RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
Kategori
  • Akhbar Dauliyah (1,049)
  • Akhlak (134)
  • Al-Qur'an (79)
  • Aqidah (169)
  • Dakwah (35)
  • Fikrah (1)
  • Fikrul Islami (43)
  • Fiqih (193)
  • Fiqih Dakwah (76)
  • Gerakan Pembaharu (23)
  • Hadits (107)
  • Ibadah (13)
  • Kabar Umat (437)
  • Kaifa Ihtadaitu (6)
  • Keakhwatan (7)
  • Kisah Nabi (11)
  • Kisah Sahabat (4)
  • Masyarakat Muslim (14)
  • Materi Khutbah dan Ceramah (78)
  • Musthalah Hadits (3)
  • Rumah Tangga Muslim (12)
  • Sejarah Islam (198)
  • Senyum (2)
  • Taujihat (25)
  • Tazkiyah (45)
  • Tokoh Islam (20)
  • Ulumul Qur'an (7)
  • Uncategorized (5)
  • Wasathiyah (137)
0
2K
RISALAH
Subscribe
RISALAH
  • Ta’aruf
    • RISALAH.ID
    • FDTI
    • Syarah Rasmul Bayan
    • Kontak Kami
  • Materi Tarbiyah
    • Ushulul Islam (T1)
    • Ushulud Da’wah (T2)
    • Kurikulum FDTI
      • Kelas 1
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Kultum
        • Seminar
        • Taushiyah Pembina
      • Kelas 2
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Bina Wawasan
        • Seminar
      • Kelas 3
        • Mentoring
        • Penugasan
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
      • Kelas 4
        • Mentoring
        • Majelis Rohani
        • Seminar
        • Diskusi Wawasan Islam
    • Akademi Tarbiyah Islamiyah
      • Materi Taklim
      • Materi Majelis Rohani
      • Materi Bina Wawasan
      • Materi Nadwah
    • Al-Arba’un An-Nawawiyah
  • Download
    • Buku Materi
    • Buku dan Materi Presentasi Bahasa Arab
      • Durusul Lughah Al-Arabiyah
      • PowerPoint Durusul Lughah Al-Arabiyah
    • Majalah
    • Power Point Materi Taklim
  • Donasi
  • Aqidah
  • Wasathiyah

Kebutuhan Kita untuk Memperbaharui Iman

  • 30-03-2026
  • No comments
Kaa2

Dr. Yusuf Qaradhawi

Banyak cendekiawan dan intelektual yang bersemangat berpendapat bahwa yang kita butuhkan untuk mencapai kebahagiaan dan kemajuan, baik secara individu maupun kolektif, hanyalah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ini akan membantu masyarakat kita untuk tumbuh dan berkembang, serta menyusul ketertinggalan dari dunia yang telah maju; dunia yang telah menghancurkan atom, menjelajahi angkasa, menciptakan komputer, dan kini berada di ambang revolusi biologi yang entah akan membawa manusia ke mana.

Keberuntungan kita sebagai umat Islam adalah bahwa agama kita tidak sempit terhadap seruan untuk menuntut ilmu dan kemajuan, berbeda dengan prasangka orang-orang yang tidak mengenal Islam dan ingin menyamakannya dengan agama-agama lain.

Kami memandang kemajuan ilmu pengetahuan dan berbagai manfaat teknologi yang dihasilkannya dalam kehidupan—yang memudahkan kehidupan manusia dan menghemat tenaga fisik serta mentalnya—sebagai sebuah ibadah bagi individu muslim. Dengan mempelajari dan menguasainya, ia mendekatkan diri kepada Tuhannya, sebagaimana ia mendekatkan diri dengan salat dan puasa. Dan bagi masyarakat, hal ini merupakan kewajiban kolektif; seluruh masyarakat akan berdosa jika tidak ada di antara mereka yang cukup jumlahnya untuk menutup semua celah dan memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan masyarakat di segala bidang, baik sipil maupun militer.

Namun, yang kami tegaskan di sini adalah bahwa masyarakat kita—dan semua masyarakat manusia—sangat membutuhkan ilmu pengetahuan dan iman secara bersamaan. Manusia terdiri dari jasad dan ruh, akal dan hati. Kesemuanya harus dipelihara dan diberi makan oleh apa yang menyehatkan setiap sisi dan potensinya; baik yang berasal dari bumi maupun yang turun dari langit. Inilah keseimbangan dan kesepadanan yang menjadi ciri khas Islam.

Di antara wujud kesepadanan dalam sistem Islam adalah bahwa ilmu pengetahuan dan iman bertemu berdampingan. Dalam masyarakat Islam, tidak terjadi konflik antara ilmu dan agama seperti yang terjadi di masyarakat lain, yang korbannya adalah ribuan cendekiawan dan intelektual serta para pengikut atau penempuh jalan mereka. Sejarah Eropa pada Abad Pertengahan sarat dengan pembantaian manusia yang mengerikan yang dilakukan terhadap para ilmuwan dan pelajar di bawah pengadilan inkuisisi dan lembaga sejenisnya.

Syaikh Muhammad Abduh dalam bukunya Islam dan Kristen Ditinjau dari Ilmu Pengetahuan dan Peradaban menceritakan beberapa peristiwa ini; yang sekadar menyebutkannya saja sudah membuat bulu kuduk merinding dan akal sehat di zaman kita pun akan mengingkarinya.

Yang membedakan Islam dari yang lain adalah penghormatannya terhadap akal, seruannya untuk memperhatikan dan berpikir, dorongannya untuk menuntut ilmu dan belajar, pengangkatannya terhadap derajat para ulama dan pemilik akal, kecamannya terhadap sikap kaku dan kebodohan, serta pemujiannya terhadap aktivitas membaca, menulis, dan pena, sejak ayat pertama Al-Qur’an diturunkan.

Dalam Islam, tidak pernah ada ungkapan seperti yang ada pada agama-agama sebelumnya, seperti: “Berimanlah dengan buta”, atau “Pejamkan matamu, lalu ikuti aku”, atau “Kebodohan adalah pangkal ketakwaan”! Bahkan para ulama Islam yang terkemuka menetapkan bahwa “iman orang yang hanya sekadar taklid tidaklah diterima.” Tidak mengherankan jika Al-Qur’an menantang kaum musyrikin dan penganut keyakinan batil lainnya dengan firman-Nya:

قُلْ هَاتُوا۟ بُرْهَـٰنَكُمْ إِن كُنتُمْ صَـٰدِقِينَ

“Katakanlah: Bawalah bukti-buktimu jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. An-Naml: 64)

Dan tentang mereka Dia berfirman:

وَإِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنَّ ٱلظَّنَّ لَا يُغْنِى مِنَ ٱلْحَقِّ شَيْـًٔا

“Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikit pun berguna untuk kebenaran.” (QS. Yunus: 36)

Di sepanjang Abad Pertengahan, gereja Barat dikenal dengan anggapan bahwa akal berlawanan dengan wahyu, ilmu pengetahuan adalah musuh agama, pemikiran adalah lawan iman, dan syariat bertentangan dengan hikmah. Adapun Islam, ia tidak pernah mengenal masalah ini. Baginya, akal dan wahyu adalah dua jejak dari keesaan Tuhan, tidak saling bertentangan dan tidak saling berlawanan. Karena itulah, kita melihat wahyu memuliakan akal dan mendorong pemanfaatannya, dan kita melihat akal menjadi bukti atas kebenaran wahyu serta menjadi alat untuk memahami dan menjelaskannya.

Dari sini, para imam Islam yang terkemuka menetapkan bahwa tidak ada pertentangan sama sekali antara naql (nash yang sahih) dan ‘aql (akal sehat). Apa yang oleh sebagian orang dianggap sebagai pertentangan, pasti merupakan akibat dari kesalahan dalam memahami salah satu dari keduanya.

Empat belas abad telah berlalu sejak Al-Qur’an diturunkan, dan di dalamnya lahir berbagai macam pengetahuan dan pemikiran. Meskipun demikian, tidak ada satu ayat pun yang bertentangan dengan fakta ilmiah yang mapan. Ini adalah salah satu bukti kemukjizatan kitab agung ini.

Meskipun Al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan dalam pengertian terminologi ilmu pengetahuan modern, ia mengandung banyak isyarat tentang fakta-fakta ilmiah yang tidak terbayangkan oleh siapa pun pada masa turunnya, bahkan berabad-abad setelahnya. Banyak buku telah ditulis tentang hal ini, yang mengungkap dimensi baru kemukjizatan Al-Qur’an yang dapat disebut “kemukjizatan ilmiah”.

Lebih dari itu, Al-Qur’an dengan ajarannya membentuk mentalitas keilmuan yang mengingkari tahayul, menolak mengikuti prasangka dan hawa nafsu, tidak mudah tunduk pada pengaruh dan taklid, berpegang pada bukti dalam hal-hal yang bersifat rasional, mengandalkan observasi dan eksperimen dalam hal-hal material, serta meyakini bahwa akal adalah karunia yang dianugerahkan kepada manusia untuk digunakan merenung, memikirkan cara memanfaatkan alam semesta beserta isinya, dan mengambil pelajaran dari sejarah serta sunnah-sunnah Allah yang tidak berubah di dalamnya.

Dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang ditujukan “bagi kaum yang berakal”, “bagi kaum yang berpikir”, “bagi kaum yang mengetahui”, “bagi orang-orang yang mempunyai akal”, “bagi orang-orang yang mempunyai pemahaman”.

Al-Qur’an juga memuji para ulama dalam banyak ayat, seperti:

هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)

Dan menjadikan mereka satu-satunya golongan yang benar-benar takut kepada Allah:

إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَـٰٓؤُا۟

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)

Dalam ayat ini, para ulama disebutkan setelah penyebutan langit, air, tumbuh-tumbuhan, gunung, hewan, dan manusia. Ini mengisyaratkan bahwa yang dimaksud adalah mereka yang mendalami ilmu-ilmu alam dan hayati serta yang terkait dengannya. Ilmu mereka ini mengenalkan mereka pada kekuasaan Allah, besarnya nikmat, dan luasnya rahmat-Nya.

Al-Qur’an juga mengisahkan kisah para nabi dan orang saleh yang menonjolkan pentingnya ilmu pengetahuan dan kedudukannya dalam membantu manusia menjalankan fungsinya sebagai khalifah Allah di bumi dan menggunakannya dalam berbagai hal yang bermanfaat. Misalnya kisah Adam yang mengungguli para malaikat dengan ilmunya, kisah Yusuf yang mengelola Mesir dengan ilmunya saat masa paceklik, kisah Sulaiman yang memindahkan singgasana Balqis dengan ilmunya, dan kisah-kisah nabi serta mukmin lainnya.

Ilmu Pengetahuan Tidak Cukup Tanpa Iman

Namun demikian, akal bukanlah segalanya bagi manusia, dan ilmu pengetahuan bukanlah segalanya dalam kehidupan.

Akal memiliki wilayahnya sendiri yang tidak dapat dilampauinya, dan ilmu pengetahuan memiliki bidangnya sendiri yang tidak dapat melewatinya. Di luar itu, akal dan ilmu pengetahuan akan kebingungan. Rahasia eksistensi, tujuan hidup, asal-usul dan akhir alam semesta, persoalan kematian dan kehidupan, serta berbagai persoalan besar eksistensi lainnya, tidak dapat dipahami oleh akal sendirian, dan ilmu pengetahuan tidak dapat menjangkau wilayah itu dengan otoritasnya. Karena otoritas ilmu pengetahuan hanya pada hal-hal yang dapat diamati dan diuji, yaitu pada hal-hal material dan yang dapat diindera.

Maka diperlukan pengetahuan lain yang bersumber dari sumber lain untuk menentukan kedudukan manusia, tujuannya, tugasnya di bumi ini, serta hubungannya dengan alam semesta, kehidupan, dan Pencipta alam semesta dan kehidupan. Sumber ini tidak lain adalah wahyu Ilahi. Dan satu-satunya cara untuk menerimanya adalah melalui iman. Beberapa pemikir manusia di berbagai zaman telah berusaha mencapai kebenaran-kebenaran besar dengan akal mereka, dan memecahkan masalah-masalah eksistensi dengan pemikiran mereka, namun mereka tidak mampu. Mereka menghasilkan kesimpulan-kesimpulan yang kontradiktif, yang tidak menenteramkan hati dan tidak meluruskan kehidupan. Hanya imanlah jalan yang aman.

Imanlah yang menjelaskan persoalan-persoalan besar eksistensi, menghubungkan manusia dengan alam semesta yang luas, dengan yang azali dan yang abadi, serta memberikan makna, tujuan, dan misi bagi kehidupannya.

Iman pula yang menjaga ilmu pengetahuan dari penyimpangan dan mencegah penggunaannya untuk kejahatan dan agresi. Karena itulah kita melihat Sulaiman, ketika singgasana Balqis dihadirkan kepadanya oleh seseorang yang memiliki ilmu dari kitab, mengembalikan pujian kepada Allah, tidak menjadi sombong atau terpedaya. Sebaliknya, ia berkata seperti yang diabadikan Al-Qur’an:

فَلَمَّا رَءَاهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَـٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّۭ كَرِيمٌۭ

“Ketika dia melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia berkata: ‘Ini adalah karunia Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya. Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.'” (QS. An-Naml: 40)

Dan dalam kisah Zulkarnain, setelah menyelesaikan pembangunan bendungan, ia berkata dengan rendah hati seorang mukmin:

هَـٰذَا رَحْمَةٌۭ مِّن رَّبِّى ۖ فَإِذَا جَآءَ وَعْدُ رَبِّى جَعَلَهُۥ دَكَّآءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّى حَقًّۭا

“Ini adalah rahmat dari Tuhanku. Maka apabila janji Tuhanku telah datang, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu pasti benar.” (QS. Al-Kahfi: 98)

Kita melihat ilmu pengetahuan yang dipandu oleh iman di bawah peradaban Islam membangun, memakmurkan, dan bekerja untuk melayani manusia, menyucikan manusia, dan membahagiakan manusia.

Kita juga melihat ketika ilmu pengetahuan tumbuh di Barat—karena kondisi historisnya dengan gereja—jauh dari petunjuk Allah dan terputus dari iman kepada Allah, hasilnya adalah senjata kimia, senjata biologis, serta alat-alat pembunuh dan penghancur. Ini membuat umat manusia tidur dalam mimpi-mimpi yang mengganggu dan bangun dalam ketakutan yang mencekam. Ilmu pengetahuan memberinya sarana, tetapi tidak memberinya ketenteraman jiwa. Ia menang melawan alam, tetapi tidak menang melawan hawa nafsu dan dirinya sendiri.

Dari sinilah lahir kebutuhan akan para ilmuwan yang beriman dan orang-orang beriman yang berilmu. Inilah landasan kehidupan Islam yang utuh.

Karena itulah ayat pertama yang diturunkan dari Al-Qur’an menggabungkan ilmu pengetahuan dan iman:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Membaca—yang merupakan kunci ilmu pengetahuan—dikehendaki Islam untuk dilakukan dengan nama Allah Sang Pencipta. Jika kunci Islam adalah ilmu pengetahuan dan pemahaman, maka inti Islam adalah iman, dan inti iman adalah tauhid. Bahkan tauhid adalah inti dari seluruh risalah langit. Karena itulah seruan pertama dalam setiap risalah adalah:

يَـٰقَوْمِ ٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُۥ

“Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.” (QS. Hud: 50)

Kedudukan Iman dalam Kehidupan Manusia

Hakikat agama dan misi iman terwujud dalam beberapa hal:

Pertama: Menghubungkan manusia dengan Tuhannya, menumbuhkan rasa kedekatan dan cinta kepada-Nya, memenuhi hatinya dengan keyakinan, ketergantungan, ketenteraman, dan rasa akrab kepada-Nya, serta kepastian terhadap segala yang datang dari sisi-Nya.

Kedua: Mengangkat nilai manusia dari sekadar “hewan yang berevolusi” sebagaimana dibayangkan atau digambarkan oleh sebagian orang, menjadi makhluk yang dimuliakan, dibebani tugas, dan bertanggung jawab; makhluk yang diciptakan dalam bentuk Sang Pencipta, diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, dijadikan khalifah di bumi, dan dibanggakan oleh para malaikat. Maka tidak mengherankan jika agama berupaya meninggikan “tiupan ruh ilahi” dalam diri manusia mengatasi “genggaman tanah dan lumpur hitam” yang ada padanya. Dengan demikian, manusia tidak hidup terpaku ke bawah—pada kenikmatan yang rendah—melainkan selalu menjulang dan menatap ke cakrawala yang lebih tinggi.

Ketiga: Memperluas hubungannya dengan alam semesta yang luas di sekelilingnya. Ia bukanlah makhluk parasit dalam eksistensi besar ini, dan alam semesta ini bukanlah musuh yang harus diperangi, atau sesuatu yang tidak dikenal yang harus dikejar. Sebaliknya, seluruh alam semesta ini ditundukkan untuk kepentingannya, dan ia juga merupakan tanda yang menunjukkan kepada Tuhannya. Demikian pula, manusia—semua manusia di dalamnya—adalah saudara baginya, yang bersamanya dalam penghambaan kepada Allah dan sebagai anak keturunan Adam.

Keempat: Memperpanjang usia eksistensi ini melampaui kehidupan singkat ini, yaitu menuju kehidupan keabadian. Maka kisah kemanusiaan bukan sekadar “rahim yang menekan dan bumi yang menelan” atau sebagaimana perkataan suatu kaum:

إِنْ هِىَ إِلَّا حَيَاتُنَا ٱلدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا نَحْنُ بِمَبْعُوثِينَ

“Tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia kita ini, kita mati dan kita hidup, dan kita tidak akan dibangkitkan.” (QS. Al-Mu’minun: 37)

Sebaliknya, sebagaimana dikatakan Umar bin Abdul Aziz: “Sesungguhnya kalian diciptakan untuk keabadian, dan kalian hanya dipindahkan melalui kematian dari satu tempat ke tempat yang lain.”

Semua makna ini diciptakan dan dihidupkan oleh iman: iman kepada Allah dan iman kepada hari akhir. Keduanya adalah dua rukun fundamental dalam setiap agama.

Redupnya Suara Iman di Zaman Kita

Tidaklah tersembunyi bahwa bara iman di zaman ini telah kehilangan banyak dari sinar dan nyalanya di dalam hati, dan bahwa suara iman telah redup di relung-relung kalbu, serta tidak lagi memiliki kekuasaan dan pengaruh seperti sebelumnya.

Hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya:

  1. Dominasi pemikiran materialistis dan kehidupan materialistis atas kebanyakan manusia di berbagai belahan dunia, sebagai akibat dari dominasi peradaban Barat. Hal ini menular melalui interaksi, percampuran, dan berbagai alat pengaruh yang berbeda, dari Barat ke Timur, dari non-Muslim ke Muslim. Manusia disibukkan oleh banyaknya harta dan keturunan, hingga hampir melupakan bahwa setelah kehidupan ada kematian, setelah kematian ada kebangkitan, setelah kebangkitan ada perhitungan, dan setelah perhitungan ada pahala dan siksa, surga dan neraka.

  2. Bersamaan dengan itu, perhatian kebanyakan manusia tertuju pada ilmu-ilmu eksakta dan material, serta berbagai penerapan praktis yang lahir darinya, yang membantu manusia larut dan menikmati kehidupan. Sementara itu, perhatian terhadap ilmu-ilmu agama berkurang, termasuk di dalamnya hal-hal gaib yang tidak akrab dengan akal kontemporer. Bahkan sebagian ulama dan pendakwah berusaha menakwilkannya dengan cara yang sesuai dengan kecenderungan indrawi, atau menghindar untuk membicarakannya. Seseorang yang mengikuti khutbah Jumat di masjid atau melalui radio, hampir tidak menemukan satu pun khutbah yang berbicara tentang kematian, alam kubur, kebangkitan dan perhitungan, atau surga dan neraka, seolah-olah ini adalah bukti keterbelakangan dan bertentangan dengan modernitas!

  3. Perhatian para pendakwah Islam dalam dekade terakhir abad ke-14 Hijriah terfokus pada pemaparan sistem Islam, penjelasan keutamaannya, dan seruan untuk menerapkannya. Perhatian yang setara tidak diberikan kepada pemaparan akidah, seruan kepadanya, dan pendalaman pengaruhnya dalam akal dan hati. Hal ini disebabkan oleh munculnya pemikiran sekuler yang menganggap agama—setiap agama—hanya sebagai hubungan pribadi antara manusia dengan Tuhannya, dan tidak ada kaitannya dengan sistem kehidupan. Maka, untuk menanggapinya, diperlukan penekanan dan fokus pada sistem sosial, ekonomi, politik, dan legislasi dalam Islam, tanpa porsi yang setara untuk akidah. Padahal yang wajib adalah keseimbangan antara seluruh ajaran Islam, meskipun akidah—tanpa keraguan—adalah fondasi bangunan.

  4. Pengabaian lembaga-lembaga media, budaya, dan pendidikan terhadap aspek penting ini, yang merupakan tujuan hidup manusia, rahasia keberadaannya, dan yang memberikan rasa, makna, dan misi pada kehidupannya. Ini adalah buah dari pengabaian terhadap urusan agama secara keseluruhan, baik akidah, syariat, akhlak, adab, maupun sistem kehidupan.

Dan alangkah baiknya jika masalah ini hanya sebatas pengabaian dan kelalaian, namun ia melampauinya hingga menjadi celaan dan ejekan, bahkan terkadang serangan dan hujatan, dalam bentuk yang terang-terangan tanpa rasa takut dan malu; dan terkadang—yang lebih banyak dan lebih berbahaya—dalam bentuk yang terselubung, dengan cara-cara yang berbelit, serta sarana yang halus, lembut, dan beracun, yang membunuh dan menghancurkan, tetapi tanpa suara mendesis seperti desisan peluru, atau gemuruh seperti gemuruh ranjau.

  1. Fokus filsafat dan sistem pendidikan serta pengajaran pada aspek material, teknologi, dan ilmiah dalam kurikulum, buku, dan sekolah mereka, serta pandangan yang mengabaikan atau memusuhi agama, sebagai tiruan dari kaum sekuler di Barat atau kaum Marxis di Timur. Yang pertama mengeluarkannya dari perhitungan, sementara yang lain memusuhinya secara diam-diam dan terang-terangan.

Ketika agama masuk ke sekolah atau kelas, ia tidak masuk sebagai tuan rumah atau penghuni rumah, tetapi masuk seolah-olah ia adalah tamu yang tidak diundang, atau tetamu yang memberatkan… satu jam di akhir hari sekolah, untuk mengisi kekosongan atau menutupi celah, agar mulut-mulut orang-orang yang beragama dan kaku yang melelahkan itu diam!

Tidak mengherankan, jika pendidikan mengalami kekeringan, ketidakakrabannya, dan kekosongan… ia membutuhkan ruh yang membangkitkan hati, menggerakkan perasaan, dan mengembalikan kehidupan pada jasad-jasad yang tak bernyawa! Semoga Allah merahmati filsuf dan penyair Muslim Muhammad Iqbal yang berkata tentang pendidikan modern ini—sebagaimana disebut pada zamannya: “Ia tidak mengajarkan air mata pada mata, maupun kekhusyukan pada hati!”

Kebutuhan Zaman Kita akan Pembaruan Iman

Seluruh dunia sangat membutuhkan iman, namun bagi kita bangsa Arab dan umat Islam, iman merupakan inti keberadaan kita. Iman adalah ruh kehidupan dan kehidupan bagi ruh.

Iman adalah jalan menuju rida Allah, bekal kita di jalan menuju akhirat. Surga diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai, sementara neraka diliputi oleh syahwat. Kita tidak akan mampu menanggung hal-hal yang tidak disukai di jalan menuju surga, dan tidak akan mampu melawan syahwat yang mengantarkan ke neraka, kecuali dengan kekuatan ruhani dari dalam. Kekuatan yang membuat kita menyukai hal-hal yang tidak disukai, dan merasakan manisnya penderitaan di jalan Allah, serta menendang syahwat dan kenikmatan dunia jika di baliknya ada kemurkaan Allah.

Kekuatan ruhani ini hanya diciptakan oleh iman. Imanlah yang mendorong kita menunaikan tugas yang kita diciptakan untuknya, yaitu beribadah kepada Allah. Iman menjadikan ibadah ini terasa indah sehingga menjadi penyejuk mata kita. Imanlah yang menuntun seseorang mendekatkan diri kepada Allah dengan menunaikan kewajiban-kewajiban, lalu semakin mendekat dengan amalan-amalan sunnah, sehingga meraih cinta-Nya. Jika Allah telah mencintainya, maka Ia menjadi pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, penglihatan yang ia gunakan untuk melihat, dan tangan yang ia gunakan untuk bertindak. Jika ia berdoa, Allah mengabulkannya; jika ia meminta, Allah memberinya.

Iman bukan hanya jalan menuju kebahagiaan akhirat, tetapi juga jalan menuju kebahagiaan dunia yang diidamkan semua orang, namun hanya sedikit yang benar-benar meraihnya. Betapa banyak kilauan dunia yang menyilaukan mata, lalu manusia mengejarnya dengan mengira bahwa di dalamnya terdapat kebahagiaan yang dicari, ternyata ia hanyalah fatamorgana yang dikira air oleh orang yang haus, namun ketika didatangi, ia tidak menemukan apa-apa.

Hanya imanlah yang memberikan ketenteraman dan ketenangan jiwa, yang merupakan ruh kebahagiaan dan kebahagiaan ruh. Allah berfirman:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Dengan harta dan kekayaan, manusia dapat memenuhi banyak kenikmatan dan meraih berbagai syahwat yang dapat dibeli dengan uang. Namun kebahagiaan sejati tidak dijual di pasar, tidak dapat dibeli dengan uang atau kekuasaan. Karena ia bersumber dari lubuk jiwa yang terdalam, bukan komoditas impor dari sana-sini.

Seorang saleh dari generasi awal berkata tentang kebahagiaan ini dalam kondisi hidupnya yang sederhana: “Kami berada dalam kebahagiaan yang sekiranya para raja mengetahuinya, niscaya mereka akan memerangi kami dengan pedang!”

Dengan ilmu, manusia dapat hidup dalam dunia otomatis. Ia cukup menekan tombol di kanan, kiri, depan, atau belakang, maka yang jauh menjadi dekat, besi menjadi lunak, yang diam bergerak, yang bergerak diam. Ia hidup dalam kemewahan seakan-akan puluhan pelayan berada di sisinya. Kenikmatannya tidak kalah—bahkan melebihi—Qarun yang terkenal kaya raya atau Harun ar-Rasyid.

Namun ilmu—meskipun menghadirkan kemewahan jasmani—tidak menghadirkan ketenteraman hati. Ia memberikan sarana, tetapi tidak memberikan tujuan hidup. Karena itu bukan tugas ilmu, melainkan tugas iman.

Iman yang kita maksud adalah iman yang menumbuhkan motivasi kebaikan dalam diri manusia dan kebencian terhadap kejahatan. Iman yang memenuhi dadanya dengan kerinduan untuk menyucikan diri, keinginan untuk naik dari tarikan lumpur rendah menuju cakrawala ruh yang tinggi. Iman yang memberikan energi dan kemampuan untuk terbang dengan kerinduan yang meninggi, melampaui taraf naluri yang rendah. Iman yang memberikan kepada seorang pemuda di puncak usianya, di hadapan gelombang syahwat yang dahsyat, keteguhan seperti keteguhan Yusuf as; ia memilih penjara daripada menerima bujukan maksiat, dengan semboyannya:

رَبِّ ٱلسِّجْنُ أَحَبُّ إِلَىَّ مِمَّا يَدْعُونَنِىٓ إِلَيْهِ

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada apa yang mereka ajak kepadaku.” (QS. Yusuf: 33)

Iman yang kita cita-citakan inilah satu-satunya yang di tanahnya tumbuh pohon akhlak, di wilayahnya berkembang bunga-bunga keutamaan luhur dan nilai-nilai tinggi. Sejarah dan realitas telah membuktikan bahwa bangsa tanpa akhlak tidak mampu memikul beban berat dan tidak mampu menghasilkan karya kreatif.

Bangsa tanpa akhlak bagaikan bangunan tanpa fondasi. Setinggi apa pun dan seluas apa pun, kehancurannya pasti. Semoga Allah merahmati Syauqi yang berkata:

Jika akhlak suatu bangsa telah rusak, maka dirikanlah perkabungan dan ratapan untuk mereka!

Banyak penguasa, pemimpin, dan pejabat yang berusaha mengatur perilaku masyarakatnya hanya dengan undang-undang dan peraturan. Mereka lupa bahwa manusia lebih digerakkan dari dalam dirinya daripada dari luar. Undang-undang dan peraturan tidak mampu menyelamatkan mereka. Mereka pulang dengan kerugian dan kekalahan. Hawa nafsu mengalahkan kebenaran, egoisme mengalahkan kebaikan, suara syahwat lebih lantang daripada suara kewajiban. Tidak mengherankan jika kejahatan besar merajalela, tragedi dan skandal bermunculan di tingkat tertinggi.

Seorang hakim di Inggris menuliskan dalam catatannya setelah memutus salah satu kasus besar yang sensasional: “Tanpa hukum, masyarakat tidak akan stabil. Tanpa akhlak, hukum tidak akan tegak. Tanpa iman, akhlak tidak akan bertahan!”

Imanlah yang meledakkan potensi terpendam dalam diri manusia di bangsa-bangsa muslim kita. Dengan kekuatan keyakinan kepada Allah dan hari akhir, mereka terdorong untuk menciptakan keajaiban, melahirkan kepahlawanan, dan membangun karya-karya agung, seperti yang kita saksikan dalam sejarah masa lalu dan realitas masa kini.

Imanlah yang menyelesaikan masalah kecenderungan individualistis pada diri manusia—kecenderungan fitri yang alami—dengan mengajarkan bahwa kebaikan yang ia lakukan, pengorbanan tenaga yang ia berikan, harta dan jiwa yang ia korbankan, tidak akan sia-sia di sisi Allah, sekecil apa pun. Semuanya akan ditulis, dikembalikan, dan ditambahkan ke dalam rekening pahala di sisi Allah. Allah berfirman:

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7)

وَمَن يَعْمَلْ مِنَ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَهُوَ مُؤْمِنٌۭ فَلَا يَخَافُ ظُلْمًۭا وَلَا هَضْمًۭا

“Barang siapa mengerjakan amal saleh dan ia beriman, maka ia tidak takut akan perlakuan zalim dan tidak takut pula akan pengurangan haknya.” (QS. Thaha: 112)

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةًۭ يُضَـٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًۭا

“Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang sekalipun seberat zarrah. Jika ada kebaikan sekecil apa pun, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan pahala yang besar dari sisi-Nya.” (QS. An-Nisa’: 40)

Iman juga meletakkan kekuatan dahsyat di hadapan manusia ketika ia menanamkan dalam dirinya: bahwa takdir Allah pasti berlaku, apa yang luput darinya tidak mungkin menimpanya, dan apa yang menimpanya tidak mungkin luput. Rezeki dan ajal yang ditakuti manusia telah ditetapkan di sisi Allah, tidak ada ruang untuk tambah atau kurang. Rezeki telah dibagi, ajal telah ditentukan. Jika seluruh umat berkumpul untuk memberi manfaat dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan. Jika mereka berkumpul untuk mencelakakan dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakakan kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan.

Keyakinan akan takdir ini membuat seorang mukmin merasa bahwa dalam perjuangan dan dakwahnya, ia mewakili takdir Allah yang tidak bisa ditolak, ketetapan-Nya yang tidak bisa dikalahkan. Seperti yang dikatakan seorang sahabat kepada salah seorang panglima Persia yang bertanya: “Siapa kalian?” Ia menjawab: “Kami adalah takdir Allah! Allah menguji kalian dengan kami, sebagaimana Dia menguji kami dengan kalian. Sekiranya kalian berada di balik awan, niscaya kami akan naik kepada kalian, atau kalian akan turun kepada kami!”

Iman juga memperkuat ikatan antar pemeluknya, mengumpulkan mereka di bawah naungan akhirat, dan menyambungkan mereka dengan ikatan cinta yang paling kuat. Iman adalah rahmat di antara pemeluknya, sebagaimana firman Allah:

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Jika ada hal-hal yang memisahkan manusia—perbedaan ras, warna kulit, bahasa, wilayah, kelas sosial, keturunan, kekayaan, dan lain-lain—maka iman dengan panas dan kekuatannyalah yang mencairkan sekat-sekat ini. Iman tidak mengakuinya. Ia menjadikan persatuan akidah sebagai ikatan yang melampaui ikatan darah, bahkan lebih kuat; sebagai jalinan yang melebihi jalinan nasab, bahkan lebih erat. Sehingga seorang mukmin lebih mengutamakan saudaranya seakidah daripada saudara kandungnya, bahkan daripada anak kandungnya sendiri.

Dalam naungan persaudaraan yang agung ini, kebencian-kebencian kecil lenyap. Dunia yang diperebutkan manusia menjadi ringan, padahal ia di sisi Allah lebih ringan dari sayap seekor nyamuk. Perasaan iri dan dengki—yang disebut Nabi sebagai penyakit umat-umat terdahulu—menyusut. Tentang kebencian, beliau bersabda dengan benar: “Ia adalah pencukur,” bukan mencukur rambut, tetapi menghancurkan agama.

Tidak hanya hati bersih dari iri dan dengki, tetapi hati dipenuhi dengan cinta yang besar, yang bersumber dari cinta kepada Allah. Cinta kepada setiap orang yang mencintai-Nya dan beriman kepada-Nya.

Iman mengangkat manusia dari egoisme duniawi menuju altruisme luhur. Dalam hal ini, hadis sahih menyebutkan:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا

“Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai.” (HR. Muslim)

Altruisme terwujud dalam bentuk paling jelas ketika ia menjelma dalam makna yang tidak dikenal dan tidak akan dikenal kecuali dalam masyarakat mukmin. Makna altruisme: memberikan sesuatu kepada saudaramu padahal engkau sendiri membutuhkannya, bersusah payah agar saudaramu beristirahat, menghadapkan dadamu untuk menerima tebasan pedang dan tikaman tombak demi melindungi saudaramu, tidur dalam keadaan lapar untuk memberikan bekal makan malammu kepada saudaramu. Inilah yang digambarkan Allah tentang kaum Anshar:

وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

“Dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga membutuhkan. Dan siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Di sini, perasaan halus berupa persaudaraan, cinta, dan altruisme berubah menjadi solidaritas dalam kebaikan, kasih sayang dalam suka dan duka, serta kerja sama dalam kebajikan dan ketakwaan. Nabi menggambarkannya dengan sabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang, dan kelembutan mereka bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim)

Bulan untuk Memperbarui Iman

Bulan Ramadhan adalah kesempatan untuk memperbarui iman, menghidupkan hati dengannya, dan mengembalikan mereka yang lari ke hadirat Allah. Maka orang yang lalai tersadar, orang yang lupa menjadi ingat, orang yang bermaksiat bertobat, dan semuanya berdiri di pintu Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, mengucapkan apa yang pernah diucapkan oleh nenek moyang mereka dahulu:

رَبَّنَا ظَلَمْنَآ أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلْخَـٰسِرِينَ

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf: 23)

Ini adalah bulan ruh dan peninggiannya. Manusia—dengan tabiat ganda yang dimilikinya—terkadang meninggi dan terkadang merendah. Sesekali ia terbang di cakrawala ruhani yang tinggi, seolah-olah ia adalah malaikat bersayap. Di lain waktu, ia bergumul dalam lumpur materi dan syahwat, seolah-olah ia adalah hewan berkaki empat.

Maka tak heran jika kita melihatnya terjatuh sebagaimana ia bangkit, berbuat salah sebagaimana ia benar, dan bermaksiat sebagaimana ia taat. Namun Allah menjadikan baginya lebih dari satu penyaring dan lebih dari satu pembersih, yang dengannya ia dapat membersihkan diri dari kotorannya dan menyucikan diri dari dosa-dosanya. Ia keluar darinya dalam keadaan bersih dan suci, seperti pakaian putih yang dibersihkan dari noda.

  1. Ada penyaring harian, yaitu shalat lima waktu.

  2. Ada penyaring mingguan, yaitu shalat Jumat.

  3. Ada penyaring tahunan, yaitu puasa Ramadhan dan shalat malam di dalamnya.

Sabda Nabi yang diriwayatkan Muslim dalam Shahih-nya:

ٱلصَّلَوَاتُ ٱلْخَمْسُ، وَٱلْجُمُعَةُ إِلَى ٱلْجُمُعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ لِّمَا بَيْنَهُنَّ إِذَا ٱجْتُنِبَتِ ٱلْكَبَائِرُ

“Shalat lima waktu, Jumat ke Jumat berikutnya, dan Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, menjadi penghapus dosa-dosa di antara masa-masa itu, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

Maka barangsiapa tidak dibersihkan oleh shalat harian dan Jumat mingguan, ia masih memiliki kesempatan di bulan Ramadhan untuk menyucikan diri dengan puasa dan shalat malam yang baik, dan meraih ampunan Allah atas apa yang telah ia lakukan. Jika kesempatan ini pun terlewatkan, maka ia adalah orang yang celaka dan terhalang. Diriwayatkan bahwa Jibril mendatangi Nabi ﷺ ketika beliau sedang menaiki mimbar, lalu berkata: “Celakalah orang yang mendapati Ramadhan namun tidak diampuni dosanya.” Maka Nabi ﷺ bersabda: “Āmīn.” Maka betapa sengsaranya orang yang didoakan demikian oleh pembawa wahyu dan diamini oleh penutup para rasul.

Maka shalat lima waktu adalah timbangan hari, Jumat adalah timbangan minggu, dan Ramadhan adalah timbangan tahun.

Bulan Keikhlasan kepada Allah

Ramadhan adalah bulan kemenangan manusia: kemenangan kehendaknya atas syahwatnya, dan akalnya atas hawa nafsunya. Kemenangan terbesar manusia adalah ketika ia berbuat kebaikan dan mengerjakan amal saleh, semata-mata karena menunaikan kewajiban dan mengharap rida Allah. Inilah puncak keikhlasan dan kemurnian, dan inilah puncak keluhuran manusia.

Puasa yang diperintahkan Islam, yang diberi pahala, dan yang membukakan pintu ampunan dan surga bagi pelakunya, bukan sekadar menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan suami istri. Sebagian orang berpuasa karena menjaga kesehatan dari penyakit, atau demi meraih kebugaran, atau sebagai protes terhadap kezaliman, atau karena mengikuti upacara, atau karena kebiasaan, atau dorongan dan tujuan lainnya. Namun semua ini tidak dinilai oleh Islam.

Puasa yang diakui dalam timbangan Islam adalah puasa yang dilakukan oleh pelakunya dengan iman dan pengharapan pahala, yaitu membenarkan janji Allah dan mengharap apa yang ada di sisi Allah. Demikian pula shalat malam. Karena itulah Rasulullah ﷺ selalu menyebutkan ibadah ini ketika bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Sesungguhnya Islam adalah risalah tauhid dan pembebasan. Ia datang untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada selain Allah: dari penghambaan kepada alam, kepada manusia, kepada khayalan, dan kepada hawa nafsu. Dan mengarahkan ibadah hanya kepada Tuhan Yang Maha Esa, yaitu:

ٱلَّذِى خَلَقَ فَسَوَّىٰ * وَٱلَّذِى قَدَّرَ فَهَدَىٰ

“Tuhan yang menciptakan, lalu menyempurnakan ciptaan-Nya, dan yang menentukan kadar lalu memberi petunjuk.” (QS. Al-A’la: 2-3)

Demikianlah puasa menjadi ibadah yang murni, ditujukan hanya kepada Allah semata. Dalam hal ini, hadis qudsi menyebutkan:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia meninggalkan makanannya, minumannya, dan syahwatnya karena Aku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Tanda puasa yang diterima—yang merupakan buah dari iman dan keikhlasan kepada Allah—adalah bahwa orang yang berpuasa menahan lisannya dari perkataan dusta dan sia-sia, tangannya dari perbuatan menyakiti, dan seluruh anggota tubuhnya dari maksiat. Ia berpuasa secara lahir dan batin dari segala yang memurkai Allah. Ia membalas keburukan dengan kebaikan. Jika ada orang yang bertindak bodoh kepadanya, mencelanya, atau menyerangnya, ia berkata dengan lisan dan hatinya: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”

Dengan demikian, manusia mencapai kemenangan. Puasa menjadi perisai dan pelindung baginya. Jika tidak, puasanya hanyalah puasa formal yang tidak menyiapkan pelakunya untuk bertakwa di dunia, dan tidak mendatangkan ampunan, rahmat, atau pembebasan dari api neraka di akhirat. Dalam hadis disebutkan:

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan dari puasanya selain rasa lapar.” (HR. Ibnu Majah)

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatannya, maka Allah tidak butuh pada usahanya menahan makan dan minumnya.” (HR. Al-Bukhari)

Kami memohon kepada Allah agar menjadikan Ramadhan sebagai momentum untuk memperbarui iman kami, menghidupkan hati kami, menjadikan hari esok kami lebih baik dari hari ini, dan menjadikan bagian kami dari bulan ini adalah ampunan, rahmat, dan pembebasan dari api neraka.

Artikel ini diterbitkan di Majalah Doha pada Juni 1985.

Total
0
Shares
Share 0
Tweet 0
Share 0
Share 0
Topik berkaitan
  • Dr. Yusuf Al-Qaradhawi
Anda Mungkin Juga Menyukai
K634p0el8iokwgk8c0 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Tujuan Syariat tentang Kebebasan (Bagian 2)

1ts5ut2buv8ks0k4so 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Antara Asap Perang dan Harapan Fajar – Pembacaan Atas Pemandangan Dunia dari Teheran hingga Gaza

1ryknkc3gta8wc8cwo 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Kesetaraan Antara Laki-laki dan Perempuan… Sebuah Pandangan Islam

4r2zb29z5ksg84s08w 800xauto
View Post
  • Aqidah
  • Wasathiyah

Renungan Ketuhanan dan Sentuhan Keimanan

2ph6xu3mz0sgoc0g08 800xauto
View Post
  • Wasathiyah

Menghormati Kehendak Umat

4e60a
View Post
  • Akhlak
  • Aqidah

Ikhlas Diperlukan Untuk Kebaikan Hidup

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Untuk Anda Para Pembina Umat!
Iklan PPMT
Trending
  • 1714531601008 1
    • Fiqih
    Sedekah Sunnah Terbaik saat Musim Qurban adalah Qurban
    • 15.05.26
  • Trump6 2
    • Akhbar Dauliyah
    Bagaimana Iran Menghadapi Ancaman Trump untuk Melancarkan Serangan Baru?
    • 15.05.26
  • 2zliilslbukgssw4wg 800xauto 3
    • Wasathiyah
    Nilai Rabbaniyah (Ketuhanan) di Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah
    • 16.05.26
  • 2iguzpftd0kkkwss84 800xauto 4
    • Wasathiyah
    Juma’t Seruan Langit untuk Persatuan Bumi
    • 16.05.26
  • Salh alkhtyb 5
    • Akhbar Dauliyah
    “Kami Dulu Raja-Raja”: Empat Kesaksian tentang Penderitaan Pengungsian dan Keindahan Palestina Sebelum Nakba
    • 16.05.26
  • Kapan 1 dzulhijjah 2026 ini jadwal sidang isbat penentuan idul adha 1447 h gemini ai 4H3EM 6
    • Kabar Umat
    Besok, Sidang Isbat Penetapan Kapan Idul Adha akan Digelar
    • 16-05-2026

Forum Dakwah & Tarbiyah Islamiyah adalah Perkumpulan yang didirikan untuk menggalakan kegiatan dakwah dan pembinaan kepada masyarakat secara jelas, utuh, dan menyeluruh.

Forum ini berupaya menyampaikan dakwah dan tarbiyah Islamiyah kepada masyarakat melalui berbagai macam kegiatan dakwah.

Kegiatan dakwah FDTI dilandasi keyakinan bahwa peningkatan iman dan taqwa tidak mungkin dapat terwujud kecuali dengan melakukan aktivitas nasyrul hidayah (penyebaran petunjuk agama), nasyrul fikrah (penyebaran pemahaman agama), dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran).

Tag
Afghanistan Al-Aqsha Amerika Arab Saudi Arbain Nawawiyah AS covid-19 Dr. Yusuf Al-Qaradhawi Erdogan Gaza hadits arbain haji Hamas hizbullah Ikhwanul Muslimin india Irak Iran Israel Kemenag Lebanon Ma'rifatul Islam materi tarbiyah Mesir Muhammadiyah MUI Nahdlatul Ulama Pakistan Palestina Penjajah Israel Persis pks qawaidud da'wah Ramadhan Rusia Saudi Arabia Sudan Suriah Taliban Tunisia Turki ushulul Islam Wasathiyah Yaman Yusuf Al-Qaradhawi
Komentar Terbaru
  • Ghusni Darodjatun pada Ahdafut Tarbiyah
  • Susi pada Hadits 12: Meninggalkan yang Tidak Bermanfaat
  • Supriadi pada Al-Ihsan
  • Tata pada Urutan Khilafah Sepanjang Sejarah Islam
  • Halimah Ayu Lestari pada Ahammiyatus Syahadatain (Pentingnya Dua Kalimat Syahadat)
  • Zidnialkelisa pada Al-Mukhtashar fi Tafsir Al-Qur’anul Karim: QS. Al-Baqarah ayat 6 – 20

Input your search keywords and press Enter.