Kehidupan dan jaringan Jeffrey Epstein, yang misterius terbunuh di sel tahanan pada 2019, terus mengungkap hubungan yang kompleks dengan dunia intelijen internasional. Sebuah laporan mendalam menyoroti bagaimana Epstein beroperasi dalam dunia terselubung bisnis elit, perdagangan senjata, dan intelijen dengan hubungan yang dijalin puluhan tahun, khususnya dengan Israel dan Mossad yang memungkinkannya mengakses informasi rahasia dan tokoh-tokoh berpengaruh di tingkat global.
Meski dokumen resmi tidak menunjukkan Epstein pernah menjadi agen resmi badan intelijen mana pun, laporan ini menyimpulkan bahwa posisinya sebagai “perantara bayangan” di dunia elite memberikan akses dan pengaruh yang bahkan melampaui banyak petugas intelijen tradisional.
Akar Hubungan: Dari Perdagangan Senjata hingga Keluarga Maxwell
Keterkaitan Epstein dengan dunia senjata dan intelijen dimulai pada awal 1980-an.
- Jejak Awal: Setelah meninggalkan dunia pendidikan di The Dalton School di mana ia direkrut oleh Donald Barr, mantan anggota OSS (cikal bakal CIA) Epstein masuk ke dunia keuangan di Bear Stearns. Namun, titik balik terjadi pada 1981 saat ia bertemu Douglas Leese, seorang bangsawan dan pedagang senjata Inggris. Leese-lah yang memperkenalkan Epstein kepada tokoh-tokoh kunci, termasuk Robert Maxwell, taipan media yang diketahui memiliki hubungan dengan MI6, Mossad, dan KGB.
- Keterkaitan dengan Iran-Contra: Pada periode yang sama, Epstein menjalin kemitraan dengan J. Stanley Pottinger, mantan pejabat Departemen Kehakiman AS yang diselidiki terkait skandal perdagangan senjata Iran-Contra. Epstein juga terlibat dengan pedagang senjata kelas atas Saudi, Adnan Khashoggi, yang tercatat sebagai klien perusahaannya, Intercontinental Assets Group.
- Hubungan dengan Keluarga Maxwell: Koneksi paling intim dengan dunia intelijen datang melalui Ghislaine Maxwell, putri Robert Maxwell yang kemudian menjadi pasangan Epstein. Robert Maxwell sendiri dikenal sebagai pendukung setia Israel dan disebut-sebut bekerja untuk Mossad. Dalam email, Epstein pernah mengaku mengetahui hal ini dan bahkan mengancam akan membongkar operasi Mossad.
Jaringan dengan Israel dan Operasi Abad ke-21
Hubungan Epstein dengan Israel berlanjut dan menguat hingga dekade 2000-an, bahkan setelah ia menjadi terpidana kasus perdagangan seks.
- Manajer Kekayaan Les Wexner: Epstein mengelola hampir seluruh kekayaan Les Wexner, miliarder Yahudi-Amerika pendiri L Brands (pemilik Victoria’s Secret), yang dikenal sebagai filantropis dan pembela kuat Israel.
- Konsultan untuk Ehud Barak: Dokumen dan email menunjukkan Epstein bertindak sebagai penghubung untuk mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak. Ia membantu memfasilitasi kesepakatan keamanan antara Israel-Mongolia dan mengatur pertemuan antara Barak dengan tokoh bisnis Timur Tengah. Dalam sebuah email, Epstein merasa perlu meminta Barak untuk “menegaskan bahwa saya tidak bekerja untuk Mossad,” menunjukkan kedekatan hubungan yang sensitif.
- Aktivitas Intelijen dan Diplomasi Bayangan: Laporan menunjukkan Epstein memiliki akses ke informasi rahasia, mulai dari rencana bailout Euro hingga peringatan Rusia kepada Turki tentang upaya kudeta 2016. Ia juga aktif mencoba memfasilitasi jalur komunikasi rahasia antara Israel dan Rusia semasa perang Suriah, serta berspekulasi tentang politik internal Teluk Arab hingga tahun 2018.
Kesimpulan: Pemain dalam Dunia Bayangan
Epstein tidak pernah menjadi agen dengan kartu identitas resmi dari Mossad atau CIA. Namun, ia hidup dan beroperasi di “dunia yang jauh lebih tertutup dan elit” daripada kebanyakan petugas intelijen lapangan. Ia memanfaatkan posisinya sebagai pengelola kekayaan, perantara bisnis, dan tuan rumah bagi kalangan elite global untuk membangun jaringan yang memberikan akses pada informasi dan kekuasaan.
Kisahnya mengingatkan pada karakter fiksi seperti Richard Onslow Roper dalam novel John le Carré—seorang pengusaha senjata yang sekaligus menjadi aset bagi badan intelijen, sementara juga dimanfaatkan oleh pihak lain. Epstein, dengan jaringan kriminal dan elite-nya, mewujudkan sosok serupa di kehidupan nyata, di mana garis antara kejahatan terorganisir, bisnis global, dan intelijen negara menjadi kabur.
Sumber: Laporan Investigasi oleh Pizaro Idrus untuk Gaza Media.





