GAZA, 4 Mei 2026 — Di Gaza, ujian nasional (Tawjihi) bukan sekadar ujian sekolah biasa. Di sini, ujian menjadi garis pemisah antara putus sekolah dan kelanjutan studi; antara dua tahun perang dan kehilangan arah, dan upaya untuk berpegang pada masa depan yang ditolak oleh siswa-siswa Gaza untuk diringkas hanya dalam pemandangan kehancuran.
Di wilayah yang mengalami kerusakan sekolah pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, duduk untuk ujian sekolah menengah telah berubah menjadi tindakan ketahanan pribadi dan kolektif secara bersamaan.
Angka-angka UNICEF mengukuhkan gambaran suram ini, menegaskan bahwa lebih dari 97 persen sekolah di Gaza telah rusak atau hancur, dan 91,8 persen fasilitas pendidikan memerlukan pembangunan kembali atau rehabilitasi menyeluruh. Di tengah sebagian besar anak usia sekolah, yang berjumlah sekitar 658.000, hanya memiliki akses yang sangat terbatas ke pembelajaran tatap muka selama lebih dari dua tahun ajaran, Tawjihi bukan lagi sekadar pencapaian akademis. Ia telah menjadi gerbang yang terancam untuk masuk ke pendidikan tinggi, dan simbol hak seluruh generasi agar perjalanan pendidikan mereka tidak berakhir di batas perang.
Ruang Alternatif dan Respons Bertahap
Respons Yayasan “Education Above All” terhadap sektor pendidikan di Gaza tidak dimulai hanya dari ujian Tawjihi, tetapi diluncurkan dalam kerangka yang lebih luas yang didirikan sejak fase pertama proyek “Membangun Kembali Harapan di Gaza” dengan mendirikan puluhan tenda dan ruang pendidikan sementara, yang memungkinkan anak-anak dan remaja memiliki lingkungan yang lebih aman untuk kembali belajar secara bertahap.
Seiring meluasnya kesenjangan pendidikan, respons ini meningkat di fase kedua inisiatif tersebut; beralih dari sekadar menyediakan lingkungan alternatif menjadi dukungan sistematis yang menjamin kelangsungan pendidikan nasional. Perkembangan ini terwujud dengan bergabungnya Kementerian Pendidikan dan Pendidikan Tinggi Palestina ke dalam intervensi, dalam kemitraan dengan Program Pembangunan PBB (UNDP) dan mitra lainnya.
Ini merupakan perubahan mendasar; karena upaya tersebut melampaui penyediaan tempat yang aman, menjadi perisai pelindung bagi jalur pendidikan formal, dan memungkinkan siswa sekolah menengah untuk mempersiapkan dan mengikuti ujian meskipun kondisi mereka sulit. UNICEF memperingatkan pada Januari 2026 bahwa sekitar 700.000 anak di Gaza sangat membutuhkan untuk kembali ke bangku sekolah.
Membangun Lingkungan Ujian dari Jantung Kehancuran
Fase kedua dari proyek “Membangun Kembali Harapan di Gaza” diluncurkan dengan dukungan dari “Qatar Fund for Development” (QFFD), yang merupakan kelanjutan alami dari upaya Yayasan “Education Above All”. Proyek ini bertujuan untuk memastikan kelangsungan pendidikan bagi 90.000 siswa di tingkat menengah, dengan memungkinkan mereka untuk mengikuti ujian Tawjihi secara elektronik, sebagai bagian dari rencana yang lebih komprehensif untuk melindungi jalur akademis di tengah pemboman.
Respons lapangan termasuk mempersiapkan 100 ruang pendidikan terintegrasi yang dilengkapi dengan layanan internet dan listrik, mendirikan platform ujian digital yang aman, serta menyediakan 10.000 tablet untuk memfasilitasi akses siswa ke ujian. Secara paralel, proyek ini memberikan dukungan akademis kepada 30.000 siswa di samping layanan dukungan psikososial.
Tiga Kisah tentang Keteguhan Hati
Dari rahim gambaran besar ini, muncullah kisah Nour (18 tahun). Takdir perang membawanya mengungsi ke Kamp Nuseirat pada hari-hari pertama ujiannya. Meskipun ia kehilangan rumahnya dan buku-bukunya terbakar, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah mengibarkan bendera menyerah, betapa pun besarnya tantangan. Baginya, ini bukan lagi ujian atas kurikulum, tetapi ujian atas keteguhan tekad.
Adapun Muhammad (18 tahun), ia memulai hari beratnya dengan mengambil air untuk keluarganya dan membantu ibunya memasak di tengah kelangkaan bahan bakar yang parah, sebelum menyempatkan beberapa menit untuk menyelami buku-bukunya. Di dunianya yang lelah, belajar bukan lagi kegiatan akademis rutin, tetapi ruang yang diperjuangkan dengan susah payah di antara beban keselamatan; di mana ketenangan adalah “kemewahan yang hilang,” listrik adalah “sumber daya langka,” dan sekadar kemampuan untuk berkonsentrasi telah berubah menjadi bentuk ketahanan sehari-hari.
Sementara itu, Amal menceritakan bagaimana mustahil baginya membayangkan mengikuti ujian dari pusat penampungan yang menderita karena pemadaman listrik dan isolasi internet. Meskipun demikian, Amal menang dan menyelesaikan ujiannya dengan sukses, dan sekarang dia dengan penuh semangat mengejar mimpinya untuk belajar keperawatan di universitas.
Namun, angka-angka PBB yang dirilis pada Maret 2026 masih mengingatkan kita pada ratusan ribu anak yang berada di luar tembok pendidikan tatap muka yang berkelanjutan, pada kehancuran sistematis yang melanda infrastruktur pendidikan, serta kerugian manusia yang besar yang melukai barisan siswa dan guru, dan hampir menghancurkan masa depan seluruh generasi serta melemparkannya ke dalam jurang keputusasaan.
Sumber: Al Jazeera





