RAFAH, 4 Februari 2026 – Upaya evakuasi medis dari Gaza melalui Pos Lintas Rafah menghadapi jalan panjang yang penuh rintangan. Pada hari kedua pembukaan terbatas pos lintas itu, Selasa (4/2), hanya segelintir pasien yang berhasil keluar, sementara ribuan lainnya masih mengantre dengan harapan kecil, di tengah terus berlangsungnya serangan Israel yang menambah korban jiwa.
Realitas Pahit di Pos Lintas: Jumlah Pasien Keluar Tak Sesuai Rencana
Mekanisme evakuasi yang dijanjikan ternyata sangat jauh dari kebutuhan di lapangan. Meski rencana awal mengizinkan 50 pasien beserta pendamping keluar per hari, realitasnya justru suram:
Hari Pertama (Senin, 3/2): Hanya 8 pasien beserta pendamping yang berhasil meninggalkan Gaza. Di sisi lain, hanya 12 warga Palestina yang diizinkan masuk kembali ke Gaza.
Hari Kedua (Selasa, 4/2): Palang Merah Palestina mengkonfirmasi bahwa Israel menolak kepergian 29 dari 45 pasien dan 50 dari 90 pendamping yang telah dijadwalkan. Sebanyak 16 pasien lainnya dengan 40 pendamping diberangkatkan, namun nasib mereka tidak diketahui karena kesulitan komunikasi di sisi Palestina yang sepenuhnya dikendalikan Israel.
Kesenjangan antara rencana dan realita ini terjadi di hadapan daftar tunggu yang sangat panjang. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan sekitar 20.000 pasien yang membutuhkan perawatan di luar negeri, sementara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut angka lebih dari 18.500 pasien yang memerlukan perawatan khusus yang tidak tersedia di Gaza.
Seruan Mendesak dan Kritik terhadap Pembatasan
Pihak medis dan otoritas Gaza menyerukan solusi yang lebih substantif. Direktur Kompleks Medis Asy-Syifa menegaskan bahwa “tingkat keberangkatan pasien dari Gaza bukanlah solusi untuk krisis,” dan mendesak agar obat-obatan dapat langsung masuk ke Gaza.
Hamas, melalui juru bicaranya Hazem Qassem, mengecam pembatasan ketat terhadap warga yang kembali melalui Rafah sebagai “kejahatan” dan menyatakan bahwa tidak ada perbaikan berarti dalam arus bantuan masuk, meski kesepakatan gencatan senjata telah memasuki fase kedua. Ia juga memperingatkan memburuknya kondisi pengungsi yang tinggal di tenda-tenda akibat cuaca buruk dan kelangkaan bahan bakar.
Korban Jiwa Terus Berjatuhan di Tengah Upaya Kemanusiaan
Di tengah upaya membuka koridor kemanusiaan, kekerasan dan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel terus berlanjut:
Kompleks Medis Nasser melaporkan dua warga tewas akibat serangan Israel terhadap tenda-tenda pengungsi di selatan Kota Khan Younis.
Seorang dokter perempuan bernama Intisar Shamlakh tewas setelah ditembak drone Israel di Kota Gaza.
Seorang pemuda berusia 19 tahun, Ahmad Abdul ‘Al, meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya beberapa hari sebelumnya ketika tenda keluarganya di Khan Younis diserang. Serangan itu sebelumnya telah menewaskan 7 anggota keluarganya, termasuk anak-anak.
Kementerian Kesehatan Gaza memperbarui total korban sejak 7 Oktober 2023 menjadi 71.803 orang tewas dan 171.570 orang luka. Secara khusus, pelanggaran terhadap gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober 2025 telah menelan 526 korban jiwa dan melukai 1.447 orang.
Situasi ini menggambarkan paradoks tragis di Gaza: sementara upaya kecil untuk menyelamatkan nyawa melalui Rafah diperjuangkan, nyawa-nyawa lain terus melayang setiap harinya akibat kekerasan yang belum juga berakhir.
Sumber: Al Jazeera





