Dari Abu Juhaifah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
لَا آكُلُ مُتَّكِئًا
“Aku tidak makan sambil bersandar.” (H.R. Al-Bukhari No. 5398, Abu Dawud No. 3771, Ad-Darimi No. 2071, dan lain-lain).
Dari Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu ‘Anhuma, katanya:
مَا رُئِيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْكُلُ مُتَّكِئًا قَطُّ
“Rasulullah ﷺ tidak pernah sedikit pun dilihat makan sambil bersandar.” (H.R. Abu Dawud No. 3772, Ibnu Majah No. 244, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Īmān No. 5570, 5972, Ahmad No. 6562, dan lain-lain. Dishahihkan oleh Syaikh Aiman Shalih Sya’ban, Syaikh Al-Albani, dan lain-lain).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah menjelaskan:
وَاخْتَلَفَ السَّلَفُ فِي حُكْمِ الْأَكْلِ مُتَّكِئًا، فَزَعَمَ ابْنُ الْقَاصِّ أَنَّ ذَلِكَ مِنَ الْخَصَائِصِ النَّبَوِيَّةِ، وَتَعَقَّبَهُ الْبَيْهَقِيُّ فَقَالَ: قَدْ يُكْرَهُ لِغَيْرِهِ أَيْضًا، لِأَنَّهُ مِنْ فِعْلِ الْمُتَعَظِّمِينَ، وَأَصْلُهُ مَأْخُوذٌ مِنْ مُلُوكِ الْعَجَمِ
“Para ulama salaf berselisih pendapat tentang hukum makan sambil bersandar. Ibnu Al-Qāsh menganggap bahwa hal itu adalah kekhususan kenabian semata. Pendapat itu dikoreksi oleh Al-Baihaqi. Menurutnya, perbuatan itu makruh juga untuk selain beliau, karena itu adalah perilaku orang-orang yang menyombongkan diri, yang asalnya diambil dari kebiasaan raja-raja non-Arab.” (Fatḥul Bārī, 9/542)
Mengapa dimakruhkan? Ibrahim An-Nakha’i Rahimahullah menjelaskan alasannya:
كَانُوا يَكْرَهُونَ أَنْ يَأْكُلُوا تُكَاةً، مَخَافَةَ أَنْ تَعْظُمَ بُطُونُهُمْ
“Dahulu mereka (para salaf) memakruhkan makan sambil bersandar, karena khawatir hal itu dapat membuat besar perut mereka.” (Al-Muṣannaf Ibnu Abi Syaibah No. 25007)
Ibnu Abi Syaibah juga meriwayatkan bahwa Ibnu ‘Abbas, ‘Atha’, dan Ibnu Sirrin makan sambil bersandar. (Al-Muṣannaf No. 25003, 25006, 25008).
Demikian. Wallāhu A’lam.
Ustadz Farid Nu’man Hasan Hafizhahullah
Sumber: Alfahmu.id – Website Resmi Ustadz Farid Nu’man





