MADINAH/SYAM – Dalam lembaran sejarah Islam awal, nama Abu Ubaidah bin Al-Jarrah terukir sebagai sosok yang paling terpercaya, pemberani, dan sangat dicintai Rasulullah ﷺ. Sebagai salah satu dari sepuluh sahabat yang dijanjikan surga (al-‘Asyarah al-Mubasyirun bi al-Jannah), kisah hidupnya adalah teladan tentang kesetiaan, ketawadhuan, dan kepemimpinan yang membebaskan negeri Syam. Julukan “Amin Haadzihil Ummah” (Orang Kepercayaan Umat Ini) yang disematkan Nabi ﷺ padanya, menjadi penegasan atas integritasnya yang tak tergoyahkan.
Akar Keimanan dan Hijrah
Abu Ubaidah Amir binAbdillah bin al-Jarrah berasal dari suku Quraisy, dengan nasab yang bertemu dengan Nabi ﷺ pada kakek mereka, Fihr bin Malik. Ia masuk Islam di awal dakwah melalui ajakan Abu Bakar Ash-Shiddiq, bahkan sebelum Nabi ﷺ berdakwah di rumah Arqam. Keteguhan hatinya diabadikan dalam Al-Qur’an.
لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَاۤدُّوْنَ مَنْ حَاۤدَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ… اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَࣖ
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya… Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al-Mujadilah: 22)
Sa’id bin Abdul Aziz menjelaskan bahwa ayat mulia ini turun berkaitan dengan Abu Ubaidah, yang harus berhadapaan dengan ayahnya sendiri, Abdullah bin al-Jarrah, yang masih musyrik dalam Perang Badar. Di medan itulah, Abu Ubaidah memilih membela Allah dan Rasul-Nya di atas segalanya. Ia juga turut serta dalam dua hijrah: ke Habasyah dan kemudian ke Madinah, di mana Rasulullah ﷺ mempersaudarakannya dengan Sa’ad bin Mu’adz dari kalangan Anshar.
Kesaksian Nabi: “Orang Kepercayaan Umat Ini”
Gelar kehormatan terbesar bagi Abu Ubaidah datang langsung dari Rasulullah ﷺ. Dalam sebuah riwayat shahih, Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينًا، وَإِنَّ أَمِينَ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنَ الجَرَّاحِ
“Sesungguhnya setiap umat memiliki orang tepercaya, dan orang tepercaya umat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” (HR. Al-Bukhari & Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari menjelaskan, gelar al-Amin (orang tepercaya) menunjukkan pengakuan dan keridhaan. Meski sifat ini dimiliki banyak sahabat, hadis ini menegaskan keunggulan spesifik Abu Ubaidah. Kepercayaan ini nyata ketika utusan Najran meminta Nabi mengutus seorang yang “benar-benar terpercaya”. Nabi ﷺ pun bersabda, “Sungguh, aku akan mengutus bersama kalian seorang yang benar-benar terpercaya,” lalu memanggil, “Bangkitlah, wahai Abu Ubaidah bin al-Jarrah.” Saat Abu Ubaidah berdiri, Nabi bersabda, “Inilah orang kepercayaan umat ini.” (HR. Al-Bukhari).
Pengorbanan di Uhud dan Kedudukan di Hati Nabi
Kepahlawanan dan pengorbanannya teruji di Perang Uhud. Saat dua lingkaran besi dari pelindung kepala Nabi ﷺ menancap di pipi beliau akibat serangan musuh, Abu Ubaidah segera mencabutnya dengan gigi serinya. Aksi heroik ini membuat dua gigi seri depan Abu Ubaidah tanggal. Para sejarawan mencatat, “Tidak ada seorang pun yang gigi depannya menjadi lebih bagus setelah tanggal daripada Abu Ubaidah.”
Kedudukannya di hati Nabi ﷺ juga sangat istimewa. Dari Abdullah bin Umar, Aisyah RA ditanya tentang siapa sahabat yang paling dicintai Rasulullah. Beliau menjawab, “Abu Bakar, kemudian Umar, kemudian Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.” (HR. At-Tirmidzi & Ibnu Majah).
Ketawadhuan dan Kepemimpinan yang Dicintai Pasukan
Meski seorang pemimpin, ketawadhuan Abu Ubaidah luar biasa. Dalam ekspedisi Dzatu Salasil, Rasulullah mengutusnya memimpin pasukan yang termasuk Abu Bakar dan Umar, dengan pesan untuk tidak berselisih dengan Amr bin Al-‘Ash yang lebih dahulu ditugaskan di sana. Ketika Amr bersikukuh memegang komando tunggal, Abu Ubaidah dengan rendah hati menerima tanpa membantah, demi menjaga persatuan pasukan.
Ketawadhuan inilah yang membuat pasukan sangat mencintai kepemimpinannya. Di masa Khalifah Umar, meski ditunjuk sebagai Panglima Tertinggi untuk penaklukan Syam, ia merahasiakan surat pengangkatan itu hingga pengepungan Damaskus selesai, demi menghormati Khalid bin Walid yang saat itu menjabat komandan. Di bawah kepemimpinannya yang cerdas dan bijaksana, seluruh wilayah Syam—termasuk Al-Quds (Yerusalem)—berhasil dibebaskan.
Kehidupan yang Zuhud dan Akhir yang Mulia
Kezuhudannya terhadap dunia legendaris. Saat Khalifah Umar mengunjungi rumahnya di Syam, yang ditemukan hanya kain alas, piring, dan bejana usang. Ketika Umar mengirimkan 4000 dirham dan 400 dinar, uang itu seluruhnya dibagikan kepada fakir miskin. Menyaksikan hal serupa yang dilakukan Mu’adz bin Jabal, Umar berkomentar, “Sungguh, mereka orang yang bersaudara, begitu mirip satu sama lain.”
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah wafat pada tahun 18 H/639 M di Desa Jordan akibat wabah tha’un yang melanda Syam. Ia menolak meninggalkan wilayahnya demi keselamatan diri, memilih bersama rakyat yang dipimpinnya. Kepergiannya ditangisi oleh seluruh umat, khususnya Umar bin Al-Khattab yang pernah berujar, “Seandainya rumah ini penuh dengan orang-orang seperti Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, tentu akan membuatku senang.”
Sebagai “Orang Kepercayaan Umat Ini”, Abu Ubaidah meninggalkan warisan keteladanan: kesetiaan total pada agama, keberanian tanpa pamrih, kepemimpinan yang rendah hati, dan kezuhudan yang menyelamatkan hati. Ia adalah bukti nyata dari sabda Nabi ﷺ yang menjaminnya surga, dan namya akan terus dikenang sebagai salah satu pilar terkuat dalam bangunan peradaban Islam.
Sumber bacaan: Ensiklopedi Sahabat, Mahmud Al-Mishri, Pustaka Imam As-Syafi’i.




