggal murni karena kelalaian diri, yaitu menunda-nunda keberangkatan di saat kebun buah mereka sedang rindang. Ka’b bin Malik dengan penuh kejujuran menyampaikan kepada Rasulullah SAW:
فَوَاللَّهِ مَا كَانَ لِي مِنْ عُذْرٍ
“Demi Allah, wahai Rasulullah, aku tidak memiliki alasan yang sah.” (HR. Bukhari)
Kejujuran tersebut membawa konsekuensi yang berat. Rasulullah SAW memerintahkan seluruh masyarakat untuk memboikot mereka secara sosial. Selama 50 hari mereka hidup dalam pengasingan yang sangat berat hingga dunia yang luas terasa sempit bagi mereka. Di puncak ujian batin tersebut, pengampunan Allah turun melalui Surah At-Taubah:
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan penerimaan taubatnya, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa mereka pun telah sempit pula terasa oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari siksa Allah, melainkan kepada-Nya jua. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. At-Taubah: 118)
Kejujuran mereka membuahkan ampunan dari langit pada waktu yang paling indah.
Perang Tabuk bukan sekadar perjalanan militer yang berakhir dengan mundurnya musuh. Peristiwa ini adalah pelajaran hidup berharga yang rahasia-rahasianya diabadikan dalam Surah At-Taubah. Ekspedisi terakhir dalam hidup Rasulullah SAW ini mengajarkan bahwa ujian dan kesulitan adalah penyaring sejati untuk melihat kualitas jiwa manusia, membedakan antara kepalsuan kaum penipu dan keluhuran orang-orang yang jujur.
Kisah tentang kedermawanan Utsman, air mata kaum yang sedih, langkah gigih Abu Dzar, serta pengakuan jujur Ka’b bin Malik akan terus menginspirasi kita sepanjang zaman:
Bahwa kemenangan sejati tidak ditentukan oleh besarnya jumlah atau canggihnya persenjataan, melainkan oleh kekuatan iman serta keteguhan hati di belakang pimpinan.
Sumber: Al Mugatama





