RAFAH/GAZA, 6 Februari 2026 — Upaya kepulangan warga Palestina ke Jalur Gaza melalui Pos Lintas Rafah berlanjut dengan gelombang keempat, meski menghadapi berbagai kendala. Di sisi lain, analisis citra satelit mengungkap pembangunan sejumlah posisi dan basis militer baru Israel di dalam wilayah Gaza, khususnya di Khan Yunis dan wilayah utara.
Pada Kamis (6/2), sebanyak 21 warga Palestina yang sebelumnya tertahan di wilayah Mesir akhirnya berhasil memasuki Gaza melalui Pos Lintas Rafah. Namun, perjalanan mereka dari Kota El-Arish, Mesir, hingga tiba di Gaza dilaporkan memakan waktu berjam-jam akibat pembatasan dan rintangan yang diterapkan Israel di pos lintas tersebut.
Pembangunan Basis Militer Israel di Dalam Gaza
Meskipun kesepakatan gencatan senjata telah memasuki fase kedua, aktivitas militer Israel di dalam Gaza tampaknya terus berlanjut. Analisis citra satelit yang diperoleh Al Jazeera menunjukkan perubahan lanskap yang signifikan.
Di Khan Yunis: Citra sebelum 2 Desember 2025 menunjukkan lahan terbuka tanpa adanya instalasi militer. Namun, citra yang diambil setelah 1 Februari 2026 memperlihatkan sebuah basis militer baru yang telah dibangun di lokasi yang sama, dilengkapi dengan kendaraan militer, fasilitas lapangan untuk tentara, dan dikelilingi oleh tanggul tanah yang mengindikasikan posisi permanen. Bahkan, terlihat pembangunan awal basis militer kedua di dekatnya.
Di Gaza Utara: Citra satelit mengonfirmasi keberadaan sebuah pos militer yang menunjukkan pergerakan kendaraan angkut dan peralatan logistik, menandakan aktivitas yang berlanjut.
Tekanan AS untuk Perluasan Fungsi Rafah
Sementara itu, tekanan diplomatik juga muncul terkait operasi Pos Lintas Rafah. Surat kabar Israel Haaretz melaporkan, mengutip sumber yang mengetahui perkembangan, bahwa Amerika Serikat mendesak Israel untuk memperluas fungsi pos lintas tersebut. AS menginginkan Rafah tidak hanya untuk pergerakan orang, tetapi juga untuk memasukkan barang dan bantuan kemanusiaan.
Sumber tersebut menjelaskan bahwa ketergantungan hanya pada Pos Lintas Kerem Shalom (Karm Abu Salem) untuk barang menyulitkan proses rekonstruksi Gaza. Ia menambahkan bahwa perluasan fungsi Rafah akan menjadi suatu keharusan, dan tidak diketahui berapa lama lagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dapat menolak tekanan AS tersebut.
Pembangunan posisi militer baru di dalam Gaza ini terjadi bersamaan dengan upaya terbatas untuk mengizinkan warga Palestina kembali, menciptakan gambaran yang paradoks: di satu sisi upaya untuk normalisasi, di sisi lain penguatan kehadiran militer yang dapat memengaruhi stabilitas jangka panjang.
Sumber: Al Jazeera.





