Pendahuluan: Musim Kebaikan yang Tidak Boleh Disia-siakan
Segala puji bagi Allah semata, dan semoga shalawat serta salam tercurah kepada Nabi terakhir, junjungan kita Muhammad bin Abdullah, juga kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut beliau. Amma ba’du.
Hanya tinggal beberapa hari lagi, dan bulan Dzulhijjah akan menyapa kita dengan sabitnya. Bersamaan dengan itu, datanglah musim kebaikan yang selalu kembali berulang. Bulan yang penuh berkah dan kemuliaan ini menyimpan salah satu kewajiban terbesar dalam agama, yaitu ibadah haji dengan seluruh rangkaian manasiknya, momen-momen keimanan dan penghambaan, serta makna pengorbanan, penebusan, jihad, dan kesungguhan.
Kehidupan seorang muslim senantiasa istimewa karena dipenuhi amal saleh dan ibadah-ibadah syar’i yang menjadikannya dalam keadaan terus beribadah, taat yang berkelanjutan, amal yang baik, dan perjuangan gigih menuju Allah Azza wa Jalla tanpa rasa lelah, bosan, kendur, atau putus asa. Maknanya: seluruh kehidupan seorang muslim hendaknya menjadi ibadah, ketaatan, dan amal saleh yang mendekatkannya kepada Allah Ta’ala.
Kita sekarang sedang dihadapkan pada hembusan angin segar dari hembusan-hembusan Allah di hari-hari kehidupan dunia ini, yaitu sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah. Dari Muhammad bin Maslamah Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِرَبِّكُمْ فِي أَيَّامِ دَهْرِكُمْ نَفَحَاتٍ، فَتَعَرَّضُوا لَهَا، لَعَلَّهُ أَنْ يُصِيبَكُمْ نَفْحَةٌ مِنْهَا، فَلَا تَشْقَوْنَ بَعْدَهَا أَبَدًا
Artinya: “Sesungguhnya Tuhan kalian memiliki hembusan-hembusan angin rahmat di hari-hari kehidupan kalian. Maka hadapkanlah diri kalian kepada-Nya. Mudah-mudahan kalian mendapatkan satu hembusan darinya, sehingga kalian tidak akan sengsara setelah itu selamanya.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)
Menghadapkan diri pada hembusan rahmat Allah dilakukan dengan memperbanyak doa dan permohonan di waktu-waktu mulia ini, karena ia termasuk waktu-waktu mustajab. Ia juga merupakan kesempatan mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai jenis ibadah, yang dengannya seorang hamba meraih pahala dan kemuliaan kedekatan dengan Tuhannya Subhanahu wa Ta’ala.
Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
Banyak hadis yang menerangkan keutamaan hari-hari ini. Di antaranya apa yang diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, dan lainnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهِنَّ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
Artinya: “Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau ﷺ menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu ia tidak kembali membawa apa pun (syahid).”
Dalam riwayat Thabrani di Al-Mu’jam Al-Kabir:
مَا مِنْ أَيَّامٍ يُتَقَرَّبُ إِلَى اللَّهِ فِيهَا بِعَمَلٍ أَفْضَلَ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ
Artinya: “Tidak ada hari-hari di mana seseorang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu amal yang lebih utama daripada sepuluh hari ini.”
Dalam riwayat Ad-Darimi:
مَا مِنْ عَمَلٍ أَزْكَى عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا أَعْظَمَ أَجْرًا مِنْ خَيْرٍ تَعْمَلُهُ فِي عَشْرِ الْأَضْحَى
Artinya: “Tidak ada amal yang lebih suci di sisi Allah Azza wa Jalla dan lebih besar pahalanya daripada kebaikan yang engkau kerjakan di sepuluh hari Idul Adha.”
Karena para sahabat radhiyallahu ‘anhum telah memaklumi bahwa jihad adalah puncak kemuliaan Islam dan amal yang paling agung, mereka bertanya kepada Nabi ﷺ apakah amal saleh di hari-hari ini bisa mengungguli dalam pahala dan derajat kewajiban yang mulia dan luhur itu. Maka Nabi ﷺ menjelaskan bahwa jihad tidak mengungguli amal saleh di hari-hari ini kecuali dalam satu keadaan: yaitu ketika seorang mujahid keluar dengan harta dan jiwanya lalu ia meraih syahid, kehilangan harta, dan tidak kembali membawa apa pun.
Kebutuhan Kita akan Nilai Rabbaniyah
Sungguh umat saat ini sedang melalui masa-masa sulit (kontraksi) yang mengantarkan pada kelahiran fajar baru baginya, di mana matahari kejayaan dan kemuliaannya akan bersinar. Hal ini mewajibkan kita untuk lebih meningkatkan nilai rabbaniyah dan memperbaiki hubungan dengan Allah, agar kita mempersiapkan diri untuk layak mendapatkan pertolongan dan dukungan Allah Azza wa Jalla. Artinya: secara umum, dan khususnya pada fase ini, kita sangat membutuhkan lebih banyak kedekatan kepada Allah, memohon pertolongan kepada-Nya, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Dialah tempat memohon pertolongan dan sandaran. Kita memohon bekal perjalanan kepada-Nya. Kita menghadap kepada-Nya dengan hati dan seluruh anggota tubuh.
Pada saat itulah, melalui jalan ibadah, kita akan kuat untuk memimpin manusia menuju Allah, dengan mengambil kekuatan dari Pencipta kita. Yaitu kepemimpinan yang rabbani di mana kita mewujudkan keteladanan dan beribadah kepada Pencipta kita. Sebagaimana firman Allah:
الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
*Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (QS. Al-Hajj [22]: 41)*
Kewajiban Praktis untuk Memperkuat Nilai Rabbaniyah selama Sepuluh Hari Dzulhijjah
Berangkat dari sini, kami paparkan sejumlah amalan dan program praktis yang dapat dilakukan seorang muslim selama hari-hari mulia ini, lalu ia ajak pula orang lain untuk mengerjakannya. Dengan demikian, lingkup ketaatan akan meluas dan manusia semakin menghadap kepada Allah di hari-hari yang penuh berkah ini. Saat itulah rahmat Allah turun kepada kita, negeri kita, dan keluarga kita:
1. Mempersiapkan diri dan menghadirkan niat yang baik untuk bersungguh-sungguh dalam beribadah selama hari-hari ini. Dan sebelumnya, bertaubat nasuha (taubat sebenar-benarnya) kepada Allah, kembali kepada-Nya dengan memohon agar hati dibersihkan, dosa diampuni, dan taubat diterima.
2. Bersungguh-sungguh menjaga shalat berjamaah tepat pada waktunya selama hari-hari ini, terutama di masjid, dengan menjaga takbiratul ihram. Kemudian memelihara shalat sunnah rawatib sebelum dan sesudah shalat fardhu (12 rakaat). Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ:
مَا تَوَطَّنَ رَجُلٌ مُسْلِمٌ الْمَسَاجِدَ لِلصَّلَاةِ وَالذِّكْرِ إِلَّا تَبَشْبَشَ اللَّهُ لَهُ كَمَا يَتَبَشْبَشُ أَهْلُ الْغَائِبِ بِغَائِبِهِمْ إِذَا قَدِمَ عَلَيْهِمْ
Artinya: “Tidaklah seorang muslim menjadikan masjid sebagai tempat tetapnya untuk shalat dan berzikir, melainkan Allah bergembira kepadanya sebagaimana keluarga orang yang merantau bergembira dengan kepulangan orang yang mereka rindukan ketika ia datang kepada mereka.” (HR. Ibnu Majah)
3. Memelihara shalat-shalat sunnah setiap hari, terutama shalat Dhuha, shalat Witir, dan shalat Malam (Qiyamul Lail). Dalam hadis qudsi, Rasulullah ﷺ menyampaikan dari Tuhannya:
مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ؛ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَ بِي لَأُعِيذَنَّهُ
Artinya: “Barang siapa memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang ia gunakan untuk memukul, dan kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Dan jika ia memohon kepada-Ku, pasti Aku beri. Dan jika ia berlindung kepada-Ku, pasti Aku lindungi.”
4. Bersungguh-sungguh mengkhatamkan Al-Qur’an dengan bacaan minimal satu kali selama hari-hari yang baik ini (dengan rata-rata 3 juz per hari). Hadis tentang keutamaan membaca Al-Qur’an sangat banyak, di antaranya: Dari Umamah Al-Bahili radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ
Artinya: “Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya.” (HR. Muslim)
Dan apa yang diriwayatkan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ: أَلِفٌ لَامٌ مِيمٌ حَرْفٌ، أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ
Artinya: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah, maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan ‘Alif Laam Miim’ itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf, dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
5. Berpuasa semampunya di hari-hari mulia ini, minimal puasa Senin dan Kamis serta hari Arafah. Barang siapa yang Allah mudahkan untuk berpuasa semuanya dan bersungguh-sungguh, maka pahalanya di sisi Allah, itu adalah karunia Allah baginya. Puasa termasuk ibadah sunnah yang paling utama dan paling dicintai Allah. Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ صَامَ يَوْمًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا
Artinya: “Barang siapa berpuasa satu hari di jalan Allah, maka Allah akan menjauhkan wajahnya dari api neraka sejauh tujuh puluh musim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tentang keutamaan puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) bagi yang tidak berhaji, Rasulullah ﷺ bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ
Artinya: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” (HR. Muslim)
6. Terus-menerus berzikir dan berdoa selama hari-hari ini, terutama menjaga zikir pagi dan petang, zikir sesuai kondisi (zikir hal), zikir setelah shalat, dan zikir mutlak (minimal 1000 zikir per hari) yang terbagi antara istigfar, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir, serta memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ.
7. Setiap muslim dan muslimah (yang tidak sedang berhaji) hendaknya menghayati rangkaian ibadah haji, ikut merasakan suasana para jamaah haji dalam berbagai manasik dan syiar mereka seolah-olah berada di tengah-tengah mereka, serta meresapi dengan batinnya makna pengorbanan, penebusan, kerelaan memberi, serta ketundukan yang indah kepada perintah Allah Azza wa Jalla.
8. Bersungguh-sungguh dalam berdoa selama hari-hari ini, dengan mencari waktu-waktu mustajab: setelah shalat fardhu, setiap kali sujud, saat berbuka setelah puasa, di waktu sahur dan qiyamul lail. Janganlah kita lupa di hari-hari ini untuk mendoakan kaum muslimin umumnya agar mendapat kemenangan dan pengokohan kekuasaan, dan khususnya untuk saudara-saudara kita di Palestina, Libya, Yaman, Suriah, Myanmar, dan seluruh negeri muslim yang tertindas, agar Allah angkat kezaliman dan bencana dari mereka, serta lapangkan segala kesusahan mereka. Jangan lupa pula dalam doa kita untuk orang-orang terkasih yang ditahan dan dipenjarakan di penjara para zalim, agar Allah lapangkan kesulitan mereka dan berikan jalan keluar yang baik.
9. Berinfak di jalan Allah, terutama sedekah secara rahasia (sirr), karena ia memadamkan murka Rabb. Hendaknya setiap orang bertekad untuk mengeluarkan sebagian hartanya pada salah satu pintu dan sarana kebaikan, yang jumlahnya sangat banyak. Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ * تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ * يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
*Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan tempat-tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Ash-Shaff [61]: 10-12)*
10. Bersungguh-sungguh melakukan ibadah berdiam di masjid antara Subuh dan terbit matahari minimal dua kali selama hari-hari ini. Dalam sebuah hadis:
مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللَّهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ
Artinya: “Barang siapa shalat Subuh berjamaah, lalu duduk berzikir kepada Allah hingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat, maka ia mendapatkan pahala seperti haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani)
11. Menghidupkan sunnah kurban dan bertekad melaksanakannya karena keutamaan dan pahala yang dikandungnya. Mari kita ingat bahwa ada saudara-saudara kita yang terhalang untuk melaksanakannya, baik karena kesempitan hidup atau sebab lainnya. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ، وَإِنَّهُ لَيُؤْتَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا، وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنَ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ بِالْأَرْضِ، فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Artinya: “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amal pada hari Nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai Allah daripada mengalirkan darah (hewan kurban). Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kukunya. Dan sungguh, darah kurban itu telah sampai di sisi Allah di tempat yang tinggi sebelum jatuh ke bumi. Maka lakukanlah kurban itu dengan jiwa yang lapang (ikhlas).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dishahihkan Al-Albani)
12. Hendaknya seorang muslim mendorong keluarga dan anak-anaknya untuk menyambut hembusan rahmat ini dan menghadap kepada Allah, serta membantu mereka melakukan kebaikan dan menjalankan ketaatan di hari-hari ini. Dengan demikian, nilai rabbaniyah hidup di rumah-rumah kita. Dan hendaknya seorang muslim bergerak dengan arahan-arahan dan wasiat praktis ini di lingkungan kerjanya, bersama koleganya, dan di antara tetangganya untuk mendorong mereka pula melakukan hal yang sama.
وَالدَّالُ عَلَى الْخَيْرِ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ
Artinya: “Dan orang yang menunjukkan kepada kebaikan, ia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya.”
Semoga manfaatnya meluas, wilayah ketaatan semakin besar di lingkungan umat, dan dengan itu kita menghidupkan makna-makna rabbaniyah dalam diri, rumah, masyarakat, dan umat kita.
Sumber: Tarbiyaa




